Seni Berdebat
Ini adalah bagian dari hidup. Bertarung dan beradu argumen, merah, penuh amarah. Ketika Ahmadiyah, tetap bergeming. Pura-pura tidak mendengar, atau bahkan dibantu aktivis HAM memperjuangkan kesalahannya. Saya menjadi tertantang, tidak tahu kalau anda bagaimana. Menyaksikan di televisi tadi malam, debat hebat dua kubu beda aliran. Gontok-gontokan saling memenangkan perseteruan, apakah ahmadiyah kudu dibubarkan atau tidak. Saya yang rakyat kecil mebubuhkan doa di lisan saya, semoga lurus lisannya para pendukung Islam. Agar lisan mereka menjadi wasilah tersampainya kebenaran dan terkuburnya kepura-puraan atas nama HAM.
Debat adalah sebuah keahlian. Kadang tidak dibutuhkan banyak buku atau dalil, tetapi dibutuhkan nyali dan kelihaian melihat peluang. Peluang untuk memakai kata-kat lawan sebagai senjata ampuh untuk menjatuhkan. Tidak terbawa arus opini lawan, tetapi tetap istiqamah dengan misi awal. Lisan bisa menipu, menyihir bahkan mengelabuhi. Kalau tidak siap debat, orang bilang, mundur saja daripada memalukan.
Melihat orang salah yang pinter selalu bikin gemas. Bagaimana cara menundukkan opininya, mengalahkan argumentasinya, dan membuatnya sadar, sesadar-sadarnya bahwa dia salah. Tidak cukup nyantri di pesantren selama 8 tahun, apalagi hanya S2 yang hanya berkisar 2 tahun saja. Butuh nyali, yang hingga kini sedang dicari. Butuh juga amunisi yang kuat dan tahan deru cobaan. Doakan saja, mudah-mudahan lisan ini bisa selalu berkata jujur tanpa harus hancur.

Comments:3