Tadi malam saya menyaksikan sebuah acara di teve berjudul 4 Lawan Satu. Yang menarik, acara ini mengundang seorang Presiden PKS, Tifatul Sembiring. Beliau ‘dikeroyok’ oleh 4 wanita yang berlatar belakang profesi berbeda, Aviliani (ekonom), Meisya Siregar (artis), Valina Sinka (Pengamat Politik) dan Lula Kamal (artis juga). Terlihat jelas bagi saya yang awam ini, keinginan untuk menyudutkan PKS dengan isu-isu kontroversial yang sekarang ini lagi marak. Misalnya pertanyaan seputar Iklan Pak Harto, Valentinan menurut PKS, Poligami, Kenapa kader Pks yang perempuan anaknya banyak, capres perempuan, dan terakhir soal Jaipong.

Khusus untuk masalah Jaipong, pihak produser acara sengaja menjebak presiden yang suka bermain pantun ini dan massa PKS yang saat itu hadir di studio. “Saya akan beri hadiah kepada pak Tifatul!” begitu kata Lula Kamal saat akan menghantarkan seorang penari Jaipong yang langsung saja bergoyang di depan pak Tifatul Sembiring dan massa PKS di studio yang kebanyakan lelaki dan ada barisan akhawat di belakang.

Saya agak gimana menyaksikan pemandangan ini. Antara perasaan bertanya, “Kenapa pada diem saja sih? Kenapa Ga Walk Out saja dari studio itu?” Pertanyaan saya semakin menjadi-jadi saat Meisya yang artis itu berkata, “Wah kok pada nunduk ya, ga mau liat penarinya?” kurang lebih seperti itu. Ia ingin menstigmakan bahwa PKS, adalah partai Islam yang menolak budaya. Tetapi nampaknya Meisya salah, Tifatul sembiring dengan lugas mengatakan, “PKS bukan kelompok agama, kita adalah partai politik.” Pertanyaan yang ada di acara ini memang dikemas santai, tapi sangat menukik. Misalnya pertanyaan kenapa ada anak PUNK yang bisa masuk di iklan PKS. Jawab Tifatul, karena mereka adalah bagian masyarakat yang perlu disapa. Dan pihaknya juga membenarkan bahwa PKS kini harus lebih terbuka, karena target perolehan suara harus 20 % atau bahkan lebih. Setelah nonton tayangan ini, saya jadi semakin paham, bahwa susah untuk berkata tegas dalam dunia politik kita, bahkan untuk sekadar bilang TIDAK saja perlu dengan cara yang muter-muter dulu atas nama politik.

21 Responses to “Tifatul Sembiring dan 4 Perempuan”

  1. B. Samparan says:

    Tuh Tifaful tampaknya tidak tertarik soal branding. Kalau orang mau partai terbuka, ngapain PKS? Kalau orang mau partai nasionalis, ngapain PKS?

    Branding PKS adalah dakwah, bersih, peduli dan profesional. Branding yang bagus sebetulnya. Sayang malah tidak disampaikan CLEAR and LOUD ke benak calon konstituen. Bebapa manuver PKS skala makro malah mengaburkan branding tersebut.

    Best Regard

  2. rijal says:

    ah….
    coba tebak siapa yg menang siapa yg kalah…
    hehehe

  3. Syaiful Arif says:

    he…he…he…Betapa keinginan untuk memperbaiki bangsa ini sangat terjal jalannya….!!!
    PKS bukanlah partai malaikat yang ketika diperintahkan oleh Alloh untuk sujud, ia tak akan bangkit dari sujud sebelum Alloh perintahkan untuk bangkit.
    Tp ia adalah sekumpulan manusia yang rindu akan kedamaian, rindu akan tegaknya ‘NILAI-NILAI’ syariah dalam setiap gerak langkah kehidupan bernegara ini.
    Keinginan mewujudkan “Ghoyatud Dakwah” itu selalu tergelorakan dalam setiap langkah…:
    1. Takwinusy Syakhsiyah Islamiyah (menjadikan pribadi islam)
    2. takwinul Usroh Al Muslimah (menjadikan Keluarga Muslim)
    3. Takwinul Ijtimaaiyatul Muslimah (menjadikan masyarakat yang Muslim)
    Beratnya jalan dakwah di negeri yang sedang kronis sakitnya ini, barangkali menharuskan kita untuk menyapa mereka dengan tidak meninggalkan syariat. Barangkali inilah marhalah dakwah yang amat berat, yang sedang kita jumpai.
    Saatnya berbagai elemen saling “TABAYUN” sehingga akan tersemaikan “TAFAHUM” sehingga kemudian akan terwujudlah budaya “TA’AWUN”, walau dengan perjuangan, dengan cara yang berbeda.
    Antar harokah tentu ada berbagai macam perbedaan, tapi tentu tidak harus dibesarkan. Harokah A bukanlah satu-satunya jalan untuk menjadikan negeri ini lebih bagus tp cuma salah satu jalan saja. Masih banyak jalan / cara-cara lain yang bisa ditempuh, dan bukan tidak mungkin itu dilakukan oleh Harokah B, C, D, E sampe dengan Z.
    Sukron Kang Burhan….Ngudoroso aja….
    “Berjuang bukan hanya bersuara…., Tapi harus dengan wujud karya nyata…..!!! Semoga kita termasuk orang-orang yang selalu dalam lindungannya…, (Al Haqqu Min Robbika, Falaa Takunanna minal Mumtariin)…Tetap Semangat Allohu Akbar….!!!

  4. Budi says:

    Salam kenal..
    Kebetulan tadi malam saya menonton juga acara tersebut, pandangan saya saat itu sama seperti mas burhan (kenapa tidak walk out saja?) akan tetapi setelah mendengar jawaban presiden PKS dan aksi simpatisan (massa PKS yang tunduk) sungguh diluar dugaan. Pendapat saya berubah. Jawaban yang sangat memuaskan dari presiden PKS membuat pertandingan semakin seru ditambah pantun yang bagus nan terususun elok.
    Tidak sedikitpun kelihatan Tifatul emosi (apa lagi bicara ngawur)dikeroyok malah panelis (4 sekawan) yang terkesan memojokkan (terkesan ngawur dan gak berbobot).

    Hasil pertandingan “menurut saya” Tifatul 4 Meisya dkk 0
    Suara saya siap saya amanatkan dengan sangat ikhlas buat PKS.

    Jayalah PKS.
    Salut buat Presiden PKS (Tifatul Sembiring)

  5. amirs says:

    beginilah jadinya klo menggunakan produk kuffar, demokrasi (yg seharusnya diboikot)…. antara al haq dan bathil dah jadi abu-abu…
    dan menghilangkan amar ma’ruf nahi munkar… serta tidak akan berani mengatakan yang haq karena takut kehilangan pendukung..

    so…kembalilah ke syari’at islam solusinya… ke manhaj salaf dalam segala aspek kehidupan…

  6. Andi says:

    Wah… bang, kalo saya udah tidur aja. Ngapain nonton acara yang kayak gituan. Mending simpen tenaga buat nonton Inter VS MU semalem, lebih rame walau hasil kacamata :-D
    Tapi aku heran…. Om Tifatul itu kok ya mau diundang di acara yang kayak gituan ya???? Mbok ya dibedakan mana dakwah dan mana buang-buang tenaga….
    Eh… ngomong-ngomong PKS bukan partei dakwah ding ya…

  7. Memang bener, susah berkata tidak, apalagi dalam dunia politik. Terkadang kita terjebak dalam dunia dilematis yang akhirnya harus menutup jati diri kita yang sebenarnya (sebenarnya ya kita sendiri yang membuat itu dilema). Tak selamanya politik itu kejam, tak selamanya politik datang untuk menghantam. Tinggal kita mau ataukah tidak melaksanakan apa yang Allah dan Rasul tunjukkan.

  8. harutanamana says:

    Wah, mas Syaiful Arif sensi amat… Langsung diarahkan ke harakah A, harakah Z, harakah X (eh, ga disebut ya…), tabayun, tafahum, taawun. Saya yakin kang burhan arahnya ga untuk menjelek-jelekkan dan dari artikelnya sendiri kan emang ga ada unsur itu (betul g, kang?). Justru mempraktikkan apa yang antum sebut sebagai TAAWUN itu mas. Tolong menolong dalam kebaikan. Kalo ada tindakan saudaranya yang “kurang pas”, dibenahin, dinasihatin…

    Jangan sensi gitu dunk mas…katanya TAAWUN. kapan mo maju, jika ada yang “agak menasihati” dikit aja dibilang, “TABAYUN akhi…”; “jangan omong doang, harus dengan aksi nyata”, “Saya yakin mereka dah mempertimbangkan hal itu, mereka kan ahli…”
    Yah, cape deh…

    Piss, mas Syaiful Arif

  9. ahadi says:

    Salut pak Tifatul Sembiring, Untuk membangun Indonesia, memang harus berani menghadapi berbagai kalangan, meskipun harus berhadapan dengan kaum yang kerap kali mengolok-olok agama. Menang atau kalah masalah lain dan sangat subjektif, tapi kemampuan berkomunikasi dan menjawab pertanyaan “rakyat” yang walaupun memojokkan tanpa terpancing emosi adalah sesuatu yang luarbiasa.

  10. wah…
    aura di sini kok jadi sumuk begini ya….
    :)

  11. LiputanOne says:

    saya hanya percaya kalau politik itu tidak ada yang bersih sekarang ini. (no offence please. just my opinion). bravo golput aja deh

  12. mbak maya says:

    it’s a nice blog. Salam kenal ya…

  13. ressay says:

    Retorika yang tersusun rapi ditunjukkan oleh Tifatul Sembiring semalam.

    Jika boleh memperbandingkan dengan Hidayat Nur Wahid, menurutku, jauh lebih baik Tifatul Sembiring.

    Dalam hal retorika, menurutku, dia sejajar dengan SBY dan JK.

    SBY yang terkenal sangat hati-hati dalam berbicara (mungkin takut terpeleset) dan JK yang terkenal ngomongnya cepet tapi retorik.

    Itu sih pendapatku seputar retorika yang digunakan.

  14. Apip says:

    Wew…. Ssalut…..

    tapi kok aku ga pernah lihat ya?

  15. afie says:

    kalo sudah ngomongin politik…kayaknya semua sama saja….

  16. Assalamu’alaikum…
    Untuk Mas Harutanamana…
    Nampaknya gak sensi kok…Biasa ane ama pak burhan begitu, biasa ndagel, biasa nyufi dan biasa2 yang lain….hehehhe
    Ngudoroso itu biasa, bahkan ane tuliskan “Berjuang Bukan Hanya Bersuara, tapi Harus dengan karya nyata”, maksudnya sih bukanya menganggap pak burhan ato yang lainya cuma berjuang dengan kata, tp maksud ane adalah ajakan untuk kita semua, yach….kita semua umat islam termasuk mas harutanamana. Gitu mas….
    Budaya Tabayun Tafahum dan Ta’awun…udah kita lakukan setiap hari mas harutanamana, kan kita (ana ama pak burhan) setiap ketemuan dalam rangka untuk dakwah bil lisan juga.
    Wassalamu’alikum

  17. abu hani' says:

    setidaknya, ada tiga langkah dan strategi politik PKS; yang katanya partai dakwah. pertama, maslahat. kedua, maslahat. ketiga, maslahat. kapan nih, mikir mudaratnya?

  18. mudzak says:

    kalau semua ngambil maslahat, alias titik aman; kayaknya dakwah islam nggak nyampe ame pak tifatul dan koleganya.

  19. Santi says:

    Oalah,meisya anda orang isLam to?Anda sperti sdang memperoLok agama sndri…Memang yg namanya jaipong itu adalh slh stu budaya,tapi buatan siapa?Manusia to?Nah qt hdup bnapas udaranya dr siapa?Seenaknya mau menyejajarkn budaya buatan manusia dg aturan yang maha membt khdupn..Pks hy brusha jiHad menegakan agma dtengah ksomböngan manusia yg merasa bhak atas hdupnya..Pdhl qt hy dbu kecil diantara ciptaan Alloh yg maha besar

  20. aziz.. says:

    Wah…wah….. idenya bagus2 semua. pinter2…. tp ngemeng2 yang penting smua niatnya bagus, ga saling menghujat….

  21. rusdiana says:

    ya ya PKS kalau di undang Insya Allah hadir, karena kehadirannya adalah suatu kewajiban demi kebaikan ummat, PKS itu kalau bicara bukan dengan hawa nafsu tapi dengan ayat – ayat Allah & sunah rasul yang harus dipahami oleh setiap ummatnya, maka setiaf pembicaraannya adalah amanah masalah mau menerima atau tidak tenntang pendapatnya akan diserahkan kepada dirinya masing-masing, mudah – mudahan Allah akan membuka hatinya, pikirannya, bgi orang-orang yang mendengarkannya, tapi sayang saya tidak nonton acaranya, saya hanya membaca pendapat – pendapat di internet ini. bagi orang orang yang mau berubah kejalan yang lebih baik mudah mudahan Allah meridoinya, Amiiiin.

Leave a Reply