Tren perbukuan Islam di Solo mulai merangkak naik. Dinamikanya menjadi semakin asyik ketika muncul mahluk baru bernama LISENSI. Saya pernah dikatain, eh kok ga enak banget diksinya, dituduh, halah ini juga ndak enak, dianggap PARANOID, gara-gara bertanya tentang soal lisensi kepada seorang teman penerbit tetangga. “Kok kamu jadi paranoid?”

Sepurane cak, kalau saya terkesan jadi parno gituh. Maksud saya bertanya sebenarnya lebih kepada pensikapan secara teman teman penerbit di Solo. Apakah mereka kemudian akan mengambil langkah yang sama berduyun-duyun ke Cairo untuk berburu lisensi. Kemudian apakah para pemegang lisensi akan melakukan pelarangan terhadap teman penerbit lain yang memiliki naskah aseli yang sama.

Aseli! Masalah ini memang masih simpang siur. Kalau orang-orang Jakarta bilang memang sebaiknya semua komponen mendukung upaya hak cipta baik penerbit kecil maupun penerbit gede. Tapi sayangnya tidak semudah itu. Apalagi untuk penebrit kecil macam punya kantor saya. Duit minim, kemampuan juga belum ada. Sementara masih banyak pekerjaan rumah yang cukup banyak. Hari ini memang masih dipahami bahwa buku-buku Islam diperuntukkan untuk dakwah. Sehingga menyebarkannya adalah juga untuk kepentingan dakwah. Sementara masih banyak penulis aseli di sono yang tidak begitu berhadap royalti manakala tulisannya dicetak di luar negeri. Diterbitkan saja, mereka sudah sangat gembira. Hal ini nampak pada kasus Syaikh Aidh Al Qarni.

Lalu bagaimana respon penerbit kecil tanpa lisensi? Penerbit tetangga yang lain mensiasati dengan tetap mencetak buku yang sama meski dilisensi. Karena mereka sudah terlanjur membeli dalam jumlah banyak dan kemudian akan merugi besar kalau tidak dicetak. Sementara penerbit yang lain ada yang malahan mencari lisensi tandingan. Kalau penerbit A mendapat lisensi dari penulis, maka penerbit B akan menghubungi penerbitnya. Sehingga keduanya merasa berhak menerbitkan. Kalau sudah begini ruyamlah jadinya.

Nah, opsi menarik yang kudu diambil adalah melihat fenomena lisensi ini sebagai sebuah peluang untuk berpikir kreatif. Kalau mengikuti arus lisensi duit mana cukup, maka harus memutar otak untuk tetap berproduksi. Secara nama pengarang sekarang juga bukan jaminan buku laris di pasaran, apalagi cuman mengandalkan romantisme nama penerbit yang kadang hilang ditelah jaman.

Lisensi juga tidak murah. Tak aneh bila para pemegang lisensi akan berang manakala buku yang lain muncul duluan dan laris di pasar. Sebut saja kasus My Jihad antara Hikmah dan GIP. Sebut juga kasus La Tahzan antara Qisthi dan At Tibyan. Satu buku bisa berkisar antar 100 hingga 1000 dollar amerika. Buku semahal itu pun belum menjamin akan laris manis di pasaraan Indonesia. Kecuali kalau ia agak curang dengan menembak buku yang terbukti sudah laris di pasar kemudian diusahakan lisensi terbitnya dan diakuisisi hak kepemilikan terbitnya. Pokil memang!

Maka siasat penerbit kecil adalah lebih cerdas membidik market. Pasar butuh apa, cari sumber naskah yang bagus, bukan untuk diterjemah, tapi didekonstruksi menjadi buku baru yang lebih berasa lokal. Bukan menjiplak, tapi hanya mendekonstruksi yang sudah ada dan kemudian tampil dengan nama pengarang lokal. Terang saja, langkah ini lebih memungkinkan untuk bertahan di era persaingan. Beberapa penerbit kecil senasib dengan saya pun sudah melakukannya. Bagaimana dengan Anda?

Burhan Sodiq
Penulis Buku Islam Remaja
& Praktisi Buku Islam Lokal

6 Responses to “Seni Bertahan Hidup ala Penerbit Kecil!”

  1. soekaberteman says:

    Pak Burhan..siasatnya sudah bagus tuh bgitu utk pnerbit kecil. harusnya sih ga penerbit kecil aja sih penerbit besar juga kudu cerdas kayak gitu tuh membidik market yg tepat …jadi biar ga mubazir aja nih ceritanya utk berebut cari lisensi dr pnerbit luar sono..eh trus pas kemudian bukunya dpt giliran dialihbahasakan, ga taunya kok malah terjemhannya kurang enak dibaca yah…(heheh..bgtulah satu sisi komen saya selaku pembaca bukan penerbit :p)

    memang tumpul undung kang, untel untel an masalah yang ada. Tetapi seninya memang kudu ada, dan inilah salah satu seni bertahan itu. thanks 4 ur comment!

  2. ihsan says:

    Bangkitlah, wahai penulis lokal! :)

    ayo. ayo. ayo nangdi?

  3. soekaberteman says:

    memang tumpul undung kang (ehehhehee…..saya ini jenisnya ukhti tapi kok dipanggil kang yah :) )

    waduh, maaf. soalnya tidak menunjukkan katepeh jadi ga tahu kalo ukhty apa akhy. hehehe saya juga suka berteman.

  4. baby says:

    Great website!! Keep up the good work!!

  5. yasir says:

    Kang, bagaimana kabar penerbit di Jawa menghadapi krisis global ini? Kabarnya di Jakarta penerbit gede aja udah ada yang “poyang-payingan”
    Kemarin kita pameran di Indonesia Book Fair juga hasilnya sangat minim. Apakah ini tanda-tanda resesi global merembes ke penerbit buku?

    penerbit di Jawa, lebih banyak bertahan dengan mencetak buku dalam jumlah terbatas, ada pula yang mulai melirik pasar novel, tetapi ada pula yang masih kekeh dengan segmen pasar aselinya. Idealis tetap jadi ciri, hanya saja kemungkinan dari para agen juga menunggu-nunggu pulihnya respon pasar. Tapi saya dengar dari kawan, januari februari mungkin akan ada perubahan. Tetapi kang yasir, menarik sekali bila hal ini dikaji lebih dalam, sejauh mana imbas krisi terhadap industri perbukuan islam nasional.

  6. suharyono says:

    Udah kecil bukunya dijiplak ke sana ke mari mas???

Leave a Reply