Dewasa ini peran polisi disorot tajam. Kesatuan berbaju cokelat ini dinilai sering melanggar HAM berat. Kasus Sape Bima dan juga beberapa kasus lainnya menguatkan dugaan ini. Belum lagi kasih terbunuhnya tahanan di bawah umur serta perlakuan kejam terhadap tahanan di sel menjadi pembenar asumsi tersebut? lalu ada apa sebenarnya dengan institusi “terhormat” ini?

Bagaimana perjalanan panjang tindakan brutal yang mereka obral? Inilah 14 daftar seperti dirilis Indonesia Police Watch, Senin (19/12).

12 Januari: Sofyan, dosen Universitas Al-Asyariah Mandar Polewali Mandar, Sulawesi Barat tewas ditembak polisi dalam eksekusi lahan yang berakhir bentrok di kampus tersebut. Sofyan tewas setelah lehernya tertembus peluru. Kontak senjata dan hujan batu antarpolisi dan mahasiswa terjadi tiga jam.

22 Februari: Kamaruddin tewas akibat tembakan di dada dan kaki setelah sempat mendapatkan perawatan di Rumah Sakit Umum Jantho, Aceh Besar. Selain itu Suheri (15) juga korban salah tembak saat penumpasan latihan militer di Gunung Jalin.

24 April: Diduga Cemburu, Aiptu Endang Budi menembak istrinya. Akibatnya, Aidah (32) terbaring lemas di ruang ICU RSUD Tasikmalaya. Suara letusan pistol terdengar setelah Aidah dan Endang terlibat adu mulut. Aidah sendiri kerap ditodong pistol jika ribut dengan suaminya.

8 Mei: Kartini Indah Hajrah, istri anggota Polsek Passimarunnu, Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan tewas tertembak di bagian kepala. Diduga korban dibunuh suaminya, Brigadir Dedy Arsandi. Sebelum Kartini tewas, suami-istri itu terlibat pertengkaran. Lalu terdengar tembakan.

29 Mei: Seorang perempuan berusia 19 tahun ditembak polisi dalam aksi unjuk rasa menolak beroperasinya PT Sorik Mas Mining (SMM). Penembakan di Mandailing Natal itu bermula saat ratusan masyarakat mendemo rencana penambangan PT SMM di kawasan hutan Taman Nasional Batang Gadis, Sumatera Utara.

2 Juni: Tiga orang ditembak polisi di Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan. Satu tewas dan dua luka. Ketiganya ditembak polisi saat sedang menghadiri resepsi pernikahan. Talla (45) tewas dengan luka di kepala. Baso luka tembak di tangan dan paha. Paco luka tembak di tangan. Akibatnya ribuan orang menyerbu dan merusak Polsek Uluere.

3 Juni: Maksud hati membantu mengejar pencuri, Edi Suhaedi pegawai Kecamatan Mekarbaru, Tangerang, tertembak anggota Polsek Kronjo. Dada kirinya pun luka tembak.

31 Juni: Muhammad Dermawan tewas tertembak Briptu Vico Panjaitan, anggota Satuan Pengaman Objek Vital Polresta Medan, saat membersihkan sepeda motor di basemen Kanwil BRI Sumut. Saat itu pelaku bercanda dengan senjata laras panjangnya yang diarahkan kepada korban, tiba-tiba senjata meletus. Peluru mengenai punggung hingga tembus ke dada korban.

22 Agustus: polisi menembaki kapal yang ditumpangi demonstran yang menuntut PT Medco memenuhi hak-hak warga atas pengeboran minyak di Pulau Tiaka. Akibat penembakan ini, dua warga tewas, yakni Ateng dan Turifin. Satu luka tembak di dada kanan.

6 Oktober: Takmir Masjid Agung Sumenep, RB Moh Ridwan (37) tewas akibat peluru nyasar polisi. Saat itu polisi hendak menangkap pencuri sepeda motor di alun-alun kota Sumenep. Korban yang juga Wakil Ketua Partai Golkar Sumenep ditembak di kepala bagian kanan.

10 Oktober: Bentrokan antara karyawan PT Freeport dengan polisi menewaskan satu karyawan, Petrus Ayamseba. Bentrokan terjadi saat buruh demo dan mogok kerja. Enam lainnya luka terkena peluru 28 Oktober: Kartono (31), warga Kampung Awi Mekar Purwakarta, Jawa Barat, tewas akibat ditembak polisi. Saat itu, korban sedang berada di lokasi judi sabung ayam. Tapi, korban bukan pelaku perjudian, melainkan sekedar menonton sabung ayam.

10 Nopember: Enam orang luka tembak dan satu tewas ditembak polisi dalam konflik tanah antara petani Desa Sritanjung, Mesuji Lampung dengan PT Barat Selatan Makmur Investindo (BSMI).

27 Nopember: Dua warga sipil asal Nanga Boyan, Kapuas Hulu, yakni Rajemah dan Totong, yang sedang berada di dalam mobil ditembak anggota Reskrim Polsek Parindu, Kalimantan Barat. Rajemah luka di telinga kiri dan Totong kena di telinga kanan.

Saatnya Polisi harus lebih pandai dan bijak dalam melaksanakan tugasnya sebagai aparat negara. Sebab bila tidak, maka masyarakat akan semakin tidak percaya dengan kinerja mereka. Bukannya malah menganyomi tapi justru akan menimbulkan rasa takut pada warga masyarakat.

Talkshow Nasional

TALKSHOW NASIONAL
“Pemuda Islam (Antara Impian, Harapan, dan Kenyataan)”

B. Tujuan
1. Memahami kondisi pemuda zaman sekarang
2. Mengetahui peranan strategis pemuda bagi bangsa dan agama
3. Menumbuhkan mental pemuda yang tidak hedonis dan terhindar dari pergaulan bebas.

C. Topik-topik Bahasan
Topik-topik yang akan dibahas dalam talkshow ini antara lain:
1. “Penyebab Kenakalan Remaja Ditinjau dari Segi Psikologis” (Pemateri: Ust. Ahmad Sutrisni Ahid, Trainer TrustCo)
• Gambaran umum tentang kondisi psikologis pemuda
• Penyebab psikologis kenakalan pemuda
2.“Peran Strategis Pemuda dalam Menyongsong Kebangkitan Agama dan Bangsa” (Ust. Burhan Shodiq, Pemerhati Pemuda dan Penulis Buku “Izinkan Aku Menikah Tanpa Pacaran”)
• Kondisi pemuda di penghujung zaman
• Peranan pemuda dalam memajukan agama dan bangsa

3.“Karakteristik Pemuda Islam yang Ideal dan Tak Lekang oleh Zaman” (Pemateri: Ust. Habiburrahman El Shirazy, Penulis Novel Best Seller “Ketika Cinta Bertasbih”)
• Karakteristik pemuda Islam yang ideal
• Menjadi muslim yang tak tergilas oleh roda zaman

D. Pelaksanaan
Talkshow Nasional ini Insya Allah akan dilaksanakan pada:
Hari/Tanggal : Sabtu, 14 Januari 2012
Waktu : 07.30-12.00 WIB
Tempat : Aula Gd. F FKIP UNS

Menulis Yuk? Ogah!

Menulis adalah pekerjaan besar, saking besarnya banyak yang akhirnya tidak menulis. Menulis adalah pekerjaan mudah, saking mudahnya sampe dibela-belain nyuruh orang tuk menuliskannya. Menulis adalah pekerjaan murah, saking murahnya sampai tidak banyak yang melirik sebagai profesi utama. Menulis adalah pekerjaan orang yang tidak punya pekerjaan, karena kalau maju ke calon mertua dan mengaku kerjanya menulis dianggap bukan sebuah pekerjaan.

Itulah yang hari ini diasumsikan menjadi penghalang besar kenapa sebagian besar orang tidak menulis. Padahal menulis itu keren. Anda yang sedih bisa akan sedikit terhibur dengan menulis. Buktinya banyak akhwat yang mengisi status fesbuknya dengan kegalauan hati dan kegelisahaan perasaan. Meski ngetiknya sambil nangis, toh semuanya akan menjadi lebih mendingan (meski ga langsung masalahnya ilang). Menulis juga bisa membuat kita lebih terbuka. Karena kalau anda menulis salah dan tidak mengenakkan pihak lain, pasti anda akan langsung disemprot baik dengan langsung maupun tidak langsung.

Menulis itu pekerjaan seksi. Karena anda akan dinilai dari otaknya dan bagaimana anda menuliskan kerumitan menjadi sebuah kesederhanaan. kalau anda berhasil akan banyak wanita yang suka pada anda, meski secara fisik anda tidak sempurna. Nah, pasti anda tetap tidak tertarik untuk menulis kan? dan kalaupun anda tertaik menulis pasti tetap mencari pelatihan yang gratis. Sumpah saya jujur sekali menulis ini semua. ^_^

Sore ini saya terlibat perbincangan dengan salah seorang owner event organizer. Kami membahas soal seringnya pameran digelar di Solo dan Jogja. Menurut saya, penyelenggaraan pameran buku (khususnya) sudah terlalu sering. Berbagai EO dengan mudah menggelar pameran tanpa memerhatikan selera pasar. Ketika saya tanya kenapa tidak mencoba dengan tema lain, jawab teman saya karena ‘tidak ada yang daftar…”

Sementara di sisi penerbit pameran bisa menjadi ajang untuk mengosongkan gudang. Seorang kolega marketing bilang, “Sekarang trennya bukan lagi perang diskon mas, tapi sudah perang obral limaribuan.” Sehingga sangat nampak kalau buku tidak lagi menjadi barang seksi. Tapi meski begitu buku-buku yang masih dijual mahal pun masih juga laku. Meski tidak terlalu laku.

Kondisi ini memang menjadi menarik untuk diteliti. Ada apa sebenarnya? Tidak bisakah dua kepentingan ini bertemu. Pameran menjadi ajang bergengsi para penerbit tuk show off bukan sale off. Menujukkan eksistensi dirinya di muka publik, bukan memperkenalkan diri sebagai penerbit yang jor joran dalam memberi harga murah. Murah tidak masalah, tapi bila menjadi terkesan murahan itu yang menjadi masalah.

Sisi seperti ini nampaknya hanya akan menjadi pekerjaan rumah dan kegelisahan penerbit skala kecil. Untuk penerbit mayor yang leluasa main di proyek-proyek pemerintah untuk pengadaan buku dan bermodal raksasa mungkin tidak akan merasakan kondisi seperti ini. Tapi bisa jadi kasusnya menjadi lain dan menjadi sangat khas disesuaikan dengan kapasitas mereka.

‘ala kulli hal, dunia buku masih menarik untuk dikembangkan. Terutama saat melihat respon pembaca dan pembeli yang mengapreasiasi apa yang kita tulis dan terbikan itu.

 

« Newer Posts - Older Posts »