Solo diguyur hujan sejak kemarin. Konon kabarnya waduks erba guna wonogiri penuh kembali dan harus digelontorkan lagi. Terang saja, pasti kampungku akan kembali tergenang. Persis tadi pagi, ibu berbincang denganku di telepon, mengabarkan bila kini di kampung sudah mulai banjir lagi. Namun belum sampai ke dalam rumah, masih beberapa rumah warga yang kena. Paklik, sepupu dan beberapa kerabat sudah mulai mengungsi ke rumah ibu. Motor, barang elektronika, spring bed, kulkas semuanya diboyong. Padahal baru selang sebulan mereka bersih-bersih rumah karena kebanjiran.

Kebayang kan kalau banjir? Rumah penuh lumpur sungai yang tebelnya luar biasa. Barang-barang rusak, lemari ambruk dan semua perabot tidak bisa difungsikan lagi. Air bersih langka, makanan tak ada, listrik mati. Badan bau keringat, kotor penuh lumpur, pengungsian tak layak dan tidurpun susah. Bantuan bak barang dari langit. Sekali turun banyak jumlahnya tapi sedikit yang dibagi. Aparat desa bak penyamun-penyamun di tengah hari. Menyembunyikan bantuan di atap-atap rumah agar tidak diketahui warga. Ada mie instan segala merek, susu, beras dan gula. Bahkan kalau perlu bantuan pembalut wanita dan celana dalampun disikat juga.

Usai air bah mengamuk menggasak semua. Kini mereka harus stress dipusingkan oleh issue mereka harus direlokasi ke tempat yang lebih jauh. Ada protes, ada teriakan tidak setuju dan ada slogan rela mati demi tanah air. Tanah dan air tempat mereka lahir dan dibesarkan, Kampungsewu. Inilah kampung tempat saya lahir. Inilah kampung tempat saya mengenal siapa ibu saya, siapa bapak saya dan siapa keluarga besar saya. Kini kampung itu langganan banjir. Banjir yang menakutkan, banjir yang menyeramkan. Banjir yang menjadi monster yang menghantui setiap mimpi-mimpi indah mereka. Hujan sehari saja, seluruh penduduk bermimpi, akankah banjir kembali menyapa kami dalam kedinginan, kecemasan dan ketakutan yang sangat. Allah maha adil, tempat kami memohon segala apa yang kami inginkan. Untuk orang tuaku, semoga tabah dan diberi kesabaran. Sesabar beliau berdua membesarkan aku hingga sebesar ini. Hehehe.

2 Responses to “Banjir Lagi, Ngungsi Lagi”

  1. risma says:

    untuk seluruh rakyat indonesia…harus bener2 bersabar…berita hari ini: “gedung DPR akan disulap jadi menara petronas” yang konon katanya, tiap ruang anggota dewan dikasih kamar mandi dan perpus serba lengkap! ckk..ckk..ckk…

    oh rakyat……………oh pemimpin…………..
    hidup di indonesia itu…memang harus sabar.

    lho, kok malah kesini ceritanya, hehe

    ya, saya doakan, moga keluarga pak burhan diberi kekuatan…aamiin…

  2. Abdul Aziz (sering diceluk ustad karo burhan) says:

    untung pak burhan sudah pindah, semoga diberi rumah yang jauh dari kali, sudah cukup masa kecil di rumah deket sungai. Amin

Leave a Reply