Bismillah. Hujan deras mengguyur Solo. Ketar ketir hati penghuni kampung sewu. Sebab beberapa hari lalu, rumah mereka sudah terbenam air. Bila hujan sehari saja, bisa dipastikan rumah mereka akan tergenang lumpur lagi. Itulah potret kegelisahan di daerah rumah ortu saya, kampungsewu. Daerah ini memang sudah menjadi langganan banjir sejak lama.

Pekan ini rumah bulik saya yang kena. Mereka sekeluarga mengungsi ke rumah ibu saya. Sontak rumah penuh dengan barang.

“Awalnya pintu rumah ada yang ngetuk. Aku buka ternyata ada yang beli obat nyamuk. Kemudian ada yang mengetuk lagi. Ternyata ada yang beli obat sakit kepala. Terakhir ada yang ngetuk-ngetuk kencang sekali. Aku buka ada yang nyodorin magic jar. Trus bilang kebanjiran…”

Itu tadi cerita ibu saya. Betapa memang malam ini kondisi cukup menggelisahkan. Rumah bulik yang berada di dekat sungai itu kemasukan air kurang lebih 70 cm. Bayangkan segala lumpur masuk ke rumah. Lemari penuh piring pun akhirnya jadi sasaran banjir. Alhamdulillah bantuan mengalir cukup deras.

Sumbangan nasi bungkus dari PMI sudah cukup meredakan kegelisahan mereka. Hanya saja mereka harus berjibaku membersihkan rumah yang penuh lumpur.

“Tetanggaku di depan rumah itu lumpurnya masih ada. Dua springbed masih tertimbun lumpur. Nggak tahu tuh baunya kayak apa…” tutur bulik saya.

Hidup di pinggiran sungai memang sangat berisiko. Itulah kenapa pemkot Solo menawarkan ganti rugi. Tapi nampaknya tawaran pemkot dirasa kurang menarik bagi warga. Akhirnya mereka memilih tetap stay daripada menerima gantirugi yang tidak sepadan. Tetap bertahan warga Solo, semoga Allah melindungimu…

Makna Kata KELUARGA

KELUARGA.
KEnapa sendiri kalau bisa berdua. Banyak diantara kita yang menyengaja sendiri, meski kesempatan untuk mendapatkan suami atau istri sudah di depan mata. Alasannya beraneka macam, dari mulai tidak ada chemistry, masih memburu karier, hingga urusan menunggu kakak tertua menikah duluan. Dalam islam, nikah sebaiknya disegerakan, tidak tergopoh-gopoh, tidak tergesa-gesa tapi disegerakan saja. Jadi kalau bisa sekarang, kenapa harus ditunda?

LUangkan waktu untuk istri dan anak anak kita. Mereka butuh sosok suami dan ayah yang baik dan menyenangkan. Bukan sosok pekerja keras yang bertampang serius dan tidak pernah senyum. Status selalu sibuk tanpa ada waktu untuk keluarga. Meski hanya main sederhana, berlarian, bercerita lucu atau bahkan hanya duduk santai di ruang tamu tanpa televisi, tanpa handphone dan tanpa laptop. Maukah Anda melakukannya?

ARahkan keluarga kita menjadi keluarga yang taat syariat. Jangan makan dan minum berdiri atau berjalan jalan, kalau Anda tidak mau anak anak menirunya. Jangan tertawa keras seperti orang gila kalau Anda tidak mau anak Anda menirunya. Dan jangan ajari istri untuk berbohong dengan berkata bahwa Anda tidak ada saat kolega bisnis menagih uangnya. Arahkan kepada kebaikan semampu kita.

GAlang kekuatan untuk menuju sakinah mawadah dan rahmah. Kita adalah kekuatan yang berpadu dari kekuatan seorang suami dan kelembutan seorang istri. Maka janganlah menjadi pudar hanya karena ego yang terlalu besar. Tetaplah menjadi pasangan yang kuat dalam mengarungi bahtera rumahtangga. Hiduplah untuk akhirat kita, bahagia selamanya.

Materi ini saya sampaikan dalam pengajian keluarga besar alumni sma al islam 1 angkatan 98.

sms suami & istri

Meski kau tak sempurna, tapi hadirmu telah menyempurnakan bahagiaku…

Lelahku terbayar, saat melihat senyummu melayar di lautan hatiku…

Bila ku nanti sakit hati, tolong jangan pergi, karena hatiku selalu lekat di hatimu…

hari semakin gelap, warna bulan semakin terang, hati semakin mantap, mengenalmu lelaki yg ku sayang…

Tulisan tulisan sederhana itu, bisa Anda sms kan kepada suami Anda. Harapannya bisa membuat dia bahagia. Tapi sayangnya sebagian besar suami hanya menanggapi dengan simpel sekali. diantara sekian jawaban itu adalah:

Ok

Mksi

Tumben…

Biasa aja kali. Lebay!

Bersabarlah untuk membina hati pasangan kita. Karena kelembutan dibutuhkan di saat saat kita berusaha mengenal pasangan kita. Semoga bunga cinta semakin mekar di taman rumahtangga yang sudah wujud sekian tahun lamanya…
Meski tidak banyak suami yang bisa berpuisi dan berkata mesra. Tapi yakinlah mereka sempurna mencintai anda. Hanya kadang lisan mereka tak mampu menari seperti jiwanya.

Ada dua ekor ayam di depan rumah. Satu ayam jago, satu ayam betina. Istri saya memberi mereka makan. Kami berdua melihat dua ayam itu makan. “Mesra sekali ya bi. Ayam jago itu sayang banget sama istrinya.” Ayam itu memang sangat perhatian sama betina. Dia ambil makanan dengan paruhnya, kemudian dimasukkan ke dalam mulut sang betina. “So sweet…”

Saya pikir ini adalah pelajaran buat meraka yang sudah menikah. Saat dia sudah menjadi istri halal kita, mungkin hanya beberapa kali kita menyuapinya. Padahal lihatlah pasangan kekasih yang belum halal itu. Di mana tempat mereka mengumbar kemesraannya di depan publik. Ada yang suap-suapan dengan panggilan sayang, ada yang menuntunnya saat jalan, dan ada pula yang membelai rambut kekasihnya hingga terlelap tidur. Lalu bagaimana dengan Anda?

Apakah Anda malah kehilangan momen romatis itu semua? Komunikasi suami dan istri layaknya majikan dan buruh, atau mungkin seperti dua orang asing yang hidup dalam satu rumah. Jangankan disuapin, makan saja yang satu di kamar depan yang lain di tempat halaman belakang. Keharmonisan menjadi barang yang sangat langka.

Hari ini kita belajar dari dua ekor ayam. Bahwa rasa menyayangi dengan pasangan itu adalah sebuah fitrah. jangan sampai kita kehilangan fitrah yang baik itu hanya karena kesibukan mencari dunia. Uang di tangan tapi orang yang kita sayang malah jauh di perantauan. Semoga Allah selalu menanamkan cinta kepada kita dan pasangan pasangan kita. Amin

« Newer Posts - Older Posts »