Dekat dengan Masjid

Pernahkah Anda duduk terdiam selepas shalat, dan memandangi masjid kampung yang begitu besar. Masjid yang sunyi dari penghuni, lebih banyak kakek tua daripada anak muda. Kemudian pernahkah kita bertanya, apa yang sudah kita lakukan untuk meramaikan masjid ini? Pengajiankah? Diskusi keislamankah? Atau apa?
Sering sekali saya berpikir tentang hal itu. Setiap kali saya mengambil sandal untuk pulang dari shalat jamaah, setiap kali pula saya bertanya dalam hati. Masjid ini butuh apa agar jamaahnya bisa sedemikian ramai. Apa yang harus dilakukan agar masyarakat berbondong-bondong untuk merasakan rahmat Nya di masjid ini.
Saya pun selalu melihat ke papan tulis putih itu. Tempat memajang aneka macam pengumuman. Dari mulai khitanan masal hingga brosur sekolah dan pesantren yang menawarkan dan menginformasikan pembukaan tahun ajaran baru. Apa yang bisa saya lakukan dengan papan tulis itu.
Saya pernah beberapa kali terbetik untuk membuat mading. Majalah dinding yang segar, unik dan kreatif. Tetapi nampaknya selalu saja ada hambatan untuk merealisasikannya.
Kini, saya masih bermain-main dengan keinginan-keinginan itu. Sembari berharap kepada Allah agar memudahkan langkah kaki dan kejernihan hati untuk meramaikan masjid ini. Saya jadi teringat firman Allah “tidaklah pantas orang-orang musyrik itu memakmurkan mesjid-mesjid Allah, sedang mereka mengakui bahwa mereka sendiri kafir. Itulah orang-orang yang sia-sia pekerjaannya, dan mereka kekal di dalam neraka. Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari Kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, Maka merekalah orang-orang yang diharapkan Termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk. (At Taubah 17-18).

Comments:1