Category: Artikel Santai

Allahummaghfirlahu…

No Comments

November 18, 2011 at 8:00 amCategory:Artikel Santai

Pagi itu Ayah datang ke rumah. Sebelumnya aku sudah dikasih tahu Ibu, kalau Ayah mendadak tidak bisa bersuara. Aku pikir ini karena penyakit jantung beliau. Aku antarkan ayah ke rumah sakit.

Di UGD, penanganan rumah sakit ini tergolong lambat. Tidak cekatan sebagaimana rumah sakit lainnya. Aku tidak dapat informasi banyak soal ayahku. Hanya ada keterangan kalau beliau harus opname.

Aku hubungi ibu di rumah memberitahu kondisi beliau. Ibu langsung
aku ajak ke RS untuk menemani ayah. Siang hari ayah sudah mulai membaik. Namun beliau sangat kesakitan dengan kateter yang dipasang di tubuh beliau. Aku kasihan sama ayah, hingga ku pinta perawat laki laki melepaskan kateter itu.

Setelah dilepas ayah bisa berjalan menuju kamar mandi. Beliau pun bisa tidur setelah makan dan mengkonsumsi obat dari rumah sakit. Aku pamit sama ibu mau sholat ashr. Setelah itu aku dipanggil ibu kalau kondisi ayah mencemaskan. Ayah tiba tiba terkena serangan jantung setelah dari kamar mandi. Hanya dalam beberapa menit, beliau sudah meninggalkan kami.

Aku dan ibu hanya bisa melihat kejadian itu. Ayah pergi dengan kesan yang baik. Ibu pun menangis. Aku pun menangis. Tapi semuanya dari Allah dan pasti akan kembali kepada Allah. Ayah, kami akan selalu mendoakanmu. Sampai kapanpun. Semoga Ayah diberi pahala Jannah oleh Allah Ta’ala.

Ayah meninggal pada hari senin, 14 Novemer 2011 pada pukul 16.35 menit.

Menularkan Semangat Menulis

1 Comment

November 13, 2011 at 9:38 pmCategory:Artikel Santai

Sebuah pekerjaan besar bisa mengkader penulis muda untuk melakukan dakwah di dunia pena. Mengajarkan mereka teknik menulis yang cepat dan cermat. Menghasilkan karya yang hebat dan bermanfaat untuk umat. Bekal sudah di tangan, tinggal dipercepat dengan memunculkan semangat untuk bersaing di dunia perbukuan.

Inilah yang saya lakukan tadi pagi. Bersama istri saya menuju sebuah pesantren di desa Pilang Sragen. Di tempat itu saya membagi pengalaman dan ilmu di bidang tulis menulis. Pada sesi pertama saya bertanya kepada mereka. Apa yang ada di benak mereka bila mereka ingin menulis sebuah buku. Jawabannya beranekaragam. Ada yang ingin menulis tentang dunia muslimah, jilbab, ibunda, dan soal rahasia di balik nadhor. Namun ada pula yang masih blank tidak tahu harus menulis apa.

Saya pikir setiap orang pasti punya ide di kepalanya. Hanya saja mungkin mereka masih merasa malu. Tidak mau mengeluarkannya karena takut dianggap idenya jelek dan biasa biasa saja. Padahal tidak ada ide yang biasa, yang ada adalah ketidakmauan kita mengemas dan memolesnya. Alangkah bahagianya bila kita bisa menuliskan apa yang kita pikirkan. Menuliskan apa yang kita rasakan. Dan mengekspresikan kata hati dalam barisan kata yang indah dan penuh makna. Tidak peduli bagaimana tanggapan orang, karena komentar orang adalah sebuah hal yang biasa. Bila sudah menulis buku, maka ada dua hal yang harus diterima. Yaitu pujian dari orang yang kagum terhadap karya kita, atau cacian orang yang tidak suka dengan tulisan dan buku kita. Saya pikir itu hal yang biasa.

“Teruslah menghasilkan karya!” itu pesan saya kepada peserta, Meski karya itu hanya selembar kertas yang disimpan di buku harian, dan hanya akan dibuka saat mereka sudah dewasa. Menulis adalah hak setiap orang. Gagasan adalah barang yang sangat mahal. Maka menulislah untuk dunia, agar dia lebih tertata oleh mulianya agama (baca islam).

pisah beda harakah

3 Comments

November 10, 2011 at 10:47 pmCategory:Artikel Santai

Pernah harus berpisah hanya karena beda harakah? Dulu sangat akrab, kemana mana bisa berbagi ide dan pengalaman. Tapi kini semuanya sudah berlalu. Jangankan berbagi ide, bertemu pun tidak pernah. Senyuman tak berbalas dan malah hardikan dan cacian yang didapatkan.

Proses pendewasaan membuat semuanya menjadi berubah. Kawan yang sangat dieman, lalu mendadak menjadi ‘lawan’ yang tidak diharapkan. Hanya karena beda pada beberapa hal, maka ukhuwah menjadi barang yang sangat mahal.

Akhirnya, sebuah sikap harus diambil. Menjauh atau tetap mendekat dengan resiko rubuh. Karena dua duanyapunya potensi untuk saling melemahkan. Bila dipaksa berhubungan, yang ada hanya saling melukai karena perbedaan. Dipilihlah opsi berpisah, atas nama keinginan untuk tenang. Biarlah semuanya berada di jalan masing masing. Asal semuanya masih dalam satu aqidah yang sama, meski jalan yang ditempuh bisa saja berbeda bukan pada ushulnya.

are you (really) busy?

2 Comments

November 10, 2011 at 10:41 pmCategory:Artikel Santai

Berapa kali kita bilang sibuk kalau ditawari sebuah amanah dakwah. Mungkin sudah sering atau bahkan setiap kali ada amanah dakwah kata SIBUK sudah menjadi senjata andalan. Tapi apa memang kita benar benar sibuk? Atau jawaban itu hanya bagian dari cara kita untuk tidak mau terlibat dengan repotnya dakwah ila allah.

Kalau jawabannya memang kita benar benar sibuk, pertanyaan berikutnya kita sibuk apa? Bisa jadi kesibukan itu semuanya hanya terkait dengan urusan dunia. Sekolah, kuliah, dan cari maisyah mungkin menjadi 3 top ranking pilihan kesibukan dunia yang sering menyita waktu kita. Lalu, apakah kita tidak punya kebijakan khusus untuk waktu dakwah?

Kita bisa saja berdalih kesibukan saat ditanya soal amanah dakwah, tapi mau sampai kapan kita akan bersibuk ria dengan urusan dunia? Apakah sampai mata kita terpejam dan tidak bisa terbuka lagi? Atau sampai kita terbujur kaku dan dikubur di liang lahat nanti?

Jujur saja sebenarnya kita punya waktu luang. Di sela sela pekerjaan, di sela sela aktivitas, kita masih punya waktu luang. Kalau pun tidak ada, kita bisa menentukan waktu luang itu untuk berdakwah. Menyampaikan islam kepada orang orang di sekitar kita, meskipun hanya satu ayat. Karena di sinilah letak kemuliaan kita. Manakah orang yang lebih mulia daripada mereka yang menyeru kepada Allah, menyuruh kepada perbuatan makruf dan mencegah kepada perbuatan yang munkar.

Jadi, masing masing kita harus berdakwah. Apapun profesi kita, tugas utamanya tetap sama, menjadi dai di jalan Allah. Dakwah dengan hati, dengan pikiran, dengan teladan dan dengan ucapan dan perbuatan. Sembari menambah wawasan agama Islam agar dakwah kita semakin berkesan.
Selamat berdakwah semoga selamat sampai tujuan…

korban perasaan lagi?

No Comments

November 8, 2011 at 6:57 pmCategory:Artikel Santai

Memang mengherankan, saat kita mampu berkorban untuk seseorang, namun kita tidak mampu berkorban untuk Allah ta’ala. Beli smartphone mahal mungkin tidak menjadi masalah, tetapi membeli sapi dan kambing menjadi sebuah masalah besar. Membeli motor sport rela kita upayakan kredit, tapi membeli seekor kambing kecil saja beratnya bukan main. Apa yang salah dengan diri kita sekarang?

Mudahnya kita berkorban untuk urusan pacar. Segala apa yang dia pinta diberikan secara percuma. Tidak ada masalah kalau sampai harus berhutang, asal si dia bisa bahagia dan senang. Tapi manakala kurban itu untuk Allah kita malasnya bukan main. Selalu saja ada alasan yang memberatkan. Seolah olah kita tidak butuh berkurban untuk Allah. Dan merasa paling mampu bertahan di dunia dengan kesombongan luar biasa.

Cobalah kita potong nafsu yang memberatkan itu. Saatnya berkurban dengan tenaga dan harta kita. Karena kalimat ibadah menuntut sebuah aksi total, bukan setengah setengah. Selama kita mampu berkurban janganlah ditunda tunda. Karena penundaan terhadap sebuah kebaikan hanya akan memunculkan penyesalan.

kartun kita mana?

No Comments

November 8, 2011 at 6:51 pmCategory:Artikel Santai

Telah nyata di depan mata bahwa globalisasi membuat mata kita terbelalak. Bahwa budaya sebuah negeri tidak lagi ada sekat atau ruang. Pasar sudah sedemikian bebas. Apa saja boleh diperdagangkan di negeri ini. Sehingga hasilnya diserahkan kepada selera pasar, siapakah yang paling bisa merekrut pelanggan terbanyak.

Dari sekian tayangan anak, nampaknya dua kartun Shaun The Sheep dan Upin Ipin telah berhasil merebut minat anak anak. Saat para keluarga muslim kebingungan menyajikan tayangan “halal” bagi anak anak mereka, dua tayangan ini muncul dengan sangat digdaya. Tentu saja dua dua punya trik tersendiri untuk merebut hati anak anak. Mereka secara massive telah mengalahkan industri kartun tanah air yang senyap tak ada berita.

Serbuan tayangan anak dari berbagai arah semisal nickelodeon, bernie the bear, the owl, krisna, dan kartun jepang semisal naruto dan samurai membuat kita tak berdaya melawannya. Bermodal dubbing bahasa indonesia kita sudah bisa menayangkan itu kepada anak anak kita. Sayangnya hingga kita kita sama sekali tidak punya andalan yang cukup mampu menghadapi serbuan itu.

Era si Unyil sudah berganti. Anak anak tidak lagi kenal dengan tokoh tokoh yang dibuat oleh negeri ini sendiri. Ini hanya secuil fragmen yang terjadi di masyarakat kita. Betapa kita tidak mampu menghadapi serangan tayangan anak yang sudah sedemikian banyak.

Sumpah (Gwe Masih) Muda

No Comments

October 29, 2011 at 5:37 amCategory:Artikel Santai

Tulisan ini adalah intisari dari kalam remaja yang diadakan di rdsfmsolo kemarin sore jam 16 wib. Setiap jumat memang saya memberikan materi remaja di radio itu. Nah, kalau anda ingin tahu isinya apa, tulisan ini bisa menjadi sedikit gambaran cerita saya.

Sumpah pemuda menjadi momen pertumbuhan semangat di dada kawula muda. Meski sebenarnya sumpah yang diucapkan hanyalah simbol dari sebuah semangat ingin bersatu. Maka yang paling baik adalah kita bisa dapatkan semangat itu dengan mencoba mempersatukan elemen elemen kaum muslimin.

Kita sedih dan miris melihat kaum muslimin tidak bsia bersatu. Meski mereka bilang aqidahnya satu, tapi ternyata hatinya bisa berbeda beda. Susah sekali mempersatukan mereka pada satu kata. Semuanya pengen menang sendiri.

Islam harusnya menjadi bahasa pemersatu kita. Bahwa selama kita muslim dan mereka muslim, kita bakalan diikat oleh satu jalinan iman yang kuar mengakar. Meski saya di Indonesia dan Anda di luar negeri, bukan berarti semua hubungan islam ini akan hancur.

Semangat inilah yang akan menjadi cermin bagi kita. Sejauh mana kita mampu bersemangat pula mempersatukan ummat ini (baca Islam) Karena kita butuh remaja yang gaul tapi syar’i. Dia paham tentang dunia sebagai tempat tinggalnya. Tapi dia juga memahami agama yang diyakininya.

Menjadi Istri Penuh Pesona

No Comments

October 29, 2011 at 5:29 amCategory:Artikel Santai

Tidak gampang menjadi istri yang selalu baik. Karena istri bukanlah profesi yang mudah dicari manualnya. Kita harus mencari ilmu dan mengamalkannya dengan disesuaikan pada kondisi keluarga kita. Seorang istri belum bisa dikatakan sabar manakala sang suami ternyata sabarnya minta ampun. Seorang istri juga belum bisa dikatakan baik bila ternyata suaminya super duper baik.

Bila dia punya suami yang kejam dan beringas dan dia bertahan, maka dialah istri yang sangat sangat sangat sabar. Suami yang tukang marah, egois dan suka menghina dirinya, dan dia bertahan akan itu semua, maka bisa jadi dia adalah istri yang sangat sabar. Apalagi bila dia menghadapi suami yang jahat. Suka memukul hatinya dengan kata kata kasar, bermaksiat di depannya dan meniadakan hak haknya maka dia bertahan dengan itu semua, maka dialah istri yang baik.

Maksud saya, kita semua di sini pasti punya kekurangan dan kelebihan. Kita juga pasti diuji oleh Allah dengan kekurangan dan kelebihan itu. Mungkin kita bertemu dengan orang yang tidak tepat. Padahal kita sudah memohon untuk dipertemukan dengan orang yang tepat. Ternyata dia memang tepat pada ketidaktepatannya itu.

Andaikata sekarang Anda punya suami yang tidak sesuai kriteria. Suka marah dan suka jahat pada Anda. Maka sudah saatnya bagi Anda untuk menyiapkan jurus dan ilmu ampuh untuk bertahan bersamanya. Mengupayakan dia berubah dan mencoba berdakwah pada suami semampu yang Anda bisa. Namun bila ternyata dia seperti batu, membisu seribu bahasa dan tidak mau berubah sifatnya. Sudah saatnya bagi Anda menyiapkan setumpuk pakaian, koper dan kelengkapannya dan mengucapkan selamat tinggal kepada dia.

Tetaplah menjadi istri yang penuh pesona. Pesona fisik yang bisa diupayakan dengan berdandan di depan suami Anda. Atau menjadi pesona dengan akhlak Anda yang luar biasa baik. Senyum tidak pernah lelah baik di hati maupun di wajah.

Saat Teman Menjadi Musuh

No Comments

October 29, 2011 at 5:16 amCategory:Artikel Santai

Si Udin apes sekali. Saat berjalan gontai di sebuah event, dia bertemu dengan temannya. Tanya kabar seperti biasa. Tak sadar terbawa pada sebuah obrolan yang sangat serius. Wajah temannya berubah sangar. Alis naik, matanya melotot, lidahnya super tajam. Seperti ninja yang siap menyerang dengan pedang terhunus di tangan.

Serangan pertama berhasil merobek hati Udin. Serang kedua mencincang-cincangnya. Serangan ketiga menginjak injak hatinya. Udin pun terkapar tak berdaya. Dia kalah. Sikap lemah lembutnya dibantai habis oleh sikap agresif temannya itu. Padahal selama ini Udin pikir temannya itu orang paling baik sedunia. Ternyata dia salah besar. Temannya juga bisa marah semarah marahnya. Meski sebenarnya Udin tiada salah sama dia.

Setelah hatinya hancur dimaki maki tiada henti. Ia pun bergegas pergi menghilangkan galaunya. Tapi Udin tidak sesakti dulu. Serangan-serangan itu masih hinggap di kepalanya. Tidak mau pergi malah bermalam di ruang hatinya. Mau diusir, tapi Udin tidak bisa mengusir. Kontan saja, shalatnya pun jadi korban. Khusuk tinggal elementary, karena serangan itu masih menyisakan darah yang mengucur di hatinya berkali kali.

Udin pun bercerita kepada sahabatnya. Harapannya cerita itu bisa meleraikan sedih di hatinya. Dugaan Udin benar, dengan bercerita selengkap-lengkapnya membuatnya mendapat kesembuhan. Darah di hatinya berangsur-angsur berhenti. Hatinya lambat laun pulih kembali. Udin pun sehat kembali.
Itulah kisah si Udin. Yang bisa menyembuhkan hati dengan sharing atau curhat kepada kawan dekat. Dengan sharing kepada orang yang tepat, maka kita akan mendapatkan solusi, masukan, gambaran dan juga nasihat yang bermanfaat. Pertanyaannya adalah, kalau disuruh memilih, apakah kamu memilih menjadi Udin atau temannya Udin?

Bila Anda menjadi seorang Udin, maka lakukanlah apa yang sudah dilakukan Udin. Hidup sendiri itu tidak enak. Tapi kalau kita hidup bersama kawan yang baik dan menyenangkan, pasti hidup ini lebih bersemangat. Sedangkan kalau Anda menjadi temannya Udin, maka jadilah teman yang supportif. Selalu memberi dukungan pada kebaikan kebaikan yang Udin lakukan. Selalu memberi masukan pada setiap masalah yang dicurhatkan. Jangan ditinggal pergi, karena saat dia butuh dan Anda ada di situ, adalah sebuah kebahagiaan yang sangat berarti.

Hari ini kita belajar bahwa pertemanan bisa saja semu. Suatu saat bisa jadi teman kita bisa menjadi seorang ninja yang meluluhlantakkan hati kita. Tanpa bertanya, tanpa aba aba. Sabetan sabetan pedangnya bisa membuat kita rubuh runtuh. Hingga akhirnya kita berkesimpulan bahwa, sudahlah, pertemanan kita sampai di sini saja.

No Comments

October 27, 2011 at 8:27 pmCategory:Artikel Santai

“Hore besuk mba Tika sudah 7 tahun.” Kataku di atas kendaraan saat pulang dari sekolahnya.

“Aku ga mau hore.” Kata dia.

“Kenapa?”

“Karena aku ga mau dipukul Abi.”

“Lho kok dipukul?”

“Abi bilang katanya kalau udah umur 7 tahun dan ga solat, akan dipukul.”

“Oh iya. Nabi tuh yang pesan gitu dek. Lagian mukulnya juga ga sakit kok. Lagian juga kan dipukulnya kalo ndak solat. Kalau kamu solat ga bakalan dipukul dong…”

 

Tak terasa memang, sudah 7 tahun dia sekarang. Usia yang tidak lagi kanak kanak. Dia harus diberi pengetahuan banyak hal. Soal hal hal yang harus dia ketahui. Soal aurat, soal solat, surga dan neraka yang kudu dia ketahui.

Allah, saya mohon kepada Engkau. Beri kekuatan kepada saya tuk jadi ayah yang baik. Semoga saya bisa menjaga amanahmu berupa keluarga yang bahagia. Karena ternyata semakin lama menjadi orang tua juga tidak semakin mudah. Anak anak tumbuh dan tumbuh.

Problematikanya juga beda beda. Ada yang biasa, tapi ada yang luar biasa. Orang tua kayak kita ini harus mulai banyak belajar lagi. Membaca buku, mendatangi kajian dan juga menyiapkan diri untuk menempa pengalaman yang lebih banyak lagi.