Anak muda menyimpan banyak masalah. Tapi anehnya, mereka tidak tahu bila mereka sedang punya masalah. Selama ini masalah mereka hanya berkutat pada kebutuhan pribadi, materi yang kurang dan dunia hiburan yang membosankan. Atau lebih parah lagi, mereka hanya dipusingkan pada masalah gonta-ganti pacar, modifikasi mobil, modifikasi motor, mode yang berubah-ubah dan jenis musik yang mereka gemari. Tak terbesit sedikitpun sebuah kepedulian terhadap terpuruknya umat Islam di dunia ini. Bacaan mereka adalah bacaan buku dan majalah yang lebih mengarahkan pada mencintai dunia dan menjadi generasi hura-hura. Tontonan mereka juga hanyalah sinetron remaja yang memperlihatkan kejamnya pergaulan, cengengnya percintaan dan indahnya hidup bila syahwat dibebaskan. Mereka menghindari masjid dan tempat kajian, sebaliknya mereka malah memenuhi arena konser dan gedung pertunjukan. Mereka tidak kenal budaya Islam, tapi budaya barat mereka acungi jempol dan telah menjadi kiblat peradaban.

Kondisi ini bak lingkaran setan yang tak berujung pangkal. Semua pihak justru merasa tidak punya andil dalam kondisi memalukan ini. Mereka berlepas tangan, dan merasa tidak bersalah terhadap lemahnya semangat anak muda Islam dalam berkarya dan berjuang. Akhirnya sikap yang diambil adalah membiarkan semuanya terjadi, mengalir bak air bah yang menggayang semua pemukiman. Anak muda dibiarkan dengan kelemahannya dan kebodohannya, sehingga tanpa sadar, anaknya sendiri pun menjadi korban dari keterpurukan ini.

Namun masih ada kabar gembira. Ternyata masih ada beberapa bagian dari umat ini yang punya nyali untuk mengatasi keadaan. Menyisingkan baju untuk mengentaskan anak muda dari kelemahannya. Membuat markas-markas dakwah, yayasan, lembaga dakwah untuk menarik anak muda agar mengenal Tuhannya dan mau memperhatikan hidupnya. Muncul pula para tokoh yang peduli dengan kelemahan ini, dan berbuat sesuatu dalam rangka memberi kontribusi yang berarti. Salah satunya adalah Dr. Raghib Sirjani, pemerhati masalah ummat yang mencoba memberi nasihat melalui buku yang ditulisnya, Risalah ila Syababil Ummah. Membaca naskah ini secara berulang-ulang ternyata membawa efek yang sangat besar. Nyali akan meninggi dan semangat beramal akan menyala dan berkobar. Karena buku ini memiliki original touch yang jarang dimiliki buku-buku lainnya. Kata-katanya menggugah, membangkitkan semangat yang saat ini kalah dan lelah. Membacanya seperti mendengarkan sebuah orasi penyemangat yang menyuburkan jiwa dan menenangkan hati.

Buku ini seharusnya menjadi konsumsi anak-anak muda mulai usia 12 tahun hingga 30 tahunan. Sebab di masa itulah mereka tidak lagi menjadi anak-anak, namun menjadi anak muda seutuhnya. Selain itu, buku ini juga menampilkan ilustrasi yang mirip dengan komik, agar lebih menarik hati para remaja di usia itu untuk mau memegang dan membacanya. Terakhir, semoga buku kecil ini mampu menjadi inspirasi amal kita bersama, dan selalu mampu untuk berkata, “Nyalakan Semangatmu!” (Burhan Sodiq)

Leave a Reply