Dipilih-dipilih-dipilih…
Apr 11th, 2009 by burhanshadiq
Menjelang pemilu kemarin, hape saya mendapat banyak SMS. Ada issu pro dan kontra saat menjelang pemilihan. Ada yang dengan bahasa indahnya mengajak saya untuk tidak menunaikan hak saya. Tentu saja dengan alasan idiologis. Bahwa demokrasi itu haram, dan kita sebagai muslim tidaklah perlu untuk berkontribusi di dalamnya. Namun ada pula SMS lain yang merayu saya untuk menggunakan hak pilih saya. Dengan dalil yang sama, bahwa demokrasi itu haram, tetapi kita masih bisa memanfaatkannya untuk meminimalkan kerusakan. Alasannya adalah karena kondisi kita hari ini belum ideal untuk sebuah perjuangan.
Sembari tersenyum berkali-kali saya beradu SMS dengan sang pengirim. Tetapi sebenarnya saya tidak cukup semangat untuk berdebat masalah apakah harus mencontreng atau tidak mencontreng. Karena itu perdebatan usang dan sudah lama terjadi. Saya pikir, semakin lama digali justru malah membuat sumpek hati.
Mungkin dalam benak saya menginginkan adanya sebuah dialog antar pergerakan. Mereka yang pro dan mereka yang kontra. Apa yang diharapkan dari yang pro berjuang lewat partai, dan apa yang diharapkan yang kontra perjuangan islam lewat partai. Memang sebenarnya ada titik temu yang cukup besar di sini, bahwa kedua belah pihak sama-sama sepakat bahwa Islam harus diperjuangkan. Tetapi tidak kita pungkiri juga, ada barrier (penghalang) yang cukup besar pula, yaitu pada posisi menyetujui system demokrasi dan menyelisihi system itu. Sehingga perbedaan ini tidak pernah bisa terdialogkan. Dan ujung-ujungnya hanya berakhir dengan sikap sama-sama egois, sama-sama menang dan sebuah ucapan, “Lana A’maluna, Wa Lakum A’malukum”
Terlepas semua itu, tulisan saya ini mungkin sudah terlambat. Karena momen itu sudahlah lewat. Semoga ke depan ummat ini menjadi lebih dewasa menyikapi perbedaan, dan lebih canggih menyusun strategi perjuangan.
