Ya Allah, Doa Ini Untuk-Mu
Nov 18th, 2008 by burhanshadiq
Pagi ini nganter Bapak periksa dokter. Sejak 2002 Bapak pernah kena serangan jantung. Sehingga harus perawatan ke dokter secara rutin. Nah, selama ini dokternya Bapak menurutku kurang ramah. Ngomongnya ceplas-ceplos, kesannya melecehkan pasien. Saya yang mengantar beliau, merasa tidak nyaman. Maka saya ngobrol sama Bapak, bagaimana kalau ganti dokter saja. Dan Alhamdulillah Bapak saya mengiyakan.
Di dokter yang baru ini, saya berharap dia lebih ramah dan lebih sopan. Banyak orang bilang, dokter ini ramah dan mudah diajak ngobrol. Lagian, Mbah saya juga sering ke dokter ini. Akhirnya pagi tadi saya ditelepon bapak untuk nganter beliau ke dokter itu.
“Kamu repot ga? Coba kamu ke dokter itu dan ambilin nomer antrean ya. Kalau sudah buka kamu telepon aku.” Begitu suara bapak di ujung sana. Saya yang barusan olahraga pagi (ceile) langsung sendiko dawuh dan melesat ke dokter tersebut. Lokasinya cukup dekat dengan rumah. Dalam hitungan menit sudah ada di depan tempat praktek pak dokter. Saya amati perlahan, ternyata pintu pagar masih terkunci rapat. Pagi juga masih terlalu gelap. Saya telepon Bapak agar beliau siap-siap karena jam 7 praktek baru dibuka.
Saya langsung menuju rumah ortu. Ketemu sama Adik, Ibu dan Bapak. Bapak segera mandi dan langsung minta dianterin. Lha saya? Hehehe mandinya ntar ntar saja. Dengan Karisma itu, saya boncengin Bapak. Sayangnya, roda belakang ada benjolan sedikit. Sehingga jalannya tidak cukup nyaman. Sampai di tempat dokter, masih saja tutup. Baru kemudian beberapa menit ada seorang mbak-mbak yang membukakan pintu. Kami masuk dan menulis nama sebagai pasien ngantri. Tak lama kemudian keluar mba berkerudung ijo, pake kacamata, menyapa kami. Kemudian dia memanggil nama Bapak, dan kami segera menuju ke mejanya. Ditanya macem-macem, dan ngobrol dikit. Ternyata, si dokter lagi opname di Jakarta. Masya Allah.
“Sakit apa mba?”
“Sakit Jantung!” Masya Allah.
Jadi dokter itu sedang sakit jantung sekarang. Dan sekarang yang tugas bukan dokter itu lagi, tapi diganti sama dokter yang lebih muda. Subhanallah, dokter jantung sakit jantung. Yah semoga lekas sembuh dan bisa beramal lagi. Setelah masuk ke ruang praktek, bapak diperiksa dan ditanya banyak hal. Tanyanya pake bahasa jawa alus, sopan dan enak banget ngomongnya. Kita sebagai pasien jadi ngerasa adem dan aman. Bapak harus diet makanan rendah garam dan menghindari daging. Yah, semoga bapak selalu sehat, selalu bahagia, meski sebagai anaknya saya belum bisa memberikan apa-apa untuknya.
Setelah nebus resep, kami pun pulang ditemani terik mentari yang sudah mulai menghangatkan pori-pori kami. Ya Allah, Kamulah penyembuh segala penyakit, kuatkan Bapak kami agar selalu sehat untuk beribadah kepada-Mu. Sembuh yang tidak pernah kambuh!



