<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>BURHANSHADIQ &#187; Serius banget</title>
	<atom:link href="http://blog.burhanshadiq.com/category/serius-banget/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blog.burhanshadiq.com</link>
	<description>Inspirasi Tiada Henti</description>
	<lastBuildDate>Fri, 23 Jul 2010 15:45:41 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Mutilasi dan Matinya Hati Nurani</title>
		<link>http://blog.burhanshadiq.com/mutilasi-dan-matinya-hati-nurani.html</link>
		<comments>http://blog.burhanshadiq.com/mutilasi-dan-matinya-hati-nurani.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Oct 2008 01:59:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>burhanshadiq</dc:creator>
				<category><![CDATA[Serius banget]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.burhanshadiq.com/?p=564</guid>
		<description><![CDATA[Wajah wanita itu dingin. Ketika diwawancara seputar motif kenapa ia memutilasi suaminya juga tak banyak bicara. Lirih, pelan tanpa ekspresi penyesalan. Wanita inilah yang menjadi tersangka pembunuhan mutilasi seorang lelaki dengan sangat sadis. Ia memutilasi suami sendiri dengan pisau dapur, setelah memukul kepala suaminya dengan batu saat suami tidur lelap. Tubuh suaminya dipotong-potong menjadi beberapa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;" dir="ltr"><!--[if gte mso 9]><xml> <w:WordDocument> <w:View>Normal</w:View> <w:Zoom>0</w:Zoom> <w:PunctuationKerning /> <w:ValidateAgainstSchemas /> <w:SaveIfXMLInvalid>false</w:SaveIfXMLInvalid> <w:IgnoreMixedContent>false</w:IgnoreMixedContent> <w:AlwaysShowPlaceholderText>false</w:AlwaysShowPlaceholderText> <w:Compatibility> <w:BreakWrappedTables /> <w:SnapToGridInCell /> <w:WrapTextWithPunct /> <w:UseAsianBreakRules /> <w:DontGrowAutofit /> </w:Compatibility> <w:BrowserLevel>MicrosoftInternetExplorer4</w:BrowserLevel> </w:WordDocument> </xml><![endif]--><span style="font-family: Verdana;">Wajah wanita itu dingin. Ketika diwawancara seputar motif kenapa ia memutilasi suaminya juga tak banyak bicara. Lirih, pelan tanpa ekspresi penyesalan. Wanita inilah yang menjadi tersangka pembunuhan mutilasi seorang lelaki dengan sangat sadis. Ia memutilasi suami sendiri dengan pisau dapur, setelah memukul kepala suaminya dengan batu saat suami tidur lelap. Tubuh suaminya dipotong-potong menjadi beberapa bagian dan dimasukkan dalam beberapa tas kresek. Tas kresek itu akhirnya ia bawa sepanjang perjalanan. Ada yang ditinggal di bus, ada yang di warung terminal, ada yang di taksi dan ada pula yang di bus Jakarta Cirebon. Bahkan kepala dan lengan kiri malah dibuang di kali dan belum ketemu dimana lokasinya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;" dir="ltr"><span style="font-family: Verdana;">Miris! Ada apa dengan bangsa ini? Dulu ada Robot Gedek, ada Sumanto, ada Ryan, sekarang ada Sri Sumiati (Kalo ndak salah) yang sangat kejam. Apa yang salah? Kenapa mereka menjadi sangat beringas? Akhlak sudah tidak lagi menjadi sandaran berperilaku. Hitungannya hanya nafsu, dendam yang dipupuk subur di hati, dan perilaku yang jauh dari nilai islam yang dipuji. Manusia tak lagi mau diatur dengan indahnya Islam. Tetapi kapitalisme membuat mereka rakus akan nilai dunia yang mereka sembah sedemikian rupa. Lingkungan kitalah yang menjadi tanggung jawab kita. Sejauh mana kita mau peduli dengan mereka. Menyelesaikan persoalan dengan komunikasi, indahnya senyum, tawa dan hidup berbahagia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;" dir="ltr"><span style="font-family: Verdana;">Jangan biarkan hati nurani kita mati. Karena kita masih percaya dan sangat percaya pada kehidupan setelah mati. Ada pertanggungjawaban, ada perhitungan amal, yang tidak seringan di dunia dan tidak semudah di meja hijau. Semuanya akan dihitung, dan semuanya akan dipertanggungjawabkan.</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.burhanshadiq.com/mutilasi-dan-matinya-hati-nurani.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hikmah Hari Ini</title>
		<link>http://blog.burhanshadiq.com/hikmah-hari-ini.html</link>
		<comments>http://blog.burhanshadiq.com/hikmah-hari-ini.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 Mar 2008 01:12:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>burhanshadiq</dc:creator>
				<category><![CDATA[Serius banget]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.burhanshadiq.com/?p=381</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Kalau rizki itu di tangan ALlah, kenapa engkau ikut campur? Kalau Allah sudah menjanjikan ganti yang lebih baik, kenapa engkau bakhil?? Kalau sesungguhnya surga itu benar adanya, kenapa engkau masih beristirahat? Kalau sesungguhnya neraka itu benar adanya, kenapa engkau bermaksiat? Kalau sesungguhnya pertanyaan Munkar Nakir itu benar adanya, kenapa engkau masih disibukkan oleh aib orang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Kalau rizki itu di tangan ALlah, kenapa engkau ikut campur? Kalau Allah sudah menjanjikan ganti yang lebih baik, kenapa engkau bakhil?? Kalau sesungguhnya surga itu benar adanya, kenapa engkau masih beristirahat? Kalau sesungguhnya neraka itu benar adanya, kenapa engkau bermaksiat? Kalau sesungguhnya pertanyaan Munkar Nakir itu benar adanya, kenapa engkau masih disibukkan oleh aib orang lain? Kalau sesungguhnya dunia ini fana, kenapa engkau tenang di dalamnya? Kalau sesungguhnya &#8220;hisab&#8221; benar adanya, kenapa engkau terus mengumpulkan (dosa-dosa)? Kalau sesungguhnya segala sesuatu terjadi karena qodho dan qodar-Nya, kenapa engkau takut?&#8221; (Imam Ahmad bin Hambal)</p>
<p>NB: Thanks Mas Nugie</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.burhanshadiq.com/hikmah-hari-ini.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Valentin Day Nggak Identik Sama Kasih Sayang</title>
		<link>http://blog.burhanshadiq.com/valentin-day-nggak-identik-sama-kasih-sayang.html</link>
		<comments>http://blog.burhanshadiq.com/valentin-day-nggak-identik-sama-kasih-sayang.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 13 Feb 2008 03:00:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>burhanshadiq</dc:creator>
				<category><![CDATA[Serius banget]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.burhanshadiq.com/?p=313</guid>
		<description><![CDATA[Jangan asal ikut-ikutan. Saat para seleb bilang met valentin day, jangan kemudian kamu merasa kudu perlu mengucapkan hal yang sama. Karena ada beberapa fakta valentine yang kamu kudu tahu: Valentine Day adalah hari memperingati matinya pendeta Saint Valentine. Siapa pendeta itu juga masih simpang siur sejarahnya. Valentine Day adalah hari besar umat Kristen terbesar kedua [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jangan asal ikut-ikutan. Saat para seleb bilang met valentin day, jangan kemudian kamu merasa kudu perlu mengucapkan hal yang sama. Karena ada beberapa fakta valentine yang kamu kudu tahu:</p>
<ol>
<li>Valentine Day adalah hari memperingati matinya pendeta Saint Valentine. Siapa pendeta itu juga masih simpang siur sejarahnya.</li>
<li>Valentine Day adalah hari besar umat Kristen terbesar kedua setelah Crhistmas dan Happy New Year. Dicanangkan pertama kali oleh Paus Gelasius II karena untuk menyaingi upacara penyembahan dewa orang Romawi, Lupercus. (lihat dalam buku Valentine Day, Natal, Happy New Year, April Mop, Hallowen: So What?? (Rizki Ridyasmara, Pusaka Alkautsar, 2005)</li>
<li>Be My Valentine dalam bahasa berarti jadilah yang Maha Kuasaku. Artinya Valentine Day juga sebentuk pemujaan dewa baru yang terselubung.</li>
<li>Mengutip perkataan Ibnu Qayyim, “Memberi selamat atas acara ritual orang kafir yang khusus bagi mereka, telah disepakati bahwa perbuatan tersebut haram. Semisal memberi selamat atas hari raya dan puasa mereka, dengan mengucapkan, ?Selamat hari raya!? dan sejenisnya. Bagi yang mengucapkannya, kalau pun tidak sampai pada kekafiran, paling tidak itu merupakan perbuatan haram. Berarti ia telah memberi selamat atas perbuatan mereka yang menyekutukan Allah. Bahkan perbuatan tersebut lebih besar dosanya di sisi Allah dan lebih dimurkai dari pada memberi selamat atas perbuatan minum khamar atau membunuh.”</li>
<li>Valentine Days syarat akan dogma kristen. Maka merayakannya bisa masuk kategori menyektukan Allah.</li>
</ol>
<p>Hati-hati buat temen-temen remaja. Selamatkan hidupmu sekarang juga!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.burhanshadiq.com/valentin-day-nggak-identik-sama-kasih-sayang.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Super Mama dan Rasa Malu</title>
		<link>http://blog.burhanshadiq.com/super-mama-dan-rasa-malu.html</link>
		<comments>http://blog.burhanshadiq.com/super-mama-dan-rasa-malu.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Feb 2008 01:29:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>burhanshadiq</dc:creator>
				<category><![CDATA[Serius banget]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.burhanshadiq.com/?p=310</guid>
		<description><![CDATA[Apa yang ada di benak anda ketika menyaksikan ibu-ibu yang sudah berusia patuh baya, mengenakan baju kebaya dibalut dengan kerudungnya melenggak lenggok berjoget dan menyanyikan lagu dangdut? Apa yang ada dibenak Anda ketika menyaksikan para muslimah dengan baju muslimah mereka tumpah riuh di ajang pencarian bakat? Pasti ada seiris rasa miris yang menyayat hati kenapa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Apa yang ada di benak anda ketika menyaksikan ibu-ibu yang sudah berusia patuh baya, mengenakan baju kebaya dibalut dengan kerudungnya melenggak lenggok berjoget dan menyanyikan lagu dangdut? Apa yang ada dibenak Anda ketika menyaksikan para muslimah dengan baju muslimah mereka tumpah riuh di ajang pencarian bakat?</p>
<p>Pasti ada seiris rasa miris yang menyayat hati kenapa ummat ini begitu kerdil dalam memahami nash. Apakah tidak ada orang yang baik hati yang menyampaikan kepada mereka bahwa berjoget semacam itu diharamkan bagi mereka? Belum lagi bila mereka harus beradu goyangan dengan kontestan lainnya. Baju mereka dikritik, dinilai dan bahkan di’telanjangi’ oleh banyak mata.</p>
<p>Dimanakah kearifan ibu-ibu itu hingga mereka mau menjual rasa malu dengan segepok uang jutaan rupiah. Dimanakah rasa malu ibu-ibu itu yang sudah mengenakan jilbab syar’inya tapi kemudian menodainya dengan goyangan yang memalukan. Goyangan yang justru malah membuat mereka dipandang rendah oleh para penontonnya. Tidakkah mereka berpikir bahwa bagaimana jika anak-anak kecil kemudian bertanya, “Ibu itu memakai kerudung tadpi kok mau bergoyang ya?”</p>
<p><strong>Rasa Malu yang Telah Hilang</strong></p>
<p>Ada sebuah hadist yang berbunyi, “Kalau kamu tidak malu, maka berbuatlah sesukamu.” Ya, berbuatlah sesukamu ketika rasa malu sudah dicabut oleh Allah ta’ala. Puaskan hawa nafsumu bila rasa malu sudah tidak lagi bersemayam di hatimu.</p>
<p>Para ibu itu sudah kehilangan rasa malu. Bapak-bapak di rumah sebagai suaminya juga tidak lagi punya rasa cemburu, melihat istrinya bergoyang ditonton jutaan pemirsa televisi. Anak-anak mereka juga tidak lagi punya rasa malu melihat ibu-ibu mereka menjual suara, menjual goyangannya untuk mendapat sedikit sanjung puja pelega tenggorokan belaka. Orang-orang yang melihatnya pun juga tidak punya rasa malu melihat saudara seimannnya melakukan seperti itu. Terlebih lagi, para pemodal acara, yang sejak awal memang tidak punya rasa malu, menjual kepolosan ibu-ibu demi keuntungan materi atas nama kapitalisme.</p>
<p>Saudaraku, jagalah ibu-ibu kita di rumah. Jangan sampai mereka kehilangan rasa malu hanya untuk mencari kesenangan yang menipu.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.burhanshadiq.com/super-mama-dan-rasa-malu.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kenapa Terjadi Penurunan Kualitas</title>
		<link>http://blog.burhanshadiq.com/kenapa-terjadi-penurunan-kualitas.html</link>
		<comments>http://blog.burhanshadiq.com/kenapa-terjadi-penurunan-kualitas.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Nov 2007 02:02:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>burhanshadiq</dc:creator>
				<category><![CDATA[Serius banget]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.burhanshadiq.com/?p=213</guid>
		<description><![CDATA[Kalau dulu, menjadi seorang ikhwan (bukan anggota ikhwanul muslimin, bukan juga yang lain-lain, tapi ikhwan menurut persepsi saya) adalah sebuah amanah yang sangat besar. Mereka yang sudah tersaring hingga fase ini adalah lelaki-lelaki yang terdidik dan terbina keislaman secara baik. Militansinya jelas, loyalitasnya pun juga jelas, aktivitasnya pun juga jelas. Militansi yang saya maksudkan bisa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kalau dulu, menjadi seorang ikhwan (bukan anggota ikhwanul muslimin, bukan juga yang lain-lain, tapi ikhwan menurut persepsi saya) adalah sebuah amanah yang sangat besar. Mereka yang sudah tersaring hingga fase ini adalah lelaki-lelaki yang terdidik dan terbina keislaman secara baik. Militansinya jelas, loyalitasnya pun juga jelas, aktivitasnya pun juga jelas.</p>
<p>Militansi yang saya maksudkan bisa berujud pada kegigihan mereka mempertahankan prinsip hidup. Tidak mudah luluh hanya karena ancaman dunia, tidak juga gampang gentar ketika disulut pertikaian, baik karena perbedaan aqidah maupun keyakinan hidup. Mereka tegak berdiri, meskipun orang-orang yang dia cintai harus mengasingkan dia dari pergaulan. Militansi mereka terbimbing oleh ustad-ustad yang hanif dan mukhlis. </p>
<p>Tidak dikenal ustad yang memasang tarif dalam setiap kali memberi tausyiah. Tidak juga dikenal ustad yang manja harus dijemput bila mengisi sebuah halaqah. Tidak ada juga cerita ustad yang perlente, berpenampilan ala artis yang klimis. Mereka sederhana, kuat hujjahnya dan mengena di hati. Berkumpul dengan orang-orang semacam ini menghidupkan semangat beramal dan menghidupkan hati yang sedang gersang.</p>
<p>Saya ingin kembali membahas tentang militansi. Sebuah amal hati yang saat ini sulit ditemui. Tidak manja dan suka menuntut fasilitas. Tapi bersahaja dalam setiap keterbatasan fasilitas. Hitung-hitungan hidupnya bukan pada sejauh mana laba didapatkan, namun sejauhmana amal dia akan mendatangkan ridha Allah SWT. Militansi untuk tidak bergabung bekerja dengan thaghut, tidak makan sembarang makanan, tidak memanjakan diri dengan kenikmatan-kenikmatan dan membiasakan diri dengan hidup sederhana tanpa kemewahan.</p>
<p>Kini, sosok-sosok ikhwan semacam itu telah pudar. Berganti dengan ikhwan atau bakwan, pseudo ikhwan, ikhwan jadi-jadian, yang berhenti di ranah tampilan fisik, dan mencukupkan diri dengan pemahanan agama dan amal yang terbatas. Sungguh miris hati ini saat melihat ikhwan yang justru dikenal karena ketidakprofesionalannya. Setiap kali mendengat kalimat ikhwan disebut, malah teringat sikap-sikap tidak mengenakkan, utang tidak dibayar, janji yang dikhianati, bocor suka membuka aib orang, licik, dan sebarek sikap-sikap error yang lain. Tragis!</p>
<p><strong>So? What Is The Solution</strong></p>
<p>Masalah ini harus disikapi dengan seksama. Komunitas dakwah harus memperketat jalur pengkaderan, agar tidak ada ikhwan oknum atau oknum ikhwan yang menjelma menjadi setan ketika kesempatan di depan mata. Proses pentadbiran harus dilakukan dengan penggemblengan yang maksimal. Para asatidz yang bekerja di ranah pengkaderan harus profil-profil yang tegas dalam mendidik, bisa dijadikan teladan dan bukan malah menjadi justifikasi dari keteledoran mengamalkan islam. </p>
<p>Sistem pengkaderan harus disettting bukan memprioritaskan jumlah massa yang banyak, namun lebih ditekankan pada kualitas personal. The dream team bukan ribuan, tapi hanya puluhan tapi dengan kualitas andalan. Meskipun mereka yang handal bisa berjumlah ribuan pada akhirnya nanti. </p>
<p>Mekanisme hisbah di dalam komunitas dakwah juga harus digalakkan. Membiarkan seorang ikhwan berbuat dosa, sama saja membiarkan dia masuk dalam jurang kebinasaan.Sehingga team kontrol pun harus jelas siapa yang akan memberi peringatan. (Tumben Serius banget…)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.burhanshadiq.com/kenapa-terjadi-penurunan-kualitas.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Trik Licik Bernama Syarat dan Ketentuan Berlaku</title>
		<link>http://blog.burhanshadiq.com/trik-licik-bernama-syarat-dan-ketentuan-berlaku.html</link>
		<comments>http://blog.burhanshadiq.com/trik-licik-bernama-syarat-dan-ketentuan-berlaku.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Oct 2007 01:08:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>burhanshadiq</dc:creator>
				<category><![CDATA[Serius banget]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.burhanshadiq.com/?p=197</guid>
		<description><![CDATA[Pernahkah Anda melihat sebuah iklan baliho yang gede, menawarkan sebuah fasilitas kemudahan yang aneh, nggak biasa, dan kesannya sangat baik hati. Misalnya tentang fasilitas nelepon dengan pulsa GRATIS, atau diskon barang yang super besar, atau bahkan janji-janji diberi hadiah semacamnya. Awalnya membaca, kita memang terperangkap! Kita pikir itu adalah benar-benar kemudahan yang diberikan pihak pengiklan. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pernahkah Anda melihat sebuah iklan baliho yang gede, menawarkan sebuah fasilitas kemudahan yang aneh, nggak biasa, dan kesannya sangat baik hati. Misalnya tentang fasilitas nelepon dengan pulsa <strong>GRATIS</strong>, atau diskon barang yang super besar, atau bahkan janji-janji diberi hadiah semacamnya.</p>
<p>Awalnya membaca, kita memang terperangkap! Kita pikir itu adalah benar-benar kemudahan yang diberikan pihak pengiklan. Tapi kebahagian itu nampaknya cuma kecohan semata. Orang jawa bilang <em>Kempong Perot! Apus-apus!</em> Karena setelah diamati dari dekat, setiap janji-janji indah itu mesti di atasnya terdapat bintang kecil ( * ). Kemudian di bagian bawah baliho atau iklan tersebut tersemat arti dari bintang kecil itu, tertulis <strong>Syarat dan Ketentuan berlaku</strong>.</p>
<p>Modus pemokilan (baca: licik) seperti ini nampaknya sangat marak. Konsumen sengaja ditipu dengan jargon-jargon murah, padahal sebenarnya murahnya itu bersyarat. Dan hampir-hampir syaratnya itu ribet, njelimet dan sangat susah!</p>
<p><strong>Lagi-lagi Kami Tertipu</strong></p>
<p>Siang kemarin hal yang sama dialami oleh dua orang tua saya tercinta. Mereka udah sepuh (baca: tua). Siang hari yang panas mereka mendapat telepon diberitahu bahwa Anda mendapatkan hadiah bla bla bla. Anda tak perlu bawa uang, kudu diambil hari ini dan kalau tidak diambil akan hangus. </p>
<p>Istri saya yang kebetulan di rumah ibu menerima telepon itu dan bertanya, “Mbak, ini tidak menipu kan? Apa hadiahnya?”<br />
Si penelpon menjawab, “Tidak, hadiahnya sudah dibungkus bu.”<br />
Tidak mau terkecoh, istri kemudian nanya lagi, “Hadiahnya apa? Apa isi bingkisannya?” Si penelepon bilang, <strong>“KULKAS!”</strong></p>
<p>Toeng! Kulkas! Itu lah barang yang paling diinginkan keluarga saya saat ini. Hehehe. Langsung dia telepon saya untuk bilang ke bapak yang waktu itu di kontrakan bersama saya, agar menjemput hadiah itu ke tempat itu. Kontan saja, bapak dan ibu memutuskan mengambilnya. Panas begitu menyengat! Puasa-puasa mereka rela ke sana, bahkan ibu memutuskan tidak jualan hari itu.</p>
<p>Sesampainya di sana, dugaan saya benar adanya. Ternyata perusahan <em>bal ibul</em>, tukang ngibul. Mulutnya manis kayak <em>olie</em>, meluncur licin menipu orang tua kami. Mereka bilang bapak memenangkan voucher belanja dari kami senilai 1 juta, bisa digunakan untuk membeli barang-barang kesehatan yang kami sama sekali tidak butuh senilai 5 juta. “Jadi bapak hanya tinggal membayar 4 juta saja!”</p>
<p>Wuih manis bener omongan ini. Kita yang katanya dijanjikan kulkas ternyata disuruh membayar 4 juta dengan alasan mendapat voucher belanja satu juta. Voucher apa? Voucher <em>apus-apus</em>, voucher <em>kempong perot</em>!</p>
<p>Siangnya saya telepon pihak mereka. Saya minta kembali uang ibu saya. Ibu saya merasa pekewuh, dikasih voucher satu juta kok nggak diterima. Begitu pikir beliau. Tapi voucher itu cuman bikinan mereka saja. SI penerima telepon mengaku bernama Shinta, dengan logat kemayu, genit dan penuh tipuan dia mengulur-ulur waktu. Saya tembak, ‘Saya bisa ambil uang itu tidak, jawab saja jangan berbelit-belit!” Awalnya mereka menolak, tapi kemudian mereka mengiyakan. Nah hari ini saya akan menemui mereka, kita lihat nanti cerita berikutnya. Huh! (Nulisnya dalam keadaan dongkol berat!!!)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.burhanshadiq.com/trik-licik-bernama-syarat-dan-ketentuan-berlaku.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tarku Shalah</title>
		<link>http://blog.burhanshadiq.com/tarku-shalah.html</link>
		<comments>http://blog.burhanshadiq.com/tarku-shalah.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 29 Sep 2007 03:43:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>burhanshadiq</dc:creator>
				<category><![CDATA[Serius banget]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.burhanshadiq.com/?p=191</guid>
		<description><![CDATA[Suatu ketika Nabi Musa didatangi seorang wanita yang ingin bertobat. Nabi Musa bertanya, apakah dosa yang telah diperbuat oleh perempuan itu. Wanita itu mengaku bila ia telah berzina, mengandung, dan melahirkan anak hasil hubungan zinanya. Kemudian anak itu dibunuhnya. Setelah mengetahui itu, Nabi Musa mengusirnya dari tempatnya. Kemudian datang malaikat Jibril bertanya kenapa Nabi Musa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Suatu ketika Nabi Musa didatangi seorang wanita yang ingin bertobat. Nabi Musa bertanya, apakah dosa yang telah diperbuat oleh perempuan itu. Wanita itu mengaku bila ia telah berzina, mengandung, dan melahirkan anak hasil hubungan zinanya. Kemudian anak itu dibunuhnya. Setelah mengetahui itu, Nabi Musa mengusirnya dari tempatnya. Kemudian datang malaikat Jibril bertanya kenapa Nabi Musa mengusirnya.</p>
<p>Nabi Musa menjawab “Apakah ada di dunia ini orang yang lebih buruk dari manusia semacam itu. Dia berzina dan membunuh anak hasil perzinahannya? Jibril menjawab, “Ada. Yaitu orang yang <em>tarkushshalah</em>. Meninggalkan shalat.”</p>
<p>***<br />
Meninggalkan shalat bukan urusan sepele. Kalau meninggalkan shalat secara sadar dan menganggap itu sebagai sesuatu yang tidak berdosa, maka ia sudah keluar dari millah. Silakan tengok di sekitar kita, ada berapa banyak muslim yang tidak shalat. Apa alasan mereka? Kita mengelus dada untuk hal ini. Semoga kita selalu ditunjukkan jalan kebenaran dan istiqamah di jalan Allah Ta’ala.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.burhanshadiq.com/tarku-shalah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>WHAT IS YOUR EXPECTATION?</title>
		<link>http://blog.burhanshadiq.com/what-is-your-expectation.html</link>
		<comments>http://blog.burhanshadiq.com/what-is-your-expectation.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 28 Sep 2007 01:19:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>burhanshadiq</dc:creator>
				<category><![CDATA[Serius banget]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.burhanshadiq.com/?p=190</guid>
		<description><![CDATA[Di dunia tempat kita berpijak kini, ada sebuah pertanyaan mendasar yang perlu dijawab, Apa harapan terbesar kita. Ketika orang mendasarkan sebuah keberhasilan pada mobil yang harganya ratusan juta rupiah, rumah megah atau perusahaan yang berbilang-bilang penghasil uang, maka di situlah kemudian ekpektasi seseorang ditujukan. Manusia pengen berhasil! Manusia rela berpayah-payah menuntut ilmu dari TK hingga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di dunia tempat kita berpijak kini, ada sebuah pertanyaan mendasar yang perlu dijawab, Apa harapan terbesar kita. Ketika orang mendasarkan sebuah keberhasilan pada mobil yang harganya ratusan juta rupiah, rumah megah atau perusahaan yang berbilang-bilang penghasil uang, maka di situlah kemudian ekpektasi seseorang ditujukan.</p>
<p>Manusia pengen berhasil! Manusia rela berpayah-payah menuntut ilmu dari TK hingga perguruan tinggi, ketika ditanya juga akan menjawab hal yang sama. Mereka butuh materi sebagai tujuan pendidikannya. Kenapa orang lebih cenderung memilih kedokteran ketimbang pendidikan luar biasa, karena jujur diakui bahwa secara pekerjaan, dokter sangat menjanjikan masa depan. Menjanjikan kekayaan, meski tidak setiap dokter di negeri ini secara otomatis kaya.</p>
<p>Data atau bukti yang saya hadirkan boleh jadi hanya beberapa saja. Karena bagi saya itu sudah cukup mewakili betapa memang ekspektasi kita lebih banyak tertuju pada dunia. Pengen kaya, makmur, dan bisa membeli apa saja. Ekspektasi ini bukan semata didominasi oleh orang umum, tapi juga dimiliki oleh para aktivis ngaji, anggota pergerakan Islam yang mungkin sudah lupa akan idealismenya.</p>
<p>Bekerja untuk menyambung hidup itu adalah ibadah. Mengumpulkan materi untuk mendukung perjuangan juga sangat penting. Tapi manakala ruh juang di dada kita hancur lebur oleh materi yang kita kumpulkan itu adalah sebuah musibah besar. Seyogyanya mobil, hape mewah, laptop, rumah gede bisa menjadi penunjang seorang manusia untuk mempermudah usahanya menegakkan idealismenya. Namun ternyata tidak banyak yang bisa bertahan dengan gincu-gincu dunia. Masuknya dunia ke hati mereka adalah sebagai tanda awal jual beli idealisme dan ditukar dengan ekspektasi sesaat saja. Ekspektasi seorang muslim adalah akhirat! Merancang masa depan kita di negeri akhirat lebih penting dari sekedar mengumpulkan uang untuk membangun rumah di dunia. </p>
<p>Idealisme itu penting. Tanpa idealisme, kita hanya mengikuti rutinitas saja, hidup seperti hanya mengikuti pakem yang ada, terjadwal dan monoton. Tak ada idealisme yang diperjuangkan, berarti tak ada nyawa dalam tubuh kita. Dan idealisme islam adalah sebuah kemutlakan. Islam paling benar dan islam paling selamat! </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.burhanshadiq.com/what-is-your-expectation.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Zaman Modern:Muslimah yang Berdaya atau Muslimah yang Bingung</title>
		<link>http://blog.burhanshadiq.com/zaman-modernmuslimah-yang-berdaya-atau-muslimah-yang-bingung.html</link>
		<comments>http://blog.burhanshadiq.com/zaman-modernmuslimah-yang-berdaya-atau-muslimah-yang-bingung.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 May 2007 02:02:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>burhanshadiq</dc:creator>
				<category><![CDATA[Serius banget]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.burhanshadiq.com/?p=58</guid>
		<description><![CDATA[Muslimah yg Bingung Modernitas telah menggelandang umat manusia ke dalam perangkap kecanggihan yang berlebih-lebihan, sehingga kesederhanaan hilang dari pemandangan. Di zaman ini, manusia memang begitu terpikat pada hal-hal yang canggih, begitu terpegun pada semua yang super dan mega. Kemanapun kita pergi, supermarket dan megamall menghadang kita dengan tampilan yang high-tech dan high-cost. Dunia modern menuntut [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Muslimah yg Bingung</strong></p>
<p>Modernitas telah menggelandang umat manusia ke dalam perangkap kecanggihan yang berlebih-lebihan, sehingga kesederhanaan hilang dari pemandangan. Di zaman ini, manusia memang begitu terpikat pada hal-hal yang canggih, begitu terpegun pada semua yang super dan mega. Kemanapun kita pergi, supermarket dan megamall menghadang kita dengan tampilan yang high-tech dan high-cost. Dunia modern menuntut semua orang menjadi superman dan wonderwoman.</p>
<p>Renjana akan segala kecanggihan dan superioritas ini selanjutnya membawa kita pada keengganan pada segala hal yang sederhana dan alamiah. Hampir seluruh aspek kehidupan kita, termasuk pola berpikir kita, terasuki hasrat akan kecanggihan dan superioritas ini. Tampaklah oleh kita bagaimana ide demi ide dikembangkan dan disajikan selaras dengan semangat mengejar kecanggihan dan superioritas. Sialnya, tidak jarang orang termakan oleh kemasan isu yang menyuguhkan kecanggihan dan superioritas, tanpa menilik lebih jauh konsekuensi-konsekuensinya terhadap kehidupan nyata.</p>
<p>Salah satu isu yang berhasil tampil dalam kemasan kecanggihan dan superioritas itu adalah feminisme. Feminisme, persisnya, adalah gerakan untuk menampilkan wanita secara lebih canggih dan superior–setidaknya dalam perspektif kecanggihan dan superioritas modern. Cara termudah dan dengan demikian juga terbodoh–wanita/istri untuk bisa tampil lebih canggih ialah dengan sesering mungkin keluar dari rumah, membaca majalah-majalah wanita dan menyerahkan pengasuhan anak pada pembantu. Sedangkan cara termudah wanita untuk bisa tampil lebih superior adalah dengan mencari uang sendiri dan berswasembada dari pria/suami.</p>
<p>Untuk mewujudkan cita-cita tersebut, dirancanglah sejumlah jurus. Jurus pertama adalah menghilangkan adanya perbedaan antara pria dan wanita¾untuk menuju masyarakat bebas-gender (genderless society). Jurus kedua, memberdayakan diri agar dalam masyarakat yang dipradugakan penuh-konflik–kaum wanita dapat “mengalahkan” pria. Soal mengalahkan pria ini, titik-tekan diberikan pada seks-bebas. Dan mengingat seks telah diidentikkan dengan kekuasaan dan seksualitas wanita dianggap lebih superior dibanding pria, maka dominasi kaum wanita di sektor ini agaknya dengan mudah dapat dikukuhkan.</p>
<p>Untuk memperkukuh pelestarian dominasi wanita dalam masyarakat yang penuh-konflik, institusi keluarga perlu dirobohkan. Maka, sejak era 1980-an, gerakan feminisme Barat mengoarkan suatu slogan bahwa kaum wanita adalah golongan tertindas dalam konteks lembaga keluarga.</p>
<p>Para feminis terus berupaya menghapuskan sifat feminin (feminine nature) wanita dengan menganggapnya sebagai sesuatu yang nurtured (dipupuk) dan constructed (dibangun). Bahwa menjadi wanita itu bukan ketentuan kodrati, bukan takdir Ilahi dan bukan faktor alam, melainkan pilihan dan konstruksi sosial-budaya.</p>
<p>beberapa psikolog feminis memperkenalkan konsep pendidikan androgini (androgyny). Konsep ini berasal dari bahasa Latin andro (pria) dan gyne (wanita). Pendidikan androgini adalah pendidikan yang memperkenalkan konsep bebas-gender kepada anak laki-laki dan perempuan. Berbeda dengan konsep pendidikan konvensional yang mengasumsikan perbedaan anak laki-laki dan perempuan, konsep ini mengasumsikan bahwa anak laki-laki dan perempuan sama-sama berpotensi untuk menjadi feminin dan maskulin. Karena itu, menurut konsep ini, anak laki-laki dan perempuan tidak perlu diperlakukan berbeda. Anak pria tidak perlu diberikan baju tentara, mainan berupa mobil-mobilan, alat-alat permainan senjata untuk perang-perangan, sedangkan anak wanita tidak perlu diberikan baju berwarna merah jambu (pink), mainan boneka, dan alat-alat permainan untuk masak-masakan. Sebaliknya, keduanya harus diperlakukan secara sama, mengingat secara watak-dasar (nature) keduanya diasumsikan setara.[4]</p>
<p>Akibat langsung dari semua konsep dan rumusan setengah-matang ini adalah munculnya lapisan masyarakat setengah-jadi. Di sekolah-sekolah, di tempat-tempat umum dan di media massa, kita menyaksikan munculnya sekelompok manusia setengah-wanita dan setengah-pria. Yang pria bergaya dan berdandan seperti wanita, sedangkan yang wanita bergaya dan berdandan seperti pria. Populasi waria, dari amatan sepintas di Indonesia, menunjukkan laju peningkatan yang eksponensial. Sungguh mengerikan, di negara yang konon mayoritas penduduknya beragama Islam ini, kita menyaksikan merebaknya jenis manusia tanpa identitas dan wajah yang jelas-tegas tersebut. Inilah erosi identitas yang diakibatkan oleh renjana terhadap kecanggihan, kerumitan dan superioritas yang berlebih-lebihan.<br />
Oleh karena itu, ajakan untuk kembali kepada fitrah, nature, dan kesederhanaan terasa begitu relevan. Kita sangat perlu mengganti pola berpikir dan bersikap yang serba rumit dan canggih ini dengan sesuatu yang lebih sederhana tetapi mendasar dan sejati. </p>
<p>Rasanya adil bila kita mencoba bertanya-tanya ulang: apa bahaya yang bakal terjadi kalau gender itu tetap tidak setara? Apakah ukuran kesetaraan yang dipakai dalam soal ini bersifat kuantitatif, sehingga yang sebetulnya dituju oleh puak pendukung kesetaraan ini adalah simetri geometris? Selain soal kesetaraan, ada soal daya dan pemberdayaan. Apakah daya itu? Mungkinkah daya ini bersifat fisikal, sehingga arti pemberdayaan adalah sejenis body-building untuk wanita? Kalau non-fisikal, apakah pemberdayaan itu bersifat psikis-moral-spiritual? Kalau daya yang dimaksudkan di sini ialah keadaan yang memungkinkan seseorang melaksanakan kewajiban dan mendapatkan hak, yaitu pemberdayaan mental-moral-spiritual, apakah kewajiban-kewajiban dan hak-hak wanita terhadap pria dan sebaliknya?</p>
<p><strong>Muslimah Harus Berprestasi</strong></p>
<p>Fenomena hari ini menunjukkan penghargaan dan rasa hormat kita telah bergeser maknanya. Kehormatan, kini bukan milik para ustadzah yang ikhlas mengajar anak-anak kecil di TKA/TPA tanpa memperoleh bayaran. Ia bukan pula milik para wanita yang memiliki andil besar dalam memberdayakan masyarakat di daerahnya. Rasa hormat dan penghargaan itu, kini lebih menjadi milik para wanita glamour yang hidup dengan harta berlimpah. Terserah, harta yang berlimpah tersebut didapat dari mana.</p>
<p>Tidak heran jika kemudian banyak wanita yang mengejar gaya hidup seperti ini. Alhasil, pekerjaan yang menuju ke arah sana pun, seperti pekerjaan sebagai bintang, menjadi dambaan banyak wanita. Baik itu bintang iklan, sinetron maupun penyanyi. Besarnya penghasilan yang didapat, pekerjaannya yang tidak sulit, dan pemujaan yang begitu hebat dari para penggemar, merupakan beberapa alasan bagi sebagian besar wanita kita yang diberikan kelebihan fisik dan suara oleh Allah, untuk menggeluti profesi ini. Begitu mengglobalnya, bahkan para wanita dunia kini berlomba-lomba dengan cita-cita dan harapan yang sama, menjadi diva.</p>
<p>Tak sedikit wanita cantik dengan disertai berbagai kelebihan, bersaing di dunia ini. Jalan untuk meraih posisi puncak pun mereka tempuh dengan berbagai cara, dari mulai saling menonjolkan bakat utama hingga memperlihatkan potensi-potensi lain, memperlihatkan keindahan bentuk tubuhnya pada jutaan mata yang menontonnya berlenggak-lenggok di layar kaca, dengan senyuman penuh kebanggaan karena telah berhasil membuat orang lain yang bukan haqnya telah turut mengagumi amanah yang seharusnya dijaga sebaik-baiknya. Bahkan, kalau perlu jual diri. Naudzubillah.</p>
<p>Makna prestasi bagi kalangan muslimah adalah bukan dia harus jadi juara dalam sebuah perlombaan. Lebih tepatnya ia harus bisa menjadi pelopor dalam perbaikan bagi lingkungannya. Seorang muslimah tidak harus selalu bekerja di luar rumah untuk meraih prestasi tetapi juga tidak hanya di dalam rumah saja. Wanita-wanita Islami yang potensial seyogyanya pandai memanfaatkan dan mengembangkan ilmu yang diperolehnya. Bila ia seorang ‘tukang insinyur’ ataupun lulusan tehnik akan lebih bermanfaat dan berprestasi kalau saja ilmu-ilmu yang dimilikinya tadi mampu menghantarkannya membuka sebuah home industri, misalnya. Sehingga dengan ilmu apa saja, seorang muslimah mampu berkarya, mampu mengamalkan ilmu yang dipelajarinya bertahun-tahun di bangku sekolah atau perguruan tinggi sebagai bekal dakwah di masyarakat. Tidak seperti sekarang yang rata-rata muslimah kita beramai-ramai menjadi pengajar TPA, padahal Sarjana Kehutanan.<br />
Selain itu pula hendaknya prestasi muslimah akan lebih terarah bila terspesialisasi. Sehingga dengan keahlian khusus ini ladang dakwah lebih tergarap maksimal.</p>
<p><strong>Bagaimana Menjadi Agen Perubah yang Handal</strong></p>
<p>Menjadi perintis, pelopor atau istilah kerennya ‘Agen Perubah’ dalam masyarakat dituntut memiliki beberapa hal antara lain: </p>
<p><strong>1. Selalu berpikir positif dan pede (percaya diri)</strong><br />
Selalu berpikir positif kepada Allah, diri sendiri dan orang lain. Yakinlah bahwa Allah memberi kita semua nikmat dan kemudahan sekaligus kesulitan adalah dalam kerangka sejauhmana kita telah pandai mensyukuri nikmat-Nya dengan memanfaatkannya, tidak saja untuk diri sendiri tapi juga untuk masyarakat luas. Allah menciptakan kita dengan kepribadian, kualitas bakat dan intelektual adalah dengan maksud. Semua itu modal dasar bagi kita untuk berbuat. Termasuk cara pandang kita terhadap orang lain. Pandanglah orang lain dari sisi positifnya dan menerima sisi negatif sebagai pelajaran bagi kita. Dengan selalu ber-‘positif thinking’ seperti ini Insya Allah ‘Pede’ (percaya diri) akan timbul. </p>
<p><strong>2. Berkepribadian pantang menyerah</strong><br />
Sebagai pelopor dan penggerak, pasti akan menghadapi tantangan, baik dari kalangan keluarga, tetangga, tokoh masyarakat, dan lain-lainnya. Dengan berbagai hambatan tadi kita dituntut selalu bersemangat, tidak loyo, tidak mudah patah semangat. Semakin mantap kita bersikap saat kesulitan menerpa kita menunjukkan sikap hidup yang matang. Keyakinan akan janji dan jaminan Allah akan datangnya kemudahan setelah kesulitan mampu melahirkan kepribadian pantang menyerah (lihat QS. An Nasyrah:5-6).</p>
<p><strong>3. Memulai dari diri sendiri</strong><br />
Menyeru kepada orang akan lebih didengar dan diikuti apabila kitanya telah mengamalkan-nya. Selain masyarakat lebih tergerak karena tauladan kita, Allah pun memerintahkan demikian (lihat QS. Ash Shaff:4).</p>
<p><strong>4. Memelihara motivasi awal</strong><br />
Segala kesibukan kita menjadi muslimah berguna dan berkarya di masyarakat hendaknya dilandasi dengan niat yang lurus dan bersih. Semata-mata untuk mencari ridho Allah. Bukan untuk mencari penghargaan, sanjungan atau apa saja yang sifatnya duniawi. Akan lebih indah dan bermakna bila niatnya untuk ibadah sehingga kelelahan, kepenatan karena aktifitas itu tidak melahirkan kejenuhan yang berarti yang bahkan bisa-bisa membuat kita menarik diri dari medan dakwah tadi. Dengan motivasi/niat yang teguh segala tantangan apa pun bentuk dan rupanya tidak menyurutkan langkah bahkan semakin memberikan energi bagi ‘si penggerak’.</p>
<p><strong>Ref :</strong><br />
Muslimah Bingung ~ Musakazhim on April 14, 2007<br />
Saatnya Menjadi Muslimah Berprestasi ~eramuslim.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.burhanshadiq.com/zaman-modernmuslimah-yang-berdaya-atau-muslimah-yang-bingung.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bekal Pemuda Dakwah</title>
		<link>http://blog.burhanshadiq.com/bekal-pemuda-dakwah.html</link>
		<comments>http://blog.burhanshadiq.com/bekal-pemuda-dakwah.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Jan 2007 01:11:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>burhanshadiq</dc:creator>
				<category><![CDATA[Serius banget]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.burhanshadiq.com/?p=13</guid>
		<description><![CDATA[Kebahagiaan yang tak terkira manakala kita mendapati shahwah islamiyah begitu semarak di muka bumi ini. Kita temukan pemuda-pemuda yang tegap berdiri, menyingsingkan lengan baju untuk mengemban tugas-tugas dakwah. Tak sedikitpun terbesit wajah lelah yang merona di wajah mereka. Hanya ada semburat semangat perjuangan yang begitu mempesona, tegas dan membara. Mereka memenuhi masjid-masjid kaum muslimin, meramaikan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kebahagiaan yang tak terkira manakala kita mendapati shahwah islamiyah begitu semarak di muka bumi ini. Kita temukan pemuda-pemuda yang tegap berdiri, menyingsingkan lengan baju untuk mengemban tugas-tugas dakwah. Tak sedikitpun terbesit wajah lelah yang merona di wajah mereka. Hanya ada semburat semangat perjuangan yang begitu mempesona, tegas dan membara. Mereka memenuhi masjid-masjid kaum muslimin, meramaikan kegiatan syiar Islam. Bersatu bahu membahu menyelamatkan ummat dari keterpurukan aqidah ibadah dan muamalah mereka.</p>
<p>Inilah sosok pemuda yang selama ini kita dambakan. Sosok pemuda yang selalu identik dengan sosok manusia yang masih segar bugar. Penuh vitalitas dan potensi yang optimal. Sehingga sangatlah membanggakan bila dalam kondisi sesegar itu, seorang pemuda mengenal Islam dan memperjuangkannya. Jadilah ia pemuda dakwah yang menyongsong kebangkitan Islam di muka bumi. Menjadi saksi sekaligus pelaku perjuangan demi tegaknya risalah Ilahi. Merekalah ujung tombak perjuangan yang mengarahkan perubahan peradaban dan mengendalikannya sesuai dengan sunnah nubuwah yang telah digariskan.</p>
<p>Tentu saja menjadi sosok pemuda dakwah tidaklah mudah. Di tengah pergaulan dunia yang semakin terbuka. Guncangan arus globalisasi yang sedemikian mencekik leher dan mengurat nadi, membuat generasi ummat ini harus berpikir keras bagaimana mengembalikan pemuda ke jalan RabbNya. Derasnya arus teknologi informasi, budaya hedonisme, tradisi semau gue dan seabrek tantangan lainnya, siap menghadang niat baik ini. Tapi semuanya tidaklah mustahil. Masih banyak tenaga yang kita miliki, masih banyak pula cara yang belum kita coba. Amunisi masih segudang, senjata masih banyak yang belum digunakan. Kita masih punya kesempatan untuk mencetak kader pemuda yang menjadi kebanggaan ummat ini.</p>
<p>Menjadi sosok pemuda dakwah membutuhkan beberapa perangkat yang akan membentuknya. Perangkat-perangkat tersebut manakala terkumpul menjadi satu, akan menjadi unsur pembentuk yang sangat berlengkapan. Saling melengkapi dan saling mendukung antara satu dengan yang lain. Perangkat-perangkat tersebut adalah:</p>
<p><strong>Mengetahui Tujuan Hidup</strong></p>
<p>Allah menciptakan manusia di dunia bukan untuk sebuah permainan. Pemuda harus tahu dan sadar untuk apa ia diciptakan. Sehingga ia paham kenapa harus bernafas, dan kenapa harus menapakkan kaki di dunia ini. Allah SWT menciptakan manusia, termasuk para pemuda semata untuk beribadah kepada-Nya. Sebagaimana firman-Nya: <em>“Yaitu: Penciptaan manusia dengan tujuan agar manusia beribadah hanya kepada-Nya.”</em> (Adz Dzariyaat: 56).</p>
<p>Dengan demikian seorang pemuda harus memiliki niat harus ikhlas semata karena Allah, tunduk dan patuh terhadap hukum Allah, memberikan loyalitas pada Allah, mengeluarkan manusia dari penghambaan terhadap manusia kepada penghambaan terhadap Rabb-nya. Senantiasa aktif mempelajari ayat-ayatNya dan memperbaiki diri dengan ilmu yang syar’i dan bermanfaat. Ia bukan sebuah ikon permainan, yang tak ada makna diciptakan. Ia juga bukan sampah yang hanya hidup dan membuat kerusakan. Ia bukan pula manusia tak berguna yang hanya mengisi hidup dengan sendau gurau dan foya-foya.</p>
<p>Sebaliknya, ia adalah makhluk yang telah direncanakan untuk menghamba pada Allah Ta’ala. Memberikan pengorbanannya secara tulus tanpa syarat, demi mengharap wajah Rabb-Nya. Oleh karenanya, ia harus pandai memanfaatkan sisa hidupnya dengan hal-hal yang berguna. Menjadi pelopor perubahan masyarakat dan menjadi pemuda yang tanggap akan perubahan zaman yang saat ini bersamanya.</p>
<p>Mereka bak seorang pengemudi yang tahu kemana tujuan mereka. Tidak hanya itu, mereka juga sangat tahu bagaimana menuju tujuan itu. Mereka paham harus melewati jalan mana, harus berbelok ke arah mana dan harus mengendarai kendaraan apa. Tidak ada istilah bingung meniti jalan, tidak pula linglung tak tahu ke mana harus menuju. Ummat ini adalah penumpang mereka, yang bisa diarahkan menuju tempat tujuan yang paling baik.</p>
<p><strong>Peduli Terhadap Dunia Islam</strong></p>
<p>Era globalisasi saat ini telah meniadakan batas wilayah sebuah negeri. Jarak yang begitu jauh, tak menghalangi informasi yang bisa diakses kapan saja dan dimana saja. Sehingga apa yang terjadi di negeri-negeri kaum muslimin bisa diketahui dengan mudah melalui perangkat media massa yang ada. Kita ketahui bahwa di banyak negeri kaum muslimin, musuh Islam dari berbagai elemen, kelompok bahkan negara telah bersekutu mengepung Islam dan ummatnya dari berbagai penjuru. Mereka tidak memberi kesempatan ummat ini muntuk melawan, karena kekuatan yang tidak seimbang. Secara fisik dan mental, umat islam di negeri-negeri tersebut telah terkalahkan. Mereka tumbang, terjajah dan tidak lagi memiliki izzah. Simul-simpul kekuatan mereka telah lumpuh, dan hampir sama sekali tidak mampu melakukan perlawanan. Sungguh sangat menyedihkan! Oleh karena itu, saatnya pemuda ummat ini untuk bangkit dari kemalasan. Mengambil buku, membaca dan menelaah kondisi alam islami yang carut marut ini. Mengkajinya di ruang-ruang belajar, bersama dengan orang-orang yang kritis dan memiliki kepedulian terhadap kejayaan islam. Bolehlah mereka tinggal di desa yang terpencil jauh dari keramaian, namun hati dan pikirnya selalu memikirkan nasib ummat islam di belahan bumi manapun. Kaki mereka boleh tidak berpijak, tapi pikiran mereka harus global dan mendunia.</p>
<p><strong>Selalu Optimis, Jauhi Pesimis</strong></p>
<p>Membangun sikap positif adalah sebuah kebiasaan yang baik. Nilai ini harus dikenalkan pada pemuda agar mereka selalu yakin dengan usaha perjuangan yang mereka lakukan. Dakwah adalah jalan panjang yang berliku dan penuh rintangan. Maka diperlukan sikap optimis yang memompa semangat juang mereka. Sehingga tak ada kata kalah, menyerah atau bahkan putus asa. Semua masih bisa dicoba kembali, dan harus tetap berjalan hinga perjuangan menghasilkan sesuatu yang mashlahat. Allah secara tegas melarang sikap pesimisme, setidaknya pada tiga ayat yang terdapat dalam al Quran, yaitu dalam firmannya,</p>
<p><em>“Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”</em>(Yusuf: 87)</p>
<p><em>“Ibrahim berkata: “Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhannya, kecuali orang-orang yang sesat”</em> (al Hijr: 56)</p>
<p>Selain itu, sejarah telah membuktikan betapa perlawanan adalah sebuah kata mati ketika dihadapkan pada sebuah penindasaan masal. Kita bukan bangsa lemah, melainkan kita sendiri yang menyengaja memperlemah diri dengan maksiat yang kita lakukan. Hidup adalah rentetan perjuangan yang mengasyikkan. Setiap pemberhentiannya tidak menyisakan sebuah kesan, kecuai senyuman indah kepuasan, dan air mata kebahagiaan. Kita bangsa pejuang, yang dilahirkan dari rahim ibu-ibu shalihah yang mengandung kita dengan dzikir dan doa.</p>
<p><strong>Meneladani Rasulullah</strong></p>
<p>Perangkat pemuda dakwah selanjutnya adalah memilih keteladanan. Teladan adalah contoh, dan contoh akan menentukan sikap kita dalam keseharian. Yaitu Nabi Muhammad SAW, para shahabat, dan para salafushshalih adalah orang-orang yang mesti menjadi teladan kita. Merekalah sumber inspirasi amal yang tak berkesudahan. Keringat dan peluh bercucuran, adalah sebuah keniscayaan perjuangan. Berjuanglah seperti mereka berjuang. Berdakwahlah sebagaimana mereka berdakwah. Hidup bukan mencontoh pada selebriti yang memuakkan. Hidup juga bukan mengekor pada tren yang menyesatkan. Tapi hidup adalah seni memanfaatkan waktu yang optimal untuk berbuat yang terbaik bagi Allah, Rasulullah dan orang-orang yang beriman. Hidup adalah bagaimana memberi manfaat yang besar bagi kemajuan Islam. Bukan malah menorehkan tinta busuk yang akan mengotori sejarah kita. </p>
<p><strong>Memahami Keutamaan Dakwah dan Dai</strong></p>
<p>Dakwah adalah sebuah pekerjaan yang mulia dan kewajiban yang sangat asasi bagi setiap mukmin. Ia adalah pekerjaan primer sebelum pekerjaann lainnya. Setiap mukmin adalah dai, profesi apapun dia. Dai juga merupakan sosok terpilih yang dipilih Allah dari sekian manusia yang ada. Mereka adalah ujung tombak dakwah islam. Mereka menyerukan kebaikan dan mencegah kemungkaran. Pemuda dakwah harus menyadari bahwa mereka adalah bagian dari manusia pilihan. Sehingga kekuatan azzam dalam hati tidak akan mudah luntur. Ketabahan dalam menghadapi ujian dakwah juga akan semakin kokoh. Tak bergeming meski badai menerpa, dan tak kan mundur meski ranjau menghadangnya.</p>
<p>Allah berfirman: <em>“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.”</em> (Ali Imron 110)</p>
<p><strong>Mengetahui Strategi Dakwah</strong></p>
<p>Pemuda dakwah bukanlah mereka yang mengucilkan diri dari masyarakat. Mereka berbaur dan melakukan perbaikan di dalamnya. Meski pahit dan menyiksa, tapi begitulah adanya. Mereka harus belajar untuk menanamkan pengaruh pada masyarakat. Semakin masayarakat percaya pada mereka, maka mereka semakin mendapat hati masyarakat. Dakwah mereka diterima dengan baik, dan bahkan mampu menjadi panutan. Oleh karena itu, mereka harus selalu mengamalkan apa yang diucapkan.</p>
<p><em>“Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan.”</em> (Ash Shaf: 2-3)</p>
<p>Kemudian mereka harus mempelajari dengan cermat situasi dan kondisi lingkungan masyarakat obyek dakwah. Melakukan skala prioritas. Lemah lembut dan tulus dalam mengajak orang lain ke pangkuan Islam.</p>
<p><strong>Yakin Akan Qadha dan Qadar</strong></p>
<p>Bekal terakhir ini sangat penting. Sebab mereka harus tawakal kepada Allah dalam setiap ikhtiyar yang telah mereka kerjakan. Usaha dakwah yang dibarengi sikap optimis, harus diakhiri dengan sikap tawakal kepada Allah. Dilandasi keyakinan bahwa apapun hasilnya, apapun yang terjadi telah menjadi ketentuan Allah. Semua sudah menjadi takdir sesuai qadla dan qadarnya. Bila hal ini sudah dipersiapkan secara baik, maka usaha dakwah ini akan menyisakan rasa ikhlas. Mereka tidak mudah surut langkah dan kecewa bila hasilnya tidak memuaskan mereka.</p>
<p>Kita sangat berharap, dakwah islam ini dipenuhi oleh orang muda dengan semangat yang luar biasa. Jiwa mereka dipenuhi oleh barakah islam yang menjadi agama mereka. Dan mereka sangat yakin dengan pilihan mereka yaitu menikmati hidup dengan berdakwah, mewakafkan waktu dan hidup mereka untuk Islam.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.burhanshadiq.com/bekal-pemuda-dakwah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
