Shalat Gerhana Bulan yang Berkesan
Aug 29th, 2007 by burhanshadiq
Maghrib kemarin (28/82007), imam masjid mengumumkan kalau akan ada shalat gerhana bulan. Sang imam shalat memberitahukan bahwa shalat gerhana berbeda dengan shalat maghrib. Sujudnya, rukuknya lebih panjang dari biasanya. Jadi jamaah diharapkan tidak nggrundel, jengkel atau ngomel.
Setelah shalat maghrib usai, tidak banyak jamaah yang bertahan. Sebagian besar berhamburan keluar. Saya lihat mereka dan saya heran. Ini momen yang langka kenapa dilewatkan. Lagi pula tidak semua masjid melakukan shalat gerhana. Hanya beberapa masjid saja yang takmirnya paham shalat gerhana dan kudu gimana ketika gerhana tiba.
Bagaimana dengan saya? Saya sangat tertarik untuk ikut shalat sunnah gerhana ini. Namun perut saya keroncongan. Saya merasa lemas sekali karena lapar. Saya bertahan, tapi kepala saya semakin pusing. Saya tetap bertahan meski kondisi tubuh tidak toleran. Akhirnya saya bertahan. Shalat gerhana dimulai. Sang imam memberitahukan kembali kalau dalam satu rekaat akan ada dua posisi takbir. Ringkasnya, takbir membaca al Fatihah dan surat, rukuk, kemudian isti’dal, dan membaca al Fatihah dan surat kembali. Dua rekaat berlangsung sudah dan ternyata tidak sepanjang dan selama yang saya bayangkan.
Sang imam naik ke mimbar. Memberikan khutbah dengan menangis.
“Saudara hadirin shalat gerhana rahimakumullah…
Nabi menangis ketika memberikan khutbah shalat gerhana. Karena Nabi khawatir, di malam gerhana seperti ini akan terjadi Kiamat yang telah dijanjikan….” Air matanya bercucuran. Membasahi wajahnya yang sudah keriput, dan jenggot putihnya yang rimbun.
Saya pengen juga ikut menangis. Namun nampaknya tidak ada air mata yang keluar. Dosa saya teramat banyak sehingga menghalangi tetesan air mata yang akan keluar. Barangkali seperti itu. Khutbah pun usai. Saya tetap di masjid menunggu shalat isya’ tiba.
Saya cek hape di saku. Terdapat sms dari teman, “Mas, kalau nanti shalat gerhana, saya diberitahu ya. Soalnya saya ga tahu gerhananya kapan.” Glodakz!




August 29th, 2007 at 5:15 pm
Ketika membaca tulisan ente, mata terasa panas. Tidak sampai bergulir. Tapi bener agak basah… Khotib di masjidku bacaannya bagus. Namun khotbahnya tidak mampu membuatku bergidik. Tapi ketika baca tulisan ente terbayang buku “Menanti Kehancuran Amerika dan Eropa.” Yah… Kiamat sudah dekat. Begitu judul sinetronnya. Bagi yang punya tabungan banyak mulai pikir2 dech… Mulailah berinvestasi untuk akhirat. Uang kita hari ini hanyalah kertas. Ya.. Kertas. Jika itu emas mungkin akan berbeda. “Bermegah-megahan telah melalaikan …”
August 30th, 2007 at 7:48 am
kiamat mungkin sudah dekat. sedekat apa kita tidaklah tahu. hanya bisa membaca tanda-tandanya. tanda-tanda yang bisa kita liat. anak perempuan malah seperti anak laki-laki dan sebaliknya. lebih baik berbenah dari pada tertinggal musnah.