WHAT IS YOUR EXPECTATION?
Sep 28th, 2007 by burhanshadiq
Di dunia tempat kita berpijak kini, ada sebuah pertanyaan mendasar yang perlu dijawab, Apa harapan terbesar kita. Ketika orang mendasarkan sebuah keberhasilan pada mobil yang harganya ratusan juta rupiah, rumah megah atau perusahaan yang berbilang-bilang penghasil uang, maka di situlah kemudian ekpektasi seseorang ditujukan.
Manusia pengen berhasil! Manusia rela berpayah-payah menuntut ilmu dari TK hingga perguruan tinggi, ketika ditanya juga akan menjawab hal yang sama. Mereka butuh materi sebagai tujuan pendidikannya. Kenapa orang lebih cenderung memilih kedokteran ketimbang pendidikan luar biasa, karena jujur diakui bahwa secara pekerjaan, dokter sangat menjanjikan masa depan. Menjanjikan kekayaan, meski tidak setiap dokter di negeri ini secara otomatis kaya.
Data atau bukti yang saya hadirkan boleh jadi hanya beberapa saja. Karena bagi saya itu sudah cukup mewakili betapa memang ekspektasi kita lebih banyak tertuju pada dunia. Pengen kaya, makmur, dan bisa membeli apa saja. Ekspektasi ini bukan semata didominasi oleh orang umum, tapi juga dimiliki oleh para aktivis ngaji, anggota pergerakan Islam yang mungkin sudah lupa akan idealismenya.
Bekerja untuk menyambung hidup itu adalah ibadah. Mengumpulkan materi untuk mendukung perjuangan juga sangat penting. Tapi manakala ruh juang di dada kita hancur lebur oleh materi yang kita kumpulkan itu adalah sebuah musibah besar. Seyogyanya mobil, hape mewah, laptop, rumah gede bisa menjadi penunjang seorang manusia untuk mempermudah usahanya menegakkan idealismenya. Namun ternyata tidak banyak yang bisa bertahan dengan gincu-gincu dunia. Masuknya dunia ke hati mereka adalah sebagai tanda awal jual beli idealisme dan ditukar dengan ekspektasi sesaat saja. Ekspektasi seorang muslim adalah akhirat! Merancang masa depan kita di negeri akhirat lebih penting dari sekedar mengumpulkan uang untuk membangun rumah di dunia.
Idealisme itu penting. Tanpa idealisme, kita hanya mengikuti rutinitas saja, hidup seperti hanya mengikuti pakem yang ada, terjadwal dan monoton. Tak ada idealisme yang diperjuangkan, berarti tak ada nyawa dalam tubuh kita. Dan idealisme islam adalah sebuah kemutlakan. Islam paling benar dan islam paling selamat!

belum ada yg nanggepin yah, tak tanggepin deh. :)
As.Wr.Wb ny dary nury di BPPN.saya ska bgt sma bku yang bpk bikin!!!!!!!!!! mudah2han tahun depan bapak bisa buat buku yang lebih keren lagi.
Wa’alaikumsalam
Mba, Nury, bulan ini saya sudah mengeluarkan buku baru lagi, ENGKAU MEMANG CANTIK.
Semoga di wilayah mba Nury ada buku itu.