Beberapa waktu yang lalu saya berkesempatan mengunjungi sebuah pesantren di Lamongan. Karena tempat yang jauh akhirnya saya memutuskan untuk transit di Padangan, Bojonegoro. Pak Han, itu nama seorang bapak yang baik hati yang bersedia menyediakan kamar gratis untuk saya menginap. Nuansa kesederhanaan membuat saya betah untuk berlama-lama di tempat pak Han. Malah saya sempat diajak makan lontong khas daerah setempat.

Menginap semalem, saya melanjutkan perjalanan ke Lamongan dengan sepeda motor. Bersama seorang teman, Mas Noval, saya melaju dengan kecepatan standar. Jalan yang dilalui tidaklah cukup nyaman, banyak jalan bergelombang dari Padangan hingga Bojonegoro. Meski begitu ternyata saya sempet juga berhenti di sebuah Pom bensin untuk istirahat tidur sejenak karena kantuk yang luar biasa dahsyat.

Setelah Bojonegoro, ternyata mas Noval tersilap. Dia salah ngasih info jalur, kita berdua sampai nyelonong ke Tuban. Padahal bila melewati rute ini jarak ke Lamongan bisa menjadi lebih jauh sekitar 10 kiloan. Wedew… Tapi luar biasa memang, di sepanjang jalan Palang namanya, terlihat elok pantai dengan air laut yang hijau bening. Subhanallah sebuah pemandangan yang indah. Saya menyempatkan berhenti dan melihat perahu para nelayan yang bergoyang-goyang menari-nari di pelabuhan.

Pesantren Akhwat Bercadar

Tak berapa lama saya sampai di Lamongan, tepatnya di daerah Brondong Sedayulawas. Saya melewati sebuah gang sepanjang 400 meter untuk menuju lokasi pesantren. Sebuah pesantren yang sederhana dengan aroma perjuangan yang sangat kental. Pesantren al Ikhlas namanya, nama yang menyiratkan bahwa perjuangan ini harus selalu ikhlas. Begitulah menurut saya. Di sebelah kanan terdapat masjid besar, sedangkan di sebelah kiri ada dua bangunan berukuran besar. Mayoritas masih dibangun dengan ayaman bambu, kalau di Solo disebut Anjat. Sederhana sekali.

Jam 14.00 siang, saya diminta mengisi materi tajwidudduat, pembekalan untuk santriwati yang akan lulus. Materinya sederhana saja, teknik menulis untuk pemula. Pihak pesantren berharap anak-anak didik mereka mampu menulis buku setelah dari pesantren nanti. Soalnya mereka harus ditugaskan dahulu selama setahun ke daerah-daerah yang membutuhkan tenaga dan ilmu mereka.

Saya diajak seorang ustad masuk ke dalam lokasi pesantren. “Dok…dok…dokk…lintasan, lintasan…” begitulah cara ustad memberi signal agar anak santri minggir karena ada ikhwan ingin berjalan. Hemm, baru kali ini saya menemui seperti ini. Menarik! Masuk ke ruangan saya berhadapan dengan satu kelas santriwati berjilbab hitam, dan semuanya mengenakan cadar. Wedew, saya jadi teringat Aisyah di filem Ayat ayat Cinta. Hehehe. Hingga pukul 17.30, acara baru selesai. Saya puas menyampaikan materi saya, meski saat itu hidung tidak mau diajak kompromi sedang menderita pilek.

Bakda Isya, giliran saya menyampaikan bedah buku saya Ya Allah Aku Jatuh Cinta. Luar biasa, bedah buku ini berbeda dengan bedah-bedah buku saya sebelumnya. Diselenggarakan di tanah lapang, di bawah rembulan yang bersinar terang. Di hadapan saya akhwat bercadar semua, hitam-hitam, sejumlah ratusan. Saya bak pembicara yang paling ganteng sendiri, karena memang cuman saya pembicara di forum itu. Sedangkan ada satu ustad, beliau hanya menemani saya saja. Saya sangat terkesan. Dan saya berdoa kepada Allah, semoga agama ini diangkat dan dijayakan salah satunya dari lisan mbak mbaknya ini. Sehingga islam tidak jauh dari agamanya sendiri. (Burhan)

8 Responses to “Lamongan: Bedah Buku di Bawah Sinar Rembulan”

  1. unee says:

    Bang, sampai rumah rak yo apik-apik wae to? Hehehe…


    weleh…cleguk, jelase nuh

  2. amir says:

    assalaamu’alaikum mas.,
    pripun kebare?
    ini ada web baru tentang tazkiyatun nufus

    http://cambuk-hati.web.id

    penasihatnya: ust. abu umar basyir

    semoga bermanfaat mas…

    amien. makasih infonya. jazakallah khairan!

  3. afi says:

    Bakalan seru kalo difilmkan. Sinematografisnya pasti mantap. Ayat-Ayat Cinta mah,lewat…!

    wow! seneng banget kalo difilemen. Siapa ya kira-kira yang bakalan jadi produsernya ya?

  4. ibnu says:

    huehehe….
    asyik dunks bedah buku di bawah cahaya rembulan jadi terasa lebih romantiezzzzzzzzzzzzzzz…

    *hayah

    duh yang mentang-mentang pengantin baru, liat rembulan langsung romantis. Ceile…Tapi emang bener romantis kang, saya juga ikutan semangat 45 menyampaikan presentasi bedah buku saya.

  5. tsani says:

    Setujuh tuh kalo di filmkan, kayaknya asik. sedayulawas gak kalah ama kairo (nasionalisme bang he..he..). kairo kan luar negri, kita buat dalam negri. apalagi lokasinya deket pegunungan, sungai, indonesia bget dah!!

    Keren. Ayo kumpulin nomer telepon sutradara yang anda kenal, sekalian produsernya, tapi pemeran utamanya siapa ya? (Garuk garuk kepala deh!)

  6. nashrullah says:

    wah …..piye kabare mas burhan lama tak jumpa ya….ini situs resmi khoirotunhisan

    pak nasrullah, kabar ana baik sehat alhamdulillah. Kemarin sempet ke rumah antum, tapi antum pas tugas dinas. Sukses ya!

  7. mahmudah hamzah says:

    Alhamdulillah pak burhan dapat merasakan nikmatnya berada ditengah-tengah kami.Pak Burhan apa yang telah anda gambarkan menjadi bukti pada masyarakat bahwa Insya alloh saat ini masih ada akhwat kita yang selalu berusaha konsisten dengan jubah dan cadarnya agar tak tremakan fitnah dunia.

  8. imam bukhori says:

    bismillah,saya hanya bisa berucap SUBHANALLOH.saya orang awam sangat terharu ktika datang ke ustadz dipo,ternyata syariat islamsungguh2di tegakkan disana!

Leave a Reply