Oleh BURHAN SODIQ S.S (penulis buku remaja)

Membahas soal fenomena remaja pesantren memang sangat menarik. Di satu sisi mereka adalah remaja dengan segala keinginannya. Tapi di sisi lain mereka dituntut menjadi seorang panutan karena label santri yang melekat pada dirinya.

Sebagai seorang remaja, mereka biasa mengalami kondisi yang sering disebut dengan strom and stress. Kondisi ini mengharuskan mereka untuk bisa beradaptasi dengan kondisi sekitarnya. Kondisi storm misalnya membuat mereka bingung karena terpaan budaya dan terpaan ujian dan cobaan yang sedemikian berat. Hal hal baru yang menghampiri mereka dan juga banyaknya hal aneh yang menyapa hidup mereka. Pergaulan yang asing, teknologi dan media massa membuat mereka seperti terbawa badai. Bingung dan membingungkan.

Sedangkan kondisi stress biasanya adalah munculnya banyak tekanan. Tekanan bisa dari internal maupun eksternal dirinya. Bisa dari dalam dirinya sendiri karena terlalu banyak yang dipikirkan. Masalah pelajaran, masalah keluarga, masalah cinta dan banyak masalah lainnya. Kebutuhan adanya pengakuan, adanya penghargaan dan kebutuhan non material lain yang mulai ada dalam diri mereka dan harus dipenuhi. Sementara dari factor eksternal bisa berupa tekanan peraturan pesantren, kondisi keluarga, ekonomi dan banyak lagi yang lainnya.

Menyikapi kondisi ini ada sebagian yang merasa bahwa mereka harus bertahan. Sehingga mereka tampil sebagai santri yang mampu tetap menjaga akhlak dan perilakunya karena ikhlas. Mereka tidak akan tergoda dan tetap istiqamah dengan ilmu yang mereka amalkan. Meski menjadi santri yang seperti ini juga tidak mudah. Akan ada banyak rintangan dan hambatan di depan mata. Tapi bila serius dan yakin pada Allah semua bisa dihadapi dengan baik.

Namun ada pula yang memilih larut dalam kondisi yang ada. Mereka melebur dengan kebanyakan anak muda dan remaja. Sehingga mereka tidak mampu lagi bertahan dengan cirri khas keteguhan memegang prinsip. Faktor pengubahnya bisa sangat banyak. Dari mulai karena pekerjaan, harta atau soal cinta. Mereka tidak mampu memegang keutuhan tekad menjadi panutan masyarakat. Akhirnya memilih menjadi manusia biasa dengan kebiasaan yang sangat biasa.

DUA UJIAN BESAR: FITNAH SYAHWAT DAN FITNAH SYUBUHAT
Dua jebakan besar yang harus dihindari oleh para remaja pesantren adalah syahwat dan syubuhat. Dulu seorang santri sangat dibatasi berkomunikasi dengan lawan jenisnya. Tapi sekarang eranya sudah berubah. Facebook, handphone dan teknologi lain memungkinkan mereka melakukan hal itu secara lebih leluasa. Mereka bisa saling kenal, saling bertemu dan bahkan saling terjerat asmara. Akibatnya, mereka tidak bisa mengendalikan nafsu dan terpenjara oleh keinginannya. Ilmunya hilang tak tersisa tergerus oleh keinginan cinta buta.

Jebakan kedua yang tak kalah dahsyat adalah urusan syubuhat. Pemikiran pemikiran aneh sudah mulai disebar di kalangan pesantren. Mereka mengaburkan siapa kawan dan siapa lawan. Mereka juga menbuyarkan konsentrasi perjuangan dengan banyaknya iming iming keduniawian. Diperparah lagi dengan munculnya dai dai jahat yang mengeruhkan dunia dakwah. Umat menjadi bingung harus mengikuti kebenaran versi siapa.

Santri harus bangkit dengan kekhasan mereka. Tidak perlu silau dengan masa depan dunia orang lain. Karena kalian sudah punya masa depan sendiri. Tidak perlu risau dengan urusan cinta, karena bila engkau baik, cinta akan menghampirimu di saat yang tepat. Jika kita istiqamah, Allah juga akan memberi kita pahala yang tiada putus putusnya.

Sabtu kemarin adalah hari yang sangat padat. Saya harus ada di beberapa tempat secara berturut-turut. Di awali pada Sabtu sore di sebuah pesantren. Lokasinya cukup jauh dari Solo. Saya harus menyimpan energi untuk malam harinya. Perjalanan kurang lebih 40 KM pulang pergi ini cukup menyita energi. Menyampaikan materia dari jam setengah empat sampai jam lima sore. Setelah selesai saya meluncur balik ke kota asal. Sampai di Solo saya mampir ke RDS untuk sekadar menunggu waktu isya. Pengen sekali merebahkan badan, tapi kalau saya melakukan itu nanti pasti tertidur. Saya pun memilih bertahan.

Jam sudah beranjak ke pukul setengah delapan. Saya bersiap menuju lokasi ceramah selanjutnya. Saya keluar dari RDS dan pelan pelan mencoba menyeberang. Terasa sekali ada yang gembos di ban depan. Ternyata benar, ban motor saya kempes. Alhamdulillah di depan sudah ada tambal ban. Sambil menunggu ditambal, saya sms panitia kajian. “Maaf, motor saya kebanan. Mohon ditunggu. Maksimal 15 menit.”

Karena saya tidak sabar, akhirnya saya minta teman RDS mengantar motornya. Saya bertukar motor dengan dia. Dengan tas ransel yang berisi laptop 2,5 kilogram saya beranjak ke lokasi kajian. Di masjid, masih tampak sepi. Hanya ada sepuluh remaja. Tidak tahu kenapa suara saya seperti mau habis. Nampaknya stamina saya tidak cukup tangguh.Jam delapan saya mulai dengan peserta seadanya. Karena saya merasa capek, akhirnya jam 9 lebih sepuluh menit saya sudahi pengajiannya. Saya pun bergegas kembali menukar motor saya. Saya pulang dan sampai rumah kerokan. ^_^

berbagi saja, kalau tidak berkenan mohon maaf…

“Saya datang agak telat ya tad.” Itu sms yang saya kirim ke ustad yang menjadi panitia achievement motivation training untuk anak anak SMP. Karena menurut saya acaranya terlalu pagi, sementara saya harus menyiapkan banyak hal di pagi hari. Terutama menyapa dua putri cantik saya dan bundanya tercinta.

Sampai di lokasi saya memulai acara. Anak anaknya kondusif di awal awal. Hanya saja mereka nampak tidak bersemangat. Ada yang tiduran ada yang senderan dan ada pula yang malah masuk ke dalam ruangan. Yah, beginilah anak anak. Pengalaman saya dulu pas diundang di acara halal bi halal alumni SD juga begitu. Mereka sibuk dengan hape sendiri sendiri. Di SMP yang lain, saya lihat juga hampir sama. Banyak yang cuek dengan pembicara, meski segala jurus sudah kita keluarkan.

Pukul setengah sebelas siang, acara usia. Saya pun lanjut ke acara berikutnya rapat dengan team rds membahas evaluasi linnisai faqath. Ada beberapa catatan menarik tentang program ini. Ini adalah program rdsfm yang dikhususkan untuk para muslimah. Ternyata responnya sangat bagus. Para muslimah merasa memiliki rdsfm solo yang notabene dikenal sebagai radio kaum pria.

Sepulang dari RDSfm saya ke rumah ibu. Mengisi waktu dengan bercengkerama menemani ibu tercinta. Habis ashr seharusnya saya ada undangan ke rumah mas Fajar untuk pengajian alumni SMA AL ISLAM. Meski saya bukan alumni sma itu tetap saya tetap diundang. Sayangnya saya tidak bisa hadir karena merasa lelah.

Jam 7 malam saya diundang sama pak Adian diajak bertemu bersama kawan kawan PSPI. Lembaga yang kami bentuk semasa kuliah S2 itu ingin kami bangun lagi. Diskusi di kamar hotel itu pun semakin menarik saat kami bicara tentang peta dunia dakwah di Indonesia. Kalau kita terlalu sibuk mengurusi perbedaan antar kita, maka musuh islam tidak ada yang mengurus. Artinya mereka bisa dengan mudah melenggang mengobrak abrik barisan kaum muslimin. Yah Alhamdulillah, jadi semangat dan semangat lagi untuk ikut berpartisipasi di jalan ini!

Jam sepuluh malam saya pulang. Karena ada titipan nasi goreng, saya mampir di depan novotel. Nasi goreng di situ enak. Beli satu dibagi buat 4 orang di rumah. Ibu, adik, saya dan istri. Ruar biasa…

Setelah masuk kantor pagi pagi, tiba tiba ada telepon masuk.
“Mas, ini saya. Bisa minta tolong ga mas?”
“Iya ada apa mas.”
“Nulis di majalah saya mau ga mas. Di rubrik remaja.”
“Oh ya mas, insya Allah berapa karakter mas?”
“Dikit kok cuman 4000 saja.”
“Ok insya Allah mas.”
“Aku pasang setahun ya mas. Jadi nulis 6 sekalian.”
“Ok mas, insya Allah.”

Orang yang menelpon saya adalah kawan saat kuliah dulu. Dia sekarang dipercaya mengelola sebuah majalah gratis yang dibagikan bagi donaturnya. Majalah ini sudah sering saya dengar. Harapannya dengan menulis di majalah itu, kepekaan saya terhadap masalah remaja bisa lebih terasah.

Pengalaman selama ini, setiap kali saya diminta menulis untuk majalah biasanya kemudian saya malah keteteran. Karena saya tidak ada team yang diajak diskusi. Tema apa yang menarik untuk ditulis, seringkali harus saya tangani sendiri dengan baca membaca koran atau artikel online. Pihak majalah biasanya pengen tulisan kita selalu bagus dan baru. Sementara kita sebagai penulis juga harus mampu mengupdate wawasan dan pengetahuan kita. Sehingga tulisannya tidak begitu begitu saja.

Tapi saya yakin Allah pasti kasih jalan buat kita yang serius. Saya pengen serius di bidang penulisan ini. Menulis untuk berbagi dan beramal shalih. Meskipun tidak jarang pula orang yang mencibir bahwa menulis adalah pekerjaan yang tidak keren. Karena hanya mengurai kata dan sama sekali tidak terlihat gagah sebagai seorang pejuang. Pejuang kata kata memang tidak dilihat dari besarnya otot, atau kekarnya tubuh. Tapi dilihat dari seberapa gigih dia menyuarakan kebenaran meski masyarakat tidak mengapresiasinya secara benar.

« Newer Posts - Older Posts »