Mari membaca fenomena dunia, mari membaca apa yang ada di depan kita dan mari membaca apa yang hari ini kita rasakan bersama. Perbukuan di masa krisis adalah sebuah tema menarik! Pasti semua orang kepengen tahu, pasti semua orang juga kepengen paham. Apa yang terjadi dan apa yang sedang akan terjadi.

Beberapa hari yang lalu seorang teman maya saya (lagi-lagi maya) bertanya hal ini kepada saya. Bagaimana pengaruh krisis ekonomi global menggoyang penerbit Solo. Setahu saya memang krisis ini lumayan berdampak dengan retur berkoli-koli yang dialami beberapa penerbit Islam di Solo. Tetapi Alhamdulillah semua masih bertahan dan semua masih berproduksi. Malahan muncul penerbit baru, Gazzamedia, di tengah krisis yang sedang melanda. Semoga semua akan baik-baik saja.

1. Mari Kumpul

Kalau hemat saya, sekaranglah saatnya para penerbit Islam berkomunikasi. Bertukar pikiran strategi bertahan di tengah badai krisis yang bergulung-gulung. Setidaknya membuat semacam pertemuan, mengadakan talkshow menghadirkan ahli perbukuan untuk bicara strategi di pasar di era himpitan krisis. Hal ini menjadi penting mengingat kekuatan kita memang pada kebersamaan itu.

Namun, bila masalah ini hanya dipikirkan sendiri-sendiri tanpa ada proses komunikasi akan menjadi buntet dan macet. Jumlah yang banyak tidak lagi menjadi kekuatan, tetapi hanya hiburan mata dan pendengaran saja. Berbilangnya penerbit hanya akan membanggakan jumlah saja, tetapi tidak pada sinergitas kekuatan mereka..

2. Asah Tajam SDM

Mengasah ketajaman analisis pasar, analisis buku bertema seru, dan analisis kelarisan sebuah produk. Sekarang nampaknya tak bisa lagi seperti dulu. Mengambil naskah asal, diterjemahkan dan berharap pada keajaiban buku laris di pasaran. Sekarang persaingan semakin tajam, bersaing memperoleh perhatian calon pembeli, di tengah belantara buku yang sangat beraneka ragam. Bertarung di kemasan, isi dan penulis andalan. SDM bukan juga sapi perahan yang hanya dituntut produktif sementara tidak digembirakan dengan bonus dan komisi bulanan.

Nah, para penerbit juga bisa bekerja sama dalam hal ini. Beraliansi membentuk workshop pelatihan, dengan semangat maju bersama, mendulang ilmu dan wawasan.

Mungkin masih banyak yang bisa dilakukan, asalkan tak ada gengsi, tak ada rasa curiga, dan semangat maju bersama menjadi sebuah bekal wujudnya kebersamaan. Wallahua’lam

Burhan Sodiq

Penulis Buku dan Praktisi Penerbitan

Direktur Gazzamedia

2 Responses to “Penerbit Islam Menghadapi Krisis Global”

  1. sulaimann says:

    Ada hal yang tak boleh dilupakan. Dalam dunia marketing, kita tidak bisa ‘memaksa’ pelanggan untuk membeli produk kita. Tugas kita adalah memenuhi kebutuhan pelanggan. Jika kita mampu memenuhi kebutuhan mereka, insyaAlloh, semua akan berjalan normal. Nah, PR kita hari ini adalah bagaimana menciptakan sebuah produk yang benar-benar diperlukan oleh pelanggan kita.

    Mari terus berkarya!

    betul sekali, sayangnya ketajaman mata kita tak seberapa ampuh melihat kebutuhan ummat. Telinga kita juga tak seberapa peka menangkap suara-suara ummat. Sehingga buku yang dibikin seolah-olah mencari-cari pembacanya, bingung siapa yang akan membelinya.

  2. ensiklomedi says:

    Terkadang idealis juga perlu. Tidak melulu jatuh cinta ada pada pandangan pertama. Ketika dapat buku ke sekian, baru mencari buku yang awal.

    Jadi PR nya, bagaimana membuat (calon) pelanggan jatuh cinta?


    jatuh cinta sama buku nya kan mas? bukan sama penulisnya?

Leave a Reply