The Power Of Bete!
Salah satu hal yang sangat mempengaruhi hidup kita adalah sebuah perasaan bernama bete. Bete adalah istilah anak muda untuk menyebut kondisi perasaan sedih, eneg, ga nyaman, gelisah, kesel, mangkel, atau bahkan sampai marah sekalipun. Istilah ini menjadi ngetren seiring dengan laju pertmubuhan media, kecepatak teknologi komunikasi dan tumbuhnya generasi 90 an.
Maka tidaklah mengherankan kalau akhirnya istilah ini juga mengimbas pada orang-orang yang tidak berada pada level itu. Sebut saja para ummahat, akhawat, fatayat dan juga bapak-bapak serta rijalud dakwah yang lain. Saat ditanya kenapa kok amanah dakwahnya keteteran, dengan enteng dia menjawab. “Afwan ana lagi bete.” Atau ketika pulang dari kantor bertanya pada istri masak apa hari ini, jawabnya juga, “Afwan ana ga masak, karena lagi bete.”
Hebat memang, perasaan bernama bete ini menjadi alasan gembosnya kinerja seseorang. Memang tidak bisa dipungkiri, kalau lagi bete, otak stuck nggak mau bekerja. Ide yang bejibun seolah hanya dipandang mata menerawang. Sunyi dan kosong. Akhirnya malah ngantuk dan segera mengisi waktu dengan dengkuran panjang. “Srookk…”
Melihat dahsyatnya efek bete ini, nampaknya kita kudu kembalikan kepada petuah bijak Nabi saw. Kalau lagi bete sebaiknya segera mengambil air wudhu. Kemudian shalat dua rekaat. Atau kalau tidak dalam kondisi suci, boleh lah kita duduk sejenak. Kemudian mencoba untuk relaks dan santai. Tidak memancangkan emosi tegak berdiri, tapi mencoba rileks perlahan. Kalau duduk tidak juga mengobati rasa marah kita, boleh rebahan. Bete bisa terjadi pada siapa saja. Atau jangan-jangan tulisan ini dibikin oleh orang yang sedang bete? Humm semoga bukan beterie sonete…

Comments:4