<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>BURHANSHADIQ &#187; Perbukuan</title>
	<atom:link href="http://blog.burhanshadiq.com/category/perbukuan/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blog.burhanshadiq.com</link>
	<description>Inspirasi Tiada Henti</description>
	<lastBuildDate>Fri, 27 Jan 2012 02:39:39 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>EO dan Keluhan Para Penerbit</title>
		<link>http://blog.burhanshadiq.com/eo-dan-keluhan-para-penerbit.html</link>
		<comments>http://blog.burhanshadiq.com/eo-dan-keluhan-para-penerbit.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Jan 2012 12:48:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>burhanshadiq</dc:creator>
				<category><![CDATA[Perbukuan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.burhanshadiq.com/?p=2001</guid>
		<description><![CDATA[Sore ini saya terlibat perbincangan dengan salah seorang owner event organizer. Kami membahas soal seringnya pameran digelar di Solo dan Jogja. Menurut saya, penyelenggaraan pameran buku (khususnya) sudah terlalu sering. Berbagai EO dengan mudah menggelar pameran tanpa memerhatikan selera pasar. Ketika saya tanya kenapa tidak mencoba dengan tema lain, jawab teman saya karena ‘tidak ada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sore ini saya terlibat perbincangan dengan salah seorang owner event organizer. Kami membahas soal seringnya pameran digelar di Solo dan Jogja. Menurut saya, penyelenggaraan pameran buku (khususnya) sudah terlalu sering. Berbagai EO dengan mudah menggelar pameran tanpa memerhatikan selera pasar. Ketika saya tanya kenapa tidak mencoba dengan tema lain, jawab teman saya karena ‘tidak ada yang daftar&#8230;”</p>
<p>Sementara di sisi penerbit pameran bisa menjadi ajang untuk mengosongkan gudang. Seorang kolega marketing bilang, “Sekarang trennya bukan lagi perang diskon mas, tapi sudah perang obral limaribuan.” Sehingga sangat nampak kalau buku tidak lagi menjadi barang seksi. Tapi meski begitu buku-buku yang masih dijual mahal pun masih juga laku. Meski tidak terlalu laku.</p>
<p>Kondisi ini memang menjadi menarik untuk diteliti. Ada apa sebenarnya? Tidak bisakah dua kepentingan ini bertemu. Pameran menjadi ajang bergengsi para penerbit tuk show off bukan sale off. Menujukkan eksistensi dirinya di muka publik, bukan memperkenalkan diri sebagai penerbit yang jor joran dalam memberi harga murah. Murah tidak masalah, tapi bila menjadi terkesan murahan itu yang menjadi masalah.</p>
<p>Sisi seperti ini nampaknya hanya akan menjadi pekerjaan rumah dan kegelisahan penerbit skala kecil. Untuk penerbit mayor yang leluasa main di proyek-proyek pemerintah untuk pengadaan buku dan bermodal raksasa mungkin tidak akan merasakan kondisi seperti ini. Tapi bisa jadi kasusnya menjadi lain dan menjadi sangat khas disesuaikan dengan kapasitas mereka.</p>
<p>‘ala kulli hal, dunia buku masih menarik untuk dikembangkan. Terutama saat melihat respon pembaca dan pembeli yang mengapreasiasi apa yang kita tulis dan terbikan itu.</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.burhanshadiq.com/eo-dan-keluhan-para-penerbit.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Paket Buku Burhan Sodiq</title>
		<link>http://blog.burhanshadiq.com/paket-buku-burhan-sodiq.html</link>
		<comments>http://blog.burhanshadiq.com/paket-buku-burhan-sodiq.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 13 Oct 2010 05:51:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>burhanshadiq</dc:creator>
				<category><![CDATA[Perbukuan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.burhanshadiq.com/?p=1459</guid>
		<description><![CDATA[Dakwah di kalangan remaja, SMP, SMA dan mahasiswa HARUS mulai digencarkan. Salah satu upayanya adalah dengan menyediakan bacaan yang bermanfaat, dan sesuai dengan jiwa muda mereka. DAPATKAN BURHANSODIQ BOOKSERIES, paket buku bertema remaja tulisan Ust. Burhan Sodiq (seorang praktisi dakwah spesialis remaja) Hanya dengan Rp.90.000 Anda akan mendapatkan: -          Engkau Memang Cantik (Buku tentang bagaimana [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://blog.burhanshadiq.com/wp-content/uploads/2010/10/5074802062_bb18813d131.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-1460" title="5074802062_bb18813d13" src="http://blog.burhanshadiq.com/wp-content/uploads/2010/10/5074802062_bb18813d131-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p>Dakwah di kalangan remaja, SMP, SMA dan mahasiswa HARUS mulai digencarkan. Salah satu upayanya adalah dengan menyediakan bacaan yang bermanfaat, dan sesuai dengan jiwa muda mereka. DAPATKAN BURHANSODIQ BOOKSERIES, paket buku bertema remaja tulisan Ust. Burhan Sodiq (seorang praktisi dakwah spesialis remaja)</p>
<p>Hanya dengan <strong>Rp.90.000</strong> Anda akan mendapatkan:</p>
<p>-          <strong>Engkau Memang Cantik </strong></p>
<p>(Buku tentang bagaimana menjadi muslimah yang seimbang antara akhlak, ilmu dan tetap bisa GAUL)</p>
<p>-          <strong>Karena Cinta Harus Memilih </strong></p>
<p>(Buku tentang bagaimana MENOLAK pacaran dan memilih PERTEMANAN)</p>
<p>-          <strong>Ketik Reg Spasi </strong></p>
<p>(Buku tentang fenomena SMS Premium yang menggelisahkan aqidah generasi muda kita)</p>
<p>-          <strong>Shalat Ngebut Bisa Benjut </strong></p>
<p>(Buku tentang kenapa shalat remaja kita suka cepat dan tidak khusuk)</p>
<p>-          <strong>Menikah Karena Allah </strong></p>
<p>(Buku tentang bagaimana mempersiapkan pernikahan yang barakah)</p>
<p>-          <strong>Izinkan Aku Menikah Tanpa Pacaran </strong></p>
<p>(Buku tentang bagaimana Islam mempersilakan menikah dan melarang pacaran)</p>
<p>-          <strong>Plus Pin Lucu buat kamu.</strong></p>
<p><strong>NOTE: </strong></p>
<p>-          Untuk wilayah Solo bisa diantar sampai di rumah.</p>
<p>-          Semua buku itu bisa dibedah di daerah Anda untuk menyemarakkan dakwah remaja di wilayah Anda. Buku –buku itu sudah dibedah di Mataram Lombok, Pekanbaru Riau, Balikpapan Kalimantan Timur, Bojonegoro Jatim, Yogyakarta, Tegal dan Semarang.</p>
<p><strong>Caranya Gampang:</strong></p>
<p>-          Transfer pembayaran buku dan ongkos kirim (tergantung wilayah) ke rek BCA 7850341928 Burhan Sodiq atau Share Muamalat 6019239070726699 a.n Burhan Sodiq atau BSM 0120000543 a.n Burhan Sodiq.</p>
<p>-          Hubungi kami untuk informasi lebih lanjut. 0812 153 7768</p>
<p>Gazzamedia</p>
<p>Jalan Prof Soeharso Gang Anggur VI No 6 Jajar Solo</p>
<p>0271 724270</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.burhanshadiq.com/paket-buku-burhan-sodiq.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kondisi Perbukuan</title>
		<link>http://blog.burhanshadiq.com/kondisi-perbukuan.html</link>
		<comments>http://blog.burhanshadiq.com/kondisi-perbukuan.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 28 Sep 2010 01:47:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>burhanshadiq</dc:creator>
				<category><![CDATA[Perbukuan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.burhanshadiq.com/?p=1448</guid>
		<description><![CDATA[Saya sempat puter-puter di google mencari tips bagaimana bertahan dan menyerang di dunia marketing buku islam. Tapi sayangnya saya tidak banyak menemukan tulisan tentan itu. Mungkin saja orang tidak mau menulis hal itu, atau bisa jadi memang karena tidak banyak yang familiar sama blog atau situs. Atau bisa jadi pula karena saya kurang lama mondar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya sempat puter-puter di google mencari tips bagaimana bertahan dan menyerang di dunia marketing buku islam. Tapi sayangnya saya tidak banyak menemukan tulisan tentan itu. Mungkin saja orang tidak mau menulis hal itu, atau bisa jadi memang karena tidak banyak yang familiar sama blog atau situs. Atau bisa jadi pula karena saya kurang lama mondar mandir di google.</p>
<p>Tapi memang kalau dirasakan badai buku islam kali ini sangat hebat. Saya tidak tahu kondisi penerbit islami di Jakarta dan Bandung, tetapi saya merasakannya di Solo. Saya tidak tahu apa penyebabnya. Tetapi paling hanya bisa mencerna apa yang sedang terjadi saja. Buku Islam versi Solo sudah terlalu banyak beredar dan memiliki kesamaan. Sehingga pola ini mau tidak mau membuat pembeli semakin selektif. Pameran buku di Solo juga terlalu sering. Sehingga pameran tidak berasa spesial, justru malah terkesan hanya seperti bazar buku saja.</p>
<p>Meski dua faktor itu cukup beralasan tapi mungkin saja ada faktor lainnya. Misalnya turunnya minat beli di kalangan para aktivis dakwah. Pernah suatu ketika saya terlibat obrolan chatt dengan seorang mahasiswi. Dia seorang akhwat. Ketika saya tanya apakah hobi membaca, dia menjawab iya. Tetapi ketika saya tanya selanjutnya, jawabannya membuat saya kecewa. Lebih suka beli atau pinjam. Dia bangga menjawab, pinjam!  Kalau ada seribu aktivis saja yang berprinsip seperti dia, maka saya akan bertambah yakin kenapa buku islam menjadi sepi.</p>
<p>Saya tidak menyalahkan dia, itu hak masing-masing orang. Sebagai konsumen saya pun akan melakukan aksi yang sama bila ternyata buku yang ada tidak memiliki ke-khasan sama sekali. Saya lebih memilih pinjam dan jalan jalan saja di toko buku tercinta. Tetapi saya harap masih ada orang orang yang mencintai buku dengan membelinya. Menyiapkan ruang di rumahnya dengan rak rak lucu dan mungil. Sehingga segala kenyamanan bisa dirasakan oleh semuanya. Keluargan menjadi pandai dan paham dengan ilmu yang ada, dan mampu menjadi teladan bagi masyarakatnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.burhanshadiq.com/kondisi-perbukuan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Malem Ahad</title>
		<link>http://blog.burhanshadiq.com/malem-ahad.html</link>
		<comments>http://blog.burhanshadiq.com/malem-ahad.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 19 Oct 2008 00:34:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>burhanshadiq</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Santai]]></category>
		<category><![CDATA[Perbukuan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.burhanshadiq.com/?p=550</guid>
		<description><![CDATA[Tadi malam mengantarkan ibunda tercinta jagong atau datengin resepsi teman pasar beliau. Ini sebuah kesempatan baik untuk menorehkan amal shalih. Karena jagongnya di hotel Dana, maka saya memilih menunggu di toko buku Gramedia. Malam itu, hujan deras sekali, sampai-sampai atap toko buku sekelas Gramedia Solo aja juga bocor. (Pas mau naik tangga masuk, ada ember [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]><xml> <w:WordDocument> <w:View>Normal</w:View> <w:Zoom>0</w:Zoom> <w:PunctuationKerning /> <w:ValidateAgainstSchemas /> <w:SaveIfXMLInvalid>false</w:SaveIfXMLInvalid> <w:IgnoreMixedContent>false</w:IgnoreMixedContent> <w:AlwaysShowPlaceholderText>false</w:AlwaysShowPlaceholderText> <w:Compatibility> <w:BreakWrappedTables /> <w:SnapToGridInCell /> <w:WrapTextWithPunct /> <w:UseAsianBreakRules /> <w:DontGrowAutofit /> </w:Compatibility> <w:BrowserLevel>MicrosoftInternetExplorer4</w:BrowserLevel> </w:WordDocument> </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156"> </w:LatentStyles> </xml><![endif]--><!--[if !mso]><span class="mceItemObject"   classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id=ieooui></span></p>
<style>
st1\:*{behavior:url(#ieooui) }
</style>
<p><![endif]--> <!--[if gte mso 10]></p>
<style>
 /* Style Definitions */
 table.MsoNormalTable
	{mso-style-name:"Table Normal";
	mso-tstyle-rowband-size:0;
	mso-tstyle-colband-size:0;
	mso-style-noshow:yes;
	mso-style-parent:"";
	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
	mso-para-margin:0cm;
	mso-para-margin-bottom:.0001pt;
	mso-pagination:widow-orphan;
	font-size:10.0pt;
	font-family:"Times New Roman";
	mso-ansi-language:#0400;
	mso-fareast-language:#0400;
	mso-bidi-language:#0400;}
</style>
<p><![endif]--></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: Verdana;">Tadi malam mengantarkan ibunda tercinta jagong atau datengin resepsi teman pasar beliau. Ini sebuah kesempatan baik untuk menorehkan amal shalih. Karena jagongnya di hotel Dana, maka saya memilih menunggu di toko buku Gramedia. Malam itu, hujan deras sekali, sampai-sampai atap toko buku sekelas Gramedia Solo aja juga bocor. (Pas mau naik tangga masuk, ada ember berisi tetesan air) </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: Verdana;">Dengan berbekal jaket basah dan kaos basah, saya nekad masuk ke dalam. Ternyata di luar dugaan, toko buku gede ini ramenya minta ampun. Padahal orang bilang buku agama sepi, padahal yang saya lihat tidak demikian di sini. Rame, rame dan rame. Malam ahad malah menjadi malam buku bagi keluarga. Karena saya lihat banyak pasangan suami sitri bareng anak-anaknya yang berkunjung.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: Verdana;"><span> </span>Ada buku murah 10 ribuan, pengen beli tapi ga ada duit. Hehehe. Saya cuma memastikan saja buku-buku tulisan saya laku tidak. Sekaligus mencoba mencari celah tema di antara ribuan judul buku yang ada. Nah, setelah muter-muter ke sana kemari saya dapati buku saya salah naroh. Buku GOMBAL WARNING ditaruh di rak buku HUMOR dan KOMEDI. Glodaks deh. Ga nyambung banget. Apa petugasnya ga baca sub tittle dan back kavernya ya? Fuih, gapapa deh. Nasib!</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.burhanshadiq.com/malem-ahad.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Buku Apa yang Laku?</title>
		<link>http://blog.burhanshadiq.com/buku-apa-yang-laku.html</link>
		<comments>http://blog.burhanshadiq.com/buku-apa-yang-laku.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Jul 2008 06:44:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>burhanshadiq</dc:creator>
				<category><![CDATA[Perbukuan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.burhanshadiq.com/?p=471</guid>
		<description><![CDATA[Itu pertanyaan yang paling sering dilontarkan temen penulis lain. Semua buku saya pikir laku, hanya saja tingkat larisnya berbeda-beda. Ketajaman kru redaksi dan penciuman marketer buku memang dituntut lebih bagus lagi dalam menyasar buku laku. Setidaknya mereka harus bisa membaca perilaku pasar. Sering-sering main ke toko buku adalah salah satu cara yang jitu untuk mengasah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><span style="font-family: Verdana;">Itu pertanyaan yang paling sering dilontarkan temen penulis lain. Semua buku saya pikir laku, hanya saja tingkat larisnya berbeda-beda. Ketajaman kru redaksi dan penciuman marketer buku memang dituntut lebih bagus lagi dalam menyasar buku laku. Setidaknya mereka harus bisa membaca perilaku pasar.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: Verdana;">Sering-sering main ke toko buku adalah salah satu cara yang jitu untuk mengasah kemampuan ini. Tujuannya satu, melatih kepekaan hati melihat judul-judul buku baru. Menebak dan memperkirakan kekuatan dari sebuah buku tersebut. Judul yang aneh kadang bisa bernasib baik, kalau anehnya tidak katro, atau tidak wagu. Ia akan menjadi sebuah magnet yang berbeda dengan yang lain. Beda tapi kenceng di pasaran. Sementara judul yang anehnya konyol, hanya bernasib teronggok di rak. Kalau pun orang mau megang karena ada perasaan penasaran sesaat, “Nih redaksinya gimana sih, Ngasih judul basi gini?” </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: Verdana;">Semua kru redaksi penerbitan saya pikir tidak mau dibilang begitu. Karena mengkreasi buku bukan pekerjaan industri semata, tetapi perpaduan dari industri dan nilai seni. Nah tugas besar kita sebagai kru redaksi adalah bekerja secara cerdas, dan tidak meski harus keras. Karena bekerja cerdas lebih susah daripada bekerja keras. Iya </span><span style="font-family: Verdana;">kan</span><span style="font-family: Verdana;">? </span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.burhanshadiq.com/buku-apa-yang-laku.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hak Cipta Buku Islam, Perlukah?</title>
		<link>http://blog.burhanshadiq.com/hak-cipta-buku-islam-perlukah.html</link>
		<comments>http://blog.burhanshadiq.com/hak-cipta-buku-islam-perlukah.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 Mar 2008 01:28:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>burhanshadiq</dc:creator>
				<category><![CDATA[Perbukuan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.burhanshadiq.com/?p=344</guid>
		<description><![CDATA[Mengunjungi pameran buku Islam terbesar di Indonesia adalah sebuah hal yang mengasyikkan. Islamic Book Fair ke 7 ini merupakan perhelatan perbukuan islam terbesar yang sangat ditunggu para penggemar buku dan perajin buku islam tanah air. Acara yang diikuti oleh 200 penerbit ini nampaknya akan menjadi magnet luar biasa bagi ummat islam. Pameran ini juga diklaim [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mengunjungi pameran buku Islam terbesar di Indonesia adalah sebuah hal yang mengasyikkan. Islamic Book Fair ke 7 ini merupakan perhelatan perbukuan islam terbesar yang sangat ditunggu para penggemar buku dan perajin buku islam tanah air. Acara yang diikuti oleh 200 penerbit ini nampaknya akan menjadi magnet luar biasa bagi ummat islam. Pameran ini juga diklaim sebagai pameran terlama dan terbanyak pengunjungnya dibanding dengan Indonesia Book Fair dan Pesta Buku Jakarta.</p>
<p><a href="http://blog.burhanshadiq.com/wp-content/2008/03/dsc00256.JPG" title="dsc00256.JPG"><img src="http://blog.burhanshadiq.com/wp-content/2008/03/dsc00256.thumbnail.JPG" alt="dsc00256.JPG" /></a><a href="http://blog.burhanshadiq.com/wp-content/2008/03/dsc00257.JPG" title="dsc00257.JPG"><img src="http://blog.burhanshadiq.com/wp-content/2008/03/dsc00257.thumbnail.JPG" alt="dsc00257.JPG" /></a><a href="http://blog.burhanshadiq.com/wp-content/2008/03/dsc00258.JPG" title="dsc00258.JPG"><img src="http://blog.burhanshadiq.com/wp-content/2008/03/dsc00258.thumbnail.JPG" alt="dsc00258.JPG" /></a></p>
<p>Alasan saya mengunjungi pameran ini jauh-jauh dari Solo adalah keingintahuan saya tentang pasar buku islam nasional, sekaligus keinginan untuk mengikuti seminar tentang copy right di tempat yang sama. Setidaknya pameran ini bisa menjadi tolok ukur dominan apa yang sedang digemari oleh masyarakat. Tema apa yang sedang digemari, jenis buku apa yang sedang laris dan animo seperti apa yang muncul di publik buku Indonesia.</p>
<p>Beraneka macam penerbit berlomba menarik minat pembeli dengan tampilan stan yang memukau. Saya sempet terpesona dengan beberapa tampilan stan penerbit yang sangat cerdas. Tata interiornya dibikin mewah, lucu, unik dan bahkan ada pula yang sangat mencuri perhatian. Tapi penampilan yang keren itu nampaknya tidak kemudian serta merta menarik pengunjung untuk datang dan membeli buku mereka. Sementara itu ada pula yang stan yang mengandalkan tayangan teve sebagai penarik minat. Dengan teve lcd layar lebar, mereka mengundang para pengunjung untuk larut dalam acara yang dilihatnya. Umumnya para pengunjung tertarik datang, tapi juga tidak banyak dari mereka yang mengadakan transaksi jual beli.</p>
<p>Lalu kalau semuanya sepi penjualan, manakah penerbit yang laris manis? Penerbit yang laris manis justru penerbit yang bisa menguras kantong pembeli dengan alasan diskon gede-gedean. Buku-buku dengan kualitas masih sangat bagus, dijual dengan diskon 50 %, sebuah tawaran yang sangat menggiurkan.</p>
<p><strong>Copy Right, Kembali Pada Nurani dan Etika</strong></p>
<p>Sementara itu momen seminar hak cipta cukup menyisakan kesan indah juga. Menghadirkan dua pembicara, masing-masing berbagi pengalaman tentang hak cipta ini. Bagi penerbit Barat, hak cipta memang menjadi barang wajib. Mereka sangat teratur dalam persoalan ini. Bahkan mereka juga mengenal istilah renewal copy right, hak cipta buku-buku lama yang masih saja diperbarui terus.</p>
<p>Memang sempat ada pernyataan dari pembicara bahwa lembaga perbukuan timur tengah pernah menepis anggapan yang selama ini beredar bahwa atas nama dakwah penulis dan penerbit timur tengah tidak mengenal copy right. Mereka justru menegaskan bahwa angapan itu salah dan tidak benar. Sehingga urusan copy right ini harus segera ditertibkan.</p>
<p>Namun nampaknya penertiban ini tidaklah semudah yang dibayangkan. Problematikanya masih ruwet dan njlimet. Tidak semua penerbit Timur Tengah memahami kekuatan hukum dalam masalah hak cipta. Kadang penerbit Indonesia hanya mendapat ijin menerbitkan berupa tulisan tangan saja. Lebih parah lagi, satu buku yang penulisnya sudah meninggal, menyerahkan hak cipta kepada anak-anaknya. Padahal anaknya banyak sehingga banyak pula penerbit yang mendapatkan hak cipta itu dari buku yang sama. Parah, bener-bener parah.</p>
<p>Urusan hak cipta ini memang sangat rumit. Terutama hak cipta terkait dengan penerbit Timur Tengah. Banyak harapan kepada IKAPI untuk menyelesaikan hal ini agar tidak ada benturan antar penerbit gara-gara urusan copy right. Tetapi harapan itu mungkin hanya tinggal harapan karena pengurus IKAPI juga sibuk sendiri-sendiri dengan urusan masing-masing. Karena IKAPI hanya kumpulan penerbit, yang masing-masing terlibat dengan urusan penerbitannya masing-masing. Akhirnya persoalan ini dikembalikan kepada etika bisnis islam, dan hati nurani masing-masing untuk tidak menyengaja menerbitkan buku yang sudah dimiliki penerbit lain. Tapi kalau tidak sengaja, mungkin tidak mengapa.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.burhanshadiq.com/hak-cipta-buku-islam-perlukah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ketika Idealisme Tergiur Pasar</title>
		<link>http://blog.burhanshadiq.com/waduh-mirip-banget.html</link>
		<comments>http://blog.burhanshadiq.com/waduh-mirip-banget.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 Feb 2008 01:37:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>burhanshadiq</dc:creator>
				<category><![CDATA[Perbukuan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.burhanshadiq.com/?p=341</guid>
		<description><![CDATA[Gubraks! Saya menemukan sebuah kaver buku penerbit tetangga yang sangat mirip gayanya dengan imprint penerbit tempat saya bekerja, GRANADA. Stylenya sangat mirip dengan menggunakan border merah dan warna kontras hitam. Yang lebih mencengangkan lagi, temanya pun sama, yaitu tema akhir jaman. Otak saya langsung mengarah kepada sebuah istilah untuk menyebut fenomena ini, Me Too. Menciptakan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Gubraks! Saya menemukan sebuah kaver buku penerbit tetangga yang sangat mirip gayanya dengan imprint penerbit tempat saya bekerja, GRANADA. Stylenya sangat mirip dengan menggunakan border merah dan warna kontras hitam. Yang lebih mencengangkan lagi, temanya pun sama, yaitu tema akhir jaman. Otak saya langsung mengarah kepada sebuah istilah untuk menyebut fenomena ini, Me Too. Menciptakan produk mirip atau bahkan sama, hanya beda di merk dengan harapan bahwa konsumen akan mudah mengidentifikasinya. Terlebih lagi jika produk aseli yang ditiru lagi kosong di pasaran, mungkin produk me too bisa menggeser dan menutupi kebutuhan konsumen akan produk utama dia.</p>
<p>Memang tema akhir zaman hari ini cukup digandrungi konsumen. Karena mereka punya rasa ingin tahu yang sangat besar terhadap fenomena akhir zaman yang akan terjadi. Sejak awal pengusungan tema-tema seputar Dajjal, Akhir Zaman, Kiamat dan lain-lain, penulis kami, sempat mendapat kritikan pedas, lontaran isu yang menegangkan dan beberapa suara yang tidak sedap. Tapi kita nekad melangkah dan hasilnya buku itu sukses di pasaran. Kejelian dan keseriusan penerbit serta penulis menggarap tema ini akhirnya menjadikannya sebagai ikon penerbit fenomena akhir zaman. Resikonya penerbit kami sempet pula dicap pragmatis dan terlalu mudah menyederhanakan persoalan untuk urusan akhir zaman.</p>
<p>Jujur, tentu saja buku laris merupakan magnet besar bagi penerbit. Sehingga tidaklah mengherankan pula bila akhirnya penerbit yang sebelumnya tidak melirik tema ini akhirnya berbondong-bondong menerbitkan buku yang sama. Bukan masalah, bukan juga dosa atau bahkan salah. Ini hanya sebuah fenomena pasar saja, bahwa idealisme sebuah penerbit seringkali harus bermain mata dengan kondisi pasar yang berubah selera. </p>
<p>Sebuah penerbit kadang punya proyek-proyek ideologis dalam penerbitannya. Selain menebritkan buku populer yang harus laris, mereka juga menerbitkan buku yang tidak peduli pasar yang penting dibutuhkan ummat. Sehingga dilakukan subsidi silang, hasil penjualan buku populer digunakan untuk membantu buku-buku ideologis yang tidak begitu laku di pasar. Sehingga arah kemudi penerbitan buku populer harus dibelokkan atas nama keinginan pasar, agar bisa mensubsidi proyek-proyek idealisme yang lain. Tapi kalau seandainya proyek buku idealisme pun juga harus digeser karena tuntutan pasar, au ah apa jadinya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.burhanshadiq.com/waduh-mirip-banget.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Seni Bertahan Hidup ala Penerbit Kecil!</title>
		<link>http://blog.burhanshadiq.com/seni-bertahan-hidup-ala-penerbit-kecil.html</link>
		<comments>http://blog.burhanshadiq.com/seni-bertahan-hidup-ala-penerbit-kecil.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 16 Feb 2008 03:30:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>burhanshadiq</dc:creator>
				<category><![CDATA[Perbukuan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.burhanshadiq.com/?p=318</guid>
		<description><![CDATA[Tren perbukuan Islam di Solo mulai merangkak naik. Dinamikanya menjadi semakin asyik ketika muncul mahluk baru bernama LISENSI. Saya pernah dikatain, eh kok ga enak banget diksinya, dituduh, halah ini juga ndak enak, dianggap PARANOID, gara-gara bertanya tentang soal lisensi kepada seorang teman penerbit tetangga. “Kok kamu jadi paranoid?” Sepurane cak, kalau saya terkesan jadi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tren perbukuan Islam di Solo mulai merangkak naik. Dinamikanya menjadi semakin asyik ketika muncul mahluk baru bernama LISENSI. Saya pernah dikatain, eh kok ga enak banget diksinya, dituduh, halah ini juga ndak enak, dianggap PARANOID, gara-gara bertanya tentang soal lisensi kepada seorang teman penerbit tetangga. “Kok kamu jadi paranoid?”</p>
<p>Sepurane cak, kalau saya terkesan jadi parno gituh. Maksud saya bertanya sebenarnya lebih kepada pensikapan secara teman teman penerbit di Solo. Apakah mereka kemudian akan mengambil langkah yang sama berduyun-duyun ke Cairo untuk berburu lisensi. Kemudian apakah para pemegang lisensi akan melakukan pelarangan terhadap teman penerbit lain yang memiliki naskah aseli yang sama.</p>
<p>Aseli! Masalah ini memang masih simpang siur. Kalau orang-orang Jakarta bilang memang sebaiknya semua komponen mendukung upaya hak cipta baik penerbit kecil maupun penerbit gede. Tapi sayangnya tidak semudah itu. Apalagi untuk penebrit kecil macam punya kantor saya. Duit minim, kemampuan juga belum ada. Sementara masih banyak pekerjaan rumah yang cukup banyak. Hari ini memang masih dipahami bahwa buku-buku Islam diperuntukkan untuk dakwah. Sehingga menyebarkannya adalah juga untuk kepentingan dakwah. Sementara masih banyak penulis aseli di sono yang tidak begitu berhadap royalti manakala tulisannya dicetak di luar negeri. Diterbitkan saja, mereka sudah sangat gembira. Hal ini nampak pada kasus Syaikh Aidh Al Qarni.</p>
<p>Lalu bagaimana respon penerbit kecil tanpa lisensi? Penerbit tetangga yang lain mensiasati dengan tetap mencetak buku yang sama meski dilisensi. Karena mereka sudah terlanjur membeli dalam jumlah banyak dan kemudian akan merugi besar kalau tidak dicetak. Sementara penerbit yang lain ada yang malahan mencari lisensi tandingan. Kalau penerbit A mendapat lisensi dari penulis, maka penerbit B akan menghubungi penerbitnya. Sehingga keduanya merasa berhak menerbitkan. Kalau sudah begini ruyamlah jadinya.</p>
<p>Nah, opsi menarik yang kudu diambil adalah melihat fenomena lisensi ini  sebagai sebuah peluang untuk berpikir kreatif. Kalau mengikuti arus lisensi duit mana cukup, maka harus memutar otak untuk tetap berproduksi. Secara nama pengarang sekarang juga bukan jaminan buku laris di pasaran, apalagi cuman mengandalkan romantisme nama penerbit yang kadang hilang ditelah jaman.</p>
<p>Lisensi juga tidak murah. Tak aneh bila para pemegang lisensi akan berang manakala buku yang lain muncul duluan dan laris di pasar. Sebut saja kasus My Jihad antara Hikmah dan GIP. Sebut juga kasus La Tahzan antara Qisthi dan At Tibyan. Satu buku bisa berkisar antar 100 hingga 1000 dollar amerika. Buku semahal itu pun belum menjamin akan laris manis di pasaraan Indonesia. Kecuali kalau ia agak curang dengan menembak buku yang terbukti sudah laris di pasar kemudian diusahakan lisensi terbitnya dan diakuisisi hak kepemilikan terbitnya. Pokil memang!</p>
<p>Maka siasat penerbit kecil adalah lebih cerdas membidik market. Pasar butuh apa, cari sumber naskah yang bagus, bukan untuk diterjemah, tapi didekonstruksi menjadi buku baru yang lebih berasa lokal. Bukan menjiplak, tapi hanya mendekonstruksi yang sudah ada dan kemudian tampil dengan nama pengarang lokal. Terang saja, langkah ini lebih memungkinkan untuk bertahan di era persaingan. Beberapa penerbit kecil senasib dengan saya pun sudah melakukannya. Bagaimana dengan Anda?</p>
<p>Burhan Sodiq<br />
Penulis Buku Islam Remaja <br />
&amp; Praktisi Buku Islam Lokal</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.burhanshadiq.com/seni-bertahan-hidup-ala-penerbit-kecil.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Antara Tren dan Kecenderungan Buku</title>
		<link>http://blog.burhanshadiq.com/antara-tren-dan-kecenderungan-buku.html</link>
		<comments>http://blog.burhanshadiq.com/antara-tren-dan-kecenderungan-buku.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Nov 2007 07:00:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>burhanshadiq</dc:creator>
				<category><![CDATA[Perbukuan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.burhanshadiq.com/?p=212</guid>
		<description><![CDATA[Menarik menyimak makin banyak orang melirik usaha penerbitan buku. Namun, banyak juga yang meraba-raba peruntungan mereka di dalam dunia buku yang terkadang didirikan hanya bermodalkan semangat berjualan buku. Kini, para penerbit buku teks mulai melirik peluang di buku-buku umum. Para penerbit buku umum non-Muslim, melirik peluang di buku-buku Islam. Industri buku makin berisikan varian-varian sehingga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Menarik menyimak makin banyak orang melirik usaha penerbitan buku. Namun, banyak juga yang meraba-raba peruntungan mereka di dalam dunia buku yang terkadang didirikan hanya bermodalkan semangat berjualan buku. Kini, para penerbit buku teks mulai melirik peluang di buku-buku umum. Para penerbit buku umum non-Muslim, melirik peluang di buku-buku Islam. Industri buku makin berisikan varian-varian sehingga muncul tren melahirkan imprint di beberapa penerbit buku besar.</p>
<p>Saya selalu mencoba membedakan tren dan kecenderungan. Dalam banyak hal, kita tidak bisa membedakan mana tren dan mana kecenderungan. Di dalam buku Mindset, John Naisbitt yang diterbitkan oleh Dastan Book terlihat cara pandang Naisbitt terhadap kecenderungan dan tren. Saya coba membedah dari sisi industri buku. Ketika Penerbit Pena melahirkan buku Khadijah dan laku keras maka beberapa penerbit pun mengikuti suksesnya. Lalu, disebutlah bahwa buku-buku bertema istri Rasulullah saw. ini, terutama Khadijah dan Aisyah menjadi tren dunia perbukuan Islam di Indonesia. Ini bukan tren, ini adalah kecenderungan yang dihidupkan sendiri oleh para penerbit. Sama halnya dengan buku Misteri Shalat Subuh yang kali pertama diterbitkan oleh Aqwam yang disusul dengan buku-buku lainnya. Apa yang terjadi bukanlah tren masyarakat Muslim Indonesia sedang gandrung shalat subuh, yang pasti ini adalah kecenderungan penerbit membedah beberapa rahasia shalat&#8230;.</p>
<p>Tren bisa dibaca dari kebutuhan dan keinginan yang berlaku pada masyarakat. Saat ini, harga laptop makin terjangkau dan merek-merek baru bermunculan di pasar Indonesia, seperti Lenovo, Benq, atau Zyrex. Telah terjadi kebutuhan akan laptop, termasuk di kalangan mahasiswa yang juga didorong kemunculan hot spot (online internet gratis) di mana-mana. Memiliki dan menggunakan laptop menjadi tren. Karena itu, penerbit yang jeli, seperti kelompok Agro Media, pun menerbitkan buku-buku tentang laptop. Penerbit tersebut memanfaatkan tren yang ada dalam masyarakat, bukan kecenderungan.</p>
<p>Lalu, apa tren buku sekarang? Tren berarti terlihat secara lebih luas sehingga kita bisa sebutkan bahwa tren buku sekarang adalah:<br />
1) buku-buku bertema spiritual; 2) buku-buku bertema bisnis dan entrepreneurship; 3) buku-buku bertema self-development; 4) buku-buku bertema how to atau life skills. Kecenderungan buku-buku spiritual Islam ke mana? Sekarang mungkin sedang cenderung membahas Shalat, Aliran Sesat, Terapi atau Tibbun Nabawi, Novel Spiritual Romantis, dan sebagainya. Tren dibaca dari perubahan yang terjadi pada masyarakat kita serta hal-hal yang ingin mereka ketahui dan kuasai.</p>
<p>John Naisbitt dalam Megatrends sempat menyebutkan:<br />
&#8220;Kelak editor tidak akan memberi tahu kita apa yang harus kita baca. Akan tetapi, kita yang akan memberi tahu editor apa yang ingin kita baca!&#8221;<br />
Perubahan itu tengah terjadi dan pasukan redaksi (editorial) di penerbit harus bisa melihat tren dan kecenderungan ini secara bersamaan. Lalu, perhatikan buku-buku asing dalam kurun waktu terakhir ini. Terkadang tercantum tim editor yang terdiri atas Acquisition Editor, Development Editor, dan Copy Editor. Dahulu, hanya ada satu yang disebut editor, kini ada tiga jenis. Dua yang pertama adalah pilar yang mampu memosisikan penerbit sebagai TREN SETTER.</p>
<p><strong>Belajar Banyak dari Agro Media Group</strong></p>
<p>Saya mengamati pergerakan Agro Media Group (Gagas Media, Wahyu Media, Qultum Media, Kawan Pustaka, Tren Media, Visi Media) sebagai kelompok yang paling atraktif membaca keinginan pasar saat ini. Saya terkadang mengangguk-angguk melihat debut mereka menerbitkan buku sebelum orang lain terpikir. Ada buku bagaimana mengurus sertifikat tanah, ada buku kumpulan lagu-lagu dangdut populer (dulu mana ada yang mau menerbitkannya! ), bagaimana menggunakan Macintosh aplikasi Mac-OS Tiger, bisnis jual-beli mobil, bisnis jual-beli motor, sampai kepada antherium.</p>
<p><strong>Saya juga mengamati pergerakan teman-teman penerbit Muslim di Solo. Meskipun dianggap kecil, mereka memiliki daya dobrak pasar yang kuat karena punya basis naskah yang kuat. Mereka pun pintar membaca keinginan pasar dari mulai soal shalat, soal keluarga, hingga soal-soal motivasi ala Islam.</strong></p>
<p>Saya mengamati juga pergerakan para pembesar penerbit, seperti Kelompok Gramedia, Mizan, GIP, dan Erlangga, yang juga tidak mau kalah pamor berpacu dengan buku-buku pencetak hit. Kekuatan para pembesar ini ada pada jaringan penulis mapan, dari mulai kelas lokal hingga internasional dan umumnya punya nama serta reputasi. Kadang para pembesar goyah juga menghadapi serbuan buku-buku penerbit baru maupun kelas 2. Kecepatan dan kejelian menjadi faktor penentu. Keakuratan tidak terlalu penting sehingga jangan heran jika banyak penerbit baru ataupun penerbit kelas menengah yang hasil terbitannya muncul dengan editing kacau balau.</p>
<p><strong>SDM Penerbit, Makhluk Mahal</strong></p>
<p>Alhasil, ujungnya kekuatan penerbit ada pada siapa di balik semua itu? Kekuatan utama penerbit sebagai intangable asset ada pada gagasan (property right). Dan siapa pemilik gagasan-gagasan brilian tadi? Merekalah tenaga-tenaga muda penerbit yang punya semangat dan motivasi besar kini untuk bertarung dalam industri kreatif perbukuan. Mereka tadinya (beberapa di antaranya) adalah tenaga-tenaga yang tidak punya tujuan dengan ilmu yang dikuasainya secara akademik, tetapi mereka cinta baca dan cinta buku. Mereka menjadi bersemangat dan berenergi luar biasa ketika bersentuhan dengan dunia yang awalnya sangat misterius itu. Kini mereka menikmati bekerja di penerbit, menikmati plesiran ke luar negeri karena ada even perbukuan internasional, dan menikmati bertemu dengan orang-orang (para penulis) yang sebelumnya tak terbayangkan oleh mereka.</p>
<p>Mereka menjadi dicari. Sebagian berhenti dari satu penerbit, menclok di penerbit lain.</p>
<p>Para pemimpin penerbit sekarang dan yang akan datang, juga termasuk orang-orang masa depan yang punya peran mengubah karakter bangsa ini lewat buku. Kini para pemimpin penerbit rata-rata merupakan generasi kedua penerbitan buku di Indonesia yang siap berkiprah dengan cara lain daripada pendahulunya. Ada yang benar-benar siap menerima tongkat estafet, namun banyak juga yang merasa keberatan karena dunia buku bukanlah dunia mereka.</p>
<p>***<br />
Saya berusaha menyimak dinamika industri buku ini sambil menyiapkan beberapa judul buku basic tentang penerbitan buku. Kini, di milist pasarbuku ini pun banyak dinamika yang berkembang. Awalnya milist ini penuh dengan wacana-wacana segar tentang perbukuan Indonesia. Namun, ke sana-sana, milist ini jadi lebih dominan buat dagang dan promo buku. Tentu tak salah karena nama yang dipilih dari awal oleh Wien dkk adalah pasarbuku.</p>
<p>Sekali-sekali saya coba ramaikan dengan wacana lain seperti Fenomena Yusuf Agency dan Bisnis Buku Long Tail. Harus ada kaum muda dan kaum profesional perbukuan yang menjaga terus milist ini dengan wacana lain, seperti Wartax, Mula Harahap (apa kabar Bang Mula?), Tanzil, dan banyak lagi yang lainnya&#8230; Semoga mencerahkan, terima kasih.</p>
<p>Salam buku,</p>
<p><strong>Bambang Trim<br />
praktisi perbukuan nasional</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.burhanshadiq.com/antara-tren-dan-kecenderungan-buku.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Majalah Gratis Karya Anak Negeri!</title>
		<link>http://blog.burhanshadiq.com/adu-mainan.html</link>
		<comments>http://blog.burhanshadiq.com/adu-mainan.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 22 Aug 2007 08:57:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>burhanshadiq</dc:creator>
				<category><![CDATA[Perbukuan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.burhanshadiq.com/?p=148</guid>
		<description><![CDATA[Nah, kalau ini juga lumayan rumit. Majalah yang satu ini bikin gemes. Naskah ada yang lum kelar hingga kini. Sang pengisi rubrik lagi memenuhin panggilan tugas, dakwah di pulau seberang di tengah samudera. Idenya mo nampilin mainan. Awalnya mo pake warna orange. Tapi kayaknya ngga cocok. Inilah jadinya. Cantik ngga? Menurut saya sih cantik&#8230;kayak siapa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Nah, kalau ini juga lumayan rumit. Majalah yang satu ini bikin gemes. Naskah ada yang lum kelar hingga kini. Sang pengisi rubrik lagi memenuhin panggilan tugas, dakwah di pulau seberang di tengah samudera. Idenya mo nampilin mainan. Awalnya mo pake warna orange. Tapi kayaknya ngga cocok. Inilah jadinya. Cantik ngga? Menurut saya sih cantik&#8230;kayak siapa ya..hihihi<a href='http://blog.burhanshadiq.com/wp-content/2007/08/edisi-18-400.jpg' title='edisi 18'><img src='http://blog.burhanshadiq.com/wp-content/2007/08/edisi-18-400.jpg' alt='edisi 18' /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.burhanshadiq.com/adu-mainan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

