“Sendirian, Han?”
Jul 16th, 2007 by burhanshadiq
“Buat temen juniorku Muhammad Yunianto selamat menjadi seorang suami. Semoga pernikahan kamu kemarin bisa menjadi trigger tuk menjadi sosok yang lebih sempurna. Kulihat binar bahagiamu saat kemarin resepsi pernikahan di Tegalwinangun itu. Semoga senyum itu menjadi awal kebahagian yang tak berkesudahan, dan kegembiraan yang abadi.”
Pagi kemarin (15 Juli 2007)saya memang pergi ke walimahan temen saya. Waktu itu saya sebenarnya agak ngerasa sakit perut. Mungkin karena saos sambal yang saya makan bareng martabak malam sebelumnya. Maklum saking semangatnya makan sama ibu bapak dan adek tercinta, jadi lupa kalao perut saya sangat tidak bersahabat dengan sambal yang berlebihan. Pagi harinya perut langsung ngerespon dengan cepat. Tapi saya nekad berangkat.
Dalam perjalanan saya membeli sebuah kacamata mungli, dan alhamdulillah pas nangkring di wajah enut saya ini. Wah kalau dah pake baju batik dan kacamata gitu dah seperti PASPAMRES. Hahaha. Saya melaju dengan kecepatan normal 80 km/jam. Sampai di tempat ketemu mas Agung. Temen saya yang banyak memberi masukan dan diskusi tentang pengembangan dakwah kampus itu datang bersama istrinya.
“Sendirian, Han?” ini pertanyaan pertama yang saya dapatkan dari dia.
Saya duduk, mencoba tolah toleh kanan kiri, apakah ada di antara tamu yang saya kenal. Ternyata tak ada satupun yang kenal. Saya juga tidak melihat tempat penyerahan kado. Akhirnya daripada bingung, saya sampaikan kado itu kepada famili pengantin.
Beberapa waktu duduk, acara belum dimulai. Datang teman sejawat lagi, Mas Jumadi bersama anak dan istri. “Sendirian, Han?” ini pertanyaan kedua yang saya dapatkan, kali ini dari Mas Jumadi. Saya nyengir saja dan mengulang jawaban yang sama bahwa anak istri ke Surabaya karena mau ada hajatan walimahan juga.
Duduk lumayan lama, ngobrol ke sana ke mari bareng mas Jumadi, datang teman lagi Muhammad Satrio bareng istri dan anaknya, Daud. Ia juga melontarkan pertanyaan yang sama, “Sendirian, Han?” Dan layaknya kaset, saya memutar jawaban yang sama seperti jawaban kepada mas Jumadi dan mas Agung.
Makanan pun mulai disajikan. Saya mencoba menoleh ke belakang, ternyata terdapat ustad Habib Ngadiri dan mas Anshori. Keduanya juga menanyakan hal yang sama saat bertemu saya di akhir pesta, “Sendirian, Han?” Hemm…
Ketika orang terbiasa tampil bersama pasangan, maka wujud kepedulian teman dan kawan adalah pertanyaan, “ Kenapa sendiri? Istrinya kemana?” Ini adalah wujud sapaan sosial yang wajar dan biasa saja. Bahkan menurut saya mereka sangat perhatian, hingga diriku yang endut ini selalu menjadi bahan pertanyaan. Terima kasih kepada semua pihak yang telah menanyakan, “Sendirian, Han?” kepada saya. Semoga kamis besuk saya tidak lagi sendirian. Karena saya akan ke Surabaya bergabung bersama anak dan istri saya tercinta. “Ummah, saya datang….”

wekekekek…sok romantis…men…
hehehehe yok ojok ngunuh cak arif..lha memang romantis, rombongan makan gratis
kemarin pas ke walimahannya yuni kok gag ada yg nanya saya, “Sendirian?” yach ?
hahahaha…
malah medeni kalau ada yang nanya. Dikira km baby sitter, adiknya mana? Hehehe
huehehehe.,., Mr BS pun kalo sendirian udah dibilang dua lho.,. (emang seh gara2 yang ndut itu).. hehehe. gmn Mr BS???
wah mas burhan ini memang hebat, cuman ada kata2 “sendirian Han?” aja bisa dibuat tulisan yang panjang banget.
wah jadi ingat masa itu bang… senyumnya… waduhhh… (klipuk…)
“wah jadi ingat masa itu bang… senyumnya… waduhhh… (klipuk…)”
wedew….