Meski Tertuduh, Tapi Kita Tetap Tak Bersalah…
“Saya punya anak anak yang mau ngaji mas. Mereka biasanya minum minuman keras. Sekarang mau ngaji. Ada sekitar 20 an orang. Tapi mereka nggak mau ke mesjid. Maunya ngaji di rumah. Akhirnya ngumpul deh 20 an orang. Kita ajari IQRA sama kitab salat. Tapi ternyata warga khawatir.”
“Khawatir kenapa mas?”
“Warga khawatir, mereka jadi aneh.Warga takut mereka jadi terlibat teroris, kalau ndak, mereka pasti nggak mau tahlilan lagi, atau malah mereka bakalan jadi laskar yang suka membubarkan main judi dan minuman keras. Warga ndak mau mereka berubah begitu.”
“Trus akhirnya gimana?”
“Akhirnya mereka pindah ke masjid. Sekarang malah lebih enak. Ngajinya bisa lebih lama. Apalagi ramadan mas, abis taraweh mesjidnya rame karena banyak yang tilawah.”
Dialog itu terjadi tadi siang. Saya bersama seorang teman pengusaha konter hape. Semangat dakwahnya luar biasa. Dia mengumpulkan anak anak yang suka nongkrong dan minum minuman keras, untuk diajari ngaji. Tapi sayangnya sambutan warga penuh curiga. Takut diajari aneh-aneh. Takut jadi teroris, takut ngga mau tahlilan, takut jadi laskar. Mereka lebih suka kalau anak anak itu tetap nakal, ga usah ngaji saja.
Inilah yang terjadi. Masyarakat sudah kena sihir media dan propaganda tidak menguntungkan. Doyan ke masjid, celana cingkrang, taat shalat, jenggotan, jidat itam, ngaji di rumah-rumah dianggap sebagai aktivitas teror baru. Geregetan aku sunggu geregetan hehehe…Nampaknya disengaja atau tidak, stigma ini sudah menular. Bahkan bagi para cowok yang nampak agamis, pasti akan ditanya macem-macem kalau mau melamar anak gadis. “Jenggotnya itu tren apa idealis mas?” jawabnya malah “ini aseli kok pak. bukan sintetis.” hehehe.
Berjilbab gede pun sekarang juga agak susah. Pasti disalahpahami ikut aliran macem-macem. Yang jelas ga mungkin ikutan aliran listrik kan? Ntar bisa kesetrum. Belum lagi kalau bercadar, wah bisa dipelototin orang sekampung. Tapi mungkin akan berbeda kalau bercadarnya karena film ayat ayat cinta. “Ini cadar ala Aisya kok pak…”
Fenomena terorisme yang ngawur ini memang bisa dengan mudah dicurigakan pada setiap orang yang berpenampilan islami. Karena tidak mungkin seorang akan curiga pada seorang abg yang pake celana pendeknya minta ampun dan menuduh dia teroris. “Mbak kamu teroris ya?”
“Lhoh kok bisa?”
“Iya dong, pakean kamu menteror imanku”
Humm, para aktivis islam harus memutar otak lebih keras berpikir tentang dakwah islam ke depan yang lebih simultan. Kasus bunuh diri yang lebih marak dari hari ke hari membuktikan bahwa masyarakat Indonesia sebenarnya membutuhkan pencerahan spiritual. Mereka butuh Allah dan butuh indahnya Islam. Dan meski aktivis dituduh macem-macem, kita tetap harus maju berdakwah hingga kapanpun jua. Allahumma amin.
Tags: featured


Comments:1