Percaturan dakwah di kancah nasional ternyata sangat asyik dibahas. Dari sekian banyak kelompok dakwah yang ada, ternyata bermuara pada satu sosok saja, yaitu M Natsir. Dari sosok beliau inilah dakwah kampus digagas dan disemai benihnya. Mendidik beberapa tokoh penting yang akhirnya menjadi pioner dakwah di masing-masing kampus. Sayangnya, dinamika berpikir mereka sangat cepat dan mudah berubah. Maka lahirlah beberapa kelompok dari mulai partai sampai kelompok harakah. Lahirlah kelompok partai PBB, PAN dan juga PKS! Sayangnya peran M Natsir hanya sebagai inspirator dan fasilitator saja. Sehingga di antara mereka seolah tak ada kaitan sama sekali.

Di ranah grassroot, perbedaan ini mulai nampak jelas. Diperkeruh dengan aksi saling rebut kader dan saling bajak kader potensial. Dakwah pun akhirnya terkena imbasnya. Kalah demi kepentingan politik. Masjid kampus berubah menjadi ajang rapat tim sukses parpol. Diakuisisi dan di kooptasi. Beda bendera dan beda guru ngaji bisa menjadi persoalan yang sangat tajam. Duka di tanah kampus, merenda menjadi sebuah kenyataan. Kampus redup, dan hilang syiarnya. Berganti dengan haru biru penggalangan massa dan suara, demi 2009!

Tidakkah mereka berpikir bahwa mahasiswa hanya butuh pencerahan. Ngaji islam yang benar dari para tokoh dan ulama shalih, bukan harus memilih menjadi kader partai yang sangat pragmatis. Saatnya kembali ke masjid kampus. Menghidupkan suasana ngaji dan dakwah yang kini telah hilang perlahan. Sementara gerakan marxisme dan sosialisme berselingkuh dengan liberalisme menancapkan akar-akarnya secara tajam. Perlu ada lawan, perlu ada penantang.

Kembali ke masjid kampus, menghijaukan dunia akademisi dengan ilmu islamy. Menerjang dan merangsek untuk menang!

Selama ini memang (dalam hemat saya) kedua kata itu susah untuk dijadikan satu. Kalau syar’I berarti tidak fleksi, dan kalau fleksi berarti tidak syar’i. Misalnya saja begini. Seorang aktivis ngaji memakai jaket kulit hitam, kemudian temannya nyeletuk, “Kamu ini ikhwan, tapi kok nggak syar’i. Pake jaket kayak gitu.” Padahal sebenarnya tidak ada prinsip yang melarang seseorang memakai jaket kulit hitam, tetapi karena cuman ada asumsi belaka, maka memakai jaket hitam identik dengan sesuatu yang keluar dari norma syar’i.

Maka tampillah pemahaman bahwa menjadi syar’i berarti harus menjadi kaku. Kalau ngomong “hitam putih”, dan tidak menyisakan ruang untuk diskusi dan bertukar pikiran. Seolah, memang tidak ada bahasa yang bisa dikomunikasikan, dan selalu berakhir dengan judgement atau vonis. Padahal, sebenarnya polanya bisa tidak seekstrem itu. Ada bahasa yang bisa dikomunikasikan, dicarikan jalan pemecahan, dan tidak selalu harus perang urat saraf, gontok-gontokan.

Berdakwah di ummat yang sangat heterogen dengan arus jahiliyah yang sangat deras memang membutuhkan gaya yang lugas tapi luwes. Tegas tapi tidak melulu keras. Ada sikap yang jelas tersampaikan, tetapi bisa diterima dengan baik dan tanpa beda tafsiran. Apalagi dunia anak muda, nilai-nilai syar’I yang ditunjukkan memang harus menjadi teladan di dalam pergaulan. Sedangkan pola fleksibel ini sendiri bukan berarti kemudian diartikan sebagai sebuah nilai yang bebas, sembarangan, dan asal-asalan. Tetapi fleksibilitas yang diperbolehkan agama, yang masih masuk kerangka mubah, bukan makruh apalagi haram.

Namun, memang pola ini belumlah final. Masih harus dikaji lagi dan lagi. Bagaimana mencari pola baru yang bisa lebih jitu. Mengemas dakwah dengan kemasan yang menarik, tetap syar’i dan tetap mengandalkan nilai-nilai keislaman.(Disampaikan dalam sebuah kajian di Masjid SMU Negeri 2 Solo)

Harapku pada Mu

Ibnu Atha` berkata dalam bukunya, “Jika anda ingin dibukakan pintu harap maka perhatikanlah apa yang telah Allah Swt. berikan kepada anda. Jika anda ingin dibukakan pintu takut, perhatikanlah apa yang telah anda persembahkan kepada Allah Swt..”

Ketika kita merasa belum memberikan apa-apa pada Allah, tetapi congkaknya kita sudah luar biasa. Merasa nggak butuh Allah, padahal kita sangat membutuhkan ampunanNya. Kita hanya butuh saat kita merasa teraniaya. Merasa dibuang atau merasa dilukai, Namun ketika semuanya kembali normal, kenakalan kita kembali kambuh seperti sedia kala.

Sejauh mana kini harapan kita ada. Apakah kita pernah berpikir untuk menjadi yang teristimewa di hadapanNya. Ataukah kita selama ini hanya sibuk pengen menjadi istimewa di hadapan manusia saja. Saatnya jujur pada diri sendiri, dan membuang jauh-jauh ego dan gengsi.

Susah juga ternyata menulis buku yang ringan dan kena itu. Kalau ide alhamdulillah banyak sekali, hanya saja memang dibutuhkan ketelatenan luar biasa untuk mengolahnya menjadi sebuah buku. Ketika ide sudah menggurita di otak, lalu pikiran mengurai. Kalau pas di depannya itu bagus, pemandangan indah misalnya, maka ide itu bisa ngalirrrrrr sampe jauh.

Kalau sudah disusun gitu, kemudian tinggal dibuat paragrafnya. Ditata alur berpikirnya, dan kemudian dikembangkan sedemikian rupa. Di langkah ini ga boleh tergesa-gesa. Pikiran kudu tenang dan ga boleh mikir berat-berat. Misalnya masalah hutang atau tunggakan yang harus dibayar atau apa saja. Kudu tenang dan konsentrasi.

Meski udah gitu, kadangkala kita merasa ada yang mandek. Ga tahu mau diapain lagi. Karena banyak ide yang tersumbat atau malah banyak referensi yang ga bisa diraih. Kalau itu yang terjadi, endapin dulu sampai pikiran tenang dan ada ide lagi. Kalau sudah mulai semangat lagi, terusin sampai ketemu yang asyik. Nah, kalau dah mengembang dan bergulir lancar baru jadi buku.

Malam itu, saya sengaja ingin mengikuti berita eksekusi. Sayangnya hanya TV One yang paling rajin memberikan info tentang eksekusi. Dan yang disayangkan lagi, reporternya kurang ceplas ceplos, kesannya pelan-pelan banget. Saya tidak tahu, mungkin dia pengen berhati-hati menyampaikan berita. Tetapi malah kita yang nonton jadi gemes, wah kok ngirim reporter kayak gini sih.

Dan sekitar pukul 00,00 wib, reporter itu memberitakan sudah terjadi eksekusi. Tubuh saya merinding, saya juga melihat istri saya. Dia juga merasakan kepedihan yang sama. Ketiga ustad itu telah meninggal. Saya berdoa semoga ketiganya menjadi syuhada. Mati syahid di jalan Allah ta’ala. Terlepas apapun kata orang, pengamat atau bahkan siapapun yang mencela mereka, semoga Allah menerima mereka sebagai syuhada. Memperjuangkan apa yang mereka yakini, sebagai sebuah keyakinan atas nama ilmu yang mereka pelajari. Media-media Islam menulis tanda-tanda kesyahidan mereka diantaranya adalah adanya tiga burung yang memutar-mutar di atas rumah Ibu Tariyem saat jenazah dishalatkan di rumah itu.

Satu hal yang patut menjadi pelajaran adalah kegigihan mereka menyerukan semangat perlawanan. Melawan kekufuran, kezaliman dan keangkuhan musuh-musuhnya. Sikap mereka selalu jelas, kalau hitam ya hitam kalau putih ya putih. Mereka tidak pernah menampakkan sikap yang abu-abu. Ngomongnya ceplas ceplos, sangat tawakal. Bahkan saya baca di Jawa Pos hari ini, sebelum Eksekusi Amrozi sempet dilarang petugas jangan takbir keras-keras. Tetapi Amrozi menjawab dengan enteng, “Saya kan cuman pengen mengusir setan pak.” Petugas Brimob itu pun langsung diam.

Apa yang dikhawatirkan Australia terjawab sudah. Kini Amrozi, Imam Samudera dan Mukhlas telah mengukir nama mereka. Mereka menjadi syuhada bagi kaum muslimin Indonesia. Mungkin setelah ini gaung mereka akan lebih dahsyat lagi. Opini-opini mereka akan menjadi bahan kajian, bahan telaah dan suplai semangat luar biasa bagi kamu muslimin. Mereka akan menjadi ikon perlawanan abad ini. Orang islam tidak akan susah-susah mencari figure pahlawan, karena pada ketiganya ada kepahlawanan. Mungkin bukan pada aspek mengebom sasaran sipilnya, karena itu masih debatable, tetapi lebih kepada semangat perlawanan yang mereka dengungkan.

Imam Samudera pernah mengancam, “Amerika Serikat, Tunggulah kehancuranmu…” Yang membuat merinding, ucapan itu kini hampir terbukti kini. Eksekusi mereka bertiga bertepatan dengan kondisi Amerika yang dilanda krisis ekonomi. Inilah sebuah tanda yang patut diperhatikan secara seksama.

Pagi harinya saya masih ingin mengikuti berita pemakaman ketiga ustad itu. Tetapi saya harus meluncur ke Palur, menengok rumah yang akan kami tinggali. Bersama keluarga Bapak dan Ibu, saya meluncur ke sana. Alhamdulillah semuanya sudah selesai dibangun. Hanya ada beberapa bangunan yang kena musibah. Tetapi rumah ini sudah seperti jodoh bagi saya dan keluarga. Jadi saya akan merawatnya sampai kapan pun. Saya mengucapkan terima kasih luar biasa kepada bapak saya yang sudah meluangkan waktunya mengelola renovasi rumah ini.

Siang harinya saya dan istri serta dua putri mungil saya menuju Bejen Karanganyar. Kami ingin menjenguk anak sahabat saya Junianto, yang beberapa waktu lalu istrinya melahirkan anak pertama mereka. Setelah beberapa saat, kami pulang ke Beton. Hujan mengguyur deras, Aisy dan Tika tetap ceria seperti biasa. Mereka adalah energi kebahagian yang luar biasa. Sampai di rumah, tak ada lagi berita tentang pemakaman. Petang hari malah ada dialog di TV One tentang kenapa media begitu memberi porsi istimewa terhadap eksekusi ini. Narsumnya pun tidak berimbang, semuanya dari kalangan liberal. Ya udah matiin saja tivinya.

« Newer Posts - Older Posts »