Gumarang terjungkal, kesandung rel yang digergaji oleh oknum yang lapar. Analisis bermunculan. Sabotase atau hanya orang keisengan menggergaji jalan kereta. Mungkin banyak cerita di gerbong-gerbong yang berjatuhan itu. Setidaknya 3 gerbong lepas dari pegangan, terpelanting dan keluar dari jalurnya. Ada banyak manusia yang akhirnya terluka menganga. Getir! Kenapa orang susah harus dibikin lebih susah. Tragis! Kenapa orang miskin dibikin lebih sulit hidupnya.

Dimanakah otak si penggergaji yang tak tahu diri itu? Apakah masih ada di dalam kepalanya yang botak gondrong atau berambut cepak. Ataukah malah otaknya sudah beralih ke dengkul yg hitam legam untuk sandaran tubuh saat menggergaji rel tersebut. Sisi manusiawinya telah hilang terampas rasa lapar yang melilit, atau malah rasa rakus yang tak pernah terpuaskan.

Di sudut ranah yang lain, media meributkan seorang WNA Italia yang ketabrak bus yang melaju kencang di jalur busway. Sedih mungkin saja ada, tapi tak terlalu mungkin, karena ia bukan warga negara Indonesia. Padahal baru malam minggu kemarin seorang anak smp terlindas kereta api Gajayana yang melaju dari arah Jakarta menuju Malang. Palang kereta tak digagas, diterjang dengan pongah lagak seorang bocah. Nyalinya tak mampu menyelamatkan nyawanya yang terenggut oleh ciuman maut lokomotif tua yang kencang larinya! Bubar, bubar dan akhirnya layatan!

Leave a Reply