Oleh: Burhan Sodiq
Pergaulan kamu di masa remaja bisa saja mengundang rasa debar di dada. Apakah itu? Mungkin saja cinta! Tapi pertanyaannya apakah rasa itu harus diteruskan dengan pacaran? Hum, kayanya tidak melulu seperti itu deh. Masih ada cara yang lebih bagus dan lebih baik daripada membingkai rasa tertarikmu dalam bentuk pacaran.

Buku ini menawarkan sebuah alternatif pencerahan bagi kamu. Yaitu bagaimana menolak pacaran dan lebih memilih persahabatan. Persahabatan yang dimaksudpun lebih kepada persahabatan yang islami.
Karena kita orang Islam, maka sebaiknya kita mengikuti aturan pergaulan dalam Islam. Saat seorang lelaki berteman dengan seorang perempuan maka Islam mengatur dengan baik bagaimana seharusnya. Agar hubungan pertemanan itu tidak menjadi pacaran terselubung, atau bahkan malah teman tapi mesra. Sehingga batas teman itu menjadi jelas, sejelas warna putih di siang hari.
Mengutip Ustdz. Dra. Herlini Amran, MA., Tarbiyah Akhwat. Majalah Al-Izzah Edisi 12 Th.1/Juli 2004 disebutkan bahwa Diantara ketentuan hukum yang berkenaan dengan hubungan terhadap lawan jenis antara lain adalah :
Pertama, Perintah untuk menjaga pandangan. Allah Swt berfirman : Katakanlah kepada laki-laki yang mukmin, hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya. Sikap demikian adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Tahu atas apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita mukmin, hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya. (QS An-Nur : 30-31).
Apapun agenda dakwah yang hendak kita lakukan, pandangan terhadap lawan jenis tetap harus dijaga, bukan berarti kita tidak melihat lawan jenis sama sekali, namun menjaga mata agar tidak saling menatap, sebab tatapan mata yang berlama-lama dapat mempengaruhi perasaan sehingga syaitan sangat leluasa menggoda. Rukhshoh hanya diberikan kepada mereka yang terlibat dalam proses belajar mengajar, transaksi jual beli, memberikan kesaksian, berobat dan saat khitbah.
Kedua, Islam telah memerintahkan kepada kaum wanita untuk mengenakan pakaian secara sempurna. Yakni pakaian yang menutup seluruh tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangan. (QS Al-Ahzab: 59). Adapun bentuk dan model pakaian tidaklah termasuk urusan ibadah murni tetapi termasuk aspek muamalah yang illat dan ketentuan hukumnya berporos pada maksud dan tujuan syariat (sebagaimana yang diungkapkan Prof. Abdul Halim dalam Tahrirul Mar’ahnya).
Oleh sebab itu, bagaimanapun bentuk dan model pakaian asalkan dapat menutup aurat dengan memenuhi kriteria dan persyaratan yang ditetapkan syariat, sesuai dengan kondisi iklim dan pada sisi lain memudahkan wanita bergerak, maka dapat diterima oleh syar’i. Kriteria dan persyaratan itu antara lain menutupi seluruh tubuh kecuali wajah dan kedua telapak dan punggung tangan, longgar, tidak ketat dan tidak transparan, serta serasi dan tidak mencolok.
Ketiga, Islam melarang pria dan wanita untuk berkhalwat (berdua-duaan) , kecuali wanita itu disertai mahramnya. Rasulullah Saw bersabda : Tidak dibolehkan seorang pria dan wanita berkhalwat, kecuali wanita itu disertai mahramnya.
Keempat, Islam sangat menjaga agar dalam kehidupan khusus hendaknya jamaah (komunitas) kaum wanita terpisah dari jamaah kaum pria; begitu juga di dalam masjid, sekolah, dan lain sebagainya. Paling tidak jangan sampai terjadi pembauran (ikhtilat), sekalipun dalam urusan dakwah. Pengaturan dan penjagaan shaf ikhwan dan akhwat baik dalam berdemo atau kegiatan lainnya perlu di tata kembali. Ikhtilat ini sangat banyak terjadi dalam kehidupan bermasyarakat seperti di dalam kendaraan umum, di pasar, dllnya. Menurut Dr. Abdul Karim Zaidan hal seperti ini dikategorikan sebagai bentuk dhorurat, selama kita memang belum mampu mengubahnya, namun apabila kita bisa mengaturnya, maka hukum dharurat tidak berlaku lagi.
Demikian antara lain sebagian kecil dari sekian banyak rambu-rambu yang telah diatur Islam dalam pergaulan. Dakwah sudah menyebar, pergaulan sudah semakin luas, namun kita sebagai kader dakwah hendaknya tetap menjaga asholah dakwah dengan menjunjung tinggi nilai-nilai Islam.

Oleh: Burhan Sodiq
Pergaulan kamu di masa remaja bisa saja mengundang rasa debar di dada. Apakah itu? Mungkin saja cinta! Tapi pertanyaannya apakah rasa itu harus diteruskan dengan pacaran? Hum, kayanya tidak melulu seperti itu deh. Masih ada cara yang lebih bagus dan lebih baik daripada membingkai rasa tertarikmu dalam bentuk pacaran.

Buku ini menawarkan sebuah alternatif pencerahan bagi kamu. Yaitu bagaimana menolak pacaran dan lebih memilih persahabatan. Persahabatan yang dimaksudpun lebih kepada persahabatan yang islami.
Karena kita orang Islam, maka sebaiknya kita mengikuti aturan pergaulan dalam Islam. Saat seorang lelaki berteman dengan seorang perempuan maka Islam mengatur dengan baik bagaimana seharusnya. Agar hubungan pertemanan itu tidak menjadi pacaran terselubung, atau bahkan malah teman tapi mesra. Sehingga batas teman itu menjadi jelas, sejelas warna putih di siang hari.
Mengutip Ustdz. Dra. Herlini Amran, MA., Tarbiyah Akhwat. Majalah Al-Izzah Edisi 12 Th.1/Juli 2004 disebutkan bahwa Diantara ketentuan hukum yang berkenaan dengan hubungan terhadap lawan jenis antara lain adalah :
Pertama, Perintah untuk menjaga pandangan. Allah Swt berfirman : Katakanlah kepada laki-laki yang mukmin, hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya. Sikap demikian adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Tahu atas apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita mukmin, hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya. (QS An-Nur : 30-31).
Apapun agenda dakwah yang hendak kita lakukan, pandangan terhadap lawan jenis tetap harus dijaga, bukan berarti kita tidak melihat lawan jenis sama sekali, namun menjaga mata agar tidak saling menatap, sebab tatapan mata yang berlama-lama dapat mempengaruhi perasaan sehingga syaitan sangat leluasa menggoda. Rukhshoh hanya diberikan kepada mereka yang terlibat dalam proses belajar mengajar, transaksi jual beli, memberikan kesaksian, berobat dan saat khitbah.
Kedua, Islam telah memerintahkan kepada kaum wanita untuk mengenakan pakaian secara sempurna. Yakni pakaian yang menutup seluruh tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangan. (QS Al-Ahzab: 59). Adapun bentuk dan model pakaian tidaklah termasuk urusan ibadah murni tetapi termasuk aspek muamalah yang illat dan ketentuan hukumnya berporos pada maksud dan tujuan syariat (sebagaimana yang diungkapkan Prof. Abdul Halim dalam Tahrirul Mar’ahnya).
Oleh sebab itu, bagaimanapun bentuk dan model pakaian asalkan dapat menutup aurat dengan memenuhi kriteria dan persyaratan yang ditetapkan syariat, sesuai dengan kondisi iklim dan pada sisi lain memudahkan wanita bergerak, maka dapat diterima oleh syar’i. Kriteria dan persyaratan itu antara lain menutupi seluruh tubuh kecuali wajah dan kedua telapak dan punggung tangan, longgar, tidak ketat dan tidak transparan, serta serasi dan tidak mencolok.
Ketiga, Islam melarang pria dan wanita untuk berkhalwat (berdua-duaan) , kecuali wanita itu disertai mahramnya. Rasulullah Saw bersabda : Tidak dibolehkan seorang pria dan wanita berkhalwat, kecuali wanita itu disertai mahramnya.
Keempat, Islam sangat menjaga agar dalam kehidupan khusus hendaknya jamaah (komunitas) kaum wanita terpisah dari jamaah kaum pria; begitu juga di dalam masjid, sekolah, dan lain sebagainya. Paling tidak jangan sampai terjadi pembauran (ikhtilat), sekalipun dalam urusan dakwah. Pengaturan dan penjagaan shaf ikhwan dan akhwat baik dalam berdemo atau kegiatan lainnya perlu di tata kembali. Ikhtilat ini sangat banyak terjadi dalam kehidupan bermasyarakat seperti di dalam kendaraan umum, di pasar, dllnya. Menurut Dr. Abdul Karim Zaidan hal seperti ini dikategorikan sebagai bentuk dhorurat, selama kita memang belum mampu mengubahnya, namun apabila kita bisa mengaturnya, maka hukum dharurat tidak berlaku lagi.
Demikian antara lain sebagian kecil dari sekian banyak rambu-rambu yang telah diatur Islam dalam pergaulan. Dakwah sudah menyebar, pergaulan sudah semakin luas, namun kita sebagai kader dakwah hendaknya tetap menjaga asholah dakwah dengan menjunjung tinggi nilai-nilai Islam.

Dulu buku ini diterbitkan oleh Barakah Belia. Sekarang buku ini telah diterbitkan ulang oleh Gazzamedia.

Ciattt!

Oleh : YUSUF BIN ABDULLAH AT-TURKY

Segala puji bagi Allah. Semoga sholawat dan salam dilimpahkan kapada Rasulullah, para keluarga dan para sahabat beliau, serta kepada orang-orang yang mengikuti jejak dan petunjuk beliau sampai hari pembalasan.

Selanjutnaya : Saya menulis nasehat yang sedarhana ini kepada setiap saudariku ukhti muslimah, yang telah rela Allah sebagai Tuhannya, Islam sebagai agamanya, dan Muhammad s.a.w. sebagai Rasul Allah.

Wahai saudariku. Dari Anas r.a. dari Nabi s.a.w. bersabda :

“Tidak beriman seseorang diantara kamu sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (Muttafaq Alaih)

maka, baris-baris sederhana ini sengaja ditulis untuk anda dari sesama saudara muslim yang bersaksi atas nama Allah bahwa ia sangat mencintai saudarinya sebaiman cintanya kepada keluarga dan saudari-saudari muslimah lainnya.

Wahai saudariku, ukhti muslimah. Hendaknya kita tahu dengan penuh keyakinan, kita tidak diciptakan main-main tanpa ada arti dan tidak pula dibiarkan begitu saja tanpa tujuan dan pertanggung-jawaban. Allah SWT telah berfirman :

“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? Maka Maha Tinggi Allah, Raja yang Sebenarnaya; tidak ada tuhan (yang paling berhak disembah) kecuali Dia, Tuhan (yang Mempunyai) Arsy yang Mulia.” (Al-Mu’minun: 115-116)

“Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung-jawaban)?”(Al-Qiyamah:36).

Tapi kita telah diciptakan oleh Allah, Pencipta alam yang indah ini, untuk suatu tujuan yang agung, sebagai mana firman Nya:

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia malainkan supaya mereka beribadah kepadaKu.”(Adz-Dzariyat:56).

Allah juga telah menerangkan kepada kita tentang ibadah tersebut dengan pengertiannya yang meliputi seluruh aspek kehidupan melalui para Rasul s.a.w., sebagaimana firman Nya :

“Sesungguhnya Kami telah mengutus para rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al-Kitab dan neraca (keadilan) agar manusia dapat melaksanakan keadilan.”(Al-Hadid: 25).

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada setiap umat (untuk menyerukan) :’Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu.” (An-Nahl:36).

Dan Allah SWT telah memberikan kepada kita nikmat dengan mengutus Muhammad bin Abdullah s.a.w., sebagai nabi terakhir dan rasul yang diutus untuk seluruh umat manusia. Allah SWT berfirman :

“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki diantara kamu, tetapi dia adalah utusan Allah (Rasulullah) dan penutup para nabi.” (Al-Ahzab:40).

“Katakanlah: ‘Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada tuhan (yang paling berhak disembah) selain Dia, Yang Maha Menghidupkan dan Maha Mematikan. Maka berimanlah kepada Allah dan Rasul Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kalimat-kalimat Nya (kitab-kitab Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk.” (Al-A’raf:158).

Maka segala puji bagi Allah atas nikmat islam.

Wahai saudariku. Ketahuilah –semoga Allah memberi taufiq kepada anda untuk setiap kebaikan-, bahwa islam telah mengatur kehidupan seorang muslim dan muslimah sesuai dengan sistim yang datang dari Pencipta alam ini, Yang Maha Tinggi dan Maha Suci, Yang Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana. Untuk itu, saya wasiatkan agar anda berpegang tguh pada ajaran –ajaran agama islam ini., baik yang kecil maupun yang besar, disetiap waktu dan tempat dan hendaknya Kitabullah (Al-Qur’an) dan Sunah Rasulullah s.a.w. menjadi sinar penerang yang menerangi jalan anda. Semoga Allah menjaga dan memelihara anda.

Wahai saudariku. Ketahuilah –semoga Allah menjaga anda- bahwa kebahagiaan di dunia dan akhirat tergantung pada pelaksanaan ayariat Allah SWT dalam kehidupan kita. Allah SWT berfirman :

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan, sedang ia beriman , maka sesungguhnya Kami akan berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya Kami akan berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.”(An-Nahl:97).

Dan berhati-hatilah dari pengaruh kebatilan syetan dari (golongan) manusia dan (golongan) jin, yang sudah dimake up sedemikian rupa oleh mereka, karena mereka sangat berbahaya. Pencipta anda dan Pencipta alam semesta ini telah mengingatkan dalam Al-Qur’an :

“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syetan-syetan dari ( jenis) manusia dan (jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan yang indah-indah untuk menipu ( manusia).” (Al-An’am:112).

“Dan demikian juga, telah Kami jadikan untuk setiap nabi musuh dari orang-oang yang berdosa. Dan cukuplah Tuhanmu menjadi Pemberi Petunjuk dan Penolong.” (Al-Furqan:31).

Wahai saudariku. Berbekallah dengan ilmu agama dari Kitabullah (Al-Qur’an) dan Sunah Rasulullah s.a.w. usahakan agar dapat menghafal Kitabullah atau semampumu yang dapat anda hafalkan. Belajarlah rukun-rukun Iman, rukun-rukun Islam, dan Ihsan. Praktekkanlah semua itu dalam kehidupan nyata anda. Jadilah anda –semoga Allah memberi taufik kepada anda untuk apa yang dicintai dan diridhai Nya-suri tauladan yang baik untuk keluarga dan saudari-saudari anda, yang lain, yang muslimah.

Wahai saudariku. Belajar dan laksanakanlah hadits berikut ini; Dari Umar bin Khattab r.a. berkata: “Ketika kami sedang duduk-duduk bersama Rasulullah s.a.w.pada suatu hari tiba-tiba datang seorang laki-laki berpakaian putih sekali dan rambut hitam pekat, tidak tampak padanya bekas perjalanan jauh dan tak seorangpun diantara kita yang mengenalnya, sampai duduk dekat beliau kemudian menyandarkan kedua dengkulnya dengan dengkul beliau dan berkata: ‘Hai Muhammad, beritahu aku tentang Islam.’ Rasulullah menjawab: ‘Islam adalah agar engkau bersaksi bahwa tiada tuhan (yang paling berhak disembah) selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan sholat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadan, dan agar ungkau menunaikan haji ke Baitullah jika engkau mampu melaksanakan perjalanan kesana.’ Ia berkata: ‘engkau benar.’ Kami semua heran kepadanya karena dia bertannaya pada beliau dan membenarkannay. Kemudian ia bertannya:’Beritahu aku tentang Iman’. Beliau menjawab:’Agar engkau berinan kepada Allah, Malaikat-malaikatNya, Kitab-kitabNYa, Rasul-rasulNya, Hari Kemudian, dan agar engkau beriman kepada Qadar yang baik dan yang buruk.’ Ia berkata: ‘engkau benar’ Kemudian ia bertannya lagi :’Beritahu aku tentang Ihsan.’ Beliau menjawab: ‘Agar engkau beribadah kepada Allah seakan –akan engkau melihat Nya, jika engkau tidak melihat Nya sesungguhnya Dia melihat engkau.’ Tanyanya lagi: ‘Beritahu aku tentang Qiamat.’ Beliau menjawab: ‘Yang ditanya tiadk lebih tahu tentangnya daripada yang menanya.” Tannaya lagi ‘Beritahu aku rentang tanda-tanda nya (qiamat).’ Beliau menjawab: ‘Seorang budak perempuan melahirkan majikannya, dan engkau lihat orang-orang bangkit tanpa sandal dan tanpa pakaian dan tanpa khitan, para pengembala kambing membangun gedung-gedung pencakar langit.’ Kemudian orang tersebut pergi dan saya diam lama sekali, lalu beliau bertannya :’Wahai Umar, tahukah engkau siapa yang bertannya tadi?’ Aku jawab: ‘Allah dan Rasul Nya lebih tahu’. Beliau menjawab: ‘Dia adalah Jibril telah datang padamu untuk agamamu kepadamu.” (Riwayat Muslim).

Wahai saudariku, hayatilah ayat-ayat berikut ini. Allah SWT berfirman:

“Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonan mereka(dengan berfirman): “Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu kamu, baik laki-laki maupun perempuan, (karena) sebagian kamu adalah sebagian turunan yang lain.”(Ali Imran:195).

“Dan orang-orang yang beriman kepada Tuhannyadibawa kedalam surga berombang-rombang (pula). Sehingga apabila mereka sampai ke surga itu sedang pintu-pintunys telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya:’Kesejahteraan (dilimpahkan) kepada kalian, berbahagialah kalian. Maka masukilah surga ini, sedang kalian kekal didalamnya.’ Dan mereka mengucapkan:’Segala puji bagi Allah yang telah memenuhi janji Nya kepada kami dan telah (memberi) kami tempat ini sedang kami (diperkenankan) menempati tempat didalam surga diman saja yang kami kehendaki.’Maka surga itulah sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal.”(Az-Zumar:73-74).

« Newer Posts - Older Posts »