Menelan Ludah?
Jul 29th, 2008 by burhanshadiq
Tak ada yang mau menelan ludah yang sudah diludahkan. Tetapi inilah istilah bagi orang yang melanggar kata-katanya sendiri. Lisan memang tidak pernah bertulang, tetapi kadang ketidakbisaan kita bersikap menjerumuskan lisan kita berkata sesuatu yang di luar kemampuan. Berjanji, bersikap manis, dan yang lain, semuanya hanya isapan jempol.
Maka tidaklah terbayang betapa menjijikkan menelan ludah sendiri. Tetapi itulah yang setiap hari kita temui. Muka badak, hati biawak, pura-pura tak tahu, padahal dia lah yang paling tahu. Dunia memang dunia, ia tidak akan pernah selalu membuat kita tertawa. Karena ada saatnya kita kudu menjadi perwira, berjuang atas hak hak kita. Tapi adakalanya pula kita harus menelan pil pahit, dan berkata, “Inilah perjuangan kawan!”
Hati ini harus dididik untuk tahu posisinya. Kapan harus merangsek maju berjuang demi hati yang tak mau dikhianati, dan kapan harus diam menyerah melihat kebodohan seseorang. Semoga tidak salah didik, karena hati paling sensi dengan kesalahan.



