“Saya bangga dengan perkembangan dakwah islam terutama di kalangan remaja, banyak buku yang sudah ditulis untuk anak muda, tetapi sayangnya kenapa hanya melulu pada tema nikah dan cinta saja. Kenapa tidak ada tema lainnya?”

dsc00339.JPG

Itulah salah satu pertanyaan saat forum tanya jawab di TOUR 2008 (Tausyiah Umum Remaja) di Gedung IPHI Sukoharjo. Sebenarnya buku remaja dengan banyak tema sudah banyak beredar. Hanya saja respon pasar memang tidak sebanyak dan sebesar tema-tema cinta. Buku tentang remaja dan orang tua, remaja dan tingkat kreativitas, remaja dan lingkungan mereka memenuhi rak dan gudang penerbit. Tetapi memang harus selalu ada tema-tema variatif yang selalu baru.

Oleh karena itu, memacu orang untuk menulis harus selalu dilakukan. Meski kadang orang yang dipacu ogah-ogahan dalam melakukan aktivitasnya. Tetapi ya ndak papa, namanya juga usaha. Kita ini beramal untuk Allah, bukan untuk manusia. Kalau kita berniat mencari ridha manusia, maka kita akan gampang kecewa. Kalau kita memberi semangat sama orang, memacu mereka menulis, sementara orang yang kita pacu males-malesan, gampang mengeluh, ya sudah lepasin saja. Mungkin memang takdir dia bukan di situ. Gampang kan?

Nah, pas acara kemarin saya ketemu dengan seorang moderator, Mas Nardi. Beliau ini bukan orang sembarangan. Beliau adalah staff SOLOPEDULI, sebuah lembaga LAZIS yang ada di SOLO. Sebelumnya beliau juga aktif di Yayasan Nur Hidayah dan SMPIT Nur Hidayah. Kita berdua sempet ngobrol lama tentang banyak hal. Salah satunya tentang kebiasaan menulis. “Gimana mas, tipsnya agar tulisan saya itu bagus?” Pertanyaan ini sulit menjawabnya, secara tulisan saya juga tidak cukup bagus. Tetapi dari pertanyaan itulah saya akhirnya terpacu untuk mencari jawabannya. Gimana caranya biar tulisan kita enak dibaca, ga ngebosenin, bikin orang terinspirasi dan lain-lain.

Setidaknya melatih diri dengan rajin menulis perasaan dan catatan perjalanan adalah satu langkah yang bagus. Rajin-rajin saja menulis, nanti bikin jam terbang kita meningkat. Semakin lama pasti akan semakin mahir. Tapi kalau kitanya males-malesan, tidak hadir tanpa keterangan, ya sudah, itu alamat memang kita ga serius menekuni hobi ini. Nampaknya masih banyak langkah yang lain, nanti saja deh sambil nyari buku bagus lainnya dan bisa disharing lagi di sini. Sekarang kerja dulu, ini kan hari Senin.

Satu lagi, kemarin istri beli permen dan snack di sebuah toko kelontong. Tapi yang jual cewek tanpa senyum. Wajahnya bikin sepet, merengut dan kayaknya ga suka dengan istri dan kedua anak-anaku. Wah kenapa ya? Apa karena jilbab panjang istri saya ya? Istri saya langsung protes, “Mbak ga bisa senyum ya?” Langsung si penjual membuka mulutnya, “Sudah mbak, beli apa lagi?” Wekksss nekad merengut dia. Manusia aneh…

2 Responses to “Memompa Semangat Nulis, Susahnya!”

  1. Saya juga sedang belajar menulis, Pak. Setidaknya menulis komentar. Boleh kan? :)

  2. ajari aku belajar menulis….
    *yach khan udah sejak Taman kawak-kawak (eh taman kanak-kanak dinks) belajar menulis

Leave a Reply