Super Mama dan Rasa Malu
Feb 11th, 2008 by burhanshadiq
Apa yang ada di benak anda ketika menyaksikan ibu-ibu yang sudah berusia patuh baya, mengenakan baju kebaya dibalut dengan kerudungnya melenggak lenggok berjoget dan menyanyikan lagu dangdut? Apa yang ada dibenak Anda ketika menyaksikan para muslimah dengan baju muslimah mereka tumpah riuh di ajang pencarian bakat?
Pasti ada seiris rasa miris yang menyayat hati kenapa ummat ini begitu kerdil dalam memahami nash. Apakah tidak ada orang yang baik hati yang menyampaikan kepada mereka bahwa berjoget semacam itu diharamkan bagi mereka? Belum lagi bila mereka harus beradu goyangan dengan kontestan lainnya. Baju mereka dikritik, dinilai dan bahkan di’telanjangi’ oleh banyak mata.
Dimanakah kearifan ibu-ibu itu hingga mereka mau menjual rasa malu dengan segepok uang jutaan rupiah. Dimanakah rasa malu ibu-ibu itu yang sudah mengenakan jilbab syar’inya tapi kemudian menodainya dengan goyangan yang memalukan. Goyangan yang justru malah membuat mereka dipandang rendah oleh para penontonnya. Tidakkah mereka berpikir bahwa bagaimana jika anak-anak kecil kemudian bertanya, “Ibu itu memakai kerudung tadpi kok mau bergoyang ya?”
Rasa Malu yang Telah Hilang
Ada sebuah hadist yang berbunyi, “Kalau kamu tidak malu, maka berbuatlah sesukamu.” Ya, berbuatlah sesukamu ketika rasa malu sudah dicabut oleh Allah ta’ala. Puaskan hawa nafsumu bila rasa malu sudah tidak lagi bersemayam di hatimu.
Para ibu itu sudah kehilangan rasa malu. Bapak-bapak di rumah sebagai suaminya juga tidak lagi punya rasa cemburu, melihat istrinya bergoyang ditonton jutaan pemirsa televisi. Anak-anak mereka juga tidak lagi punya rasa malu melihat ibu-ibu mereka menjual suara, menjual goyangannya untuk mendapat sedikit sanjung puja pelega tenggorokan belaka. Orang-orang yang melihatnya pun juga tidak punya rasa malu melihat saudara seimannnya melakukan seperti itu. Terlebih lagi, para pemodal acara, yang sejak awal memang tidak punya rasa malu, menjual kepolosan ibu-ibu demi keuntungan materi atas nama kapitalisme.
Saudaraku, jagalah ibu-ibu kita di rumah. Jangan sampai mereka kehilangan rasa malu hanya untuk mencari kesenangan yang menipu.

anggapan mereka, malu ada harganya, dan harga itu telah dibeli oleh segepok uang untuk mereka..
demi populeritas dunia,
mereka bukan malu melainkan bangga akan yang mereka lakukan.
Apa mereka belum baca buku Ibunda Para Ulama ya?! Duh, kasihan ibu-ibu itu.. :(
Assalamulaikum…
Saya mungkin mencoba berada di posisi ibu-ibu yang dibilang mengenakan jilbab syari ini.
apakah benar mereka ibu2 pemakai jilbab syari ini paham dan mengerti apa arti “sebenarnya” jilbab syari yang mereka kenakan itu ? saya kira sih ibu2 ini memang belum paham dan mengerti sbener2nya ttg jilbab syari. mungkin yg mereka pahami hanyalah “jilbab” sebagai pakaian penutup aurat karena “malu” sudah tua kok masih hoby buka2 aurat.bahkan ketidakmengertian dan ketidakpahaman mereka ini menurut saya lagi akibat kurang adanya ilmu yg mereka dapatkan perihal jilbab syari itu sebenarnya spt apa. ketidakpahaman dan ketidakmengertian yang akan dibiarkan terus karena “orang2 yg sudah tahu itu salah” tak mau membagi ilmunya dan enggan memberitahu benarnya itu yg bagaimana siih.Hee..panjang yah..padahal sih saya cuman mo kasih ide kenapa gak dibuat buku aja nih pak Burhan fenomena yg sudah ada di depan mata yg kayak gini ini.lumayan kali saja buat pencerahan buat mereka….. (brgkali buat saya juga.tapi kalau saya sih dijamin secara original masih muda belum tua,ehehehe)
rgds,
Wassalam…
Menarik sekali idenya. Saya akan coba, tapi saya udah bikin kok buku berjudul Engkau Lebih Cantik dengan Jilbab. Kali perlu sekuel lanjutan, Kalo Berjilbab Jangan Goyang. Gitu ya?