Category: Serius banget

Seperti Apakah Kamu

No Comments

October 27, 2011 at 7:42 pmCategory:Serius banget

Saat aku menemukanmu, kau sudah tidak sadarkan diri. Bisa jadi, ramuan itu sudah mulai bekerja. Membuatmu mual dan kemudian tertidur. Aku tahu inilah saatnya bagiku tuk beraksi. Tapi aksi yang seperti apa?

Tubuhmu terkulai lemas. Seperti seonggok daging tak bertenaga. Sementara suaramu merintih lirih. Mungkin ini sudah saatnya. Kamu akan berubah menjadi manusia serigala. Tapi langit tak berbulan. Jadi kamu serigala macam apa?

Matamu mulai cekung. Tubuhmu semakin kurus. Suaramu tak segarang lalu lalu. Hanya uban yang memenuhi rambutmu yang keriting itu. Seperti harummanis di sekaten yang berwarna putih. Kini kau tak asyik lagi. Kamu sudah mati di hatiku sebelum kamu benar benar mati berkalang tanah. Lalu mati seperti apa yang kau alami?

Hidupmu sudah semakin suram. Segala keinginan sudah kau lakukan. Kini tinggal penantian saja. Apakah akhirnya kamu menyerah dengan keadaan. Ataukan kamu bangkit dari keterpurukan. Tapi keterpurukan seperti apa yang kau alami? Kau caci maki orang yang tak sepaham. Kau anggap mereka anjing-anjing neraka. Tak ada iba di sebalik kata kata yang kau ucap. Mungkin kamu sengaja. Tapi apakah kamu setega itu. Sengaja membuat luka di raga saudaramu sendiri. Ketegaan macam apa yang kamu miliki?

Langit memerah, menutup kesempatan tuk cerah lagi. Hanya awan menggumpal yang siap mencair membasahi bumi pertiwi. Aku dan kamu akan terasa senang. Saat jemari jemari basah bergumul dengan gemulai hujan. Menjadi saksi kebersamaan dalam bayang bayang. Tapi, bayang bayang seperti apa yang kau harapkan….

Sangat Mengenaskan…

1 Comment

May 23, 2011 at 4:27 pmCategory:Serius banget

Sekarang zaman reformasi, kata siapa? Tidak ada yang direform kecuali kebebasan yang merajalela. Pembunuhan lebih banyak, kriminalitas semakin marak. Harta orang dijarah tidak hanya di perempatan dan gelap malam. Tapi di rekening bank dan juga saham saham. Pejabat tidak banyak yang bisa jadi teladan. Rakyatnya juga akhirnya ikut-ikutan. Ulamanya dibuat mainan, sementara umatnya jadi bulan bulan aliran sesat dan menyesatkan.

Media massa jadi panglima. Reporter baru dan kurang bermutu. Digiring oleh pemegang uang yang beribu ribu dolar. Mata mereka gelap, segelap hati nurani yang sudah pekat. Anak anak menjadi dewasa sebelum waktunya. Era industri komunikasi dan teknologi membuat mereka harus berdoa di usia muda. Perzinaan atas nama cinta pergaulan bebas tak ada normanya. Generasi generasi baru tidak bermutu, lahir dari rahim para ibu yang kurang ilmu.

Semoga masih ada jalan menuju kebaikan dan kejujuran. Hati yang lurus dan hanif yang mau berbuat untuk memperbaikan peradaban. Menyelematkan dunia dari keserakahan dan kedzaliman.

Remaja Hebat Nan Manfaat

1 Comment

May 11, 2011 at 11:04 amCategory:Serius banget

Nabi saw telah bersabda, “Tidak beranjak kaki anak Adam dari hadapan Allah hingga ditanya tentang lima hal: tentang umurnya, dihabiskan untuk apa? tentang usia mudanya, diisi dengan apa? tentang hartanya, dari mana dia dapatkan dan digunakan untuk apa? Dan amalannya dari ilmu yang dia miliki?”(HR At Tirmidzi)

Masa remaja adalah masa mengukir prestasi. Karena fase inilah fase untuk membuktikan bahwa kita memiliki potensi untuk memberikan karya terbaik bagi umat ini. Maka bila masa ini terbuang tercuma akan menyebabkan sebuah penyesalan yang besar di akhir nanti. Untuk itu dibutuhkan semangat dan ilmu yang kuat agar kita mampu menggunakan masa ini dengan baik. Agar terukir indah dan member kontribusi terbaik bagi diri dan agama kita.

MASA REMAJA NABI

Sebelumnya, marilah kita melihat kepada pribadi teladan kita, Rasulullah SAW. Pada awal-awal masa remaja, Rasulullah belum memiliki pekerjaan tetap untuk mencukupi kebutuhan hidup. Namun begitu, beliau tidak putus harapan. Beliau menggembala kambing di kalangan Bani Sa’ad dan juga di Makkah dengan imbalan beberapa dinar. Beliau menjalani semua itu selama beberapa tahun.

Pada usia dua puluh lima tahun, beliau pergi berdagang ke Syam menjualkan barang dagangan milik Khodijah binti Khuwailid. Khodijah ialah seorang wanita pedagang, terpandang dan kaya raya. Dia biasa menyuruh orang-orang untuk menjalankan barang dagangannya dengan membagi sebagian hasilnya kepada mereka. Sementara kebanyakan orang Quroisy memiliki kegemaran berdagang. Karena itulah kerjasama dagang di antara mereka bisa berjalan dengan baik.

Di kalangan kaum Quraisy, Nabi Muhammad memang dikenal sebagai orang yang berbudi luhur. Tatkala Khodijah mendengar kabar tentang kejujuran perkataan beliau, nama baik dan kemuliaan akhlak beliau, maka dia pun mengirimkan utusan dan menawarkan kepada beliau agar berangkat ke Syam untuk menjualkan barang dagangannya. Dia siap memberikan imbalan yang jauh lebih banyak dari imbalan yang pernah dia berikan kepada pedagang-pedagang yang lain. Tapi dengan syarat, beliau harus pergi bersama seorang pembantunya yang bernama Maisaroh. Beliau menerima tawaran ini. Maka, berangkatlah beliau ke Syam untuk berdagang disertai Maisaroh.

Setelah selesai berdagang di Syam, beliau bersama Maisaroh kembali ke Makkah. Setibanya di Makkah, Khodijah terheran-heran dan takjub. Keuntungan yang ia peroleh dari perdagangan Nabi Muhammad sangatlah banyak. Tidak pernah sebelumnya ia mendapat laba sebesar itu. Maisaroh menceritakan kepada Khodijah bahwa Nabi Muhammad bisa mendapatkan itu semua karena modal dagang utama beliau adalah akhlak yang mulia, juga kecerdikan dan kejujuran. Sehingga wajar bila orang-orang yang menjalin hubungan dagang dengan beliau merasa senang.

Itulah potret remaja seorang Rasul yang kita cintai. Beliau tidak MALAS, tidak juga menghabiskan waktunya dengan sia-sia. Tetapi beliau mengambil posisi penting untuk mengekspresikan potensi dan bakatnya dengan berdagang. Beliau tidak menyia nyiakan kesempatan sedikitpun.

REMAJA REMAJA HEBAT DI ZAMAN NABI

  1. Zubeir bin Al-Awwam ra

Dialah teman diskusi Rasulullah saw, anggota pasukan berkuda Islam, tentara yang pemberani, juga pemimpin dakwah Islam di zamannya.Berapa umurnya saat itu? 15 tahun!! Sangat mencengangkan.

  1. Thalhah bin Ubaidillah ra

Dia adalah salah seorang pembesar utama barisan Islam di Mekah, singa podium yang handal, tentara berkuda yang masyhur dengan kepiawaian dan keberaniannya, donatur infaq fi sabilillah, juga seseorang yang dijuluki Rasulullah saw dengan Thalhatul khair (pohon kebaikan).Usia beliau saat itu, adalah 16 tahun!

  1. Sa’ad bin Abi Waqqash.

Seorang sahabat besar, beliaulah yang pertama kali mengalirkan darahnya untuk Islam. Juga, satu-satu sahabat yang pernah Rasulullah saw jamin dengan kedua orang tuanya di saat perang Uhud, dengan berkata, “Lepaskan Sa’d, demi ayah dan ibuku!” sebagaimana diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dari Ali bin Abi Thalib ra. Dan Beliau baru berumur 16 tahun, ketika itu.

  1. Al-Arqam bin Abil Arqam Al-Makhzumi ra

Pemuda yang meninggalkan banyak kenangan indah bagi tiap muslim. Selama 13 tahun penuh, beliaulah yang berani membuka pintu rumahnya untuk dijadikan markas dakwah di kota Mekah, meski bahaya terus membayangi. Beliau masih berusia 16 tahun saat itu.

  1. Ali bin Abi Thalib ra

Beliau adalah seorang anak yang masih berumur 10 tahun, hanya 10 tahun! Namun ketika Rasulullah saw mendapat wahyu yang pertama kali, Rasulullah saw langsung pergi menemui Ali dan memberitahukan kabar gembira itu padanya. Subhanallah!

  1. Zaid bin Tsabit

Tahukan Anda impian sahabat kecil yang umurnya baru 13 tahun dan belum baligh ini? Beliau adalah sahabat yang masyhur dengan postur tubuh yang kecil. Namun, subhanallah! dengan postur dan usianya yang relatif kecil itu, beliau selalu menyibukkan hidupnya dengan urusan umat. Saat itu, ketika Zaid kecil mendengar berita bahwa pasukan Islam bersiap-siap hendak menghadapi tentara musyrikin di medan badar, semangat bela agama di hatinya seketika tergerak. Ya, sahabat kecil ini kemudian mengusung pedangnya, sebuah pedang yang lebih panjang dari tinggi badannya! Berangkat dan bergabung dengan tentara muslim yang lain.

PEMUDA KINI

Problematika remaja saat ini semakin kompleks. Saat ini remeja cenderung semakin susah untuk dikendalikan. Kecenderungan remaja untuk melanggar norma dan nilai adab pergaulan terlihat jelas di masyarakat kita. Mereka terjebak pada dua fitnah besar:

  1. Fitnah Syahwat

Fitnah syahwat bisa dilihat pada kegandrungan mereka pada budaya barat yang mengarah pada, seks and drugs. Opini gaul bebas di kalangan remaja kian gencar dan tanpa hambatan menyapa kita. Tayangan pornografi dan pornoaksi tak ada matinya di layar kaca atau layar lebar. Akibatnya, gaul bebas yang mengarah pada seks bebas kian populer di lingkungan generasi muda.  Di Kab. Bandung diperoleh data sedikitnya 38.288 remajanya diduga pernah berhubungan intim di luar nikah atau melakukan seks bebas. Jumlah ini berdasarkan hasil polling “Sahabat Anak Remaja (Sahara) Indonesia Foundation” yang terungkap pada seminar dan lokakarya “Kependudukan dan Kualitas Remaja” di Banjaran ( Pikiran Rakyat, 29/07/04 ).

Ada sejumlah alasan kenapa remaja Bandung melakukan kegiatan seksual pranikah. Hasilnya, upaya menyalurkan dorongan seks (57,89%), sebagai tanda ungkapan cinta (38,42%), terpaksa atau dipaksa pacar (27,37%), dan biar dianggap modern (20,53%). ( Tempo Interaktif, 13/06/04 )

Mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya hubungan seksual pranikah, diperoleh data survei MCR (Mitra Citra Remaja)-PKBI Jabar: sulit mengendalikan dorongan seksual (63,68%), kurang taat menjalankan agama (55,79%), rangsangan seksual (52,63%), sering nonton blue film (49,47%), dan tak ada bimbingan orangtua (9,47%). Tiga faktor terakhir yang turut menyumbang hubungan seksual pranikah adalah pengaruh tren (24,74%), tekanan dari lingkungan (18,42%), dan masalah ekonomi (12,11). ( idem )

Parahnya, fenomena ini nggak cuma terjadi di satu tempat saja. Tapi hampir merata di seluruh Nusantara. Sekitar 18-20 persen remaja di Indonesia pernah melakukan hubungan seks bebas. ?’Itu hasil penelitian yang pernah kami lakukan terhadap pelajar dan mahasiswa,” ujar dr Boyke Dian Nugraha SpOG MARS, saat berbicara dalam acara ?’Let’s Talk About Drugs & Free Sex”, Minggu (1/6) di Gedung Dharma Wanita Jateng. ( Suara Merdeka, 02/06/2003 ).

Kebebasan perilaku seksual di kalangan temen-temen kita adalah hasil tiruan gaya hidup remaja Barat yang diklaim gaul bin modern seperti dalam film seri Beverly Hils 90210 , Melrose Place , Dawsons Creek , Friends , atau American Pie .

Dalam American Pie I diungkap budaya remaja Amrik yang merasa tidak pede dan terkucil bila lulus SMA masih berstatus perawan atau perjaka ting-ting. Sehingga mereka berusaha melepaskan statusnya itu maksimal menjelang kelulusan. Yang lebih mengerikan adalah dampak buruk yang dilahirkan oleh perilaku seks bebas ini. Penularan penyakit seksual; mewabahnya virus HIV/AIDS; aborsi, hingga prostitusi yang makin lestari. Perkiraan jumlah penderita HIV di Indonesia sampai akhir 2004, menurut ASA (Aksi Stop Aids) mencapai 90.000-130.000 orang. Hingga 30 September 2004 saja terdapat 3338 kasus HIV positif dan 2362 kasus AIDS. Jumlah ini diperkirakan akan terus meningkat mengingat perilaku remaja kita yang demikian bebas. ( Kompas, 01/12/04 ). Masihkah kita cuek dengan kondisi ini?

  1. Fitnah Syubuhat

Fitnah Syubuhat terlihat pada kebingungan mereka memilih jalan yang benar. Bingung mengisi waktu dan selalu merasa tidak pede dengan keislaman mereka. Munculnya gaya hidup punk, mengikuti hal-hal yang tidak ketahuan rimbanya. Mengikuti kebiasaan membuat geng-geng, dan bahkan terjerumus pada pemahaman-pemahaman sekuler, kapitalis dan hedonis. Mereka tidak lagi menempatkan islam sebagai way of life. Sebaliknya mereka mengganti gaya hidup mereka dengan gaya hidup ala barat yang menyesatkan. Mereka meninggalkan pakaian rapi mereka dan mereka ganti dengan pakaian super mini dan acak-acakan. Mereka tidak paham mana yang benar dan mana yang salah. Hidup mereka terombang ambing, bingung mau kemana. Bila terdapat masalah sedikit saja mereka langsung lari ke narkoba atau malah memilih bunuh diri sebagai pilihan  terakhir.

SOLUSINYA?

Pilih sahabatmu!

Betapa jauh perjalanan iman yang telah engkau tempuh, namun sahabatmu dapat dengan mudah mengembalikanmu pada titik pertama kamu melangkah, bahkan kembali lagi ke jalan hitammu. Jangan katakan, “Aku mampu menjaga diri, dan takkan terpengaruh oleh luar”. Karena akhlaq, agama dan kepribadian seseorang akan menyesuaikan lingkungan dimana ia berada. Rumus ini juga tersirat dalam sebuah hadits, diriwayatkan oleh At tirmidzy, Abu daud, dan Ahmad dari Abi hurairah ra.berkata: Rosul saw. bersabda: “Seorang manusia diatas agama temannya, maka lihatlah siapa yang berteman dengannya”.

Jika engkau menghendaki jalan yang lebih terang menuju surga, harus anda cari teman bergaul yang sholih. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dai Ibnu umar ra. berkata: Rosul saw. bersabda: “Barang siapa yang ingin biji surga, hendaklah hidup berjamaah”.

Melawan hasutan setan, tak bisa kita lakukan sendiri, sebuah hadits riwayat Ahmad dari Ibnu umar ra. berkata: Rosul saw. bersabda: “Waspadalah dengan perpecahan, karena sesungguhnya setan bersama orang-orang yang sendiri, dan dia lebih jauh dari orang yang berdua”.

Satu kemustian, bagi seseorang yang ingin kebangkitan umat terealisasikan, yaitu melebur dalam persahabatan yang berkualitas. Sahabat yang baik adalah sahabat yang setia mengingatkan kebaikan pada tiap detikmu. Ketika engkau terlewatkan waktu sholat, mereka akan mengingatkanmu. Ketika engkau melalaikan dzikir, mereka memberi masukan. Ketika engkau butuh bantuan dalam belajar, mereka siap. Ketika engkau mempunyai tekad, mereka akan setia berada dibelakangnya. Manhaj mereka al islam, petunjuk mereka al qur’an. Tabiat yang mendominasi pribadi mereka adalah kasih sayang, halus, lembut dan penyabar. Pemikiran mereka dalam. Cara bicara, santun. Selalu sibuk dengan urusan umat. Berusaha memenuhi kebutuhan manusia. Dekat pada Alloh swt., gemar berdo’a. Berbakti kepada orang tua mereka. Menyambung tali silaturahmi. Mengasihi yang kecil. Menghormati yang tua. Professional dalam bekerja. Dan mampu berkompetisi dalam studi.

Merekalah yang bisa mengantarkan kita ke gerbang kesuksesan. Apakah anda pikir mereka hanya ada di dunia mimpi? Tidak. Mereka ada dan bisa kita temui di kehidupan ini. Kebaikan akan selalu menyatu dengan umat Muhammad saw. hingga hari kiamat nanti. Namun, ketika seorang remaja terjerembab dalam lembah kemaksiatan. Ia tak akan lagi mampu melihat dimana mereka, dimana orang-orang sholih itu. Matanya tertutup lumpur kemaksiatan. Temukan, dan larutlah dalam kesuksesan bersama mereka. Semoga Alloh swt. mengikat hati, dan menyatukan barisan kita.

Mendidik yang Seimbang

2 Comments

March 24, 2011 at 9:30 amCategory:Artikel Santai | Serius banget

Oleh: Burhan Sodiq S.S
(Direktur Penerbit Gazzamedia)

Dunia yang semakin modern ini memberi tantangan yang sangat hebat kepada setiap orang tua. Tantangan itu berupa sebuah pertanyaan besar, yaitu mampukah anak anaknya bersaing di dunia yang semakin maju. Teknologi melesat menembus batas batas yang ada. Sementara di sisi lain, kita ingin memberikan bekal agama yang cukup kepada anak anak kita. Sebab dengan ilmu agama yang benar, maka akan menjadi pondasi bagi anak untuk menghadapi masa depannya.

Ada yang sangat kuat memberi bekal bekal ilmu dunia kepada anaknya. Memberi les tambahan, les musik, piano, komputer dan ilmu pendukung lainnya, dengan harapan mereka mampu bersaing dengan zaman yang membesarkannya. Tapi mereka sama sekali tidak memperhatikan soal pendidikan agama anak anaknya. Sehingga anak anak mereka tumbuh dengan visi dunia yang sangat hebat. Mahir dalam ilmu ilmu pendukung untuk menguasai dunia ini. Sebaliknya, di sisi akhlak dan ilmu dien mereka sangat jauh tertinggal.

Di sisi lain, ada sebagian orang tua yang memilih memberi porsi luar biasa pada agama anak anaknya. Mereka diberikan pendidikan agama dengan porsi ekstra. Sampai-sampai mereka tidak memberikan bekal bekal ilmu umum kepada anak anaknya. Sehingga anak anaknya hanya menguasai kitab kitab ulama, dan menghafal Quran. Sementara untuk ilmu yang lain, mereka tidak menguasainya sama sekali. Maka muncullah ketimpangan yang tidak seharusnya terjadi.

Dibutuhkan Tawazun
Dari fakta di atas, kita berpikir bahwa inilah saatnya dibutuhkan sikap tawazun. Yaitu seimbang dalam urusan pendidikan anak anak kita. Kita lihat kepada para sahabat dan para ulama yang sudah menerapkan hal ini. Mereka mengutamakan pendidikan agama di awal, dan kemudian melengkapinya dengan ilmu ilmu pendukung.

Seperti kita tahu, tugas pertama orang tua dan pendidik adalah mengajarkan anak perkara-perkara yang hukumnya fardhu ‘ain. Perkara yang merupakan pokok dan sendi agama, seperti masalah Ketuhanan, shalat, berwudhu, puasa, berbakti pada orang tua dan sebagainya. Setelah semua yang fardhu ‘ain itu diajarkan maka selanjutnya orang tua dan pendidik memperhatikan kecenderungan dan bakatnya. Jika dalam pengamatannya si anak cendrung kepada masalah agama maka dia dukung dengan fasilitas yang sewajarnya, baik mencarikan guru, buku-buku ataupun kebutuhan lainnya, sehingga dia tumbuh menjadi seorang ulama.

Namun jika setelah diamati ternyata kecenderungannya pada ilmu-ilmu sosial, keterampilan, kedokteran dan sebagainya, maka dukungan pun dicurahkan. Target akhirnya, dia tumbuh menjadi ahli dalam bidang yang disukainya itu. Tidak semestinya orang tua memaksa anak mendalami ilmu atau bidang yang tidak disenanginya. Karena hal itu bisa membuatnya tertekan secara psikologis. Karena, pada satu sisi dia punya keinginan, namun kenyataan memaksanya untuk membuang keinginan itu dan melakukan keinginan orang tua.

Ibnu Qayim mengatakan, “Di antara yang perlu diperhatikan dalam mendidik anak adalah memperhatikan pribadi dan kecendrungannya. Setiap anak diciptakan dengan bakat dan kecendrungan berbeda-beda. Orang tua harus mengetahui kecndrungan itu. Jangan sampai anak dibebankan dengan sesuatu yang tidak sesuai dengan bakat dan kecendrungannya, selama kecendrungan itu adalah perkara yang mubah. Anak yang dipaksa melakukan sesuatu yang tidak diminatinya tidak akan sukses. Sementara, di sisi lain dia telah kehilangan kesempatan menggapai sesuatu yang cocok untuk dirinya.

Anaknya yang punya daya tangkap dan hapalan kuat biasanya cenderung pada bidang keilmuan. Maka hendaklah pola hidupnya diarahkan kepada kehidupan layaknya seorang calon ilmuan. Anak yang kelebihannya pada fisik lebih menonjol maka sebaiknya dia diarahkan pada pendidikan keprajuritan atau keahlian lain yang mengandalkan fisik. Jika yang lebih menonjol pada dirinya minat wiraswasta atau bisnis, maka dididik menjadi seorang wiraswatawa atau pebisnis.”
Ilmu adalah penyejuk jiwa. Ketinggian nilainya membuat penuntutnya berhak mendapat doa dari seluruh makhluk setiap dia pergi dan pulang, sebagai tanda ridha atas apa yang dia kerjakan. Anas bin Malik meriwayatkan, bahwa Nabi saw bersabda, “Menuntut ilmu adalah kewajiban atas setiap muslim. Orang yang memberikan ilmu bukan kepada orang yang berhak, sama seperti orang yang mengalungkan permata kepada babi. (HR. Ibnu Majah)

Abdul Malik bin Marwan berkata kepada guru anaknya, “Ajarkan dia kejujuran sebagaimana kamu mengajarinya Al Qur’an. Jauhkan dia dari orang-orang bodoh yang tidak punya sifat wara’ lagi tidak beradab. Jangan biasakan dia dengan pembantu, karena itu bisa merusak jiwanya. Izinkan dia makan daging agar tubuhnya kuat. Ajari juga dia syair-syair agar dia diperhitungkan dan dimuliakan. Biasakan dia bersiwak (menggosok gigi) secara vertikal, minum dengan mengisap air dan tidak minum sambil bernafas. Jika menurutmu dia perlu dihukum, maka jangan sampai terlihat oleh para pembantunya, karena itu bisa membuat dia remeh di mata mereka.”

Dalam pesan dia atas, Abdul Malik tidak hanya memperhatikan aspek agama dan akal semata. Tapi dia juga menyinggung masalah akhlak, fisik, lisan, kesehatan dan sosial.

Hisyam bin Abdul Malik, juga berpesan pada pendidik anaknya. “Anakku ini adalah penyejuk mata dan hatiku. Aku serahkan dia padamu untuk kamu dididk. Maka, bertakwalah pada Allah dalam mendidiknya dan tunaikan amanah ini dengan baik. Ajarkan dia Al Qur’an dan syair-syair yang bagus. Ajaklah dia mengelilingi tanah Arab untuk mencari syair-syair yang bagus itu. Dan ajari juga dia perkara halal dan haram, ceramah dan sejarah peperangan”

Khalifah Harun Ar Rasyid, salah satu Khalifah Bani Abbas, juga berpesan kepada guru anaknya Muhammad Amin. Bunyi pesannya, “Sesungguhnya Amirul Mukminin telah menyerahkan kepadamu buah hatinya. Maka sambutlah amanahnya dengan hati lapang. Sebagai guru kamu berhak dia taati. Tunaikanlah amanah ini sesuai yang diinginkan Amirul Mukminin. Ajarkan dia membaca Al Qur’an, hadis, sayair-syair, perkara-perkara sunnah dan juga sejarah. Latih dia berbicara dan ceramah. Larang dia banyak tertawa kecuali pada waktu-waktu tertentu. Ajari dia menghormati tamu-tamu dari Bani Hasyim, jika ada dari mereka yang menjenguknya. Didik dia menghargai sidang para pemimpin jika dia turut hadir di dalamnya. Jangan biarkan waktu berlalu kecuali engkau beri dia suatu pelajaran yang bermanfat. Jangan buat dia sedih. Karena kesedihan itu bisa mematikan akalnya. Jangan pula engkau terlalu memanjakannya sehingga membuatnya malas. Luruskan kesalahannya dengan sekuat tenagamu dengan kelembutan. Namun, jika mereka tidak berubah dengan cara itu maka kerasilah mereka.”

Sesuatu yang sudah dipelajari sejak kecil, sangat berpangaruh pada saat seseorang dewasa. Hapalan dan pelajaran di waktu kecil lebih tertanam dalam hati dan lebih lekat dalam dalam otak. Ibnu Abbas mengatakan, “Tanyakanlah pada saya apa saja yang berkaitan dengan surat An Nisa. Karena saya mempelajarinya ketika saya masih kecil.” (HR. Hakim)

Menuntut ilmu adalah kewajiban seiap muslim. Baik laki-laki maupun perempuan, sudah besar maupun masih kecil. Yang masih kecil adalah kewajiban orang tua dan walinya utuk menuntunnya ke arah itu.

Di antara ilmu yang sangat urgen diajarkan pada anak adalah ilmu Sirah. Ilmu yang menggambarkan kenyataan yang terjadi pada zaman perjuang Islam. Di dalam Sirah terdapat kisah-kisah yang menakjubkan yang sedianya menjadi motivasi penting bagi anak.

Pakar psikologi anak menyatakan bahwa kisah atau cerita adalah sarana yang baik untuk pendidikan anak. Karena di samping menarik perhatian kisah juga memajukan pikiran dan menambah wawasannya. Apalagi kisah-kisah yang mengandung banyak pelajaran seperti kisah Nabi dan sahabatnya. Kisah seperti ini bisa menjadi pedoman dan pegangan hidupnya. Allah berfirman:

لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبَابِ (يوسف: 111)
“Dan sungguh telah ada pada kisah-kisah mereka pelajaran bagi orang-orang yang berpikir.” (QS. Yusuf: 111).

Nah, sekaranglah saatnya kita memantapkan kembali mindset kita. Mengarahkan pendidikan anak anak kita menuju arah yang sudah digariskan Nabi Saw. Memberikan pondasi kuat al quran dan assunnah, dan kemudian memperkuatnya dengan ilmu ilmu yang menjadi kecenderungan mereka. Sehingga nantinya mereka akan bahagia dengan apa yang mereka pelajari. Tidak pernah tertekan, apalagi depresi dengan tuntutan yang terlalu besar dari orang tua mereka.

Mutilasi dan Matinya Hati Nurani

1 Comment

October 29, 2008 at 8:59 amCategory:Serius banget

Wajah wanita itu dingin. Ketika diwawancara seputar motif kenapa ia memutilasi suaminya juga tak banyak bicara. Lirih, pelan tanpa ekspresi penyesalan. Wanita inilah yang menjadi tersangka pembunuhan mutilasi seorang lelaki dengan sangat sadis. Ia memutilasi suami sendiri dengan pisau dapur, setelah memukul kepala suaminya dengan batu saat suami tidur lelap. Tubuh suaminya dipotong-potong menjadi beberapa bagian dan dimasukkan dalam beberapa tas kresek. Tas kresek itu akhirnya ia bawa sepanjang perjalanan. Ada yang ditinggal di bus, ada yang di warung terminal, ada yang di taksi dan ada pula yang di bus Jakarta Cirebon. Bahkan kepala dan lengan kiri malah dibuang di kali dan belum ketemu dimana lokasinya.

Miris! Ada apa dengan bangsa ini? Dulu ada Robot Gedek, ada Sumanto, ada Ryan, sekarang ada Sri Sumiati (Kalo ndak salah) yang sangat kejam. Apa yang salah? Kenapa mereka menjadi sangat beringas? Akhlak sudah tidak lagi menjadi sandaran berperilaku. Hitungannya hanya nafsu, dendam yang dipupuk subur di hati, dan perilaku yang jauh dari nilai islam yang dipuji. Manusia tak lagi mau diatur dengan indahnya Islam. Tetapi kapitalisme membuat mereka rakus akan nilai dunia yang mereka sembah sedemikian rupa. Lingkungan kitalah yang menjadi tanggung jawab kita. Sejauh mana kita mau peduli dengan mereka. Menyelesaikan persoalan dengan komunikasi, indahnya senyum, tawa dan hidup berbahagia.

Jangan biarkan hati nurani kita mati. Karena kita masih percaya dan sangat percaya pada kehidupan setelah mati. Ada pertanggungjawaban, ada perhitungan amal, yang tidak seringan di dunia dan tidak semudah di meja hijau. Semuanya akan dihitung, dan semuanya akan dipertanggungjawabkan.

Hikmah Hari Ini

3 Comments

March 26, 2008 at 8:12 amCategory:Serius banget

“Kalau rizki itu di tangan ALlah, kenapa engkau ikut campur? Kalau Allah sudah menjanjikan ganti yang lebih baik, kenapa engkau bakhil?? Kalau sesungguhnya surga itu benar adanya, kenapa engkau masih beristirahat? Kalau sesungguhnya neraka itu benar adanya, kenapa engkau bermaksiat? Kalau sesungguhnya pertanyaan Munkar Nakir itu benar adanya, kenapa engkau masih disibukkan oleh aib orang lain? Kalau sesungguhnya dunia ini fana, kenapa engkau tenang di dalamnya? Kalau sesungguhnya “hisab” benar adanya, kenapa engkau terus mengumpulkan (dosa-dosa)? Kalau sesungguhnya segala sesuatu terjadi karena qodho dan qodar-Nya, kenapa engkau takut?” (Imam Ahmad bin Hambal)

NB: Thanks Mas Nugie

Valentin Day Nggak Identik Sama Kasih Sayang

17 Comments

February 13, 2008 at 10:00 amCategory:Serius banget

Jangan asal ikut-ikutan. Saat para seleb bilang met valentin day, jangan kemudian kamu merasa kudu perlu mengucapkan hal yang sama. Karena ada beberapa fakta valentine yang kamu kudu tahu:

  1. Valentine Day adalah hari memperingati matinya pendeta Saint Valentine. Siapa pendeta itu juga masih simpang siur sejarahnya.
  2. Valentine Day adalah hari besar umat Kristen terbesar kedua setelah Crhistmas dan Happy New Year. Dicanangkan pertama kali oleh Paus Gelasius II karena untuk menyaingi upacara penyembahan dewa orang Romawi, Lupercus. (lihat dalam buku Valentine Day, Natal, Happy New Year, April Mop, Hallowen: So What?? (Rizki Ridyasmara, Pusaka Alkautsar, 2005)
  3. Be My Valentine dalam bahasa berarti jadilah yang Maha Kuasaku. Artinya Valentine Day juga sebentuk pemujaan dewa baru yang terselubung.
  4. Mengutip perkataan Ibnu Qayyim, “Memberi selamat atas acara ritual orang kafir yang khusus bagi mereka, telah disepakati bahwa perbuatan tersebut haram. Semisal memberi selamat atas hari raya dan puasa mereka, dengan mengucapkan, ?Selamat hari raya!? dan sejenisnya. Bagi yang mengucapkannya, kalau pun tidak sampai pada kekafiran, paling tidak itu merupakan perbuatan haram. Berarti ia telah memberi selamat atas perbuatan mereka yang menyekutukan Allah. Bahkan perbuatan tersebut lebih besar dosanya di sisi Allah dan lebih dimurkai dari pada memberi selamat atas perbuatan minum khamar atau membunuh.”
  5. Valentine Days syarat akan dogma kristen. Maka merayakannya bisa masuk kategori menyektukan Allah.

Hati-hati buat temen-temen remaja. Selamatkan hidupmu sekarang juga!

Super Mama dan Rasa Malu

3 Comments

February 11, 2008 at 8:29 amCategory:Serius banget

Apa yang ada di benak anda ketika menyaksikan ibu-ibu yang sudah berusia patuh baya, mengenakan baju kebaya dibalut dengan kerudungnya melenggak lenggok berjoget dan menyanyikan lagu dangdut? Apa yang ada dibenak Anda ketika menyaksikan para muslimah dengan baju muslimah mereka tumpah riuh di ajang pencarian bakat?

Pasti ada seiris rasa miris yang menyayat hati kenapa ummat ini begitu kerdil dalam memahami nash. Apakah tidak ada orang yang baik hati yang menyampaikan kepada mereka bahwa berjoget semacam itu diharamkan bagi mereka? Belum lagi bila mereka harus beradu goyangan dengan kontestan lainnya. Baju mereka dikritik, dinilai dan bahkan di’telanjangi’ oleh banyak mata.

Dimanakah kearifan ibu-ibu itu hingga mereka mau menjual rasa malu dengan segepok uang jutaan rupiah. Dimanakah rasa malu ibu-ibu itu yang sudah mengenakan jilbab syar’inya tapi kemudian menodainya dengan goyangan yang memalukan. Goyangan yang justru malah membuat mereka dipandang rendah oleh para penontonnya. Tidakkah mereka berpikir bahwa bagaimana jika anak-anak kecil kemudian bertanya, “Ibu itu memakai kerudung tadpi kok mau bergoyang ya?”

Rasa Malu yang Telah Hilang

Ada sebuah hadist yang berbunyi, “Kalau kamu tidak malu, maka berbuatlah sesukamu.” Ya, berbuatlah sesukamu ketika rasa malu sudah dicabut oleh Allah ta’ala. Puaskan hawa nafsumu bila rasa malu sudah tidak lagi bersemayam di hatimu.

Para ibu itu sudah kehilangan rasa malu. Bapak-bapak di rumah sebagai suaminya juga tidak lagi punya rasa cemburu, melihat istrinya bergoyang ditonton jutaan pemirsa televisi. Anak-anak mereka juga tidak lagi punya rasa malu melihat ibu-ibu mereka menjual suara, menjual goyangannya untuk mendapat sedikit sanjung puja pelega tenggorokan belaka. Orang-orang yang melihatnya pun juga tidak punya rasa malu melihat saudara seimannnya melakukan seperti itu. Terlebih lagi, para pemodal acara, yang sejak awal memang tidak punya rasa malu, menjual kepolosan ibu-ibu demi keuntungan materi atas nama kapitalisme.

Saudaraku, jagalah ibu-ibu kita di rumah. Jangan sampai mereka kehilangan rasa malu hanya untuk mencari kesenangan yang menipu.

Kenapa Terjadi Penurunan Kualitas

4 Comments

November 12, 2007 at 9:02 amCategory:Serius banget

Kalau dulu, menjadi seorang ikhwan (bukan anggota ikhwanul muslimin, bukan juga yang lain-lain, tapi ikhwan menurut persepsi saya) adalah sebuah amanah yang sangat besar. Mereka yang sudah tersaring hingga fase ini adalah lelaki-lelaki yang terdidik dan terbina keislaman secara baik. Militansinya jelas, loyalitasnya pun juga jelas, aktivitasnya pun juga jelas.

Militansi yang saya maksudkan bisa berujud pada kegigihan mereka mempertahankan prinsip hidup. Tidak mudah luluh hanya karena ancaman dunia, tidak juga gampang gentar ketika disulut pertikaian, baik karena perbedaan aqidah maupun keyakinan hidup. Mereka tegak berdiri, meskipun orang-orang yang dia cintai harus mengasingkan dia dari pergaulan. Militansi mereka terbimbing oleh ustad-ustad yang hanif dan mukhlis.

Tidak dikenal ustad yang memasang tarif dalam setiap kali memberi tausyiah. Tidak juga dikenal ustad yang manja harus dijemput bila mengisi sebuah halaqah. Tidak ada juga cerita ustad yang perlente, berpenampilan ala artis yang klimis. Mereka sederhana, kuat hujjahnya dan mengena di hati. Berkumpul dengan orang-orang semacam ini menghidupkan semangat beramal dan menghidupkan hati yang sedang gersang.

Saya ingin kembali membahas tentang militansi. Sebuah amal hati yang saat ini sulit ditemui. Tidak manja dan suka menuntut fasilitas. Tapi bersahaja dalam setiap keterbatasan fasilitas. Hitung-hitungan hidupnya bukan pada sejauh mana laba didapatkan, namun sejauhmana amal dia akan mendatangkan ridha Allah SWT. Militansi untuk tidak bergabung bekerja dengan thaghut, tidak makan sembarang makanan, tidak memanjakan diri dengan kenikmatan-kenikmatan dan membiasakan diri dengan hidup sederhana tanpa kemewahan.

Kini, sosok-sosok ikhwan semacam itu telah pudar. Berganti dengan ikhwan atau bakwan, pseudo ikhwan, ikhwan jadi-jadian, yang berhenti di ranah tampilan fisik, dan mencukupkan diri dengan pemahanan agama dan amal yang terbatas. Sungguh miris hati ini saat melihat ikhwan yang justru dikenal karena ketidakprofesionalannya. Setiap kali mendengat kalimat ikhwan disebut, malah teringat sikap-sikap tidak mengenakkan, utang tidak dibayar, janji yang dikhianati, bocor suka membuka aib orang, licik, dan sebarek sikap-sikap error yang lain. Tragis!

So? What Is The Solution

Masalah ini harus disikapi dengan seksama. Komunitas dakwah harus memperketat jalur pengkaderan, agar tidak ada ikhwan oknum atau oknum ikhwan yang menjelma menjadi setan ketika kesempatan di depan mata. Proses pentadbiran harus dilakukan dengan penggemblengan yang maksimal. Para asatidz yang bekerja di ranah pengkaderan harus profil-profil yang tegas dalam mendidik, bisa dijadikan teladan dan bukan malah menjadi justifikasi dari keteledoran mengamalkan islam.

Sistem pengkaderan harus disettting bukan memprioritaskan jumlah massa yang banyak, namun lebih ditekankan pada kualitas personal. The dream team bukan ribuan, tapi hanya puluhan tapi dengan kualitas andalan. Meskipun mereka yang handal bisa berjumlah ribuan pada akhirnya nanti.

Mekanisme hisbah di dalam komunitas dakwah juga harus digalakkan. Membiarkan seorang ikhwan berbuat dosa, sama saja membiarkan dia masuk dalam jurang kebinasaan.Sehingga team kontrol pun harus jelas siapa yang akan memberi peringatan. (Tumben Serius banget…)

Trik Licik Bernama Syarat dan Ketentuan Berlaku

2 Comments

October 8, 2007 at 8:08 amCategory:Serius banget

Pernahkah Anda melihat sebuah iklan baliho yang gede, menawarkan sebuah fasilitas kemudahan yang aneh, nggak biasa, dan kesannya sangat baik hati. Misalnya tentang fasilitas nelepon dengan pulsa GRATIS, atau diskon barang yang super besar, atau bahkan janji-janji diberi hadiah semacamnya.

Awalnya membaca, kita memang terperangkap! Kita pikir itu adalah benar-benar kemudahan yang diberikan pihak pengiklan. Tapi kebahagian itu nampaknya cuma kecohan semata. Orang jawa bilang Kempong Perot! Apus-apus! Karena setelah diamati dari dekat, setiap janji-janji indah itu mesti di atasnya terdapat bintang kecil ( * ). Kemudian di bagian bawah baliho atau iklan tersebut tersemat arti dari bintang kecil itu, tertulis Syarat dan Ketentuan berlaku.

Modus pemokilan (baca: licik) seperti ini nampaknya sangat marak. Konsumen sengaja ditipu dengan jargon-jargon murah, padahal sebenarnya murahnya itu bersyarat. Dan hampir-hampir syaratnya itu ribet, njelimet dan sangat susah!

Lagi-lagi Kami Tertipu

Siang kemarin hal yang sama dialami oleh dua orang tua saya tercinta. Mereka udah sepuh (baca: tua). Siang hari yang panas mereka mendapat telepon diberitahu bahwa Anda mendapatkan hadiah bla bla bla. Anda tak perlu bawa uang, kudu diambil hari ini dan kalau tidak diambil akan hangus.

Istri saya yang kebetulan di rumah ibu menerima telepon itu dan bertanya, “Mbak, ini tidak menipu kan? Apa hadiahnya?”
Si penelpon menjawab, “Tidak, hadiahnya sudah dibungkus bu.”
Tidak mau terkecoh, istri kemudian nanya lagi, “Hadiahnya apa? Apa isi bingkisannya?” Si penelepon bilang, “KULKAS!”

Toeng! Kulkas! Itu lah barang yang paling diinginkan keluarga saya saat ini. Hehehe. Langsung dia telepon saya untuk bilang ke bapak yang waktu itu di kontrakan bersama saya, agar menjemput hadiah itu ke tempat itu. Kontan saja, bapak dan ibu memutuskan mengambilnya. Panas begitu menyengat! Puasa-puasa mereka rela ke sana, bahkan ibu memutuskan tidak jualan hari itu.

Sesampainya di sana, dugaan saya benar adanya. Ternyata perusahan bal ibul, tukang ngibul. Mulutnya manis kayak olie, meluncur licin menipu orang tua kami. Mereka bilang bapak memenangkan voucher belanja dari kami senilai 1 juta, bisa digunakan untuk membeli barang-barang kesehatan yang kami sama sekali tidak butuh senilai 5 juta. “Jadi bapak hanya tinggal membayar 4 juta saja!”

Wuih manis bener omongan ini. Kita yang katanya dijanjikan kulkas ternyata disuruh membayar 4 juta dengan alasan mendapat voucher belanja satu juta. Voucher apa? Voucher apus-apus, voucher kempong perot!

Siangnya saya telepon pihak mereka. Saya minta kembali uang ibu saya. Ibu saya merasa pekewuh, dikasih voucher satu juta kok nggak diterima. Begitu pikir beliau. Tapi voucher itu cuman bikinan mereka saja. SI penerima telepon mengaku bernama Shinta, dengan logat kemayu, genit dan penuh tipuan dia mengulur-ulur waktu. Saya tembak, ‘Saya bisa ambil uang itu tidak, jawab saja jangan berbelit-belit!” Awalnya mereka menolak, tapi kemudian mereka mengiyakan. Nah hari ini saya akan menemui mereka, kita lihat nanti cerita berikutnya. Huh! (Nulisnya dalam keadaan dongkol berat!!!)