
Tawuran. Dua kelompok beradu kekuatan, saling mencederai bahkan hingga mati pun akan dilakukan. Kelompok masjid dengan kelompok preman. Berita di koran simpang siur membingungkan. Siapa yang pertama memulai semua gelap dan sangat rawan pemutarbalikan fakta dan data. Kusumodilagan, sebuah kampung yang terkenal dengan pasar besi tuanya. Berada di sudut tenggara kota Solo. Seorang preman mati, seorang lagi masih koma di ruang perawatan.
Televisi, koran memberitakan semua terjadi karena pengeroyokan. Kabar yang santer menyebutkan puluhan pemuda masjid menyerbu sebuah kampung, dan warga melakukan perlawanan. Anehnya, buat apa mereka menyerbu, kenapa alasan tidak disebutkan. Sementara pihak warga (atau seseorang yang mengaku mewakili warga) mengadu ke koran lokal bahwa semua memang terjadi karena serangan dari pemuda masjid.
Versi dari pemuda masjid hampir sepi pemberitaan. Hanya selentingan kabar menyebutkan bahwa mereka membela diri karena masjid akan diserang. Versi ini juga aneh, karena alasan penyerangan sekali lagi tidak disebutkan. Wartawan-wartawan peliput berita selalu saja menganggap kita ini bodoh. Pemberitaan yang tidak rinci dan jeli sangat rawan untuk disimpulkan dan dikomentari. Kabar terakhir saya dengar, banyak akhawat dan ummahat yang diungsikan, karena khawatir ada aksi tawuran susulan. Solo memang beda. Solo berseri, tapi tidak berseri dari kemaksiatan. Dan ummat islamnya sangat beda dengan kota lainnya. Mudah disulut dan sangat semangat dalam mengusung panji jihad atas nama Islam.