Pedagang dan Rasa Sabar
Jan 18th, 2012 by burhanshadiq
Setelah kepergian bapak, saya punya aktivitas rutin baru, yakni menjemput ibu. setiap sore saya nunggu beliau di depan pintu masuk pasar Klewer. Ditemani anak sulung saya, aktivitas itu menjadi semakin menarik. Sore kemarin saya mengamati dua orang suami istri yang sedang merapikan dagangan mereka. Karena sudah sore mereka kukut (jawa). saya lihat warna wajah mereka begitu tenang. dagangan mereka berupa tas leptop dari kain batik dengan berbagai macam corak. Dua orang suami istri itu nampak sangat rukun. Mereka nampaknya sangat pasrah dengan rejeki berapa saja yang dikasih sama Allah per harinya.
Jiwa semacam itulah yang saya butuhkan sekarang. Tenang, tawakal, kalem, dan juga bersahaja. Tidak kemrungsung (jawa) tidak tergesa gesa menuai hasil. Seringkali motivator-motivator itu justru menyuntikkan zat beracun bernama ketidaksabaran. Mereka memompa semangat juang hanya untuk hasil yang cepat. Cobalah lihat seminar-seminar yang ditawarkan di baliho-baliho sudut kota. Menjual tema tema gahar yang memesona mata dan pikiran. membuat nafsu meraung-raung untuk KAYA dalam tempo sesingkat-singkatnya dan dilakukan secara tidak seksama.
Saya jadi teringat sebuah nasihat, “bila memang sudah ketemu tujuan, maka segerlah bikin perencanaaan yang matang.” Sebab bila niat bisnis kita hanya main-main, maka Allah juga akan kasih hasil yang main main saja. Namun bila bersungguh-sungguh menjalani prosesnya sejak awal, maka insya Allah, hasilnya juga bukan main. Inilah hasil pengamatan saya sejenak di sore itu, bisa jadi nanti sore saya menemukan pengamatan lainnya. ^_^

