Wajah wanita itu dingin. Ketika diwawancara seputar motif kenapa ia memutilasi suaminya juga tak banyak bicara. Lirih, pelan tanpa ekspresi penyesalan. Wanita inilah yang menjadi tersangka pembunuhan mutilasi seorang lelaki dengan sangat sadis. Ia memutilasi suami sendiri dengan pisau dapur, setelah memukul kepala suaminya dengan batu saat suami tidur lelap. Tubuh suaminya dipotong-potong menjadi beberapa bagian dan dimasukkan dalam beberapa tas kresek. Tas kresek itu akhirnya ia bawa sepanjang perjalanan. Ada yang ditinggal di bus, ada yang di warung terminal, ada yang di taksi dan ada pula yang di bus Jakarta Cirebon. Bahkan kepala dan lengan kiri malah dibuang di kali dan belum ketemu dimana lokasinya.

Miris! Ada apa dengan bangsa ini? Dulu ada Robot Gedek, ada Sumanto, ada Ryan, sekarang ada Sri Sumiati (Kalo ndak salah) yang sangat kejam. Apa yang salah? Kenapa mereka menjadi sangat beringas? Akhlak sudah tidak lagi menjadi sandaran berperilaku. Hitungannya hanya nafsu, dendam yang dipupuk subur di hati, dan perilaku yang jauh dari nilai islam yang dipuji. Manusia tak lagi mau diatur dengan indahnya Islam. Tetapi kapitalisme membuat mereka rakus akan nilai dunia yang mereka sembah sedemikian rupa. Lingkungan kitalah yang menjadi tanggung jawab kita. Sejauh mana kita mau peduli dengan mereka. Menyelesaikan persoalan dengan komunikasi, indahnya senyum, tawa dan hidup berbahagia.

Jangan biarkan hati nurani kita mati. Karena kita masih percaya dan sangat percaya pada kehidupan setelah mati. Ada pertanggungjawaban, ada perhitungan amal, yang tidak seringan di dunia dan tidak semudah di meja hijau. Semuanya akan dihitung, dan semuanya akan dipertanggungjawabkan.

One Response to “Mutilasi dan Matinya Hati Nurani”

  1. GG says:

    Tayangan kekerasan seperti mutilasi mestinya dihentikan dari media, khususnya TV. Konon para pelaku baru terinspirasi dari para pelaku lama yang ditayangkan di berbagai media.

    http://opiniorangbiasa.blogspot.com


    iya, semua juga karena rating mas. Rating acara kriminalitas juga meningkat, sebuah tren selera pemirsa yang mengkhawatirkan, kenapa mereka justru suka pada tayangan kriminalitas. Menurut saya, perlu diwacanakan juga apa yang bisa dilakukan oleh orang-orang biasa seperti kita ini. Begitu kan?

Leave a Reply