Mengunjungi pameran buku Islam terbesar di Indonesia adalah sebuah hal yang mengasyikkan. Islamic Book Fair ke 7 ini merupakan perhelatan perbukuan islam terbesar yang sangat ditunggu para penggemar buku dan perajin buku islam tanah air. Acara yang diikuti oleh 200 penerbit ini nampaknya akan menjadi magnet luar biasa bagi ummat islam. Pameran ini juga diklaim sebagai pameran terlama dan terbanyak pengunjungnya dibanding dengan Indonesia Book Fair dan Pesta Buku Jakarta.

dsc00256.JPGdsc00257.JPGdsc00258.JPG

Alasan saya mengunjungi pameran ini jauh-jauh dari Solo adalah keingintahuan saya tentang pasar buku islam nasional, sekaligus keinginan untuk mengikuti seminar tentang copy right di tempat yang sama. Setidaknya pameran ini bisa menjadi tolok ukur dominan apa yang sedang digemari oleh masyarakat. Tema apa yang sedang digemari, jenis buku apa yang sedang laris dan animo seperti apa yang muncul di publik buku Indonesia.

Beraneka macam penerbit berlomba menarik minat pembeli dengan tampilan stan yang memukau. Saya sempet terpesona dengan beberapa tampilan stan penerbit yang sangat cerdas. Tata interiornya dibikin mewah, lucu, unik dan bahkan ada pula yang sangat mencuri perhatian. Tapi penampilan yang keren itu nampaknya tidak kemudian serta merta menarik pengunjung untuk datang dan membeli buku mereka. Sementara itu ada pula yang stan yang mengandalkan tayangan teve sebagai penarik minat. Dengan teve lcd layar lebar, mereka mengundang para pengunjung untuk larut dalam acara yang dilihatnya. Umumnya para pengunjung tertarik datang, tapi juga tidak banyak dari mereka yang mengadakan transaksi jual beli.

Lalu kalau semuanya sepi penjualan, manakah penerbit yang laris manis? Penerbit yang laris manis justru penerbit yang bisa menguras kantong pembeli dengan alasan diskon gede-gedean. Buku-buku dengan kualitas masih sangat bagus, dijual dengan diskon 50 %, sebuah tawaran yang sangat menggiurkan.

Copy Right, Kembali Pada Nurani dan Etika

Sementara itu momen seminar hak cipta cukup menyisakan kesan indah juga. Menghadirkan dua pembicara, masing-masing berbagi pengalaman tentang hak cipta ini. Bagi penerbit Barat, hak cipta memang menjadi barang wajib. Mereka sangat teratur dalam persoalan ini. Bahkan mereka juga mengenal istilah renewal copy right, hak cipta buku-buku lama yang masih saja diperbarui terus.

Memang sempat ada pernyataan dari pembicara bahwa lembaga perbukuan timur tengah pernah menepis anggapan yang selama ini beredar bahwa atas nama dakwah penulis dan penerbit timur tengah tidak mengenal copy right. Mereka justru menegaskan bahwa angapan itu salah dan tidak benar. Sehingga urusan copy right ini harus segera ditertibkan.

Namun nampaknya penertiban ini tidaklah semudah yang dibayangkan. Problematikanya masih ruwet dan njlimet. Tidak semua penerbit Timur Tengah memahami kekuatan hukum dalam masalah hak cipta. Kadang penerbit Indonesia hanya mendapat ijin menerbitkan berupa tulisan tangan saja. Lebih parah lagi, satu buku yang penulisnya sudah meninggal, menyerahkan hak cipta kepada anak-anaknya. Padahal anaknya banyak sehingga banyak pula penerbit yang mendapatkan hak cipta itu dari buku yang sama. Parah, bener-bener parah.

Urusan hak cipta ini memang sangat rumit. Terutama hak cipta terkait dengan penerbit Timur Tengah. Banyak harapan kepada IKAPI untuk menyelesaikan hal ini agar tidak ada benturan antar penerbit gara-gara urusan copy right. Tetapi harapan itu mungkin hanya tinggal harapan karena pengurus IKAPI juga sibuk sendiri-sendiri dengan urusan masing-masing. Karena IKAPI hanya kumpulan penerbit, yang masing-masing terlibat dengan urusan penerbitannya masing-masing. Akhirnya persoalan ini dikembalikan kepada etika bisnis islam, dan hati nurani masing-masing untuk tidak menyengaja menerbitkan buku yang sudah dimiliki penerbit lain. Tapi kalau tidak sengaja, mungkin tidak mengapa.

8 Responses to “Hak Cipta Buku Islam, Perlukah?”

  1. Ibnu Tsun Su says:

    seseorang menculik ideku dan memperlakukannya secara semena mena
    yakni Gombal Warning!
    tapi boleh apa buat, lha gakda Copyrightnya, lum sempet daptar!
    (adaideaja.blogspot.com)

  2. Ibnu Tsun Su says:

    malah dah jadi talkshow tu dab gombalnya! piye jal?

  3. sulaimann says:

    Klo dah terlanjur punya buku yang sama dengan penerbit lain dan best seller, gimana? Ntar malah rebutan hak cipta donk. Yang satu ke sana yang lain ke situ. Piye hayoo…??

  4. Sausan says:

    Bagaimana kalau bikinnya pakai software bajakan? ;))

  5. burhanshadiq says:

    wah pengunjungnya cerdas-cerdas neh…pak guru harus jawab satu satu:

    1. Kalau kasus mas sulaiman, itu sudah sering terjadi dan itulah masalahnya. Kalau penebrit aseli di sono kualived dan peduli ama yg namanya copyright, maka bisa diusut ke pengadilan. Dan ini urusannya bisa sangat puanjaaaaanngggg…dan mahal.

    2. Kalau softwarenya bajakan, emang masih bajakan kebanyakan kan? Kecuali yang aseli mungkin bukan bajakan. Mumet kan?

  6. fursan says:

    kalo yang no.1 q percaya banget…old story

  7. Ahmad says:

    Maaf numpang ruang. Mudah-mudahan bermanfaat bagi yang peduli terhadap buku dan bacaan:

    Sekarang, kesadaran membaca dan menulis sangat signifikan di kalangan masyarakat, baik awam maupun profesional. Kesadaran ini diilhami oleh pentingnya membaca bagi keberlangsungan masa depan yang dinamis dan maju. Secara lokal, Indonesia mungkin masih dianggap ketinggalan menyadari pentingnya membaca dibandingkan dengan negara-negara lain yang telah maju lebih dahulu. Wajar saja, Amerika dan Eropa mendapatkan prestasi besar dalam dunia pradaban modern kini, sebab mereka 15 tahun ke belakangnya telah memiliki kegemaran dan kesadaran pentingnya membaca.

    Dari itu, mari kita rapatkan persepsi kita bahwa membaca itu sangat penting dan bermanfaat. Melalui milis ini semua hal ini bisa digagas bersama. P

    Partisifasi Anda sangat kami tunggu untk ikut bergabung di milis mediabaca@yahoogroups.com ini.

    Join silakan klik: http://groups.yahoo.com/group/mediabaca

    Selamat bergabung!

  8. amir says:

    mas gmn klo membuat ebook PDF dari buku2 yg dah diterbitin…apa ada undang2nya juga ttg hal itu? soale, skrng banyak yng menyebarkan buku2 islami (dari penerbit) melalui ebook (bukune di-scan)…

Leave a Reply