Be Profesional Bro!
Bisa bedain nggak antara profesional ama kekeluargaan. Dulu banget, ada anggapan di lubuk hati saya yang paling dalam bahwa kalau temen-temen ngaji bikin bisnis selalunya berakhir dengan kekeluargaan. Profesional menjadi barang yang mahal. Profesional identik dengan profitsional. Ini menjadi semacam dalil pembenaran kenapa kerja dakwah, kerja bisnis yang didasari pertemanan teman ngaji selalu kandas di tengah jalan. Atau paling tidak tetep berjalan tetapi sempoyongan. Jawabnya satu, karena aspek kekeluargaan disalahgunakan sebagai tameng andalan.
Terus gimana cara membedakannya. Secara profesional, segala pekerjaan harus dikerjakan sesuai deadline yang ditentukan. Itu yang diharapkan oleh pak direktur. Pak direktur tidak menghendaki ada faktor permakluman atas nama kekeluargaan di poin ini. “Harus jadi, kerja yang profesional!” nada tinggi, raut muka memerah. Garang Bo!
Tetapi giliran penagihan salary atau gaji, dengan lirih dan agak memelas, para bos akan bilang, “ Akhi, tolong lah paham. Kita semua baru merintis. Jadi diterima dulu ya segitu?” Wajahnya lesu, kuyu dan layak dikasihani. Pada poin penggajian para direktur menghendaki mari kita bicara secara kekeluargaan.
Sementara di lini karyawan terjadi sebaliknya. Ketika karyawan jeblok kinerjanya mereka akan segera setor muka melas. “Maaf pak, saya memang salah, saya memang bodoh. Tapi tolong, mari kita bicarakan secara kekeluargaan.” Sementara pada saat wawancara gaji, para karyawan akan bersungut-sungut memperjuangkan haknya. “Tolong kami digaji secara profesional!”
Hahaha. Inilah mungkin apa yang terjadi pada dunia kecil kita. Setiap orang tidak lepas dari kepentingan pribadinya. Dan selalu ada tendensi di balik setiap kebijakan yang ada. Hohoho. No need to angry, its only an ordinary writing.

Comments:4