Pembicara Ketinggalan Panitia
Seorang penulis buku, Bambang Trim, menganjurkan kepada penulis untuk sering-sering melakukan jalan-jalan untuk mendapatkan ide tulisan. Saya termasuk orang yang kemakan nasehat ini. Akhirnya saya melakukan traveling setiap kali saya diundang menjadi pembicara kecil-kecilan. Yah, sebuah traveling yang tidak disengaja mungkin ya.
Hari sabtu lalu, pukul 12.30 WIB saya dijemput seorang bapak. Keperluannya mengantarkan saya menuju suatu desa di Sragen, untuk menyampaikan materi Dai Bersenjata Pena kepada beberapa akhwat di sebuah pesantren tahfidhul Quran. Saya dibonceng dengan sebuah motor keluaran terbaru, larinya kenceng. Sampai daerah Palur, saya dihajar rasa kantuk yang luar biasa. “Whusszzz!” Saya hampir saja nggeblak ke belakang, hampir jatuh karena rasa kantuk itu. Memasuki areal persawahan, saya buka helm penutup kepala saya. Angin berhembus sangat segar, menyapa wajah gendut saya. Hehehe.
Sesampainya di pondok itu, saya ditinggal sendirian. “Lhoh, pak saya ditinggal di sini sendiri? Ga ada ikhwannya?” Lelaki itu cuman menjawab singkat mengiyakan. Saya masuk ke ruangan yang sudah dipenuhi sekitar 20 akhwat, sebagian besar bercadar. Terdapat sebuah kain hijab hijau merentang sebagai pembatas, agar saya bisa ghaddul bashar. Pesantren itu sangat sederhana, ruangannya pun belum ada colokan listriknya. Saya duduk manis di kursi pembicara dan materipun saya sampaikan hingga adzan Ashr berkumandang. Terakhir sesi saya bertanya, “Ada pertanyaan?” Seorang akhwat bertanya, “Tadz, boleh minta bukunya satu ngga?” Walah!!!
Acara usai, saya shalat Ashr di sebuah masjid yang sedang direnovasi. Subhanallah masjid itu penuh oleh jamaah. Saya tidak menduga di desa seperti itu, penduduknya rajin shalat berjamaah. Masjid ini makmur sekali. Jamaahnya juga nampaknya sangat akrab antara satu dengan yang lain. Di depan masjid terdapat gedung MIM (Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah) dengan murid yang lumayan banyak. “Kayaknya nih kampung bagus agamanya ya…” celetuk saya kepada mas panitia yang menjemput saya.
Tausiah pak komisaris
Saya diantar kembali pulang. Sesampai di rumah saya langsung mandi dan menuju acara selanjutnya. Buka bersama pak direktur dan pak komisaris. (font sengaja kecil biar ga sombong ya). Satu hal yang menyentuh di hati dari pemaparan pak komisaris. Bahwa bekerja itu bukan hanya nyari duit, tapi agar kita selalu lebih baik agamanya dari hari ke hari. Karena Allah akan menunjuki kebaikan kepada sebuah keluarga, bila keluarga itu paham akan agama (baca: Islam). Saya terenyuh mendengar itu. Memang bekerja bukan sekedar mengejar gaji, gaji berapapun akan habis. Tapi prioritasnya lebih kepada bagaimana kita agar selalu dekat dengan dunia ilmu. Karena ilmu akan menunjukkan kita ke jannah Allah Ta’ala. Beliau berharap jangan sampai kita hanya menerbitkan buku tapi tidak pernah membaca buku. Sekali lagi saya sangat mencatat itu!. Acara akhirnya berakhir dengan menu gulai dan sate kambing yang sangat menggugah selera.
Ummah and Aisy On The Road
Sepulang acara bukber, saya mengajak keluarga sowan ke mbahnya. Tetapi ternyata anak-anak sudah terlelap, menunggu Abahnya tidak pulang-pulang. Akhirnya saya bagi tugas bareng istri. Aisyah digendongnya, dan saya menggendong Atikah. Dalam terlelap mereka duduk di atas motor dan melaju ke rumah Mbahnya yang berjarak + 10 kilometer.
Paginya saya menunaikan tugas bedbuk di Simo Boyolali. Ummah ingin ikut beserta si mungil Aisy. Saya bonceng mereka melaju di atas jalanan waduk Cengklik yang sejuk dan indah. Kami sangat menikmati perjalanan dengan gelak tawa dan tingkah polah Aisy merespon riaknya jalan yang dilalui. Maklum jalan pedesaan tidak terlalu halus.
Sesampai di kantor kecamatan, peserta sudah menunggu. Saya mengisi materi hingga adzan Dhuhur tiba. Ada sebuah pertanyaan lucu dari akhwat, “Kok sempet-sempetnya ikhwan jatuh cinta? Kenapa Jatuh cinta harus di masa puber?” Ih lucu banget pertanyaannya ya. Saya jawab sebisa saya. Mudah-mudahan akhwat penanya itu puas dengan jawaban saya. Saya pulang dengan terik mentari yang sedang garang di siang itu, bersama Ummah dan si mungil Aisy.
Bukber Ditinggal Panitia
Sore harinya saya menunaikan tugas lagi. Membagi pengetahuan di sebuah masjid dalam acara bukber remaja masjid. Saya hadir ditemani beberapa peserta, mungkin tidak ada 25 orang. Saya mengisi selama setengah jam. Tanya jawab 15 menit, adzan Maghrib sudah berkumandang. Saya disodori teh manis gelas kecil dan snack. Saya shalat maghrib bersama jamaah masjid lainnya. Usai shalat sunnah saya ingin berpamitan, tapi…Tak ada satupun panitia yang tersisa. “Lho? Saya kudu pamitan sama siapa nih?” hehehe baru kali ini pembicara ketinggalan panitia. Hehehe namanya juga anak-anak. Ya Allah catatlah ini sebagai amal shalih saya dan mereka…

Comments:2