Category: Catatan Perjalanan

Masih Berani Mencintai?

3 Comments

July 3, 2007 at 9:12 amCategory:Catatan Perjalanan

Seorang panelis bedah buku menanyakan itu kepada saya. “Apakah pak Burhan masih berani mencintai dan dicintai?” Saya cuma cengar cengir saja, karena menurut saya itu hanya joke penghibur suasana saja. Lagi pula apa ya masih ada yang berminat, dengan tubuh segendut dan sehitem dan sejerawatan ini? Hehehe. Panelis itu adalah ibu Anggraeni, seorang dosen candidat doktor di Psikologi Unisula.

Acar berlangsung sangat seru. Saya diguyur pujian seperti orang hebat. Padahal cuman biasa-biasa saja. Malahan beliau merekomendasikan bedah buku ini dilakukan di setiap fakultas yang ada di Unisula. Acara menjadi lebih kocak lagi karena moderatornya emang pinter ngeles meski masih terasa aroma grogi di sana. Terima kasih buat mas Mahfud ‘Arwana’ yang sudah mempromosikan buku saya kepada peserta. Karena hanya membawa buku 15 biji saja, dalam hitungan detik sudah habis terjual. Malahan mereka meminta tanda tangan juga. Eleh..eleh…kaya selebritis saja euy…

Pulang bareng pak Trie, beli bandeng presto yang uenak tenan! Mampir makan di batang prasmanan yang super murah, 25 000 untuk empat orang. Dan sampe di rumah setengah lima, karena menjemput istri dan anak-anak pak win. Ahad yang mengesankan!

Dari Aura Sampai Laptop Mati

2 Comments

June 19, 2007 at 8:26 amCategory:Catatan Perjalanan

laptop1Ahad kemarin saya ke UNES. Ini adalah kali pertama saya berkunjung ke kampus yang berada di Ungaran itu. Keperluannya untuk menjadi pemateri sebuah kajian muslimah, Agar Auramu Mempesona. Saya sempet merasa dikerjai panitia, karena hingga satu hari menjelang hari H saya belum diberi tahu kepastiannya. Tetapi ternyata hal itu karena aspek ketidak-sengajaan saja karena mungkin mereka sangat sibuk.

Saya berangkat jam 06.30 dari rumah kontrakan. Anak-anak rewel, nangis semalaman karena sariawan yang mereka derita. Saya melunur ke terminal, mencari jasa bus Patas AC yang bisa mengantarkan saya ke tempat tujuan. Akhirnya saya menupang bus APOLLO, tarifnya 20 000. Perjalanan lancar, sampai di Ungaran pukul 08.30 WIB. Dari sini semuanya lancar-lancar saja, hingga akhirnya saya dijeput oleh seorang panitia.

Saat perjalanan, ternyata Allah kasih ujian. Ban kendaraan yang kami tumpangi bocor. Terpaksa tertunda sejenak hingga akhirnya terdapat motor pengganti. Sampai di UNES saya cukup terkejut. Karena ternyata kampus ini harus dijangkau dengan perjalanan cukup jauh dari jalan raya besar. Karena saya tidak lewat gerbang depan, maka saya hanya mendapati pemandangan gedung-gedung perkualiahan yang usianya sudah cukup tua. Saya diampirkan panitia ke sebuah masjid kecil yang menjadi sekretariat mereka. Masjidnya mungil, lucu dan enak. Di depannya terdapat tenda-tenda mahasiswa UNES yang sedang melakukan sebuah training leadership.

Wow! Laptop Mati
Jam 10 saya bersiap, karena sesi saya kudu segera dimulai. Saya masuk ruangan, dan memang benar tak ada hijab. Saya bak dosen kampus, duduk di depan kelas dengan audience all akhwat. Semuanya akhwat kecuali saya dan moderatornya. Bagi saya ini satu hal yang baru. Karena selama ini majelis akhwat yang saya datangi selalunya dikasih tabir. Sehingga saya tidak tahu apakah mereka mendengarkan saya, gojek sendiri atau malahan ada yang ngerasani saya. Hehehe. Sayangnya saya sempet grogi juga karena diliatin sekian banyak akhwat. Yach namanya juga majelis akhwat, masak dipandang ikhwan.

Acara cukup bisa saya kendalikan, meski saya juga merasa terlalu cepat menyampaikan. Beberapa pertanyaan sempat pula diajukan, dan alhamdulillah saya bisa menjawabnya. Meski saya juga tidak tahu apakah penanya puas atau tidak. Sesi materi pun berakhir. Saya sempat mengalami blank saat lap top yang saya gunakan mati di tengah sesi. Saya cukup panik tapi ternyata cuman kehabisan batere. Duh Jadul banget saya yaks. Sukses buat temen-temen di UNES, semoga selalu menjadi muslimah yang cantik dan produktif!

Nulis Cinta Universal dong…(Maksoed loehh…)

No Comments

June 12, 2007 at 9:29 amCategory:Catatan Perjalanan

bendera indonesiaIni adalah sebuah catatan perjalanan yang lumayan mengasyikkan. Ahad tanggal 10 Juni 2007, saya berkesempatan mengisi sebuah kajian dan bedah buku, Ya Allah Aku Jatuh Cinta di masjid An Nahl Solo. Masjid ini letaknya cukup dengan dengan ponpes Al Mukmin Ngruki yang terkenal itu. Acara ini diselenggarakan oleh MII, sebuah madrasah ibtidayiah islamiah setempat yang beranggotak mayoritas akhwat.

Kalau tidak salah ini adalah bedah buku kelima yang telah saya lakukan sejakbuku saya diterbitkan. Acara berlangsung cukup lancar hanya ada beberapa gangguan pada sound systemnya. Berbeda dengan bedah buku sebelumnya, kali ini saya sempet nervous alias gugup. Di depan saya langsung jamaah akhwat yang bisa memandang saya kapan saja. Sementara kayaknya saya nggak siap untuk beradu pandang semacam ini.

Ada sebuah pertanyaan menarik yang saya dapatkan pada sesi tanya jawab dari seorang akhwat. Akhwat itu menyatakab bahwa buku saya terlalu ABG, bahkan menurutnya sangat ABG sehingga tak lagi cocok buat dia. Dia malahan meminta saya menulis buku yang temanya tentang cinta yang lebih universal seperti cinta terhadap tanah air atau nasionalisme. Kemudian dia juga memprotes buku saya, karena hanya menyajikan satu solusi bagi orang-orang yang saling jatuh cinta dengan menikah, karena menurutnya ini sifatnya memojokkan paa pelaku cinta.

Memang setiap bedah buku yang saya lakukan selalu menimbulkankesan tersendiri dan saya suka itu. Any other invotation? Ceile…

I my room, (gayane…)
pagi pagi

Atikah Sakit…

No Comments

June 6, 2007 at 8:57 amCategory:Catatan Perjalanan

logo rs

Hari Sabtu 2 Juni 2007 my daughter, Atikah Aqila sakit panas. Luar biasa panasnya, turun sebentar terus sakit lagi. Akhirnya saya bawa ke RS PKU Muhammadiyah SOLO. Sekedar info saja, di kontrakan saya memang banyak yang kena demam berdarah, bahkan ada yang meninggal. Jadi saya sangat khawatir kalau anak kena panas beberapa hari.

Siang itu saya boncengin my lovely wife dengan menggendong Atikah. Sementara si kecil Aisy, kudu ikut tetangga yang baik hati dulu. Inilah repotnya. Sampai di RS PKU saya langsung masuk ke UGD. Bagi Anda yang belum pernah ke PKU Muhammadiyah SOLO, Anda akan dikenai charge 12000 rupiah sebelum masuk kamar UGD. Anak saya dicek sama ibu suster dan kemudian saya ketahui panasnya 37 derajat celsius. Datanglah seorang dokter dengan wajah bernuansa datar. Tanya-tanya kondisi anak sama istri, saya sempat ikutan ngejawab, tapi dokter itu meminta saya untuk tidak menyela.

“Berapa hari panasnya bu? Udah dikasih obat apa? Parasetamolnya berapa sendok? Cemani ya? Periksa darah ya.” Cukup seperti itu dialognya.

Tueng! Saya tambah deg degan. Ya Allah, semoga anak saya tidak kena DB. Akhirnya saya bawa anak saya ke lab. Saya diminta naik ke atas dipan untuk memegangi anak saya agar tidak berontak. Duh kasihan, Atikah disuntik lengannya. Nah untuk cek darah semacam ini dan tes golongan darah, Anda akan dikenai charge 50 an ribu rupiah. Saya balik ke dokter itu dan dokter itu memberi resepnya. Saya ke apotik Kondang Waras Pasar Kembang. Duh lama sekali nunggunya. Hampir satu jam lebih. Resep saya diminta, saya dipanggil untuk nebus bayarannya, dan saya kudu nunggu obat itu diracik. Untuk jasa ini saya harus merogoh kocek 49 ribuan.

Sampai di rumah obat saya minumkan, tiga botol syrup dan satu bentuk puyer. Alhamdulillah sekarang Atikah sudah sehat. “Bah, Mbak Tika dah ga pusing lagi wok…” Alhamdulillah Ya Allah. Terimakasih atas segala nikmat yang telah Engkau beri kepada kami.

Oleh_Oleh Dari IPHI Baron Solo

No Comments

May 26, 2007 at 3:31 pmCategory:Catatan Perjalanan

Hari ini pas kebangkitan nasional. Aku udah lupa hari apa itu. Tadi pagi sempet mengikuti sebuah acara bedah buku sebuah penerbit rekanan di solo. Kb islami begitu judulnya. Sayangnya buku yang akan dibahas justru untouchable, nggak disentuh sama sekali. Dua pembicara yang dihadirkan asyik dengan makalahnya, seolah tidak menghiraukan isi buku. Jadi keinginan saya untuk mengetahui apakah buku itu baik, memiliki kelebihan apa saja, kenapa harus dibeli, apakah ada buku sejenis, kenapa penulis menulis buku ini, adakah kontroversi dari buku ini, adakah sisi lemah buku ini, adakah bla bla bla…
Sama sekali saya nggak dapetin itu. Akhirnya saya memutuskan pulang lebih awal. Di samping karena anak rewel, meski baru dua, saya memutuskan untuk pulang saja. Saya tidak bisa menikmati acara itu. Mungkin kalau boleh saya usul, pembawa acara, moderator bisa lebih sounding, sehingga acara bisa lebih nikmat diikuti, tidak dengan nada datar yang tidak begitu diperhatikan.

Oleh-oleh Dari Jakarta

No Comments

May 26, 2007 at 2:19 pmCategory:Catatan Perjalanan

Dua hari yang lalu saya mengikuti seminar di hotel Aston Jakarta. Seminar ini bertajuk Membangun penerbit masa depan. Dari judulnya saja pasti sudah ketebak kalau seminar akan banyak bicara tentang buku, buku dan buku. Bersama saya ada dua orang, Pak Tri dan Mas Toni the King Ardan. Berangkat dari Solo Senin pagi 20 mei 2007 bersama beberapa orang yang lain. Kita serombongan naik Xenia milik kantor yang sudah penuh dengan penumpang.

Saya yang bertubuh cukup tambun ini nampaknya selalu menghabiskan tempat.
Perjalanan ini cukup menarik karena memang baru kali ini saya mendapatkan kesempatan tugas dinas (ceile kayak PNS aje) ke luar kota. Sejak dulu jadi reporter mq, malah saya baru sekali kedapetan tugas dines.

Kami sempet mampir di sebuah warung soto, maklum saat itu pak Tri belum makan pagi. Kita mapir di warung soto bu Giyem, itu kalo saya ngga lupa, kayaknya namanya itu. Sotonya enak. Dan kayaknya semunya juga sepakat dengan pendapat saya. Perjalanan dilanjutkan dengan laju kecepatan sedang. Sampe di purwokerto perut mulai beraksi lagi. Keroncongan, ga tahu sejak kapan perut laper disebut keroncongan. Mampirlah kita ke sebuah rumah makan spesial kepiting. (dari tadi makan terus perasaan deh..Emang!) Rumahmakannya lumayan tersembunyi, tapi dalemnya cukup luas. Bahkan terdapat beberapa binatang piaraan lucu banget, dari burung ampe segala iguana ada.

Kami memesan makanan, dan saya paling doyan kalau disuruh makan (ngaku bangetz yah…) Saya pesan makanan yang sudah lama sekali nggak pernah saya makan karena takut harganya. Kepiting! Yap, saya pesan kepiting crispy, wow dari nama menunya saja udah bikin ngiler. Minumnya? Karena perut agak brekele maka saya minum es sprite saja biarbisa bersendawa. Nunggunya lumayan bikin bete (butuh tempe dan kawan-kawannya…) Pantesan saja kalau di kanan kiri saung makan terdapat mainan ayunan dan berbagai mainan lain. Rupa-rupanya pengelola sangat paham bagaimana mengatasi kejenuhan menunggu makan siang dihidangkan.

Setelah kenyang dengan menu spesial saya dan kawan-kawan melanjutkan perjalanan. Sampe di jakarta sudah gelap. Kami mencari penginapan tuk bermalam. Sebuah hotel, Maxim namanya, cukup keren rupanya. Kami merasa sudah aman dan nyaman segera bersiap merebahkan diri di pembaringan.Ternyata dugaan saya keliru besar. Maxim sudah habis terpakai sisa satu kamar itu pun sudah dipesan. Nasib serupa kami alami saat mengunjungi beberapa hotel lainnya. Setelah hampir tidak semangat, kami memaksa diri untuk menanyakan tarif Ibis. (Duh mahal ga usah diceritakan ajah yah) Akhirnya kami menemukan satu hotel, CS namanya. Murah dan cukup menghibur. Untuk dua hari di jakarta nampaknya cukuplah buat oleh-oleh cerita.

Day # 1
Hari pertama seminar kami tiba paling duluan. Setelah registrasi kami akhirnya masuk ke ruangan. Memilih tempat duduk dan duduk manis di barisan ke dua. Kami sempet wira wiri kencing di kamar mandi. (wah kayaknya ngantuk nih, bobok aja ah…besuk agi dilanjutin…)

Sesi pertama diisi oleh hikmat kurnia bos agromedia group dan hernowo sag pengikat makna serta bambang trim bosnya mqs publishing. Semuanya bos-bos, mereka juga dari bawah, sebagai copy editor. Seru deh! Tapi yang jelas nggak banyak hal yang baru, hanya masalah penerbitan yang sudah pernah saya terima dulu. Saya sempet nanya pas sesinya pak Hikmah Kurnia, dan Pak Hernowo. Adahal yang menarik yang saya tanyakan seputar penjudulan yang memakai bahasa inggris katanya sih tidak berpengaruh.

Day # 2
Saya hari kedua lumayan santai. Kali ini materi yang akan disampaikan seputar marketing dan desain. Marketing disampaikan oleh pak Antonius orang Agromedia juga, gaya penyajian beliau datar banget, ga pake alat bantu apapun kecuali makalah yang sederhana banget. Hem seminar nasional gitu loh. Sesi kedua lumayan heboh karena disampaikan oleh Andreas Harefa. Orang ini emang luar biasa banget. Saya terkesima benar dengan apa yang disampaikan gayanya santai. Saya terkesan deh ama cara dia ngasih presentasi. Sesi ketiga bakda duhur lebih heboh lagi disampaikan oleh andhi yuda. Dia lebihkocak, maklum juara dongeng tapi jago desain. Orang Mizan yang sangat asyik karena sama sekali ga jaim ama audience. Dia sangat larut dalam materinya. Salut deh buat bang andhi yuda.
Sesi terakhir ngobrol bareng pengurus IKAPI DKI Jaya, awalnya saya agak pesimis soalanya situasi ga ngdukung banget. Capek mua dan ga ada hal yang bikin seger. Tapi acara diskusilumayan jalan, saya sempet minta mic dan bicara. Apa yang akan dilakukan oleh IKAPI untuk menyenggol nonanggota IKAPI, tapi jawabannya kurang memuaskan.

Thanks Arafah Group dah berangkatin saya ke acara itu!
Moga lebih produktif!

Cinta Sejati: Sebuah Pelajaran dari Bedah Buku

23 Comments

May 16, 2007 at 9:11 amCategory:Catatan Perjalanan

Ahad pagi tanggal tiga belas mei dua ribu tujuh. Berkemas mempersiapkan diri mengisi sebuah kajian buku dengan tajuk NGOBROL BARENG BURHAN SODIQ, KING ARDAN dan NAKAS ABEE. Bawa pasukan full team, ummah dwi, si lucu atikah dan si mungil aisyah. Pukul 09.30, acara belum dimulai. Sesaat setelah itu, mas Noval yang bertugas sebagai MC dan moderator langsung mengambil alih posisi. Duduk bertiga di depan panggung yang sudah disetting keren dan cool gitu. Akhirnya acara pun dimulai. Saya menunggu di depan kasir. Acara dialog lumayan seru. Rafa sempat mendapat kritik lumayan pedas, tapi pedasnya enak seperti kalau makan rujak kali ya. Produk-produk RAFA diharapkan bisa menjadi icon distro Islami, dan kami akan mengiyakan itu. Menjadi sebuah icon anak muda islam yang tanggap perubahan dan kreatif memandang masa depan. Cuman yang cukup pedas adalah RAFA dianggap kurang perfeksionis dalam masalah pemilihan bahan dan eksekusi akhir produk. Dia gagal menyajikan sebuah produk yang oke keren dan ekslusif. Bahkan menurut seorang penanya yang datang dari Jepara itu, RAFA terkesan sekedar memanfaatkan asas manfaat. Sehingga sentuhan akhir sebuah produk dinilai kurang ekslusif.

“Keren!” saya bilang. Jarang ada pengunjung toko buku Arafah yang memiliki kritik setajam silet, halah…Ini adalah input yang sangat bagus, kayaknya perlu diagendakan menjadi sebuah rapat serius, kalau perlu nginep di vila tawangmangu, asalkan aku tidak sakit lagi. Menggagas business plan RAFA menyongsong era distro islami. Saya manggut-manggut di belakang meski ga terlihat manggut-manggut wong leher saya nggak keliatan tertutup lemak semuan. Hehehe.

ITS MY TURN, SHARE YOUR LOVE!
Sejam berjalan, diskusi semakin hangat. Cuaca di luar lumayan panas,, bikin gerah hati dan badan. Koko bbru dongker favorit saya, karena yang lain ga ada yg layak buat ngisi seminar or bedah buku menjadi saksi betapa keringat saya bercucuran saat itu. Teng! Langsung inget ama mas Topik. “Ouei Pik, Kipas anginnya mana? Di depan ga ada kipas angin tuh.” Problem klasik, orang segendut saya memang sangat akrab dengan kipas angin.
Saya liat jam di hape sudah 10.30. I have no much time, akhirnya presentasi saya persingkat. Tapi seneng juga karena saya sempet baca puisi, meski ga semerdu si burung merak, padahal perasaan burung merak ga ada suaranya deh. Saya nekad baca puisi yang ada dalam buku saya berjudul Ya Allah Aku Jatuh Cinta. Di sesi akhir ada sebuah pertanyaan dari seorang pengunjung. Saya ingat namanya Mas Kus. Beliau bertanya tentang cinta sejati. Wow, cinta sejati. Sehari sebelum acara saya denger di radio cinta sejati hanya ada di sinetron saja. Karena buktinya banyak lelaki selingkuh dan banyak wanita selingkuh juga. Hemm saya terangkan dikita tentang cinta sejati. Cinta sejati adalah cinta yang tidak berharap banyak tapi memberi yang banyak, tidak menuntut dia menjadi seperti kita tapi menjadikan dia dan kita utuh saling melengkapi. Cinta yang tidak membutakan hati dan tidak kenal Allah. Justru cinta yang mensucikan karena mendatangkan pahala dan keridhaan Allah. Adzan berkumandang, saya harus pulang. Acara disudahi, dengan seteguk TEBS sebotol yang tidak lagi bersoda menghilangkan dahaga saya yang sudah luar biasa. Hemm saya puas banget siang itu!

Thanks to All Visitors on that event, Allah Bless You All!

Thanks FUI Al ISLAM 1 SOLO

11 Comments

May 4, 2007 at 1:54 pmCategory:Catatan Perjalanan

Ya Allah Aku Jatuh Cinta (20 ribu saja)

“Pak, tolong diceritakan tentang kisah cintanya sebelum menikah!” Wah lucu juga permintaan itu. Saya dapatkan saat saya pada hari Jumuah tanggal 4 Mei 2007 berkesempatan mengisi sebuah bedah buku tulisan saya sendiri Ya Allah Aku Jatuh Cinta. Acara itu diselenggarakan di sebuah sekolah cukup keren di Solo, SMU AL ISLAM 1. Saya dijemput oleh teman alumni sekolah itu, dengan motor karisma warna biru metalik. Keren motornya. sempat juga berpikir, kalau motor saya dibuat seperti gini gimana yah.

Dalam beberapa menit saja, saya sudah sampai di tempat acara. Saya terkejut dengan bunga yang berserakan di lantai hingga lantai tiga. Mungkin panitia ingin agar acaranya terkesan romantis. Tapi ternyata salah! Bunga yang dipakai adalah bungan setaman, bunga yang sering digunakan untuk ziarah kubur dan prosesi kematian. Hihihi lucu juga.

Sampai di ruangan tunggu saya duduk. Tak berapa lama, datang ustadz yang akan berdampingan bersama saya mengisi sesi pagi itu. Namanya Ustadz Muhtar Tri Harimurti. Saya kenal betul wajahnya. Dia adalah orang yang dulu pernah ngajar saya ngaji di sekolah sma. Saya suka cara dia ngajar taklim. Lucu orangnya tapi kalem dan penuh ilmu. Ngobrol sana sini dan kita larut dalam obrolan. Sempat juga keluar nama-nama alumni smu negeri satu MKI yang sudah lama tidak berjumpa dan tidak tahu juga kabarnya gimana.

Acara dimulai. Pembawa acara cukup hebat meramaikan suasana. Moderator pun meski awalnya sedikit kaku, tapi cukup mampu larut dalam atmosfere ruangan itu. Saya liat beberapa puluh hadirin laki-laki dan hampir seratus hadirin perempuan. Sesi saya segera dimulai. Saya sampaikan beberapa saat saja. Semuanya oke, sound oke, suasana juga oke meski sedikit rame, hanya saja hidung saya berulah. Pilek luar biasa. Saya tidak nyaman bersuara. Agaknya memang harus bersabar dengan pilek yang tak kunjung reda. Saya sudahi sesi saya tidak sampai 45 menit.

Sekarang saatnya ustadz Muhtar berkomentar. Lucu, pembawaannya masih seperti dulu. Bahkan saya banyak belajar darinya tentang cara dia meramaikan forum. Volumenya biasa saja, hanya saja pilihan kata dan intonasi dia cukup tepat menggigit! Ada beberapa komentar beliau tentang buku saya itu. “Buku ini bagus, saya menangis membacanya. Bahkan 3 kali saya membaca, 3 kali pula saya menangis.” Demikian ucap beliau. Tapi ada satu hal menarik dari nasehat beliau, “Mungkin perlu dimasukkan catatan kaki yang menunjukkan status hadits, apakah maudhu, dhaif ataukah marfu’.” Hemm baik ustad, insya Allah.

Jazakallah buat ukhty2 di FUI atas acara yang meriah tadi. Semoga bisa ketemu lagi laen kali.

Tawangmangu 26-27 April 2007

1 Comment

April 30, 2007 at 8:42 amCategory:Catatan Perjalanan

Kena flu gede lumayan bikin kelimpungan. Rapat yang sedianya jalan dengan bagus, akhirnya harus mentolerir ketidakbisaan saya untuk istirahat. Saya hanya bisa duduk dengan mata terpejam sembari memasang kuping lebar-lebar mendengarkan teman-teman ‘berkicau’ berbagi teori dan pengalaman. Kita sedang akan mensetting sebuah perjalanan perusahaan, kapal besar yang akan mengarungi samudera perubahan, tempat mengais rejeki dan mengembangkan potensi.

Tergambar betapa menyenangkan bila bicara tentang peluang dan kemungkinan. Namun akan sangat meringis pilu manakala mendengar sederet ancaman dan kelemahan yang menghadang. Tapi syukurlah, Allah mengenalkan saya dengan orang-orang hebat yang sangat tahu siapa saya dan mau berbagi ilmu untuk semuanya. Road To MQ menjadi pengalaman begitu berharga, banyak jalinan telah terikat, banyak pula ilmu telah terjerat. Kami sangat bersyukur bisa berkenalan dengan orang-orang ramah yang mau berbagi keceriaan dan senyuman untuk menyembuhkan hati yang sedang dilanda kegelisahan.

Tubuh semakin nge-drop saat senja mulai memekat. Lebih-lebih setelah perut yang tambun ini mulai terisi dengan beraneka makanan yang sejak sore selalu tak berhenti dihidangkan. Meski hanya gorengan, makanan wajib orang gendut seperti saya, tapi nampaknya cukup untuk membuat tubuh sedikit duduk tegap. Kali ini sesi selanjutnya telah digelar dan usai. Tak ada yang mandi karena hawa malam itu dingin sekali. Hanya cuci muka dan menggosok gigi yang penuh dengan sisa makanan sejak pagi hari.

Makan malam telah tiba, saatnya berbagi suka dengan perut kita. Ayam bakar dengan timun dan kubis, serta sambal yang menggugah selera. “Kali saja ini cukup menghangatkan saya…” Lahap sekali, seolah besok tidak makan lagi. Beberapa menit berselang duduk di sebuah kursi yang nikmat untuk bergelayutan, perut saya mulai berbunyi tidak nyaman sekali. Perih melilit menggubit-gubit, sakit dan tak tertahankan. Gigi meringis menahan laju gerak perut yang semakin menit semakin terasa menghimpit. Belum selesai dengan episode masuk angin, kini datang sakit perut itu. Hingga malam menjelang, sakit itu masih tak tertahankan. Saya tidak bisa rapat, hanya menunggu saja. Tapi saya juga tak bisa tidur.

Akhirnya hingga pagi saya hanya tidur sesaat. Di pagi hari kembali ada sakit yang berkunjung. Lengan kanan saya terasa sangat ngilu. Tak tahu kenapa begitu sakit dan ngilu. Lengkap sudah! Dua hari yang harusnya direncanakan senang-senang serta berbagi ide dan gagasan menjadi serial sakit yang tak kunjung berkesudahan. Saya berharap dosa saya berguguran dengan sakit yang saya derita. Segala puji bagi Allah atas hikmah yang telah Allah sampaikan pada saya. Sekarang sudah sembuh. Dan kembali beraktivitas. Allahu Akbar!

Bedah Buku di Pratama Mulia

No Comments

April 30, 2007 at 8:38 amCategory:Catatan Perjalanan

Ahad 29 April 2007 kemarin, saya berkesempatan mengisi sebuah acara bedah buku di masjid kampus PRATAMA MULIA SOLO. Jauh-jauh hari, panitia sudah menyampaikan bila nanti acaranya akan dimulai pukul 8 pagi. Kontan saja saya langsung meluncur ke tempat acara untuk mempersiapkan diri sebelumnya. Tak dinyana sampai di sana saya dikira peserta. Dengan jaket kampus bertulis Ninety Eight Generation saya masuk ke lokasi masjid. Masih sepi kosong dan hanya ada beberapa orang saja. Duduk menunggu beberapa saat bukanlah waktu yang biasa. Akhirnya 08.30 acara baru dimulai.

Sang pembawa acara nadanya sangat tinggi. Sebutan, “Ya Allah, Aku jatuh cinta,” menjadi terkesan biasa saja dan kurang kena di makna. Tapi tidak mengapa mungkin memang seperti itu adanya.

Meski begitu, bedah buku kali ini nampaknya lumayan digemari. Banyak pengunjung yang datang, saya berharap mereka datang bukan karena ingin melihat saya (ge er banget sih) tapi lebih karena ingin lebih banyak tahu tentang buku ini. Acara berlangsung meriah, dan sangat berkesan. Meski ternyata flu saya semakin menjadi-jadi dan pilek tak kunjung berhenti.

Sukses buat anak-anak FKUI Pratama Mulia Solo, semoga kapan-kapan bisa ketemu lagi!
(Next: Bedah Buku, “Ya Allah Aku Jatuh Cinta!” di SMA AL-ISLAM 1 SOLO, on 4 Mei 2007)