Pengging, dan Sebungkus Garangasem
Today renang di pengging. Semua karyawan jadi satu di kolam renang alami, dengan mata air pengging yang bening. Tapi nampaknya hari ini banyak yang tidak hadir. Mungkin karena flu, mendadak sakit, atau karena memang sedang tidak mood untuk ciblon di kolam renang. Maklum perjalanan dari rumah memang sangat jauh. 15 kilometer mungkin lebih. Apalagi kayak Mas Rohmat, jauh-jauh dari negeri Wonogiri. Untung ngga perlu pake passport. Hehehe.
Saya boncengan dengan mas Isa. Pagi buta jam setengah enam, ga buta-buta amat sih, soalnya sekarang subuh jam 4 pagi. Menerjang lengangnya jalalan aspal Solo Boyolali, beradu dengan dinginnya pagi yang sudah menghampiri. Model seperti ini yang saya suka. Bisa menarik gas sekencang-kencangnya, menyalip motor-motor, mobil dan bus yang lewat. Kecepatan 100 – 110 km/jam, lumayan bikin mata perih karena helm bukan helm andalan.
Sampai di lokasi, lari 3 kali putaran. Nafas udah ngos-ngosan, maklum lemak saya lebih banyak dari yang lain. Mas Afian yang kurus malah berkomentar, “Cuman tiga kali pak?” Hehehe Anak baru, pengennya lari 10 kali kaleee…
Selesai lari, nyebur ke kolam. Byurrr…renang gaya katak, hampir bisa muter. Akhirnya nongkrong di tepian kayak udang. Berjemur diri kayak turis, padahal kulit udah legam kayak negro. Kira-kira 45 menit, bilas pake air bersih. Ganti baju dan menuju warung pecel.
DI warung pecel ambil menu Garangasem. Wuih seger! Apalagi warungnya di dekat persawahan yang hijau. Nikmat sekali. Beginilah caranya bersenang-senang dengan yang halal. Ketemu teman yang nyaman, memanjakan diri dengan olahraga dan makan-makan. Pantesan gendut ga karuan. Hehehe. Meski murah, tidak banyak orang yang bisa bersenang-senang secara sederhana seperti ini. Jadi tugas kita sebagai hamba, untuk selalu bersyukur atas apa yang bisa kita nikmati hari ini.

Comments:6