Pas jalan ke Jogja kemarin ada cerita menarik. Saat kami harus ‘isi bensin’ di sebuah warung. Warung ini cukup luas. Nampaknya pengelola mengubah rukonya menjadi sebuah warung bakso plus seafood. Kami berlima pesan dengan menu yang berbeda-beda. Qodarullah, salah satu temen kami pesan menu sop buntut. Jangan tanya buntut apa ya, pasti buntut sapi. Setelah menunggu beberapa saat, pesanan itu datang.

Sesaat sebelum disantap, ada perasaan yang tidak enak. Kayaknya sopnya tidak sehebat iklan yang ditempel di depan warung itu. Dan ternyata benar! Daging buntut sapi itu kerasnya bukan main. Teman saya langsung protes sama pelayan warung itu.

“Mas, supnya masih keras nih…”

Lalu masnya datang dan membawanya ke dapur lagi. Setelah dimasak lagi beberapa saat, dia kembali membaca semangkuk sup yang tadi. Dugaan temanku benar lagi, sup itu masih keras. Karena dagingnya hanya disimpan di frezer dan beberapa saat harus siap disajikan, tentu saja tidak bakalan empuk.

Selesai makan, temen saya masih tidak juga puas. Dia samperin penjualnya dan bilang kalau sup buntutnya benar benar tidak bisa dimakan. Keras banget. Kata teman saya ini penting agar si penjual bisa introspeksi diri dan tidak mengulanginya lagi.

Kondisi yang hampir sama terjadi lagi saat kami masuk Klaten. Ada penjual durian yang menawarkan daganganya dengan sangat menyakinkan. Namanya durian pasti susah ditebak dalamnya enak apa enggak. Tapi si penjual sudah berbuih-buih meyakinkan kita bahwa durian dia sangat enak. Teman yg sama beli dua buah durian. Kami makan durian itu di tempat si penjual itu. Ternyata durian itu hanya enak satu saja, yang satu sama sekali hambar. Teman saya yang kena sup buntut keras tadi akhirnya protes lagi, kenapa duriannya bisa tidak ada rasanya. Si penjual tetap kekeh kalau duriannya manis. Karena tidak mau berpanjang2 akhirnya kita minta duriannya diganti dengan yang lebih kecil dan dibawa pulang saja. Alhamdulillah ternyata yang kecil malah lebih manis.

Moral cerita ini adalah, bisa jadi kita mendapatkan apa yang jauh dari yang kita inginkan. Oleh karenanya perlu rasa syukur dan juga rasa sabar. Kalau salah tempat bisa berantakan. Berbagilah semoga apa yang kita bagi bisa bermanfaat bagi orang lain meski hanya cerita soal duren dan sop buntut yang kerasnya minta ampun….^_^

Pekan-pekan ini mungkin menjadi pekan yang sulit bagi orang tua. Pasalnya, anak anak SD lagi menghadapi tes yang super serius bagi mereka. Tapi kalau pengalaman saya, yang mengalami stres malah kita sebagai ortunya. Anak anak nampaknya tenang tenang saja seolah olah semuanya gampang dan bisa diatasi. Diajak diskusi juga santai. Diajak belajar juga santai. Selalu dengan caranya mencari bahagia di tengah tekanan yang luar biasa. Saya jadi belajar banyak dari apa yang dilakukan oleh anak saya Atika. Dia santai sekali menghadapi ujian semesterannya. Setiap kali ditanya, dia hanya jawab, “Gampang kok bi.”

Kalau diajak belajar di malam hari, dia pasti sambil mainan. Saya menduga anak saya ini tipe belajarnya memang bukan tipikal serius mendengarkan dan nggethu kata orang jawa. Tapi dia belajar sambil lalu, dan saya lihat sebenarnya dia mampu mencerna apa yang disampaikan. Hanya saja memang dia bukan tipe serius berkeringat dan wajah menakutkan. Dia santai menghadapi semuanya. Tiada rasa stress takut kalau nilainya hancur. Tidak ada ketakutan masuk kelas. Semua dia anggap biasa.

Mungkin semua itu karena dia ngga tahu konsekwensinya. Mungkin semua itu karena dia tidak tahu apa yang akan terjadi kalau nilainya merah semua. Yah, semuanya karena dia tidak tahu. Ketidaktahuan membuat dia santai menjalani hidup. Yang penting dia bisa menikmati setiap episode hidupnya. Atau kemungkinan kedua, dia tahu resikonya, tapi dia tetap saja santai seolah tiada yang perlu dikhawatirkan. Hasil apapun akan dia terima dengan senang hati.

Anak saya menjadi guru yang sangat inspiratif bagi saya pribadi. Kita seringkali takut akan resiko yang kita alami. Pasti nanti akan terjadi ini dan itu. AKhirnya kita mundur teratur dan mengurungkan niat baik yang kita lakukan. Kita terlalu pandai dengan konsekwensi. Hingga akhirnya tidak berani melangkah karena terlalu sok tahu dengan apa yang terjadi. kenapa kita tidak memilih selalu bahagia dengan apa yang terjadi dan yang akan terjadi. Seperti anak kelas satu SD yang sedang menempuh ujiannya. Semoga tulisan ini bisa memberi inspirasi di pagi hari ini…

Jujur adalah akhlak yang baik. Kita semua tahu itu. Tapi hanya sedikit dari kita yang mau melakukannya. Di dalam pekerjaan, seringkali orang harus berbuat dusta untuk menyelamatkan dirinya. Sementara kita sebagai temannya pengennya berbuat jujur. Tapi karena dia sudah telanjur berbohong dan berdusta maka akhirnya semua kena batunya.

Itu tadi mungkin salah satu gambaran yang baru saja menimpa teman saya. Dia harus dipecat dari perusahaan tempat dia kerja karena kelakuan temannya satu team. Temannya suka memanipulasi data penjualan untuk menyelamatkan muka customernya. Akhirnya atasan tahu dari laporannya yang sangat ganjal. Sebagai ganjarannya, dia dan teman temannya dipecat dari pekerjaannya.

Naas memang. Kita yang tidak ikut berbuat tapi juga kena dampaknya. Hal yang sama juga terjadi pada kasus jembatan yang runtuh di Kutai Kartanegara. Polisi akhirnya memutuskan bahwa siapa yang terlibat dalam pembangunan itu harus menjadi tersangka. Padahal boleh jadi dia hanya ikut dan tidak tahu menahu soal konstruksi bangunan jembatan itu.

Lalu saya berpikir, bagaimana dengan kemaksiatan yang dilakukan orang lain secara umum di negeri ini. Kita tidak ikut melakukan, tapi kita hanya berdiam diri dengan apa yang mereka lakukan. Bukankah nanti kita juga akan mendapatkan akibatnya? Sudah saatnya kita berbenah dan peduli dengan sekitar kita. Sudah seberapa sering kita memperingatkan kerabat dan teman agar segera bertobat. Atau sudah seberapa sering kita mengajak mereka kepada kebaikan islam. Jawabannya ada di hati kita semua.

Ilmu hidup itu sederhana. Kalau kita mensyukuri apa yang sudah diberi, maka kita akan semakin bahagia. Namun bila kita semakin mencari apa yang belum diberi, maka kita juga semakin menderita.

Apa yang sudah dimiliki hari ini? Laptop misalnya. Di tangan sudah ada laptop meski tidak secanggih keluaran terbaru dari pabrik laptop, tapi laptop ini sudah bisa menemani kita kerja. Sudah bisa menyelesaikan tugas kuliah. Sudah bisa menghibur kita saat kita sedih atau kesepian. Tapi…kita mendadak merasa kurang saat melihat iklan di baliho besar tentang prosesor terbaru i7 yang sangat pintar. Setelah melihat harga, kita semakin sedih karena tabungan kita tidak ada sejumlah itu. Dampaknya, hari hari kita menjadi sibuk berpikir bagaimana cara mendapatkan laptop seri i7 itu.

Terkuraslah perhatian kita, dan pemaknaan terhadap laptop yang ada di tangan menjadi kurang. Sebagus apapun laptop yang hari ini di tangan kita menjadi tidak berarti.

Berbeda halnya bila kita bersilaturahmi ke teman yang belum punya laptop. Mereka harus bolak balik rental komputer untuk mengerjakan tugasnya. Mereka harus menghadapi resiko falshdisk kena virus karena ganti ganti pasangan komputer. Mereka juga harus rela antri bila rentalnya rame bukan kepalang. Melihat mereka, kita menjadi lebih bersyukur diberi kelebihan laptop. Melihat mereka kita jadi lebih bahagia karena sudah memiliki yang lebih bagus. Inilah hidup inilah cara sederhana memaknai sebuah kebahagiaan…

 

« Newer Posts - Older Posts »