“Saya Akhwat, Berjilbab Hitam”
Seorang akhwat muslimah pernah berkunjung ke rumah. Dari beliau saya mendapatkan sebuah kisah menarik, yaitu sebuah kegalauan hati saat harus berdakwah di SMA tercinta. Awalnya ia merasa biasa saja dan sangat bersemangat memberi materi taklim kepada adik-adik kelasnya. Namun lambat laun sebuah fitnah melanda dirinya. Suara-suara miring tentang dirinya mulai santer terdengar. Anehnya, suara itu justru datang dari aktivis dakwah lain yang notabene beda tempat ngaji sama dia. Tentu saja tidak hanya tempat ngaji, tapi juga apa yang dikaji, ustadz siapa yang memberi materi dan teman-teman ngajinya.
“Dek, jangan ngaji di tempat mbak itu. Jilbab mbak itu item-item, gelap, serem kayak teroris…” Paling tidak kalimat itulah yang sampai ke telinganya. Diakui atau tidak, kalimat itu cukup mengganggu konsentrasi dakwahnya. Ia mulai berpikir dan berintrospeksi, apa yang salah dengan dakwahnya selama ini. Baginya dakwahnya biasa saja, tidak pernah ada kalimat kekerasan keluar dari mulutnya. Tetapi herannya, kenapa ia dicitrakan semacam itu.
Saya yang mendengar kisah ini tersenyum kecil. Saya hanya heran, kenapa fenomena semacam ini terus saja ada dan tidak pernah bisa hilang. Dulu, beberapa tahun lampau saya juga mendapatkan fitnah serupa. Teman-teman aktivis harakah lain juga melakukan strategi bad imaging itu pada saya. Waktu itu, saya easy going saja, yang penting dakwah Islam terus berjalan. Namun tentu saja, setiap orang tidak bisa easy going seperti saya.
Memang strategi bad imaging di dunia dakwah sering terjadi. Biasanya muncul karena persaingan yang tidak sehat dalam mencari perhatian mad’u. Mereka yang tidak suka langsung melakukan pencitraan buruk terhadap komunitas kompetitor yang sudah dianggap ancaman, bukan lagi pesaing. Keberadaan kompetitor dilihat sebagai rival yang siap menghabisi eksistensinya, bukan dianggap sebagai pesaing yang akan memotivasi mereka. Hal ini diperparah lagi dengan stereotype yang memang sangat khas pada masing-masing harakah.
Kerudung Hitam versus Kerudung Bunga
Masing-masing harakah telah memiliki ciri khas dalam penampilan kadernya. Saking khasnya, seorang kader langsung bisa dikenali dari jenis pakaian apa yang dia kenakan. Sebuah harakah misalnya, sangat terkenal dengan akhwat berjilbab lebar, besar, dan dengan pilihan warna gelap. Kalaupun ada warna merah, biru, atau hijau, pilihannya justru pada warna-warna tua yang kalem dan tidak mencolok. Saat melihat akhwat dengan jilbab semacam ini, dengan mudah orang akan mencitrakannya pada sebuah harakah tertentu. Namun ada pula harakah yang memiliki ciri yang sungguh berbeda dengan yang saya sebutkan di depan. Akhwatnya mengenakan jilbab yang cenderung berwarna terang, dihiasi dengan beberapa motif bunga, pin lucu, bahkan asesoris tambahan lainnya. Kerudung yang dikenakan pun juga relatif memilih warna yang cerah, putih, atau warna-warna muda. Dengan dua pilihan ini akan nampak sungguh besar perbedaannya. Muslimah dengan jilbab hitam, bahkan kadang bercadar serba hitam, dan muslimah dengan pilihan jilbab terang, cerah, dan penuh bunga.
Apakah berhenti di sini? O, tentu saja tidak. Penampilan yang berbeda ini nampaknya berimbas pada sikap yang mereka terima. Masyarakat awam tentu saja secara naluri lebih menyukai akhwat yang cerah, karena mereka lebih familiar dan ramah secara penampilan. Apalagi bila ternyata akhwat dengan penampilan ini tidak begitu banyak muncul di layar teve sebagai istri para tersangka terorisme. Sementara akhwat dengan penampilan serba hitam, terpaksa harus menerima konsekuensi pensikapan yang tidak mengenakkan dengan atribut yang disematkan media massa dan masyarakat kepada mereka. Apalagi diperparah, istri para tersangka terorisme lebih sering muncul dengan jilbab pilihan warna ini dan bahkan bercadar.
Stereotype seperti ini nampaknya tidak hanya berimbas pada pergaulan dengan masyarakat awam. Para pegiat dakwah pun malahan menggunakan perbedaan stereotype ini sebagai landasan bermuamalah. Kalimat “laisa minna” yang berarti bukan dari golongan kami mudah saja meluncur dari lisan saat mengomentari seorang pegiat dakwah yang lain yang tidak berpenampilan seperti dirinya. “Dia bukan akhwat kita…” kalimat ini juga akrab terdengar. Ada istilah akhwat kita dan akhwat mereka, ada istilah ikhwan kita dan ikhwan mereka, ada pula yang lebih parah ustadz kita dan ustadz mereka. Ummat islam yang duah terkotak-kotak, semakin kecil saja dengan pengotakan ini. Ummat yang awalnya terbagi menjadi dua dikotomi, kaum awam dan kaum aktivis, menjadi terkotak lagi aktivis kita dan aktivis mereka. Sungguh memprihatinkan!
Gandeng Tangan, Menangkan Pertarungan
Ring tinju yang sudah digelar antar aktivis seharusnya tidak perlu ada. Ruangan yang sempit sebagai ajang rebutan, juga selayaknya dihapuskan. Bila harus bersaing di lahan yang sama, sebaiknya tidak perlu menggunakan kalimat penjegalan. Bermainlah secara fair dan tidak perlu saling menjatuhkan. Beradu program, rencana yang matang, dan konsep dakwah yang berpikir jangka panjang lebih penting, daripada sekedar mencari kelemahan lawan dan berdiri di atas penderitaannya. Tak peduli apakah ia berkerudung hitam ataukah penuh bunga dan berwarna terang. Mereka adalah para pegiat dakwah yang bersama-sama berkorban waktu dan tenaga untuk menghasung manusia kembali kepada Rabbnya. Mereka tidak mengajak kepada golongan, partai atau bahkan kelompok, namun mereka adalah da’i dan da’iyah muslim. Mereka mengajak kepada keindahan dan kebenaran islam, bukan untuk menambah suara dalam pemilu yang akan datang.
Simpan kuku-kuku tajam kita, jangan biarkan ia merobek kulit halus sesama saudara. Simpan kata-kata pedas yang membuat kuping merah menyala, gantilah dengan kata-kata sopan, lemah lembut, dan bersahaja. Gandenglah tangan, menangkan pertarungan. Biarlah kerudung mereka hitam, cokelat, atau apapun warnanya. Biarlah kerudung mereka cerah, terang, atau penuh dengan bunga. Satu hal yang harus diprioritaskan, generasi ini perlu diselamatkan. Kalau bukan dengan para aktivis kita bekerjasama, maka apakah kita akan bekerjasama dengan musuh-musuh kita? (burhanshadiq@yahoo.com)

Comments:10