Pijitan untuk Ibu

No Comments

May 13, 2012 at 9:32 pmCategory:Artikel Santai

Wanita setengah baya itu mengeluh sakit. Lulutnya selama ini merasa ngilu. Lalu saya minta ijin memijit kakinya. Meski merintih kesakitan, tetap wanita itu merasa agak baikan. Wanita itu adalah ibu saya. Selama ini saya jarang sekali memijit beliau. Mungkin karena rumah kami yang sudah berbeda. Lelaki yang dilahirkan tigapuluh dua tahun yang lalu ini, sudah berumahtangga sendiri.

Itulah momen yang sampai saya menulis ini, masih terngiang. Ternyata saya belum sepenuhnya membuat ibu bahagia. Saya pikir, senyumannya selama ini adalah sebuah cermin betapa hatinya lega melihat anaknya. Saya tidak tahu, apakah kata “agak baikan: dari Ibu adalah jawaban jujur. Karena saya sejak kecil tidak pernah belajar pijit. Yang saya tahu tangan saya mencari kaki kaki kecil ibu saya, dan mencoba meredakan sakitnya.

Sejak saya kecil, ibu selalu bekerja. Di pasar klewer menemani nenek berjualan di kios berukuran 2 kali 2 meter itu. Jarang sekali beliau libur. Setiap hari berangkat ke pasar, dan baru pulang di sore harinya. Kini dia sudah punya anak lelaki dewasa yang sudah dirawat sejak kecil. Tetapi nampaknya lelaki muda ini belum cukup mampu untuk menanggung hidupnya. Hingga di usianya yang sudah senja, masih harus memeras keringat untuk kebutuhan hidupnya.

Berkali kali saya mencoba mengajak beliau berlibur. Melepas penat dari sekian waktu bekerja. Tapi beliau selalu bilang tidak usah. “Nanti malah kecapekan…” Tapi hari ini beda. Beliau mau bersama kami berlibur meski hanya sehari. Setelah saya mengisi kajian di MIPA UNS tadi siang, saya meluncur menyusul beliau dan keluarga. Dan akhirnya saya tahu, bahwa ibu merindukan pijitanku. Pintaku kepada pemilik hati dan raga manusia, lembutkanlah hati kami, agar kami selalu bisa menjadi penyejuk mata bagi orang tua kami.. Amin..

Episode Hati yang Patah

No Comments

May 2, 2012 at 1:39 pmCategory:Artikel Santai

Kalau bukan kamu yang menemaniku, siapa lagi. Bukankah selama ini kau yang mengetuk hatiku saat aku terlupa. Bukanlah selama ini kau yang memberi aku semangat saat aku jatuh. Bukankah kau yang selama ini selalu ingatkan aku tuk bangun tahajud.

Bukankah juga kau yang mengenalkanku dengan hijab ini. Hingga kau ajari aku tuk menjadi shalihah. Bukankah kau yang menuntunku menjadi lebih baik. Memaksaku meninggalkan teman temanku dan memilih pergaulan yang baru.

Dan bukankah juga kau yang mengajakku ngaji tiap ahad pagi. Berdua meski dengan motor yang berbeda. Mengeja aksara hidayah dari Nya untuk kehidupan yang lebih baik. Kini setelah kau tabur benih rasa yang tak halal ini. Begitu saja kau berpindah dan berpaling. Lalu buat apa kau jadikan aku seperti ini, kalau setelah bunga ini mekar bukan kau yang memetiknya?

Ya Allah, leraikan hatiku dari perasaan kecewa. Tertimbun oleh maghfirahMu yang Maha Sempurna. Biarkan air mata ini menangis sebagai bayaran atas dosa dan kekhilafan yang sudah kami lakukan.

*)nasihat buat mereka yang terjerat cinta yg tidak seharusnya, dakwah itu murni jangan dikotori dengan jeratan hati…

Memilih Antara Kalah dan Menang

No Comments

May 2, 2012 at 10:47 amCategory:Artikel Santai

Gegap gempita bola saat timnas menang dari kesebelasan negeri Turkmenistan membuat semangat baru muncul. Semangat bahwa bangsa ini punya harapan di kancah dunia. Semangat untuk tidak lagi disebut sebagai bangsa pecundang. Karena ada triggernya yaitu kemenangan dari sebuah pertandingan sepakbola.

Hal ini wajar saja, karena biasanya kita sering kalah. Banyak pertandingan hanya membuat kita malu saking seringnya kita kalah. Kekalahan yang berulang ulang inilah yang akhirnya membuat nyali kecut dan tak mau lagi berharap.

Dari fenomena ini kita bisa belajar sesuatu bahwa kabar kemenangan bisa membuat semangat berkobar. Sementara kabar kekalahan bisa membuat nyali kecut dan mundur ke belakang. Persoalannya sekarang adalah apakah kita sebagai umat islam lebih terbiasa dengan kabar kekalahan atau lebih terbiasa dengan kabar kemenangan.

Setiap kali kita mendengar berita di tv dan radio, seringnya kita mendengar kekalahan kekalahan umat islam. Kalah di daerah konflik, kalah di perang pemikiran, kalah di bidang ekonomi, kalah di bidang politik dan banyak hal lagi. Sementara itu kita sangat jarang mendengar umat ini menang di berbagai lini.

Saya juga tidak begitu tahu kenapa media massa islami baik itu website atau pun majalah lebih sering menguak kekalahan daripada kemenangan. Apakah mereka ingin membangun spirit kebencian dan kemarahan pada musuh, tanpa diimbangi semangat perbaikan internal? Atau media hanya ingin umat ini dikasihani tanpa tahu bagaimana harus membangkitkan potensi yang ada dalam diri umat ini.

Cerita gemilang kemenangan umat islam harus banyak disuarakan. Agar besar hati kita dan siap selalu untuk berpikir tentang kemenangan selanjutnya. Kemasannya harus menarik, baik berupa informasi, ataupun melalui media buku, tulisan, majalah maupun media massa lainnya. Segala kebaikan dan berita gembira harus disampaikan secepat cepatnya, seluas luasnya dan sebesar besarnya. Hal ini sangat penting untuk menaikkan spirit juang kita, menaikkan semangat melawan dan mengusir rasa takut di dada dada kawan kawan. Pertanyaanya sudah siapkah kita kesana?

Sharing itu Penting

No Comments

May 2, 2012 at 8:41 amCategory:Announcement

Ups! Weblog saya ga bisa dibuka! Beberapa teman juga menanyakan hal yang sama, kenapa blog saya ga bisa dibuka. Akhirnya setelah menghubungi temen yang ahli dalam dunia web, blog saya bisa dibuka kembali. Horeee! Kok hore, harusnya Alhamdulillah kan?

Blog itu bagi saya tempat untuk sharing banyak hal. Dari persoalan kecil mungil sampai persoalan yang super duper gede. Ga ada masalah mo cerita apa, asalkan sopan dan sesuai etika. Tidak malah sekenanya dan bisa dimejahijaukan oleh pihak yang mereka kesengat dengan tulisan kita.

Sayangnya, banyak temen yang sangat semangat ngeblog di awal saja. Giliran udah kenal fesbuk dan twitter jadi sering banget ninggalin blognya. Padahal manfaat blog buat sharing ide gede banget lho. Kita bisa dapat pengalaman asyik dan dibagi dengan seantero nusantara yang melihat tulisan kita.

Naskah DitolaK?

1 Comment

April 24, 2012 at 12:41 pmCategory:Buku Kita

Gimana perasaan kamu kalau naskah kamu ditolak penerbit? Pasti sakit banget rasanya kan? Nah, ada beberapa tips nih agar kita semangat lagi dalam menulis.
1. Cermati lagi kenapa naskah kita ditolak
Tanyakan pada editor penerbit tersebut kenapa naskah kita ditolak. Mungkin konten yang tidak sesuai atau mungkin saja tidak menarik secara pasar. Kalau kita tanya baik-baik pasti mereka akan memberikan jawaban yang baik. Karena bisa jadi naskah kita baik, cuman memang tidak berjodoh dengan penerbit yang bersangkutan. Atau sebaliknya, naskah kita memang hancur banget, sehingga perlu banyak sekali perbaikan.

 

2. Perbaiki kekurangan tersebut
Perlahan perbaiki yang kurang dan jangan tergesa menyelesaikan. Kalau kita nulis dari hati pasti akan sampai ke hati. Jangan terburu-buru untuk selesai, karena semua butuh ketenangan. Cermati setiap kekurangan yang ada, jangan sampai kita terlewat dari setiap naskah yang kita baca.

3. Jangan putus asa

Terus coba lakukan usaha menembus penerbit. Bila tidak ada sapaan balik, maka boleh kita silaturahmi ke kantor tersebut sebagai pendekatan personal. Naskah dari orang yang dikenal editor tentu lebih diperhatikan dari yang tidak mereka kenal sama sekali.

Itu dulu tips nya, kita akan berjumpa di tips tips lainnya.

 

Journey To Share

No Comments

April 23, 2012 at 10:20 amCategory:Artikel Santai

Dua hari kemarin banyak kegiatan yang harus dilalui. Dari mulai kegiatan anak sma, sampai kegiatan pengajian orang tua murid. Sabtu pagi saya diundang di sebuah SMA Negeri di Solo. Acaranya tentang memotivasi anak anak agar suka dan bangga sebagai seorang remaja muslim.

Dibuka dengan sambutan kepala sekolah, yang menurut saya agak garing. “Menurut kalian surga itu ada ngga?” Lalu dijawab sendiri sama ibu itu, “Surga itu di bawah telapak kaki ibu, padahal kaki ibu pecah pecah. Lalu dimana surga itu?” Kata katanya langsung disambut gelak tawa anak anak. Bagi saya joke ini sama sekali tidak lucu. Karena terlalu berani memperolok-olok ajaran islam.

Siangnya, saya meluncur ke UNS. Ada pelatihan nulis non fiksi di sana. Saya baru tahu kalau saya dipanelkan dengan penulis tersohor, Solihin Abu Izzudin. Sebab panitia tidak ngomong sebelumnya kalau acaranya bentuknya panel. Acara pun kelar dan berlangsung sukses. Sayangnya surat untuk saya tertukar dengan pembicara lainnya.

Pindah hari Ahad, sudah ada acara lain lagi. Saya diundang mengisi pengajian wali murid smpit al abidin di banyuanyar. Sampai jam 9 saya meluncur ke acara walimahan seorang akhwat. Acara di tempat ini lumayan kikuk. Karena saya juga tidak tahu lokasinya dimana. Setelah sampai saya baru tahu seperti apa acaranya. Karena kurang cepat acara berjalan, akhirnya saya pulang duluan.

Sore harinya, acara lagi di pesantren Assalam. Ketemu sama anak anak SMP bikin semangat lagi. Yah, banyak acara pasti beda beda kesannya. ^_^

Menangislah Di Bahuku

No Comments

April 22, 2012 at 5:50 amCategory:Artikel Santai

Hidup ini keras. Saat segala masalah mendera. Lalu tiba tiba air menggenang di mata. Menetes lirih membasahi pipi karena luka di hati. Saat itu tak ada sapa, tak ada teman yang mendengar kisahmu. Hanya ada desiran angin yang membawa laramu pergi. Sahabat yang selalu dating padamu, mendadak hilang tanpa kabar dan tanpa berita. Semuanya meninggalkanmu, dan kini kamu sendiri.

Saat semua kalut berkumpul di kepala dan jiwa. Panik menyerang berkali-kali. Buntu dan tak tahu harus kemana berlari. Cerita takut dihakimi, salah dan disalahkan. Bingung membelenggu hati dan perasaan. Kacau dan tak mampu lagi menguasai emosi. Hanya derai air mata yang bisa mengatakan segalanya. Tumpah ruah tanpa bisa dibendung lagi. Hanya linangan air mata yang jujur berkata apa adanya.

Menangislah di bahuku. Leraikan segala sedih dan perihmu. Karena segalanya akan menjadi sebuah cerita yang indah di akhir masa. Semua manusia ada ujian dan cobaan. Allah tidak akan menguji di luar kemampuan kita. Yakinlah sebuah kekuatan yang mengangkatmu dari rapuh dan jatuh lumpuh. Kekuatan doa dan kekuatan iman kepada Dzat yang maha bisa. Karena hanya kepada Allah kita akan memuarakan semua masalah, semua persoalan dan semua penderitaan.

Time To Move On!

No Comments

April 22, 2012 at 5:05 amCategory:Artikel Santai

Penjagaan generasi memang sangat penting. Sebab generasi mudalah yang akan melanjutkan tongkat estafet perjuangan dan juga peradaban umat manusia. Bila generasi muda tidak kita bina dan kita didik, maka sepuluh tahun lagi kita akan melihat anak muda yang lemah mental dan keinginannya. Mereka tidak punya nyali perjuangan, lemah dalam harapan, dan selalu takut menghadapi masa depan.

Jiwanya kerdil dan tak tahu apa yang mesti dilakukan di kemudian hari.
Tentu saja kita tidak ingin hal itu terjadi. Pandang mata anak anak kita, dan bertanyalah pada diri kita sekarang, ingin kita didik seperti apa mereka? Ingin kita arahkan kemana mereka kelak saat dewasa? Ingin kita bentuk karakter yang semacam apa? Apakah menjadi budak budak dunia yang melulu berpikir soal dunia? Atau justru kita arahkan kepada kebaikan islam dan kebenarannya. Kita dekatkan dengan al quran dan kemuliaannya.

Visi ini menjadi penting karena ia adalah ruh dari pendidikan keluarga. Bila seorang kepala keluarga tidak memiliki visi yang jelas, bingung dan tak tahu arah kemana kudu melangkah. Maka keluarganya pun juga akan menderita kebingungan akut. Melangkah tanpa arah dan sempoyongan dalam menghadapi ujian hidup. Ibarat berjalan tanpa peta, tanpa tujuan dan tanpa harapan.

Suami harus bahu membahu bersama istri, merangkai rencana dan merancang visi. Buat apa berdua di dalam biduk rumahtangga, bila keduanya tidak bertegur sapa. Buat apa setiap hari membual kata cinta dan sayang bila ternyata semuanya menjadi sia sia. Saatny berpikir strategis, untuk masa depan anak anak kita kelak.

Journey To Bima NTB

No Comments

April 20, 2012 at 8:46 amCategory:Catatan Perjalanan

Tugas dakwah ke Bima, akhirnya selesai juga. Di awali dari naik bus jam sepuluh malam dari Palur sampai Bungurasih Surabaya jam setengah empat pagi. Saya coba cari bus DAMRI yang biasa nganter ke Bandara Juanda, tapi ternyata saya terlalu pagi. Malah ketemu tukang ojek, “Mas, ojek saja mas, 30 ribu.” Saya tawar pake bahasa jowo suroboyo, akhirnya kena 25 ribu.
Saya langsung check in ke dalam. Ternyata petugas Merpati belum hadir. Super deh, penumpang menunggu petugas check in. Baru kali ini seumur umur terjadi. Namanya juga penumpang kepagian. Saya liat banner pak dahlan iskan bilang saya selalu naik merpati kemana saya pergi. Wow! Karena emang merpati paling dikit antreannya disbanding maskapai lainnya.

Di lantai dua saya nemu musola yang cukup bersih. Saya solat subuh lalu masuk ruang tunggu. Tak lama nunggu pesawat take off ke denpasar bali. Sejam perjalanan, saya transit di Bali cumin beberapa menit saja. Terus terbang lagi ke Bima.

Di kota Bima, saya dijemput panitia dengan mobil Kijang. Lalu menuju penginapan, yang sudah disediakan, hotel An Naba. Mantab!
Kegiatan hari pertama, santai santai dan menikmati panasnya kota Bima. Di Kota ini masih banyak kuda lalu lalang. Dan yang paling saya ingat di sini sedang musim buah srikaya. Nampak dari kejauhan kayaknya buah ini manis.
Hari kedua saya mengisi di Dompu, sebuah SMA Negeri 1 Dompu. Masya Allah yang dating 600 an orang. Seru dan meriah, karena doorprisenya juga lumayan, flash disk 4 GB. Sepulang dari Dompu kita dua mobil mencari kepiting mentah. Setelah dapat, kita langsung meluncur ke Bima lagi dan sorenya makan kepiting!

Hari berikutnya mengisi jumatan di sebuah masjid. Kata panitia jemaah gelisah karena saya ga pake basmalah secara jahr. Hehehe buat pengalaman.

Lanjut berikutnya di STKIP Bima dan juga STIKP Taman Siswa. Pas di Taman Siswa, mati listrik. Pipis ga ada air. Udah muter2 sekampus tetep saja sama.  Akhirnya bedah buku pake megaphone, karena ga ada sound system.

Setelah selesai acara, diajak makan makan panitia. Saya dikenalkan sama makanan khas di sana yang mirip tomyam. Paginya saya terbang pulang ke Solo. Tapi pesawatnya cumin sampai Surabaya. Saya naik EKA pulang ke Solo, dengan suara orang muntah2 di belakang saya. Jangan dibayangin ya, ntar menular. Hehehe
Pas sampai di rumah setengah sebelas malam. Saya nggak kapok ke Bima, semoga bisa ke sana lagi dengan suasana yang lebih santai!

Semoga Berpahala!

No Comments

March 26, 2012 at 8:01 pmCategory:Artikel Santai

Perjalanan Solo Tulungagung memiliki kisah yang menarik. Saya pergi bersama belahan hati, istri saya satu satunya. Naik dari Palur, saya melesat dengan Eka. Tahu nggak tarifnya berapa? Dua orang kena tarif 88 ribu rupiah. Ada sesi makan di Ngawi rumah makan Duta. Menunya cukuplah membuat Anda keasinan. Hehehe.

Saya turun di sebuah lokasi bernama Mbra’an. Nggak tahu juga namanya artinya apa. Tapi lokasi ini banyak sekali orang jualan oleh oleh khas Kediri dan sekitarnya. Di sini jangan kaget, tahu yang biasa kita goreng, diberi nama TAHU TAKWA. Keren kan? Perjalanan Solo ke lokasi ini kurang lebih 4 jam.

Saya ganti bus lagi. Kali ini busnya Harapan Jaya AC tarif biasa. Mungkin artinya biasa bertarif gitu kali ya. Hehehe. Di situ orang jualan bebas banget, bahkan beberapa kali para pengamen dengan gaya khasnya. Ada yang sopa pake permisi, tapi ada pula yang bergaya iwan fals, tapi kayak bumi ama langit bedanya. Soalnya yang ini rambutnya blonde, tapi cuman separuh.

“pak durenan ya pak…”
“hjhadjah…” kernetnya ngejawab, tapi ga kedengeran. Karena bising banget musik di bus itu.

Saya santai sama istri. Menikmati perjalanan melewati Kediri yang terkenal dengan pabrik rokok dan pesantren Lirboyo itu. Setelah hampir 2 jam, akhirnya sampai di Tulungagung. Ternyata durenan itu masih 15 menit lagi dari lokasi ini. Panitia saya telpon, menyarankan saya naik bus lagi. Oke deh…

Kali ini busnya lengang. Kernetnya juga rada galak. Saya tanya soal terminal durenan. Dia jawab sudah sore, jadi ga masuk terminal. Saya tahu jawaban itu. Tapi saya minta diturunin di durenan, dia malah semi ngebentak. Heddeh…

Saya turun dengan perut lapar. Tengok kiri kanan, ada warung tapi ga menyakinkan. Lagipula saya ajak istri, tidak seharusnya makan di warung yang selengang itu. Saya telpon panitia lagi, soalnya panitia ga nelepon saya, hehehe. “Lhoh, belum dijemput ya pak?” Saya bingung, lha emang sudah dijemput? Kok malah saya yang ditanya. Hehehe lucu juga mas panitia ini.

Akhirnya dua orang dengan dua motor menghampiri saya. Saya dan istri boncengan, sementara mereka maju duluan di depan. Sesaat naik motor, kami sampai di LPIT itu. Saya rehat di ruang yg sudah disediakan. Malam harinya saya mengisi pelatihan anak anak SMP yang ada di situ. Mereka antusias menulis surat untuk ibunya. “Tulis surat buat ibundamu, karena ini bisa jadi tulisan terakhir kamu.”

Mereka semangat sekali, sampai saya lupa kalo sudah setengah sepuluh malam. Mic yang seperti es krim retak itu sukses menghantarkan acara saya malam itu.
***
Siang hari acara berjalan lancar. Panitia sangat serius mengolah acara. Ada tenda mirip walimahan besar-besaran. Saya di atas panggung bersama moderator dan pembicara kedua dari Blitar. Saat sesi pertanyaan, moderator malah bilang, “pak, pertanyaannya sudah dicatat kan?” Lho bukannya yg kudu nyatat moderatornya? Hehehe. Lucu banget moderatornya.

Sore hari saya pulang sama istri. Kali ini dapat bus yang full Roma Irama. Dari Durenan sampai Tulungagung musik roma tidak pernah berhenti. Dari terminal saya naik bus agak nyaman, PATAS AC tanpa gangguan. Tapi tarifnya lebih mahal. Tulungagung _ Mbraan 20 ribu satu orang. Wow!

Sampai di Mbra-an saya dan istri solat dan makan. Menunya wow! Baru kali itu saya merasakan gule yang nuansanya beda. Gule tapi pake kecap dan sambal penuh. Harganya juga murah, cuman 8000 sepiring. Setelah shalat maghrib dan isya saya berharap bisa dapat EKA lagi. Tapi sudah 3 EKA lewat, ga ada satupun yang mau ngangkut kami berdua. Jadi inget soal nyari jodoh, ternyata sama kayak nyari bus gini. Hehehe…

Pilihanpun jatuh ke Mira. Kami berdua alhamdulillah dapat tempat duduk. Meski harus berpisah sesaat. Qadarullah jalanan macet. Tidak tahu sebabnya. Macet panjang lumayan lama. Akhirnya sampai rumah jam 12 malam. Wow, luar biasa!