Laskar Harus Melek Media
FPI menjadi seleb. Segala tokoh berlomba memberi komentar. Mayoritas menghujat, menyesalkan, dan bahkan mengutuk. Kalau ada diksi yang lebih kasar mungkin akan dipakai untuk menunjukkan emosi yang memuncak. Tapi, pertanyaannya apakah mereka tahu apa yang mereka komentari itu?
Saya yakin most of them did not know what is really happened. Mereka hanya melihat tayangan di teve yang memang sangat kasar. Tak ada sensor, hampir mirip smack down yang sengaja diperlihatkan. This is laskar islam, inilah kekasaran mereka. Karena teve, para tokoh itu berkomentar, karena teve pula laskar islam disudutkan. Dan teve tetap saja punya kepentingan, siapa yang ditonjolkan dan siapa yang diamankan. Saat klarifikasi, tokoh LSM dihadirkan di studio. Sementara tokoh laskar Islam cukup ditelepon. Itu masih mending. Kadang mereka tidak dihubungi sebagai sebuah konter jawaban.
Inilah yang disayangkan. Laskar Islam tidak begitu piawai bermain di media. Atau memang mereka sama sekali tidak diberi kesempatan memberi jawaban. Atau malah mereka trauma dengan media, yang seringkali memelintir jawaban dari para laskar. Sebuah kritikan saja, bahwa dalam berjuang, sisi media juga jangan luput diperhitungkan. Allah maha tahu, dan Allah tidak tidur.

Comments:4