Ba’da Isya, ngecek hape. Ada panggilan tak terjawab. Nomer rumah ibu. Saya telepon balik, adik tercinta mengabarkan, “Mas, Mbah Sukad meninggal.” Gelegarrrr…bak disambar petir. Kabar itu mengagetkan. Beliau memang sudah sakit beberapa bulan ini. Nafasnya sesak dan beberapa penyakit tua lainnya menggerogoti tubuh beliau.

dsc00101.JPGdsc00102.JPG

Selepas pukul 8 saya meluncur ke Kampungsewu. Di atas motor terbayang wajah beliau, “Ughhff…mbah kenapa secepat ini. Aku belum sempat menengokmu.” Bahkan siang tadi mas Ari, anaknya, mengirim sms doa kesembuhan untuk papanya sayang. Begitu ia menyebutnya. Ya Allah, kematian adalah nasihat terbaik!

Saya masuk ke rumah duka. Ada sanak saudara, kerabat dan hiruk pikuk tetangga bergotong royong menyiapkan tenda, kursi, masak air dan menyiapkan roti. Seharusnya tidak seperti ini.

Saya lihat mbahku sudah terbujur kaku tertutup kain. DI atasnya terdapat pisau, saya tidak tahu untuk apa. Ada juga lampu minyak menyala diletakkan di depan dipannya. Kaca-kaca cermin ditutup koran.

Saya duduk terdiam. Ini keluarga saya, meski masih kerabat jauh. Mbah ini adalah suami dari adeknya bapaknya ibu. Banyak kejawen yang ada, tapi saya tidak bisa berbuat apa-apa. Ya Allah ampunilah hamba. Siang ini pusara sudah menunggunya. Malaikata sudah bersiap dengan walk interview untuk beliau. Selamat jalan mbahku, semoga Allah Menerima Amal baikmu…

3 Responses to “Mbah Sukadi, Selamat Jalan…”

  1. oRiDo Says:

    turut berduka cita…
    semoga amal ibadahnya diterima disisi Allah swt..

  2. nurussadad Says:

    innalillahi wa inna ilaihi roji’un

  3. Reza Says:

    innalillahi wa inna ilaihi roji’un.. af1 telat ngasih cooment

Leave a Reply