Solo Islamic Book Fair atau Bazaar?

Saya melihat faktor kenapa pameran kali ini sepi adalah tidak adanya program yang relatif baru yang bisa menarik minta masyarakat untuk hadir dalam perhelatan ini. Setelah lima kali di adakan, nampaknya pihak Syaka Event Organiser tidak mengalami kemajuan dalam mengeksplor ide pameran buku islam ini. Sehingga yang terjadi adalah kejumudan dan kemandegan minat masyarakat untuk hadir dalam acara itu. Kalau selama penyelenggaraan 5 kali hanya mengandalakna diskon semata, maka tentu saja masyarakat buku merasa bosan. Dengan inovasi yang mati, maka pameran SOLO ISLAMIC BOOK FAIR saya pikir akan ditinggalkan oleh peminatnya. Hal ini patut dipikirkan bersama mengingat pameran juga merupakan ajang yang sangat efektif untuk meningkatkan tingkat baca dan tingkat beli buku masyarakat. Bila pameran yang diharapkan tersebut gagal maka harapan untuk meningkatkan daya beli masyarakat hampir tidak tercapai. Ada beberapa faktor yang menurut saya bisa segera dibenahi:

Lokasi yang Tepat

Pemilihan lokasi yang tepat akan sangat menentukan sukses tidaknya sebuah event. Memilih GORO ASSALAM dengan fasilitas mushola dan toilet yang jauh dari kata nyaman adalah sebuah kesalahan yang besar. Karena hypermarket ini terlalu jauh dari jantung kota. Sehingga meski pun publikasi digencarkan sebanyak apapun, pelu dibutuhkan niat yang membara untuk bissa sampai di halaman GORO ASSALAM.

Event Pendukung

Sepanjang yang saya lihat, event pendukung hanya dibiarkan ada tanpa adanya rekayasa sosial. Pihak EO seolah menjadikan event pendukung ini bukan merupakan bagian utuh dari konsep pameran. Sehingga ia terkesan dibiarkan terpisah tanpa ada rekayasa berarti. Tak ada pengunjung, tak ada animo dan tentu saja, rawan gangguan dari stan lainnya. Para pengisi event tidak memperolah kepuasan dalam mengisi acara. Di benak mereka pengunjung akan banyak dan membludak. Namun agaknya hal itu hanya angan yang tak pernah terwujud kapan.

Sound System

Sound system tidak menyeluruh menjangkau hingga ke dalam stan. Sehingga apa yang diumumkan oleh panitia, pemberitahuan atau apapun itu tidak terdengar oleh mayoritas pengunjung pameran. Hal ini tentu saja tidak optimal.

Inovasi

Sepanjang penyelenggaraan SOLO ISLAMIC BOOK FAIR, tidak ada inovasi yang berarti. Acara terlalu monoton, bahkan kalau boleh dikata cenderung membosankan. Jejeran stan dengan produk sejenis hampir dipastikan tidak akan mampu membuat pengunjung datang. Tak ada tokoh lokal yang dilibatkan. Sehingga inovasi yang terbilang sepi ini lambat laun akan memberi kontribusi menenggelamkan pamor SOLO ISLAMIC BOOK FAIR yang sempat terbentuk.

Sense Of Solo

Cita rasa lokal konten SOLO nya belum dapet. Tidak banyak tokoh SOLO yang dilibatkan. Sehingga acara ini sekedar penghancur tanggung jawab dan proker tahunan EO yang bersangkutan, tanpa ada bagian dari elemen SOLO yang dilibatkan. Semoga tulisan ini memberi masukan berarrti bagi semuanya.

3 Thoughts on “Solo Islamic Book Fair atau Bazaar?

  1. Assalamualaikum?

    kalau ana lebih mengkritisi bagaimana agar islamic book fair ini

    lebih ramai n mudah dijangkau dengan cara menambah aktivitas yang

    lebih mengundang perhatian baik itu ibu2, bapak2, remaja, maupun

    balita, yang jelas jangan meninggalkan ciri islaminya……

    misalnya antar remaja masjid….


    iya dan semoga mereka belajar dari kekurangannya selama ini. Cayo!

  2. ummu na'ilah on 28 February, 2010 at 12:16 pm said:

    assalamu’alaikum pak

    sbnrnya ana ngiri ni solo ada islamic book fair, pengennya book fair semacam itu smp juga ke aceh. krn minat baca dsn kurang sekali terlebih buku islami spt yg bnyk beredar di jawa jg krng beragam.

    klo mengingat solo islamic book fair yg sering diadakan di GORO,memang sy sndr smpt merasakan ke tdk nyamanan. krn GORO itu kan tmptnya jd 1 sm hypermarket,blm lagi disekelilingnya udh bnyk stan2 baju dsb. jd pas acara book fair itu rasanya jd mkn smpit. trkdng qt harus extra mepet2 jlnny spy ga berbenturan dgn ikhwn2 yg ikut dtng di book fair tsb.

    krn letak GORO yg jauh,akses BUS jg agak sulit. apalagi jam 5 BUS udh bnyk berkurang krn bnyk yg udh masuk garasi. jd klo telat dkt Qt2 yg dtng jd kebingungan plngnya.

    klo sy lebih nyaman klo lain kali Book fair diadakan di Diamons aja. selain tempat lebih luas,fasilitas KM sholat lbh nyaman jg, letaknya jg di kota bnyk BUS yg lwt jd lbh gampang ke sananya.

  3. Assalamualaikum

    Terimakasih atas masukan dan Sarannya Pak… Saat ini Event Pameran kami pindah ke: Graha Wisata Niaga…. Lebih ke Jantung Kota:

    Kembali Hadir, 11 th SOLO ISLAMIC BOOK FAIR 2010
    PAMERAN BUKU ISLAM TERBESAR DAN TERLENGKAP DI KOTA SOLO
    GRHA WISATA NIAGA SOLO (Jl. Slamet Riyadi 275, Kompleks SRIWEDARI, SOLO), 5-11 Maret 2010

    Semakin Heboh dengan Hujan Diskon, Semakin Menarik dengan Acara Asyik, dan Semakin Berkesan dengan Bingkisan NetBook sebagai doorprize utama.

    BINTANG TAMU/PENGISI ACARA :
    Ust. Abu Bakar Ba’asyir, Ust Salman Al Jogjawi (ex Sheila on 7),Deni Aden “Sapu Jagad”,Ust. Muinudinillah Basri, MA, Afifah Afra, EDCOUSTIC, Dra. Dewi Purnamawati-Arimatea, Ust. Hatta Syamsuddin, Ust Burhan Sodiq, S. S, FATIH, Festival Nasyid AAN Surakarta. Dan banyak tokoh lainnya

    Wassalam…

    Endik Koeswoyo
    Projek Manager Syakaa Organizer


    Mas Endik jazakallah responnya ya mas.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Post Navigation