Gubraks! Saya menemukan sebuah kaver buku penerbit tetangga yang sangat mirip gayanya dengan imprint penerbit tempat saya bekerja, GRANADA. Stylenya sangat mirip dengan menggunakan border merah dan warna kontras hitam. Yang lebih mencengangkan lagi, temanya pun sama, yaitu tema akhir jaman. Otak saya langsung mengarah kepada sebuah istilah untuk menyebut fenomena ini, Me Too. Menciptakan produk mirip atau bahkan sama, hanya beda di merk dengan harapan bahwa konsumen akan mudah mengidentifikasinya. Terlebih lagi jika produk aseli yang ditiru lagi kosong di pasaran, mungkin produk me too bisa menggeser dan menutupi kebutuhan konsumen akan produk utama dia.

Memang tema akhir zaman hari ini cukup digandrungi konsumen. Karena mereka punya rasa ingin tahu yang sangat besar terhadap fenomena akhir zaman yang akan terjadi. Sejak awal pengusungan tema-tema seputar Dajjal, Akhir Zaman, Kiamat dan lain-lain, penulis kami, sempat mendapat kritikan pedas, lontaran isu yang menegangkan dan beberapa suara yang tidak sedap. Tapi kita nekad melangkah dan hasilnya buku itu sukses di pasaran. Kejelian dan keseriusan penerbit serta penulis menggarap tema ini akhirnya menjadikannya sebagai ikon penerbit fenomena akhir zaman. Resikonya penerbit kami sempet pula dicap pragmatis dan terlalu mudah menyederhanakan persoalan untuk urusan akhir zaman.

Jujur, tentu saja buku laris merupakan magnet besar bagi penerbit. Sehingga tidaklah mengherankan pula bila akhirnya penerbit yang sebelumnya tidak melirik tema ini akhirnya berbondong-bondong menerbitkan buku yang sama. Bukan masalah, bukan juga dosa atau bahkan salah. Ini hanya sebuah fenomena pasar saja, bahwa idealisme sebuah penerbit seringkali harus bermain mata dengan kondisi pasar yang berubah selera.

Sebuah penerbit kadang punya proyek-proyek ideologis dalam penerbitannya. Selain menebritkan buku populer yang harus laris, mereka juga menerbitkan buku yang tidak peduli pasar yang penting dibutuhkan ummat. Sehingga dilakukan subsidi silang, hasil penjualan buku populer digunakan untuk membantu buku-buku ideologis yang tidak begitu laku di pasar. Sehingga arah kemudi penerbitan buku populer harus dibelokkan atas nama keinginan pasar, agar bisa mensubsidi proyek-proyek idealisme yang lain. Tapi kalau seandainya proyek buku idealisme pun juga harus digeser karena tuntutan pasar, au ah apa jadinya.

2 Responses to “Ketika Idealisme Tergiur Pasar”

  1. nurussadad says:

    wah budaya niru2 dah nyampek ke perbukuan juga..

  2. fursan says:

    hmm.. tul, q dah bilang ma yg bikin cover koq bang.
    kalo contentnya….yah g pa2 lah

Leave a Reply