Tadi malam saya melihat teve. Ada seorang artis, seorang janda yang dulu dikenal dengan sebuah kata “pitch control”. Awalnya saya tidak tertarik untuk melihatnya. Tetapi ada sebuah kalimat yang membuat saya tertarik untuk mengikuti dialog dia. Dia bilang, “Hingga kini saya berniat tidak ingin nikah lagi, tetapi pacaran jalan terus. Buat apa menikah, yang penting togetherness, kita bahagia, kan yang dicari adalah kebahagiaan dan bukan status. Bukankah ketika menikah justru togetherness itu yang hilang dari diri kita. Saya tidak butuh status.”

Omongan dia ini saya ingat baik-baik. Karena saya pikir omongan artis macam dia ini adalah omongan yang meluncur dari lisan orang yang kecewa dengan hidup. Kecewa dengan kenyataan yang dia hadapi. Dia tidak mendapatkan rasa manis dari sebuah pernikahan. Dia merasa bahwa pernikahan hanya sebuah status klise yang hanya mengekang. Padahal jiwanya pengen merdeka, tidak mau dikekang oleh otoritas suami dan pengen bebas seperti bujangan dahulu. Tidak mau disuruh-suruh, tidak mau diperintah, ingin menjadi diri sendiri.

Kalau kita menengok di Islam, pernikahan bukan semata status. Ia adalah sebuah konsep ibadah yang memudahkan. Ia adalah sebuah ikatan yang agung, mitsaqan ghalida. Di sinilah cinta itu bermula, disemai dan diexplore seluas-luasnya. Pernikahan bukan the end of love story, but its a beginning of your life. Ia adalah awal dari sebuah kisah cinta, tetapi bukan akhir dari sebuah roman rayuan saat pacaran. Sehingga kalaupun ada tali yang mengikat, itu adalah sebuah ikatan atas nama cinta, bukan paksaan. Kalau pun ada siapa yang berkuasa dan dikuasai itu adalah titah agama, bukan titah manusia. Selama suami masih shalih, ia harus ditaati. Ia ada untuk melindungi, bukan membatasi. Untuk mencintai bukan menghabisi.

Pernikahan untuk menyemai sebuah keluarga. Karena memiliki keluarga adalah sebuah anugerah. Kebahagiaan akan terasa lebih dalam. Keharmonisan akan mudah diwujudkan. Berbagi, bercerita, bercengkerama, gelak tawa, riang gembira, sedih dan lara, menjadi bagian dari mengelola sebuah keluarga. Ada sepi yang terusir menjauh, ada kesedihan yang bisa segera padam, bila ada keluarga yang hangat menyapa.

Tetapi, kalau tidak menikah hanya menjalani pacaran. Ia tidak menjanjikan apapun. Hanya mulut berbusa rayuan dan kata cinta. Tidak ada yang mengikat, hanya soal emosi belaka. Nafsu memang terlampiaskan. Hasrat memang tak terbelenggu. Tak ada batas, tak ada norma. Bebas melakukan apa saja. Tapi nikmatnya hanya sesaat saja. Karena nikmat itu akan segera dicerabut dari akarnya. Tidak berlangsung lama. Dan bila konflik terjadi, ikatan ini sangatlah rapuh. Kita akan ditinggal sendiri, dan menangis berpeluk sunyi. Tak ada keluarga, tak ada siapa-siapa…

Jadi menikah bukan karena status. Tetapi karena Allah memerintahkan kita. Dan Nabi Muhammad mensunnahkannya bagi kita. Apakah ada kelegaan yang lebih lega dari mengikuti perintah Allah dan RasulNya?

2 Responses to “Togetherness: Pernikahan vs Pacaran”

  1. abdullah says:

    ustadz… love u coz Allah

Leave a Reply