Zaman Modern:Muslimah yang Berdaya atau Muslimah yang Bingung
May 16th, 2007 by burhanshadiq
Muslimah yg Bingung
Modernitas telah menggelandang umat manusia ke dalam perangkap kecanggihan yang berlebih-lebihan, sehingga kesederhanaan hilang dari pemandangan. Di zaman ini, manusia memang begitu terpikat pada hal-hal yang canggih, begitu terpegun pada semua yang super dan mega. Kemanapun kita pergi, supermarket dan megamall menghadang kita dengan tampilan yang high-tech dan high-cost. Dunia modern menuntut semua orang menjadi superman dan wonderwoman.
Renjana akan segala kecanggihan dan superioritas ini selanjutnya membawa kita pada keengganan pada segala hal yang sederhana dan alamiah. Hampir seluruh aspek kehidupan kita, termasuk pola berpikir kita, terasuki hasrat akan kecanggihan dan superioritas ini. Tampaklah oleh kita bagaimana ide demi ide dikembangkan dan disajikan selaras dengan semangat mengejar kecanggihan dan superioritas. Sialnya, tidak jarang orang termakan oleh kemasan isu yang menyuguhkan kecanggihan dan superioritas, tanpa menilik lebih jauh konsekuensi-konsekuensinya terhadap kehidupan nyata.
Salah satu isu yang berhasil tampil dalam kemasan kecanggihan dan superioritas itu adalah feminisme. Feminisme, persisnya, adalah gerakan untuk menampilkan wanita secara lebih canggih dan superior–setidaknya dalam perspektif kecanggihan dan superioritas modern. Cara termudah dan dengan demikian juga terbodoh–wanita/istri untuk bisa tampil lebih canggih ialah dengan sesering mungkin keluar dari rumah, membaca majalah-majalah wanita dan menyerahkan pengasuhan anak pada pembantu. Sedangkan cara termudah wanita untuk bisa tampil lebih superior adalah dengan mencari uang sendiri dan berswasembada dari pria/suami.
Untuk mewujudkan cita-cita tersebut, dirancanglah sejumlah jurus. Jurus pertama adalah menghilangkan adanya perbedaan antara pria dan wanita¾untuk menuju masyarakat bebas-gender (genderless society). Jurus kedua, memberdayakan diri agar dalam masyarakat yang dipradugakan penuh-konflik–kaum wanita dapat “mengalahkan” pria. Soal mengalahkan pria ini, titik-tekan diberikan pada seks-bebas. Dan mengingat seks telah diidentikkan dengan kekuasaan dan seksualitas wanita dianggap lebih superior dibanding pria, maka dominasi kaum wanita di sektor ini agaknya dengan mudah dapat dikukuhkan.
Untuk memperkukuh pelestarian dominasi wanita dalam masyarakat yang penuh-konflik, institusi keluarga perlu dirobohkan. Maka, sejak era 1980-an, gerakan feminisme Barat mengoarkan suatu slogan bahwa kaum wanita adalah golongan tertindas dalam konteks lembaga keluarga.
Para feminis terus berupaya menghapuskan sifat feminin (feminine nature) wanita dengan menganggapnya sebagai sesuatu yang nurtured (dipupuk) dan constructed (dibangun). Bahwa menjadi wanita itu bukan ketentuan kodrati, bukan takdir Ilahi dan bukan faktor alam, melainkan pilihan dan konstruksi sosial-budaya.
beberapa psikolog feminis memperkenalkan konsep pendidikan androgini (androgyny). Konsep ini berasal dari bahasa Latin andro (pria) dan gyne (wanita). Pendidikan androgini adalah pendidikan yang memperkenalkan konsep bebas-gender kepada anak laki-laki dan perempuan. Berbeda dengan konsep pendidikan konvensional yang mengasumsikan perbedaan anak laki-laki dan perempuan, konsep ini mengasumsikan bahwa anak laki-laki dan perempuan sama-sama berpotensi untuk menjadi feminin dan maskulin. Karena itu, menurut konsep ini, anak laki-laki dan perempuan tidak perlu diperlakukan berbeda. Anak pria tidak perlu diberikan baju tentara, mainan berupa mobil-mobilan, alat-alat permainan senjata untuk perang-perangan, sedangkan anak wanita tidak perlu diberikan baju berwarna merah jambu (pink), mainan boneka, dan alat-alat permainan untuk masak-masakan. Sebaliknya, keduanya harus diperlakukan secara sama, mengingat secara watak-dasar (nature) keduanya diasumsikan setara.[4]
Akibat langsung dari semua konsep dan rumusan setengah-matang ini adalah munculnya lapisan masyarakat setengah-jadi. Di sekolah-sekolah, di tempat-tempat umum dan di media massa, kita menyaksikan munculnya sekelompok manusia setengah-wanita dan setengah-pria. Yang pria bergaya dan berdandan seperti wanita, sedangkan yang wanita bergaya dan berdandan seperti pria. Populasi waria, dari amatan sepintas di Indonesia, menunjukkan laju peningkatan yang eksponensial. Sungguh mengerikan, di negara yang konon mayoritas penduduknya beragama Islam ini, kita menyaksikan merebaknya jenis manusia tanpa identitas dan wajah yang jelas-tegas tersebut. Inilah erosi identitas yang diakibatkan oleh renjana terhadap kecanggihan, kerumitan dan superioritas yang berlebih-lebihan.
Oleh karena itu, ajakan untuk kembali kepada fitrah, nature, dan kesederhanaan terasa begitu relevan. Kita sangat perlu mengganti pola berpikir dan bersikap yang serba rumit dan canggih ini dengan sesuatu yang lebih sederhana tetapi mendasar dan sejati.
Rasanya adil bila kita mencoba bertanya-tanya ulang: apa bahaya yang bakal terjadi kalau gender itu tetap tidak setara? Apakah ukuran kesetaraan yang dipakai dalam soal ini bersifat kuantitatif, sehingga yang sebetulnya dituju oleh puak pendukung kesetaraan ini adalah simetri geometris? Selain soal kesetaraan, ada soal daya dan pemberdayaan. Apakah daya itu? Mungkinkah daya ini bersifat fisikal, sehingga arti pemberdayaan adalah sejenis body-building untuk wanita? Kalau non-fisikal, apakah pemberdayaan itu bersifat psikis-moral-spiritual? Kalau daya yang dimaksudkan di sini ialah keadaan yang memungkinkan seseorang melaksanakan kewajiban dan mendapatkan hak, yaitu pemberdayaan mental-moral-spiritual, apakah kewajiban-kewajiban dan hak-hak wanita terhadap pria dan sebaliknya?
Muslimah Harus Berprestasi
Fenomena hari ini menunjukkan penghargaan dan rasa hormat kita telah bergeser maknanya. Kehormatan, kini bukan milik para ustadzah yang ikhlas mengajar anak-anak kecil di TKA/TPA tanpa memperoleh bayaran. Ia bukan pula milik para wanita yang memiliki andil besar dalam memberdayakan masyarakat di daerahnya. Rasa hormat dan penghargaan itu, kini lebih menjadi milik para wanita glamour yang hidup dengan harta berlimpah. Terserah, harta yang berlimpah tersebut didapat dari mana.
Tidak heran jika kemudian banyak wanita yang mengejar gaya hidup seperti ini. Alhasil, pekerjaan yang menuju ke arah sana pun, seperti pekerjaan sebagai bintang, menjadi dambaan banyak wanita. Baik itu bintang iklan, sinetron maupun penyanyi. Besarnya penghasilan yang didapat, pekerjaannya yang tidak sulit, dan pemujaan yang begitu hebat dari para penggemar, merupakan beberapa alasan bagi sebagian besar wanita kita yang diberikan kelebihan fisik dan suara oleh Allah, untuk menggeluti profesi ini. Begitu mengglobalnya, bahkan para wanita dunia kini berlomba-lomba dengan cita-cita dan harapan yang sama, menjadi diva.
Tak sedikit wanita cantik dengan disertai berbagai kelebihan, bersaing di dunia ini. Jalan untuk meraih posisi puncak pun mereka tempuh dengan berbagai cara, dari mulai saling menonjolkan bakat utama hingga memperlihatkan potensi-potensi lain, memperlihatkan keindahan bentuk tubuhnya pada jutaan mata yang menontonnya berlenggak-lenggok di layar kaca, dengan senyuman penuh kebanggaan karena telah berhasil membuat orang lain yang bukan haqnya telah turut mengagumi amanah yang seharusnya dijaga sebaik-baiknya. Bahkan, kalau perlu jual diri. Naudzubillah.
Makna prestasi bagi kalangan muslimah adalah bukan dia harus jadi juara dalam sebuah perlombaan. Lebih tepatnya ia harus bisa menjadi pelopor dalam perbaikan bagi lingkungannya. Seorang muslimah tidak harus selalu bekerja di luar rumah untuk meraih prestasi tetapi juga tidak hanya di dalam rumah saja. Wanita-wanita Islami yang potensial seyogyanya pandai memanfaatkan dan mengembangkan ilmu yang diperolehnya. Bila ia seorang ‘tukang insinyur’ ataupun lulusan tehnik akan lebih bermanfaat dan berprestasi kalau saja ilmu-ilmu yang dimilikinya tadi mampu menghantarkannya membuka sebuah home industri, misalnya. Sehingga dengan ilmu apa saja, seorang muslimah mampu berkarya, mampu mengamalkan ilmu yang dipelajarinya bertahun-tahun di bangku sekolah atau perguruan tinggi sebagai bekal dakwah di masyarakat. Tidak seperti sekarang yang rata-rata muslimah kita beramai-ramai menjadi pengajar TPA, padahal Sarjana Kehutanan.
Selain itu pula hendaknya prestasi muslimah akan lebih terarah bila terspesialisasi. Sehingga dengan keahlian khusus ini ladang dakwah lebih tergarap maksimal.
Bagaimana Menjadi Agen Perubah yang Handal
Menjadi perintis, pelopor atau istilah kerennya ‘Agen Perubah’ dalam masyarakat dituntut memiliki beberapa hal antara lain:
1. Selalu berpikir positif dan pede (percaya diri)
Selalu berpikir positif kepada Allah, diri sendiri dan orang lain. Yakinlah bahwa Allah memberi kita semua nikmat dan kemudahan sekaligus kesulitan adalah dalam kerangka sejauhmana kita telah pandai mensyukuri nikmat-Nya dengan memanfaatkannya, tidak saja untuk diri sendiri tapi juga untuk masyarakat luas. Allah menciptakan kita dengan kepribadian, kualitas bakat dan intelektual adalah dengan maksud. Semua itu modal dasar bagi kita untuk berbuat. Termasuk cara pandang kita terhadap orang lain. Pandanglah orang lain dari sisi positifnya dan menerima sisi negatif sebagai pelajaran bagi kita. Dengan selalu ber-‘positif thinking’ seperti ini Insya Allah ‘Pede’ (percaya diri) akan timbul.
2. Berkepribadian pantang menyerah
Sebagai pelopor dan penggerak, pasti akan menghadapi tantangan, baik dari kalangan keluarga, tetangga, tokoh masyarakat, dan lain-lainnya. Dengan berbagai hambatan tadi kita dituntut selalu bersemangat, tidak loyo, tidak mudah patah semangat. Semakin mantap kita bersikap saat kesulitan menerpa kita menunjukkan sikap hidup yang matang. Keyakinan akan janji dan jaminan Allah akan datangnya kemudahan setelah kesulitan mampu melahirkan kepribadian pantang menyerah (lihat QS. An Nasyrah:5-6).
3. Memulai dari diri sendiri
Menyeru kepada orang akan lebih didengar dan diikuti apabila kitanya telah mengamalkan-nya. Selain masyarakat lebih tergerak karena tauladan kita, Allah pun memerintahkan demikian (lihat QS. Ash Shaff:4).
4. Memelihara motivasi awal
Segala kesibukan kita menjadi muslimah berguna dan berkarya di masyarakat hendaknya dilandasi dengan niat yang lurus dan bersih. Semata-mata untuk mencari ridho Allah. Bukan untuk mencari penghargaan, sanjungan atau apa saja yang sifatnya duniawi. Akan lebih indah dan bermakna bila niatnya untuk ibadah sehingga kelelahan, kepenatan karena aktifitas itu tidak melahirkan kejenuhan yang berarti yang bahkan bisa-bisa membuat kita menarik diri dari medan dakwah tadi. Dengan motivasi/niat yang teguh segala tantangan apa pun bentuk dan rupanya tidak menyurutkan langkah bahkan semakin memberikan energi bagi ‘si penggerak’.
Ref :
Muslimah Bingung ~ Musakazhim on April 14, 2007
Saatnya Menjadi Muslimah Berprestasi ~eramuslim.com

Maaf Pak Burhan, saya tertarik dengan pola pengasuhan anak lelaki dan perempuan yang oleh kaum feminisme dikatakan tidak perlu dibedakan.
Kalau tidak salah ingat, ada hadist yang isinya kira-kira, ajarilah anakmu berkuda dan berenang. Ini juga berarti tidak memebedakan gender, ya kan ?
cuma Intermezo,…saya tidak ahli feminisme ataupun hadist,..:)
salam dari saya di Tokyo, dan terima kasih untuk ulasan tentang penerbitan buku lewat Radio Tarbiyah
Fitri
saya pikir kudu dibedakan. antara pengasuhan lelaki dan perempuan, sederhananya saja, dari cara memilihkan baju sajasudah beda kan mbak. Terima kasih juga buat temen-temen di sana. semoga selalu sukses.
Capek dech…..Jilbab yang menjadikan kita suci sebagai identitas malah menjadai trend masa kini yang begitu jauh dari nilai-nilai Islami……………..
thats what i am talking about. we cannot make some different between those two thing. Choose one of them, following the trend or being a good muslimah.