Soliditas, kekompakan atau apapun namanya menjadi barang yang sangat dibutuhkan. Keluarga, team kerja, temen kantor, atau bahkan hanya warga kampung, membutuhkan kata ini. Para warga makam mbah Priok kompak melawan penggusuran, sementara satpol pp juga kompak menggusur dengan semangat menjalankan tugas. Gayus juga terbukti sangat kompak bisa membayar orang-orang yang bisa diajak korupsi. Sementara Susno juga kompak dengan pendukungnya untuk terus melakukan pembongkaran kasus ini.

Tapi apa menjadi Kompak itu mudah? Tidak juga. Susah juga membuat team kerja yang kompak. Ada juga yang masih sekehendak hatinya, susah diatur dan malah sok ngatur. Padahal kalau orang sudah ditunjuk sebagai imam, maka makmumlah yang harus kompak mentaati pemimpinnya. Tetapi kok ternyata malah tidak seperti itu. Kekompakan itu justru pada ketidakkompakan yang mereka tunjukkan.

Sebagai manusia kita juga kudu kompak menaati Tuhan. Menjunjung tinggi perintah Allah dan menjalani semua yang telah ditugaskan kepada kita. Allah sudah memberi apa yang kita inginkan. Mengabulkan doa doa yang kita panjatkan. Tapi ternyata kita tidak kompak sama Allah. Kita banyak menyelisihi apa yang diinginkan Allah. Kita malah sering mencela, mendebat dan bergaya sok tahu dengan apa yang sudah Allah tetapkan. Yang halal dianggap haram, yang haram malah dihalalkan. Ketidakkompakan ini terus kita lakukan hingga usia meranggas hidup. Kesempatan pun tidak lagi ada, yang ada justru penyesalan yang mendalam.

Kompakkanlah hati, pikiran serta tubuh kita untuk selalu berada dalam ketaatan kepada Nya. Didiklah lisan untuk berkata kebaikan, didiklah hati untuk berlatih sabar dan tabah dalam ujian, dan didikan fikiran dengan kecerdasan dan kedewasaan. Semoga kelak kita akan selalu kompak dalam kebenaran dan kebaikan, sehingga bisa kompak masuk ke jannah Allah Ta’ala.

Leave a Reply