Sumpah (Gwe Masih) Muda

No Comments

October 29, 2011 at 5:37 amCategory:Artikel Santai

Tulisan ini adalah intisari dari kalam remaja yang diadakan di rdsfmsolo kemarin sore jam 16 wib. Setiap jumat memang saya memberikan materi remaja di radio itu. Nah, kalau anda ingin tahu isinya apa, tulisan ini bisa menjadi sedikit gambaran cerita saya.

Sumpah pemuda menjadi momen pertumbuhan semangat di dada kawula muda. Meski sebenarnya sumpah yang diucapkan hanyalah simbol dari sebuah semangat ingin bersatu. Maka yang paling baik adalah kita bisa dapatkan semangat itu dengan mencoba mempersatukan elemen elemen kaum muslimin.

Kita sedih dan miris melihat kaum muslimin tidak bsia bersatu. Meski mereka bilang aqidahnya satu, tapi ternyata hatinya bisa berbeda beda. Susah sekali mempersatukan mereka pada satu kata. Semuanya pengen menang sendiri.

Islam harusnya menjadi bahasa pemersatu kita. Bahwa selama kita muslim dan mereka muslim, kita bakalan diikat oleh satu jalinan iman yang kuar mengakar. Meski saya di Indonesia dan Anda di luar negeri, bukan berarti semua hubungan islam ini akan hancur.

Semangat inilah yang akan menjadi cermin bagi kita. Sejauh mana kita mampu bersemangat pula mempersatukan ummat ini (baca Islam) Karena kita butuh remaja yang gaul tapi syar’i. Dia paham tentang dunia sebagai tempat tinggalnya. Tapi dia juga memahami agama yang diyakininya.

Menjadi Istri Penuh Pesona

No Comments

October 29, 2011 at 5:29 amCategory:Artikel Santai

Tidak gampang menjadi istri yang selalu baik. Karena istri bukanlah profesi yang mudah dicari manualnya. Kita harus mencari ilmu dan mengamalkannya dengan disesuaikan pada kondisi keluarga kita. Seorang istri belum bisa dikatakan sabar manakala sang suami ternyata sabarnya minta ampun. Seorang istri juga belum bisa dikatakan baik bila ternyata suaminya super duper baik.

Bila dia punya suami yang kejam dan beringas dan dia bertahan, maka dialah istri yang sangat sangat sangat sabar. Suami yang tukang marah, egois dan suka menghina dirinya, dan dia bertahan akan itu semua, maka bisa jadi dia adalah istri yang sangat sabar. Apalagi bila dia menghadapi suami yang jahat. Suka memukul hatinya dengan kata kata kasar, bermaksiat di depannya dan meniadakan hak haknya maka dia bertahan dengan itu semua, maka dialah istri yang baik.

Maksud saya, kita semua di sini pasti punya kekurangan dan kelebihan. Kita juga pasti diuji oleh Allah dengan kekurangan dan kelebihan itu. Mungkin kita bertemu dengan orang yang tidak tepat. Padahal kita sudah memohon untuk dipertemukan dengan orang yang tepat. Ternyata dia memang tepat pada ketidaktepatannya itu.

Andaikata sekarang Anda punya suami yang tidak sesuai kriteria. Suka marah dan suka jahat pada Anda. Maka sudah saatnya bagi Anda untuk menyiapkan jurus dan ilmu ampuh untuk bertahan bersamanya. Mengupayakan dia berubah dan mencoba berdakwah pada suami semampu yang Anda bisa. Namun bila ternyata dia seperti batu, membisu seribu bahasa dan tidak mau berubah sifatnya. Sudah saatnya bagi Anda menyiapkan setumpuk pakaian, koper dan kelengkapannya dan mengucapkan selamat tinggal kepada dia.

Tetaplah menjadi istri yang penuh pesona. Pesona fisik yang bisa diupayakan dengan berdandan di depan suami Anda. Atau menjadi pesona dengan akhlak Anda yang luar biasa baik. Senyum tidak pernah lelah baik di hati maupun di wajah.

Saat Teman Menjadi Musuh

No Comments

October 29, 2011 at 5:16 amCategory:Artikel Santai

Si Udin apes sekali. Saat berjalan gontai di sebuah event, dia bertemu dengan temannya. Tanya kabar seperti biasa. Tak sadar terbawa pada sebuah obrolan yang sangat serius. Wajah temannya berubah sangar. Alis naik, matanya melotot, lidahnya super tajam. Seperti ninja yang siap menyerang dengan pedang terhunus di tangan.

Serangan pertama berhasil merobek hati Udin. Serang kedua mencincang-cincangnya. Serangan ketiga menginjak injak hatinya. Udin pun terkapar tak berdaya. Dia kalah. Sikap lemah lembutnya dibantai habis oleh sikap agresif temannya itu. Padahal selama ini Udin pikir temannya itu orang paling baik sedunia. Ternyata dia salah besar. Temannya juga bisa marah semarah marahnya. Meski sebenarnya Udin tiada salah sama dia.

Setelah hatinya hancur dimaki maki tiada henti. Ia pun bergegas pergi menghilangkan galaunya. Tapi Udin tidak sesakti dulu. Serangan-serangan itu masih hinggap di kepalanya. Tidak mau pergi malah bermalam di ruang hatinya. Mau diusir, tapi Udin tidak bisa mengusir. Kontan saja, shalatnya pun jadi korban. Khusuk tinggal elementary, karena serangan itu masih menyisakan darah yang mengucur di hatinya berkali kali.

Udin pun bercerita kepada sahabatnya. Harapannya cerita itu bisa meleraikan sedih di hatinya. Dugaan Udin benar, dengan bercerita selengkap-lengkapnya membuatnya mendapat kesembuhan. Darah di hatinya berangsur-angsur berhenti. Hatinya lambat laun pulih kembali. Udin pun sehat kembali.
Itulah kisah si Udin. Yang bisa menyembuhkan hati dengan sharing atau curhat kepada kawan dekat. Dengan sharing kepada orang yang tepat, maka kita akan mendapatkan solusi, masukan, gambaran dan juga nasihat yang bermanfaat. Pertanyaannya adalah, kalau disuruh memilih, apakah kamu memilih menjadi Udin atau temannya Udin?

Bila Anda menjadi seorang Udin, maka lakukanlah apa yang sudah dilakukan Udin. Hidup sendiri itu tidak enak. Tapi kalau kita hidup bersama kawan yang baik dan menyenangkan, pasti hidup ini lebih bersemangat. Sedangkan kalau Anda menjadi temannya Udin, maka jadilah teman yang supportif. Selalu memberi dukungan pada kebaikan kebaikan yang Udin lakukan. Selalu memberi masukan pada setiap masalah yang dicurhatkan. Jangan ditinggal pergi, karena saat dia butuh dan Anda ada di situ, adalah sebuah kebahagiaan yang sangat berarti.

Hari ini kita belajar bahwa pertemanan bisa saja semu. Suatu saat bisa jadi teman kita bisa menjadi seorang ninja yang meluluhlantakkan hati kita. Tanpa bertanya, tanpa aba aba. Sabetan sabetan pedangnya bisa membuat kita rubuh runtuh. Hingga akhirnya kita berkesimpulan bahwa, sudahlah, pertemanan kita sampai di sini saja.

No Comments

October 27, 2011 at 8:27 pmCategory:Artikel Santai

“Hore besuk mba Tika sudah 7 tahun.” Kataku di atas kendaraan saat pulang dari sekolahnya.

“Aku ga mau hore.” Kata dia.

“Kenapa?”

“Karena aku ga mau dipukul Abi.”

“Lho kok dipukul?”

“Abi bilang katanya kalau udah umur 7 tahun dan ga solat, akan dipukul.”

“Oh iya. Nabi tuh yang pesan gitu dek. Lagian mukulnya juga ga sakit kok. Lagian juga kan dipukulnya kalo ndak solat. Kalau kamu solat ga bakalan dipukul dong…”

 

Tak terasa memang, sudah 7 tahun dia sekarang. Usia yang tidak lagi kanak kanak. Dia harus diberi pengetahuan banyak hal. Soal hal hal yang harus dia ketahui. Soal aurat, soal solat, surga dan neraka yang kudu dia ketahui.

Allah, saya mohon kepada Engkau. Beri kekuatan kepada saya tuk jadi ayah yang baik. Semoga saya bisa menjaga amanahmu berupa keluarga yang bahagia. Karena ternyata semakin lama menjadi orang tua juga tidak semakin mudah. Anak anak tumbuh dan tumbuh.

Problematikanya juga beda beda. Ada yang biasa, tapi ada yang luar biasa. Orang tua kayak kita ini harus mulai banyak belajar lagi. Membaca buku, mendatangi kajian dan juga menyiapkan diri untuk menempa pengalaman yang lebih banyak lagi.

 

Mau Apa untuk Indonesia

No Comments

October 27, 2011 at 7:51 pmCategory:Artikel Santai

Untuk Indonesia kita mau apa? Bisa jadi kita mau apa saja. Mengeruk keuntungan dalam waktu yang sama. Bergelar pahlawan dengan cara mengejar kekayaan. Atau sekolah yang tinggi agar bisa memanipulasi dan korupis.

Untuk Indonesia kita mau apa? Apakah mau bicara budaya yang sering kali tiada asal usulnya. Dipegang dengan gigi geraham seoal olah itu hidup mati bagi kita. Tetapi di saat lain, ribuan orang tidak peduli dengan budaya kita. Bagi mereka makan keyang masih menjadi mimpi yang selalu saja berseri seri. Tidak tahu kapan tamatnya…

Untuk Indonesia kita mau apa? Menjadi pendukungnya di segala lini dengan formalitas dan juga banyak seragam seragam menakutkan. Atau tetap berkreasi untuk negeri yang kita cinta ini.

Untuk Indonesia kita mau apa? Kita mau menyelamatkan Indonesia dari mereka yang terlalu mencintainya. Sehingga mengkultuskannya dan memuja serta memujinya. Indonesia hanya bagian dari amanah Allah yang Maha Luas. Maka tidak sepatutnya kita merendahkan diri, dengan memeperebutkannya. Indonesia harus lebih beragama, lebih bertata krama, dan lebih mampu menjadi teladan bagi kita semua.

 

Seperti Apakah Kamu

No Comments

October 27, 2011 at 7:42 pmCategory:Serius banget

Saat aku menemukanmu, kau sudah tidak sadarkan diri. Bisa jadi, ramuan itu sudah mulai bekerja. Membuatmu mual dan kemudian tertidur. Aku tahu inilah saatnya bagiku tuk beraksi. Tapi aksi yang seperti apa?

Tubuhmu terkulai lemas. Seperti seonggok daging tak bertenaga. Sementara suaramu merintih lirih. Mungkin ini sudah saatnya. Kamu akan berubah menjadi manusia serigala. Tapi langit tak berbulan. Jadi kamu serigala macam apa?

Matamu mulai cekung. Tubuhmu semakin kurus. Suaramu tak segarang lalu lalu. Hanya uban yang memenuhi rambutmu yang keriting itu. Seperti harummanis di sekaten yang berwarna putih. Kini kau tak asyik lagi. Kamu sudah mati di hatiku sebelum kamu benar benar mati berkalang tanah. Lalu mati seperti apa yang kau alami?

Hidupmu sudah semakin suram. Segala keinginan sudah kau lakukan. Kini tinggal penantian saja. Apakah akhirnya kamu menyerah dengan keadaan. Ataukan kamu bangkit dari keterpurukan. Tapi keterpurukan seperti apa yang kau alami? Kau caci maki orang yang tak sepaham. Kau anggap mereka anjing-anjing neraka. Tak ada iba di sebalik kata kata yang kau ucap. Mungkin kamu sengaja. Tapi apakah kamu setega itu. Sengaja membuat luka di raga saudaramu sendiri. Ketegaan macam apa yang kamu miliki?

Langit memerah, menutup kesempatan tuk cerah lagi. Hanya awan menggumpal yang siap mencair membasahi bumi pertiwi. Aku dan kamu akan terasa senang. Saat jemari jemari basah bergumul dengan gemulai hujan. Menjadi saksi kebersamaan dalam bayang bayang. Tapi, bayang bayang seperti apa yang kau harapkan….

Menghidupkan Remaja Masjid

No Comments

October 27, 2011 at 12:26 pmCategory:Artikel Santai

Masjid memang menyimpan potensi yang luar biasa. Salah satu dari sekian potensi itu adalah remaja masjid.Mereka memiliki semangat yang besar untuk memperjuangkan Islam. Sayangnya jumlah mereka tidak begitu banyak. Karena kendala komunikasi, atau cara dakwah yang bisa jadi malah membuat remaja menjauh dari masjidnya. Lalu pertanyaannya bagaimana cara dakwah kepada remaja agar mereka mau pergi ke masjid?

Salah satu faktor penting adalah bagaimana membuat mereka SUKA terhadap masjid. Ini menjadi menarik manakala kita bisa sangat tahu, apa saja yang disuka oleh remaja. Remaja sangat suka berkomunitas dan eksis dengan komunitasnya. Mereka selalu pengen bertemu dan bergaul, dan orang orang tahu bahwa mereka ada. Oleh karena itu menjadi sangat penting bagi kita untuk bisa memunculkan komunitas ini di tengah tengah mereka. Menunjukkan bahwa mereka ada dan mereka berkiprah.

Proses keilmuan menjadi langkah berikutnya yang perlu ditempuh. Kajian kajian remaja tidak bisa hanya bermodal semangat saja. Karena bila tidak ada ilmu, mereka hanya bertahan sesaat dan hilang seiring generasi berganti. Maka proses keilmuan ini menjadi sangat penting. Bagaimana mereka mendapatkan aqidah yang benar, akhlak yang baik dan ilmu yang bermanfaat. Bila sudah begitu, maka harapan berikutnya adalah mereka bisa menjadi pelaku pelaku dakwah di lapangan. Menjadi aktivisnya dan menjadi penggerakan roda dakwah agar selalu bisa berputar.

Fitri, The Spiderkid!

No Comments

October 26, 2011 at 6:16 pmCategory:Artikel Santai

Indonesia menyimpan banyak hal hal menarik. Baru baru ini kita dikejutkan dengan kebiasaan unik seorang anak kecil yang suka panjat tower. Bocah berusia 7 tahun ini berkali kali melakukan aksi spektakulernya memanjat menara sutet atau menara bts. Lagi lagi polisi terpaksa harus mengiming-imingi hadiah berupa uang agar si kecil fitri ini mau turun.

Apa yang dilakukan bocah kecil ini mungkin sebentuk ”cari perhatian”. Sebagai seorang manusia wajar kalau ingin diperhatikan oleh orang orang sekitarnya. Ada yang caranya aneh-aneh, dari mulai membuat sensasi sampai bikin bikin kasus yang heboh. Ulah Fitri ini mungkin salah satu dari kehebohan kehebohan itu.

Saya pikir, anak ini harus difasilitasi. Dikembangkan bakatnya, disalurkan potensinya. Bayangkan kalau dia anak orang kaya, mungkin dia bisa bernasib lebih enak. Disekolahkan panjat tebing dan di usia dewasa dia bisa menjadi atlet panjat tebing yang keren. Tapi sayangnya dia cuma orang miskin. Tak pernah dilirik, tak pernah juga mendapat akses sehebat itu. Jadilah dia seorang anak yang suka ”berlatih” di tempat umum seperti menara BTS atau menara lainnya. Kalau produk produk besar negeri ini bisa menangkap peluang, Fitri bisa jadi seorang model yang luar biasa. Dia bisa dibuatkan tour de Indonesia memanjat menara menara tinggi di negeri ini. Wow!

Gazzamedia Di Pameran Islamic Book Fair

No Comments

October 26, 2011 at 7:51 amCategory:Artikel Santai

Pameran buku islam memang menjadi magnet tersendiri bagi warga Solo. Selain sebagai ajang jual beli, pameran ini juga menjadi wisata pendidikan yang menarik bagi anak anak. Mereka bisa menikmati ribuan buku yang dipamerkan dan digelar di stan stan penerbit. Selain itu pula harga yang murah serta diskon yang menarik seringkali membuat tergiur untuk membeli.

Gazzamedia akan kembali berperan dalam event bergengsi ini. Insya Allah Gazzamedia akan hadir di stan no 18 dengan koleksi terbaiknya. Selain itu gazzamedia juga mengisi acara promo dengan menghadirkan penulis burhan sodiq untuk membedah bukunya Ya Allah Diakah Jodohku. Moment ini tentu saja akan sangat sayang bila dilewatkan.

Rencananya ada beberapa promo yang akan digelar. Bagi Anda 100 pembeli pertama akan mendapatkan tambahan potongan diskon sebesar 5% dari diskon yang sudah ada. Kesempatan ini sangat menarik bagi anda yang ingin menambah koleksi buku remaja dari penerbit gazzamedia. Sampai jumpa di pameran, kayakan hidupmu dengan membaca buku…

Buku Bagus Bulan Ini

No Comments

October 24, 2011 at 9:51 amCategory:Artikel Santai