Malam itu, saya sengaja ingin mengikuti berita eksekusi. Sayangnya hanya TV One yang paling rajin memberikan info tentang eksekusi. Dan yang disayangkan lagi, reporternya kurang ceplas ceplos, kesannya pelan-pelan banget. Saya tidak tahu, mungkin dia pengen berhati-hati menyampaikan berita. Tetapi malah kita yang nonton jadi gemes, wah kok ngirim reporter kayak gini sih.
Dan sekitar pukul 00,00 wib, reporter itu memberitakan sudah terjadi eksekusi. Tubuh saya merinding, saya juga melihat istri saya. Dia juga merasakan kepedihan yang sama. Ketiga ustad itu telah meninggal. Saya berdoa semoga ketiganya menjadi syuhada. Mati syahid di jalan Allah ta’ala. Terlepas apapun kata orang, pengamat atau bahkan siapapun yang mencela mereka, semoga Allah menerima mereka sebagai syuhada. Memperjuangkan apa yang mereka yakini, sebagai sebuah keyakinan atas nama ilmu yang mereka pelajari. Media-media Islam menulis tanda-tanda kesyahidan mereka diantaranya adalah adanya tiga burung yang memutar-mutar di atas rumah Ibu Tariyem saat jenazah dishalatkan di rumah itu.
Satu hal yang patut menjadi pelajaran adalah kegigihan mereka menyerukan semangat perlawanan. Melawan kekufuran, kezaliman dan keangkuhan musuh-musuhnya. Sikap mereka selalu jelas, kalau hitam ya hitam kalau putih ya putih. Mereka tidak pernah menampakkan sikap yang abu-abu. Ngomongnya ceplas ceplos, sangat tawakal. Bahkan saya baca di Jawa Pos hari ini, sebelum Eksekusi Amrozi sempet dilarang petugas jangan takbir keras-keras. Tetapi Amrozi menjawab dengan enteng, “Saya kan cuman pengen mengusir setan pak.” Petugas Brimob itu pun langsung diam.
Apa yang dikhawatirkan Australia terjawab sudah. Kini Amrozi, Imam Samudera dan Mukhlas telah mengukir nama mereka. Mereka menjadi syuhada bagi kaum muslimin Indonesia. Mungkin setelah ini gaung mereka akan lebih dahsyat lagi. Opini-opini mereka akan menjadi bahan kajian, bahan telaah dan suplai semangat luar biasa bagi kamu muslimin. Mereka akan menjadi ikon perlawanan abad ini. Orang islam tidak akan susah-susah mencari figure pahlawan, karena pada ketiganya ada kepahlawanan. Mungkin bukan pada aspek mengebom sasaran sipilnya, karena itu masih debatable, tetapi lebih kepada semangat perlawanan yang mereka dengungkan.
Imam Samudera pernah mengancam, “Amerika Serikat, Tunggulah kehancuranmu…” Yang membuat merinding, ucapan itu kini hampir terbukti kini. Eksekusi mereka bertiga bertepatan dengan kondisi Amerika yang dilanda krisis ekonomi. Inilah sebuah tanda yang patut diperhatikan secara seksama.
Pagi harinya saya masih ingin mengikuti berita pemakaman ketiga ustad itu. Tetapi saya harus meluncur ke Palur, menengok rumah yang akan kami tinggali. Bersama keluarga Bapak dan Ibu, saya meluncur ke sana. Alhamdulillah semuanya sudah selesai dibangun. Hanya ada beberapa bangunan yang kena musibah. Tetapi rumah ini sudah seperti jodoh bagi saya dan keluarga. Jadi saya akan merawatnya sampai kapan pun. Saya mengucapkan terima kasih luar biasa kepada bapak saya yang sudah meluangkan waktunya mengelola renovasi rumah ini.
Siang harinya saya dan istri serta dua putri mungil saya menuju Bejen Karanganyar. Kami ingin menjenguk anak sahabat saya Junianto, yang beberapa waktu lalu istrinya melahirkan anak pertama mereka. Setelah beberapa saat, kami pulang ke Beton. Hujan mengguyur deras, Aisy dan Tika tetap ceria seperti biasa. Mereka adalah energi kebahagian yang luar biasa. Sampai di rumah, tak ada lagi berita tentang pemakaman. Petang hari malah ada dialog di TV One tentang kenapa media begitu memberi porsi istimewa terhadap eksekusi ini. Narsumnya pun tidak berimbang, semuanya dari kalangan liberal. Ya udah matiin saja tivinya.