Home > Artikel Santai > Be Profesional Bro!

Be Profesional Bro!

February 12, 2008 4 Comments

Bisa bedain nggak antara profesional ama kekeluargaan. Dulu banget, ada anggapan di lubuk hati saya yang paling dalam bahwa kalau temen-temen ngaji bikin bisnis selalunya berakhir dengan kekeluargaan. Profesional menjadi barang yang mahal. Profesional identik dengan profitsional. Ini menjadi semacam dalil pembenaran kenapa kerja dakwah, kerja bisnis yang didasari pertemanan teman ngaji selalu kandas di tengah jalan. Atau paling tidak tetep berjalan tetapi sempoyongan. Jawabnya satu, karena aspek kekeluargaan disalahgunakan sebagai tameng andalan.

Terus gimana cara membedakannya. Secara profesional, segala pekerjaan harus dikerjakan sesuai deadline yang ditentukan. Itu yang diharapkan oleh pak direktur. Pak direktur tidak menghendaki ada faktor permakluman atas nama kekeluargaan di poin ini. “Harus jadi, kerja yang profesional!” nada tinggi, raut muka memerah. Garang Bo!

Tetapi giliran penagihan salary atau gaji, dengan lirih dan agak memelas, para bos akan bilang, “ Akhi, tolong lah paham. Kita semua baru merintis. Jadi diterima dulu ya segitu?” Wajahnya lesu, kuyu dan layak dikasihani. Pada poin penggajian para direktur menghendaki mari kita bicara secara kekeluargaan.

Sementara di lini karyawan terjadi sebaliknya. Ketika karyawan jeblok kinerjanya mereka akan segera setor muka melas. “Maaf pak, saya memang salah, saya memang bodoh. Tapi tolong, mari kita bicarakan secara kekeluargaan.” Sementara pada saat wawancara gaji, para karyawan akan bersungut-sungut memperjuangkan haknya. “Tolong kami digaji secara profesional!”

Hahaha. Inilah mungkin apa yang terjadi pada dunia kecil kita. Setiap orang tidak lepas dari kepentingan pribadinya. Dan selalu ada tendensi di balik setiap kebijakan yang ada. Hohoho. No need to angry, its only an ordinary writing.

Comments:4

  1. Ibnu Tsun Su
    February 13, 2008 at 8:54 am

    Mr Burhan, do you have ever heard “Writing Tresno jalaran soko kulino”?
    it means “rajin menulis, besok gede gak bakal jadi dokter. terbukti tulisan dokter are always jelek, they never put their hand onto paper..
    But, However, do you oneseven (setuju) by one opinion that said “We Have To change” especially when BANJIR is coming, we have to cin change!
    -CHANGE means, rejuvination with a big -massive- professional people or company, something like that?
    -CHANGE means, in order to make us more “you oriented” better than “me oriented”?
    -re-think-it back, Mr Burhan, i wish we were be CEMANI, CErdas, MANis, Ngangeni!

    -Ibnu Tsun Su is one of Mr Tung Desem Waringin reborned people-


    kuaget aku kang…kang apa kung yo?

  2. burhanshadiq
    February 13, 2008 at 10:24 am

    oki doki..yuk mari…

  3. sulaimann
    February 14, 2008 at 8:27 am

    Dilematis sekaligus realistis…

  4. Noni Kesumah
    May 25, 2008 at 8:07 pm

    assalamu’alaikum.
    bingung juga ya, pak. saya malah beranggapan bahwa profesional itu tidak ada hubungannya dengan gaji atau upah hasil kerja kita. buat saya, profesional berarti mengerjakan sesuatu dgn cara terbaik yg masih bisa diupayakan. tidak perlu menunggu dapat gaji selangit buat bisa mempersembahkan karya terbaik kita. nanti, dibagian “akhirnya” akan ada yang “menggaji” kok. iya kan?

    hehehe secara filosofi bener dan sah sah saja mba. But in real, agak susah mengejawantahkan. Ga ada tenaga profesional yang mau dibayar rendah. Apalagi kalo bosnya bukan orang pro, tapi amatiran dan ga berpendidikan. halah boro-boro…

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>