Kemana Militansi Itu Pergi?
Feb 28th, 2008 by burhanshadiq
Militansi identik dengan keteguhan dalam beramal jamai. Kendala, hambatan dan rintangan dalam hidup berjamaah adalah sebuah kewajaran dan sunnatullah yang kudu dihadapi. Maka tidaklah mengherankan jika kemudian fase ini melahirkan semangat menggebu tak kenal lelah, mundur, apalagi futur. Cobaan adalah makanan sehari-hari yang membuat dada ini selalu terbusung, semangat membumbung tinggi dan selalu punya energi.
Wajah-wajah sumringah, menghadapi tantangan dakwah dengan gagah. Mencengkeram kuatnya dalil dan hujjah hidup yang harus diperjuangkan. Menggigit prinsip dengan gigi-gigi geraham yang tak kan ngilu diterjang waktu. Lelaki-lelaki perkasa yang selalu siap sedia mengambil amanah, dan menunaikannya. Tidak hanya mengambil saja, dan kemudian tidak ada kabarnya.
Keringat, air mata dan darah sekalipun, siap sedia tertumpah demi tegaknya panji-panji dakwah. Waktu yang tersita, tenaga yang terambil, bukan sia-sia belaka. Tak mengharap pamrih dunia, senyum manusia pun tak ada juga tak mengapa. Semuanya untuk Allah, ikhlas tanpa menuntut, tapi pun tidak menolak juga diberi. Pejuang akhirat yang selalu siap menerima resiko terberat. Mempersembahkan jiwa untuk penguasa alam semesta, Allah Subhana Wa Ta’ala.
Kini, militansi itu berangsur hilang. Perlahan meninggalkan dada-dada para pejuang. Tersemat noda di dalam dada, bercampur keluh kesah dan protes nestapa. Jiwa-jiwa yang haus akan dunia mengganti kerinduan akan ridha Rabb-nya. Jiwa-jiwa yang selalu punya seribu satu alasan untuk menolak amanah dakwah. Bersembunyi di balik kelambu kesibukan yang menyita. Mencari dunia hingga seluruh harta bertekuk lutut di hadapannya. Ya Allah Sang Pemilik Hati, jagalah hati ini agar tetap setia padaMu. Menjunjung tinggi ayatMu dan berjuang hingga darah kami tertumpah dan mati sebagai syuhada’.

Si Vis Pacem Para Belum
Untuk Perdamaian Siaplah Berperang.
ga ke mana-mana koq bang. dia ada di sini [sambil nunjuk dada],
cuman….
tercemari ato ketutup awan hitam yg tebeeeeel banget