Buku Apa yang Laku?

Itu pertanyaan yang paling sering dilontarkan temen penulis lain. Semua buku saya pikir laku, hanya saja tingkat larisnya berbeda-beda. Ketajaman kru redaksi dan penciuman marketer buku memang dituntut lebih bagus lagi dalam menyasar buku laku. Setidaknya mereka harus bisa membaca perilaku pasar.

Sering-sering main ke toko buku adalah salah satu cara yang jitu untuk mengasah kemampuan ini. Tujuannya satu, melatih kepekaan hati melihat judul-judul buku baru. Menebak dan memperkirakan kekuatan dari sebuah buku tersebut. Judul yang aneh kadang bisa bernasib baik, kalau anehnya tidak katro, atau tidak wagu. Ia akan menjadi sebuah magnet yang berbeda dengan yang lain. Beda tapi kenceng di pasaran. Sementara judul yang anehnya konyol, hanya bernasib teronggok di rak. Kalau pun orang mau megang karena ada perasaan penasaran sesaat, “Nih redaksinya gimana sih, Ngasih judul basi gini?”

Semua kru redaksi penerbitan saya pikir tidak mau dibilang begitu. Karena mengkreasi buku bukan pekerjaan industri semata, tetapi perpaduan dari industri dan nilai seni. Nah tugas besar kita sebagai kru redaksi adalah bekerja secara cerdas, dan tidak meski harus keras. Karena bekerja cerdas lebih susah daripada bekerja keras. Iya kan?

3 Responses to “Buku Apa yang Laku?”

  1. nurussadad says:

    buku tulis Pak, kan lagi tahun ajaran baru… sama buku pelajaran

    hohoho. benar kamu kisanak…

  2. afi says:

    Kalo semua penerbit berperan jadi follower, trus siapa yang berlakon sebagai trendsetter ya?

    IMHO, lebih afdhol kalo tim marketing penerbit, mencoba menggali ide dari calon pembacanya. Pake kuisioner/angket, misalnya.

    Salam kreatif!

  3. assalamualaykum .
    kunjungan pertama !

    btw antum ini orang solo ya ? bekerja di yayasan Arofah kah ??
    adek ane disana juga loh.. salam ta’aruf dari ane .. :D

    Hehehe. Saya orang Solo, tapi tidak di yayasan mba. adik anty namanya siapa?

Leave a Reply