Posisi Banci di Akhirat Nanti
Feb 20th, 2008 by burhanshadiq
Saya mengamati banyak sekali banci di televisi. Setiap sinetron, filem, music show dan segala tayangan hampir semua ada bancinya. Banci adalah seorang lelaki yang berdandan seperti perempuan, memakai gincu, tata rias, dan memakai wig (rmabut palsu) hingga menyamai perempuan aselinya. Sebagian besar mengaku melakukan itu sebagai sebuah tuntutan peran. Mereka berdalih atas nama profesionalisme.
Imbasnya segera ketahuan. Masyarakat lambat laun menganggap banci sebagai sebuah tren yang biasa saja. Seorang anak berlagak banci juga dianggap normal dan biasa. Tiada kekhawatiran di dalam hati. Tidak ada semangat untuk menyelamatkan. Atas nama takdir dan pemberian Tuhan, mereka legawa menjadi banci.
Saya jadi kepikiran, kenapa tidak ada buku yang membahas fenomena ini. Orang kok mudah banget memutuskan menjadi banci. Orang kok mudah banget meninggalkan kelelakiannya demi duit dan segepok honor di tangan. Apakah mereka tidak tahu bagaimana kelak mereka akan diposisikan. Bagaimana nasib para banci ini kelak di akhirat? Siapa yang akan menjawabnya? Adakah di antara kisanak bisa menjawab pertanyaan saya?

setuju pak Burhan kalo mereka2 itu jadi banci krn lebih gara2nya soal duit. satu sisi juga jd banci itu skrg ini rupanya lifestyle dan seperti sebuah penyakit yang menular. sebab itu jg yg sering saya dapati ketika bertemu mereka di lokasi syuting.
. yg bisa jawab banci kelak di akherat gmn hanya Alloh saja.. abis saya gak bisa bayangin kalo nih para banci ketemu ama para malaikat penjaga surga/neraka……….”bok bole yah akika mo pasang gincu dulu ”
dan anehnya lagi mngenai fenomena banci ini adalah -saya pernah melihat bbrpa banci mengenakan jilbab….MasyAlloh saya jd ngiri lihatnya krn saya sendiri waktu itu masih belum berjilbab
hahaha lucu cekali mba!
to mba soekabertemna: hehe…good joke
“kenapa tidak ada buku yang membahas fenomena ini”
wah, dah ada ide tuh pak…bikin aja bukunya pak…saya doain deh…(cuma bisa menyemangati. hiks…)
saya pernah nulis buku tentang banci,
terinspirasi lagunya Ungu, Andai Ku Tahu
andai kutau
kapan tiba ajalku..
ijinkan aku..
mengucap kata tobat padamu….
reff:
aaaku tak mau..
jikalo aku dimadu….
pulangkan saja
kepada orang tuaku…
buku saya yang judulnya Pulau Detawa,
mengupas kesamaan Jogja dengan Bali, dari adat budaya, agama..
bahwa miripnya Jogja dengan Bali, di Bali ada Nyoman, Jogja-pun Berhati Nyoman, tapi di Bali ada Ngaben, di Jogja mung trimo Ngamen,
cerita tentang BI (Bencong Imut) yang mangkal depan BI (Bank Indonesia) dimulai dari sini…
bagi kaum banci, mereka telah merasa berjasa bagi negara, terbukti adanya lagu “Bancimu Negri”..
wah mereka memang tidak pantas ditiru. oleh karena itu, jangan ditiru!