Sebuah buku bertema wanti wanti poligami membuat heboh dunia pergerakan. Akhwat muslimah yang disiapkan untuk bisa taat tiba-tiba bergolak. Mereka merasa punya senjata tuk melawan opini utama yang sudah berjalan. Sang penulis merasa sudah benar. Hanya mewanti-wanti, hati-hati jangan asal poligami. Memaparkan fakta agar tidak gegabah mengambil istri lagi. Tapi ternyata menjadi bumerang. Akhwat muslimah merasa terbela, sisi nafsu mereka mulai terkoyak. Mereka ingin menjadikan buku itu sebagai momen “pemberontakan!” para ustad mulai berbicara. Mereka menyesalkan penulisan buku ini. Mereka membaca, tapi memutuskan untuk tidak melanjutkkanya. Pihak penerbit dipaksa dan diminta terketuk hati, untuk menarik buku ini dari peredaran. 10 ribu telah tercetak, akankah hanya mengisi gudang. Allah Maha Adil. Allah Maha Adil. Sekali lagi Allah maha adil!

Saya dikasih tahu teman kalau ada buku heboh yang membelah suara sebuah komunitas massa. Pro kontra poligami bersuara lagi. Kali ini antar anggota dewan syura yang selama ini saya selalu angkat topi. Tapi kali ini saya kudu sedih karena issue ini. Bila seandainya mereka yang tidak setuju poligami adalah dari kalangan liberal, bolehlah kita menganggap wajar. Tapi bila liqa dan halaqah telah terlewati, namun hati masih membenci sunnah nabi, apalah daya hati ini kecuali meratap sedih. Kenapa terjadi seperti ini?

Ruangan tempat kerja mendadak rame. Teman yang berpoligami, saya tantang tuk menulis buku yang membela poligami. Sedikit alasan, “Saya sibuk sekali. Belum berani menulis buku.” Kebalikan dengan saya, saya bisa menulis buku tapi saya belum berani berpoligami. Hahaha.

Mungkinkah ini terus bergulir? Dan menjadi senjata bagi ummahat yang tidak rela syariat ini ditegakkan? Ataukah ini sebuah kesalahan dari niat baik yang tak tersampaikan? Wallohua’lam!

Leave a Reply